Dengan adanya internet dan media sosial, perputaran informasi terjadi dengan sangat mudah. Pemilik hewan peliharaan, khususnya kucing, pun tidak ketinggalan memanfaatkaan ketersediaan internet untuk mencari dan berbagi informasi seputar kucing. Di media sosial, makin banyak grup dan akun yang dijadikan platform sharing pecinta kucing, termasuk untuk hal yang berkaitan dengan kesehatan kucing. Padahal, internet bisa jadi tempat yang membahayakan. Semua orang bisa menulis saran di internet, terlepas dari latar belakang dan pendidikannya, bahkan sekalipun ia tidak punya sumber yang valid untuk mendukung sarannya. Yang lebih parah, mudahnya akses ke internet membuat banyak pemilik hewan memilih bertanya di grup atau base daripada pergi ke dokter hewan jika hewannya sakit.

Saran yang beredar di internet tidak hanya soal medis, tapi juga nutrisi kucing. Namun, tentu kita perlu mempertanyakan lagi kebenarannya. Dalam artikel ini, mari kita periksa kebenaran beberapa mitos yang sering didengungkan di media sosial pecinta kucing.

1. Kuning telur mentah sangat baik untuk kesehatan

Image by Willfried Wende from Pixabay

Kuning telur sering dianggap makanan super yang memiliki berbagai khasiat, di antaranya meningkatkan nafsu makan, menjaga keindahan bulu, menjaga imunitas tubuh, membantu persembuhan kucing sakit, dan masih banyak lagi (1). Telur memang mengandung berbagai nutrisi penting. Untuk manusia pun, telur merupakan salah satu makanan dengan nutrisi terbaik.

Namun, pemberian telur mentah membawa risiko infeksi bakteri Salmonella sp. Di Amerika Serikat, ada 79 ribu kasus penyakit dan 30 kematian per tahun yang disebabkan Salmonella dari telur mentah (2). Ini sering disangkal dengan alasan Salmonella yang masuk dari lingkungan sulit menembus putih telur karena putih telur yang memiliki sifat antimikrobial. Salmonella yang menginfeksi telur bukan hanya berasal dari lingkungan, tapi induk ayam yang terinfeksi juga dapat langsung menularkan Salmonella ke dalam kuning telur (3). Kalaupun kucing yang terinfeksi Salmonella tidak menunjukkan gejala sakit, ia dapat menjadi carrier dan menularkan bakteri tersebut ke pemiliknya. 

Bagaimana dengan telur rebus? Telur rebus boleh diberikan, tapi hanya sebagai camilan. Camilan idealnya tidak boleh melebihi 10% dari total kalori yang dikonsumsi karena kelebihan akan menyebabkan obesitas dan ketidakseimbangan nutrisi (4). Untuk kucing dewasa seberat 4 kg, ini berarti kurang dari setengah kuning telur per hari!

2. Anak kucing tidak boleh diberi susu sapi karena intoleran laktosa

Image by Helga Kattinger from Pixabay

Sering kali ada pecinta kucing yang bertanya apa yang harus dilakukan ketika induk kucing mati saat melahirkan atau menemukan anak kucing liar. Setelah itu, pasti kolom balasan akan ramai dengan saran agar tidak memberi susu sapi karena anak kucing tidak bisa mencerna laktosa. Ternyata, pernyataan ini hanya setengah benar!

Faktanya, anak kucing memiliki enzim laktase dan dapat mencerna laktosa. Bahkan, susu kucing juga mengandung laktosa sebanyak 4g/100g. Bandingkan dengan susu sapi (4,7g/100g). Produksi enzim laktase akan turun saat kucing berhenti menyusui, sehingga beberapa kucing dewasa menjadi intoleran laktosa (4). Namun, memang benar bahwa bayi kucing harus mendapat kitten milk replacer dan bukan susu sapi. Profil nutrisi keduanya berbeda. Kandungan energi (121 vs 64 kcal/100g) dan protein (7,5 vs 3,3 g/100g) susu kucing lebih tinggi sekitar dua kali lipat dari susu sapi. Kucing tumbuh lebih cepat daripada sapi, jadi, susu sapi tidak dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan bayi kucing.

