Pada 11 Maret 2020, WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi global. Sejak itu, gaya hidup masyarakat di seluruh dunia berubah drastis. Jalanan menjadi sepi dan mall-mall menjelma kota mati. Kegiatan sekolah, kuliah, dan kerja dialihkan ke berbagai platform daring dari rumah. Pada level individu, masyarakat bersedia menempuh segala upaya untuk melindungi diri dari COVID-19. Berbagai informasi seputar COVID-19, baik yang valid maupun yang bodong, tersebar di media sosial dan grup-grup obrolan keluarga.

Image by Delynn Talley from Pixabay

COVID-19 juga membawa kelahiran banyak tren baru dalam gaya hidup masyarakat; salah satunya adalah berjemur. Aktivitas ini diklaim dapat meningkatkan imunitas tubuh, walaupun banyak kontroversi juga yang menyertainya, berkisar pada soalan jam berapa yang paling baik dan aman untuk berjemur (1). Mengesampingkan perdebatan soal waktu berjemur, berjemur memang membawa manfaat bagi kesehatan manusia. Sebagai pemilik hewan pun, rasanya wajar jika kita ingin peliharaan kita ikut merasakan manfaat tersebut. Namun, apakah berjemur juga mendatangkan manfaat yang sama pada peliharaan kita?

Sinar Matahari dan Manusia

Bagi manusia, manfaat utama dari berjemur adalah sintesis vitamin D3. Vitamin ini disintesis ketika sinar UVB matahari mencapai kulit, di bagian yang mengandung kadar 7-dehidrokolesterol yang tinggi. Zat inilah yang akan diubah menjadi vitamin D3, dan oleh karenanya dapat disebut provitamin D3 (2). Vitamin D memiliki peran penting dalam berbagai sistem di tubuh manusia. Bicara mengenai sistem imun, vitamin D bekerja dalam regenerasi sel-sel epitel sebagai pertahanan pertama tubuh dan juga dalam pendewasaan sel-sel imun. Vitamin D juga memastikan sistem imun tubuh bekerja dengan teratur dan optimal (3).

Sinar matahari merupakan sumber utama vitamin D bagi manusia. Celakanya, kekurangan vitamin D mempengaruhi hampir 50% populasi manusia di dunia (4). Salah satu kelompok yang paling rentan terhadap kekurangan vitamin D adalah orang yang jarang terpapar sinar matahari (5). Karena itu, di saat pandemi ini memang berjemur adalah salah satu cara terbaik untuk meningkatkan imunitas.

Sinar Matahari di Kulit Anjing dan Kucing

Image by klimkin from Pixabay

Sama halnya dengan manusia, anjing dan kucing juga membutuhkan vitamin D. Vitamin D ini penting dalam menjaga keseimbangan kalsium dan fosfor pada tubuh, mengurangi peradangan, meningkatkan produksi sel darah,dan menunjang diferensiasi sel imun (6). Namun, kulit anjing tidak dapat mensintesis vitamin D3 layaknya manusia. Seperti telah disebutkan, pada manusia, zat provitamin D3 pada kulit akan diubah menjadi vitamin D3. Pada kulit anjing, terdapat enzim yang bernama 7-dehidrokolesterol-D7-reduktase dalam jumlah besar (6). Sesuai namanya, enzim ini mengurangi kadar (provitamin D3) dan mengubahnya menjadi kolesterol. Fenomena serupa ternyata juga terjadi pada kucing. Kulit kucing mengandung konsentrasi provitamin D3 yang rendah karena keberadaan enzim 7-dehidrokolesterol-D7-reduktase.

Menariknya, beberapa sumber menyebutkan bahwa kucing dan anjing tetap bisa mendapatkan vitamin D dari berjemur. Hanya saja, vitamin tersebut tidak terserap langsung dari kulit ke tubuh, tetapi melalui perilaku menjilat minyak pada rambutnya (8,9,10). Namun, tidak ada data yang mendukung pernyataan ini. Seandainya pun ini benar, vitamin D yang dihasilkan jumlahnya tetap sangat kecil dan jauh dari kebutuhan harian anjing dan kucing (7,11). Ada juga asumsi bahwa anjing dan kucing tidak mampu mensintesis vitamin D3 karena tertutup rambut. Ini pun tidak benar karena kucing yang dicukur rambutnya juga tidak dapat mensintesis vitamin D (7,11).

