Teman-teman, pernah dengar istilah street feeding? Istilah street feeding merujuk pada kegiatan memberi makan kucing liar. Kegiatan ini sering dilakukan oleh berbagai individu dan komunitas pecinta kucing, baik secara terorganisasi maupun sporadis. Dalam studi di beberapa daerah di Amerika Serikat, 8 sampai 12% rumah tangga aktif memberi makan kucing liar (1). Tentu saja, kegiatan ini didasari oleh niat yang baik, tetapi ternyata kegiatan street feeding juga dapat berdampak buruk jika tidak dilakukan dengan bertanggung jawab. Apa saja, sih, dampak tersebut? Terus, bagaimana street feeding harusnya dilakukan untuk memperkecil dampak buruk ini?

Dalam mempelajari ilmu Kesejahteraan Hewan, kita mengenal teori Five Freedoms of Animal Welfare. Salah satu aspek Five Freedoms adalah bebas dari rasa lapar dan haus. Bagi kucing liar, tidak ada yang menjamin kebebasan ini. Di sinilah street feeders berperan penting. Dengan adanya street feeding, aspek bebas dari rasa lapar dan haus bagi kucing liar dapat terpenuhi. Namun, agar niat baik ini tercapai dengan baik pula, street feeders juga perlu mempertimbangkan hal-hal seputar street feeding, terutama efek yang akan timbul dalam jangka panjang.

Bagaimana hubungan kelebihan populasi dengan street feeding?
Streetfeeding mempengaruhi carrying capacity suatu daerah. Carrying capacity adalah jumlah kucing yang dapat hidup dalam suatu daerah, ditentukan oleh luas teritori dan ketersediaan makanan. Jika populasi kucing mencapai carrying capacity maksimal, pertambahan populasi kucing akan mendekati nol. Namun, jika carrying capacity masih ada, kucing akan terus bertambah. Sterilisasi pun akan sia-sia karena kucing dari daerah lain akan bermigrasi dan berkembang biak hingga mencapai carrying capacity (9). Saat ini kelebihan populasi kucing merupakan masalah di banyak tempat, khususnya juga di Jakarta (4). Tidak seperti hewan lain, kucing hanya akan ovulasi saat kawin. Anak kucing bisa disapih mulai dari usia 50 sampai 60 hari dan mereka bisa mulai bunting sejak usia 6 sampai 8 bulan. Kucing bisa bunting dua sampai tiga kali dalam setahun (5). Ini semua membuat kucing memiliki laju perkembangbiakan yang luar biasa cepat.

Sayangnya, tidak semua orang menyukai kucing. Jika terjadi kelebihan populasi, akan terjadi kompetisi makanan antarkucing sehingga sebagian dari mereka terpaksa mengais tong sampah, memburu peliharaan warga, atau kadang “mencuri” dari meja makan. Manusia yang tidak menyukai kucing akan menjadikan insiden semacam ini sebagai alasan untuk memukuli atau meracuni kucing. Kucing tidak lagi bebas dari rasa takut dan tekanan. Kucing juga dapat menjadi inang berbagai agen penyakit zoonotik, seperti protozoa Toxoplasma gondii, cacing Toxocara cati, dan jamur Microsporum canis (6). Di Indonesia, Rabies juga masih endemik di beberapa provinsi dan kucing dapat menjadi sumber penularannya (4). Masalahnya, kucing liar tidak punya pemilik yang membawa mereka ke dokter hewan, sehingga penyakit ini akan mudah ditularkan ke kucing lain atau manusia. Kedua kasus ini akan mencederai aspek bebas dari rasa sakit dan penyakit dari Five Freedoms.

Ketika terjadi kelebihan populasi, bukan hanya kesejahteraan kucing yang terganggu, tetapi hewan-hewan yang menjadi mangsa kucing pun dapat menjadi korban. Secara alami, kucing merupakan pemburu. Suatu studi terhadap diet alami kucing menemukan 70-90% mamalia (kebanyakan tikus) dan 10% burung dalam saluran pencernaan kucing (7). Namun, kucing tidak hanya berburu untuk makan. Di tahun 2003, salah satu Pusat Rehabilitasi Satwa Liar di California, Amerika Serikat menerima 1050 burung, 143 mamalia, dan 11 reptil yang terluka karena serangan kucing. Hewan-hewan ini dilukai lalu ditinggalkan begitu saja sampai mati. Hewan yang bertahan hidup pun akan mengalami infeksi bakteri dan mati perlahan (8). Ini menimbulkan dilema antara kebutuhan kucing mengekspresikan perilaku alami dan kesejahteraan hewan mangsanya. Dengan street feeding, sebenarnya kucing akan mengurangi berburu untuk makan dan dengan demikian, meningkatkan kesejahteraan mangsanya, walau kucing akan tetap berburu sebagai bagian perilaku alaminya. Namun, tantangannya adalah street feeding harus dilakukan rutin dan konsisten. Jika tidak, kucing yang populasinya membludak malah akan makin sering berburu.