3. Makanan yang mengandung komposisi by products kualitasnya jelek

Ada anggapan bahwa by products adalah sampah yang dipakai produsen pet food untuk menekan biaya produksi. By products sendiri sebenarnya berarti produk sampingan. Dalam pemotongan hewan, produk utamanya adalah daging, sehingga byproducts berarti jeroan seperti hati, ampela, jantung, usus, babat. Kita di Indonesia pun sering makan soto babat, nasi ati ampela, dan sate usus, yang merupakan olahan by products. Jadi, anggapan bahwa by products adalah sampah tidak benar.

By products juga memiliki energi yang tinggi dan kualitas nutrisi yang serupa dengan daging (5). Di samping itu, penggunaan byproducts juga merupakan upaya menjaga bumi, loh! Kalau semua orang dan hewan peliharaan makan daging dan membuang by products, ketersediaan daging akan jadi langka, sedangkan byproducts hanya akan menumpuk menjadi sampah dan mengotori lahan. Penggunaan byproducts dalam pet food dapat mengurangi dampak buruk ini.

4. Wet food kucing dapat dibuat sendiri dengan bahan sederhana
Beberapa resep “wet food” saat ini sangat mudah ditemui di media sosial dan website sebagai alternatif wet food buatan pabrik. Bahan yang digunakan pun sangat sederhana, seperti tempe, ikan, ayam, dan agar (6). Sebenarnya, resep wet food ini boleh saja digunakan sebagai camilan, tapi tetap hanya boleh diberikan 10% dari total kalori harian kucing. Bagaimana jika digunakan sebagai makanan sehari-hari?

Dalam suatu penelitian (7) yang mengevaluasi kecukupan nutrisi resep homemade food untuk kucing, tidak satu pun dari 94 resep dari internet dan buku yang memenuhi semua kebutuhan nutrisi kucing. Padahal, beberapa resep ini dibuat oleh dokter hewan. Kolin, zat besi, dan taurin merupakan beberapa zat yang paling sering tidak dipenuhi. Sepertinya, resep wet food internet pun sulit memenuhi semua kebutuhan nutrisi kucing. Jadi, lebih baik tetap beri kucing kita cat food yang sudah diformulasikan oleh ahli nutrisi hewan. Kalaupun ingin memberi homemade food, diperlukan resep yang diformulasikan khusus oleh dokter hewan ahli nutrisi.

Tidak semua informasi dari internet mengenai peliharaan kita dapat dipercaya. Oleh karena itu, yuk biasakan mencari informasi dari sumber yang valid. Pastikan juga kita dapat mempertanggungjawabkan setiap informasi yang kita bagikan.

Referensi
1. Virdaus, D. (2019). Cara Memberikan Kuning Telur pada Kucing. Retrieved from https://www.kucingmania.net/cara-memberikan-kuning-telur-pada-kucing/
2. FDA. (2018). What You Need to Know About Egg Safety. Retrieved from https://www.fda.gov/food/buy-store-serve-safe-food/what-you-need-know-about-egg-safety
3. Gantois, I., Ducatelle, R., Pasmans, F., Haesebrouck, F., Gast, R., Humphrey, T. J., & Van Immerseel, F. (2009). Mechanisms of egg contamination by Salmonella enteritidis. FEMS Microbiology Reviews, 33(4), 718–738. https://doi.org/10.1111/j.1574-6976.2008.00161.x
4. Hand, M. S., Thatcher, C. D., Remillard, R. L., Roudebush, P., Novtony, B. J., & Lewis, L. D. (2010). Small animal clinical nutrition. Retrieved from http://www.markmorrisinstitute.org/sacn5_chapters.html
5. Aldrich, G. (2013). Ingredient Myths That Have Altered the Course of Pet Food: Byproducts, Synthetic Preservatives and Grain. Tackling Myths About Pet Nutrition, 11–12. Atlanta, Georgia: Nestle Purina.
6. Pratama, W. (2018). Cara Membuat Wet Food untuk Kucing. Retrieved from https://budidayaternak.id/cara-membuat-wetfood-untuk-kucing/
7. Wilson, S. A., Villaverde, C., Fascetti, A. J., & Larsen, J. A. (2019). Evaluation of the nutritional adequacy of recipes for home-prepared maintenance diets for cats. Journal of the American Veterinary Medical Association, 254(10), 1172–1179. https://doi.org/10.2460/javma.254.10.1172

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s