Kebutuhan Vitamin D Anjing dan Kucing
Kalau anjing dan kucing tidak dapat mensintesis vitamin D dari sinar matahari, bagaimana mereka mencukupi kebutuhannnya? Kucing dan anjing merupakan karnivora (walaupun anjing juga dapat disebut omnivora). Dalam proses evolusi, mereka terbiasa berburu. Lemak, hati, dan darah hewan buruan yang mereka makan ternyata mengandung vitamin D yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Karena itu, mereka tidak membutuhkan kemampuan sintesis vitamin D sendiri (7,11).

Sebagai hewan peliharaan, kebiasaan berburu mereka sudah jauh berkurang. Namun, anjing dan kucing tetap membutuhkan vitamin D. Kita tidak perlu khawatir karena kebanyakan makanan hewan yang tersedia secara komersil saat ini sudah diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D peliharaan secara tepat, khususnya jika mengikuti standar dari FEDIAF dan AAFCO.

Di sisi lain, anjing dan kucing juga bisa kelebihan D (hipervitaminosis vitamin D) (12). Ini dapat membuat mereka menyerap kalsium berlebih, yang kemudian malah merusak ginjal bahkan menyebabkan kematian. Jika kucing dan anjingmu sudah mendapat makanan yang lengkap dan seimbang, mereka tidak perlu diberi suplemen vitamin D tambahan lagi.

Penutup
Sebagai kesimpulan, manfaat berjemur pada anjing dan kucing mungkin memang tidak sebesar pada manusia. Namun, tetap tidak ada salahnya jika kita berjemur bersama mereka. Apa lagi, hewan peliharaan bisa jadi salah satu penghilang stress selama masa isolasi mandiri ini. Yang terpenting, sebagai pemilik yang bertanggungjawab kita tetap memastikan nutrisi dan kesehatan mereka terpelihara dengan baik.

Referensi

  1. Pranita, E. (2020). Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia. Retrieved from https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/04/190300323/perdebatan-waktu-berjemur-paling-sehat-ini-penelitian-di-indonesia
  2. Norman, A. W. (1998). Sunlight, season, skin pigmentation, vitamin D, and 25-hydroxyvitamin D: Integral components of the vitamin D endocrine system. American Journal of Clinical Nutrition, 67(6), 1108–1110. https://doi.org/10.1093/ajcn/67.6.1108
  3. Zmijewski, M. A. (2019). Vitamin D and human health. International Journal of Molecular Sciences, 20(1). https://doi.org/10.3390/ijms20010145
  4. Holick, M. (2007). Vitamin D Deficiency. The New England Journal of Medicine, 357, 266–281. https://doi.org/10.1056/NEJMra070553
  5. Nair, R., & Maseeh, A. (2012). Vitamin D: The “sunshine” vitamin. Journal of Pharmacology & Pharmacotherapeutics, 3(2), 118–126. https://doi.org/10.4103/0976-500X.95506
  6. Parker, V. J. (2018). Vitamin D and Canine Health. Veterinary Focus, 28(3), 16–23.
  7. Morris, J. G. (2002). Idiosyncratic nutrient requirements of cats appear to be diet-induced evolutionary adaptations. Nutrition Research Reviews, 15(01), 153. https://doi.org/10.1079/nrr2002388.
  8. Antranik Kizi. (n.d.). The Offbeat Reason Why Cats and Dogs Lay In The Sun and Lick Their Fur. Retrieved from https://antranik.org/the-offbeat-reason-why-cats-and-dogs-lay-in-the-sun-and-lick-their-fur/
  9. Saul, A. W. (2003). Vitamin D: Deficiency, Diversity and Dosage. Journal of Orthomolecular Medicine, 18(3–4), 194–204.
  10. Loomis, W. F. (1967). Skin-pigment regulation of vitamin-D biosynthesis in man. Science, 157(3788), 501–506. https://doi.org/10.1126/science.157.3788.501
  11. Howe, K. L., Hazewinkel, H. A. W., & Mol, J. A. (1994). Dietary Vitamin D Dependence of Cat and Dog Due to Inadequate Cutaneous Synthesis of Vitamin D. General and Comparative Endocrinology, 96(1), 12–18. https://doi.org/https://doi.org/10.1006/gcen.1994.1154
  12. Crossley, V. J., Bovens, C. P., Pineda, C., Hibbert, A., & Finch, N. C. (2017). Vitamin D toxicity of dietary origin in cats fed a natural complementary kitten food. Journal of Feline Medicine and Surgery Open Reports, 3(2), 205511691774361. https://doi.org/10.1177/2055116917743613

One thought on “Perlukah Anjing dan Kucing Berjemur?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s