Street Feeding yang Bertanggung Jawab?
Tahukah teman-teman bahwa perilaku makan kucing berbeda dengan manusia? Mereka biasa makan sedikit-sedikit, sampai 20 kali dalam 24 jam (2). Karena itu, ketika diberi makan, seringkali ada makanan yang tersisa. Jika makanan diberikan begitu saja, sisa makanan menjadi sulit dibersihkan dan akan mengundang serangga dan tikus yang mengganggu kebersihan lingkungan dan kenyamanan manusia. Karena itu, street feeders sebaiknya menggunakan mangkuk makanan dan segera membereskan sisa makanan yang tidak habis. Jika ditinggal, street feeders dapat memberi label nama dan kontak di mangkuk sebagai bentuk tanggung jawab. Peraturan ini sudah diterapkan di taman-taman di Singapura, loh (3)!

Selain itu, dalam melakukan street feeding, yang penting bukan seberapa banyak kucing yang diberi makan, tetapi dapatkah street feeding dilakukan dengan konsisten. Karena itu, street feeding lebih baik dilakukan dari skala kecil setiap hari, lalu membesar jika memang sanggup, daripada dalam skala besar tapi hanya sesekali. Street feeders juga dapat melakukan pencatatan kucing yang diberi makan, misalnya melalui foto dan identifikasi melalui warna bulu, bentuk ekor, dan ciri khas lain. Setelah itu, teman-teman bisa mulai menggalakan sterilisasi untuk mencegah overpopulasi. Ingat juga, jangan memberi makan lebih dari kebutuhan kucing untuk menjaga carrying capacity tetap konstan. Melalui street feeding, tidak jarang terbentuk ikatan emosional feeder dengan kucing yang diberi makan. Dengan begitu, diharapkan feeder tergerak mengadopsi kucing agar ada yang memberi tempat tinggal, layanan kesehatan, dan kasih sayang, asalkan feeder memang mampu memenuhi semua itu.

Street feeding memang selalu dilandasi niat baik, tetapi niat baik harus diiringi eksekusi yang baik juga. Jangan sampai niat baik untuk street feeding malah membawa dampak buruk bagi kesejahteraan kucing dan manusia di sekitarnya.

Processing…
Success! You're on the list.



Referensi
1. Levy, J. K., & Crawford, P. C. (2004). Humane strategies for controlling feral cat populations. JAVMA, 225(9), 1354–1360.2.
2. Bowen, J. (2014). Feeding Behavor in Cats. Veterinary Focus, 28(3), 2–7. https://doi.org/10.1136/bmj.g72553.
3. Animal Lovers League, ASD Singapore, Cause for Animals Singapore, & Cares. (n.d.). Feeding Stray Dogs Responsibly. Retrieved from https://www.nparks.gov.sg/avs/-/media/avs_-feeding-stray-dogs-booklet-(eng).pdf4.
4. Barker, A. (2018). Jakarta has a serious cat problem, containing it is dirty work. Retrieved from https://www.abc.net.au/news/2018-03-19/inside-jakartas-battle-to-control-feral-cats/9541636?nw=05.
5. van Aarde, R. (1984). Population biology and the control of feral cats on Marion Island. 172, 107–110.6.
6. Folger, W. R., Lovelace, K., Robertson, S., & Rose, C. (2008). Free-roaming , abandoned and feral cats. JFMS Clinical Practice, 14(11), 822–823.7.
7. Plantinga, E. A., Bosch, G., & Hendriks, W. H. (2011). Estimation of the dietary nutrient profile of free-roaming feral cats: possible implications for nutrition of domestic cats. British Journal of Nutrition, 106(S1), S35–S48. https://doi.org/10.1017/s00071145110022858.
8. Jessup, D. A. (2004). The welfare of feral cats and wildlife. Journal of the American Veterinary Medical Association, 225(9), 1377–1383. https://doi.org/10.2460/javma.2004.225.13779.
9. Foley, P., Foley, J. E., Levy, J. K., & Paik, T. (2005). Analysis of the impact of trap-neuter-return programs on populations of feral cats. Journal of the American Veterinary Medical Association, 227(11), 1775–1781. https://doi.org/10.2460/javma.2005.227.1775

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s