Artikel ini ditulis ketika saya masih menjadi VSA Royal Canin.

Dibandingkan zat nutrisi lainnya, serat adalah anomali. Dalam menentukan kualitas suatu nutrisi, protein misalnya, kita biasa melihat kecernaannya: seberapa banyak nutrisi yang bisa diserap tubuh dibandingkan yang terbuang melalui feses. Nutrisi yang bagus memiliki kecernaan yang tinggi. Namun, serat berbeda. Serat justru tidak bisa dicerna. Sifat inilah yang membedakan serat dari karbohidrat lainnya. Serat seolah cuma menumpang lewat di usus halus, lalu dibuang lewat feses. Kesannya serat tidak dibutuhkan, dan nyatanya anjing dan kucing memang tidak punya kebutuhan akan serat. Padahal, serat dapat menolong anjing dan kucing ketika dilanda berbagai masalah pencernaan, loh!

Image by thereviewcourse from Pixabay

Kalau teman-teman pernah membaca tabel analisis nutrisi di kemasan pet food, di sana pasti tercantum persentase Serat Kasar atau Crude Fiber. Tapi, persentase ini belum memperhitungkan semua serat dalam pet food, loh. Serat kasar hanya memperhitungkan serat dari dinding sel tumbuhan: selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Ketiga serat ini memiliki sifat tidak larut air serta sulit difermentasi oleh mikroba usus. Karena tidak difermentasi dan tidak larut, serat ini lah yang memberi sebagian besar bentuk pada feses (1).

Selain serat kasar, ada juga serat yang larut air dan bisa difermentasi mikroba. Serat ini juga tidak dicerna usus halus, tapi hasil fermentasinya berguna sebagai sumber energi sel-sel di usus besar. Serat jenis ini dapat ditemukan dalam sayur, buah, atau getah tumbuhan (gum). Umumnya, bahan-bahan sumber serat, punya kedua jenis serat ini (1). Walau fungsinya berbeda, keduanya sangat bermanfaat bagi pencernaan, bahkan sering digunakan dalam pengobatan gangguan pencernaan.

Di saat diare, serat bisa memperbaiki bentuk feses. Pasti kita sebagai pemilik hewan sebal dan khawatir jika feses peliharaan kita lunak atau malah cair. Nah, di sini serat larut air, seperti pektin, akan menyerap air di usus besar dan membentuk gel. Karena feses sudah lebih padat, laju keluar feses akan melambat sehingga frekuensi buang air besar anjing atau kucing berkurang (2). Salah satu sumber serat larut air yang sering digunakan adalah psyllium. Psyllium dapat menyerap air hingga 10 kali volumenya dan telah terbukti ampuh menolong diare nonspesifik dan radang usus besar (3). Serat tidak larut air juga membantu mengurangi diare dengan menyerap air dan memperbaiki pergerakan usus (4).

Serat tertentu juga berguna untuk kehidupan bakteri baik di usus. Walau tidak dicerna oleh anjing dan kucing, serat yang disebut prebiotik ini digunakan bakteri untuk memproduksi asam lemak rantai pendek. Sel-sel usus besar dapat langsung menggunakannya sebagai sumber energi. Dengan adanya prebiotik, bakteri baik akan bertambah banyak sehingga menekan populasi bakteri patogen penyebab diare. Beberapa prebiotik yang sering digunakan antara lain inulin dan golongan oligosakarida: fruktooligosakarida (FOS), galaktooligosakarida (GOS), dan mannanoligosakarida (MOS). Prebiotik sering disarankan pada diare yang disebabkan kelebihan bakteri di usus halus (small intestinal bacteria overgrowth/SIBO), walaupun belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya (1,2).

Namun, serat bukan juga cure-all untuk semua kasus diare. Diare sebenarnya hanya salah satu gejala dari berbagai macam penyakit. Jadi, kita tetap perlu mengetahui penyebab diare sebelum menentukan pengobatan dan nutrisi yang tepat. Serat umumnya berguna pada diare usus besar, tapi banyak gangguan usus halus dan lambung yang justru membutuhkan diet rendah serat agar mudah dicerna, misalnya protein losing enteropathy (PLE) dan gastritis kronis (5).

Mungkin, teman-teman sering melihat produk Royal Canin Gastrointestinal? Produk ini sering direkomendasikan untuk anjing dan kucing yang mengalami diare. Nah, Gastrointestinal justru memiliki kandungan serat yang rendah, sehingga cocok jika hewan butuh makanan yang mudah dicerna. Produk ini mengandung energi tinggi dengan memperbanyak lemak, jadi hewan yang sakit hanya perlu makan sedikit. Namun, ada kasus diare yang justru tidak tahan dengan makanan tinggi lemak, misalnya pankreatitis, sehingga Gastrointestinal tidak boleh diberikan. Karena itu, produk ini hanya boleh dibeli atas rekomendasi dokter hewan setelah hewan diperiksa.

Bagaimana jika hewan susah buang air besar? Serat juga bisa jadi solusinya! Namun, berbeda dengan diare, di sini serat tidak larut air punya peran yang lebih besar. Serat ini akan memperbanyak volume feses di usus dan memperbaiki pergerakan usus sehingga hewan dapat buang air dengan lancar. Selain itu, serat ini juga bisa mengikat air sehingga feses yang biasanya keras menjadi lunak dan mudah dikeluarkan. Walau begitu, serat larut air, khususnya yang berperan sebagai prebiotik juga berperan penting. Asam lemak yang dihasilkan turut memberi membantu mengatur pergerakan usus besar (2).

Untuk kasus konstipasi, ada juga produk Fibre Response. Produk ini menggunakan campuran serat larut dan tidak larut untuk memperlancar keluarnya feses. Namun, produk ini hanya boleh digunakan jika feses masih bisa keluar. Jika hewan menderita obstipasi, yaitu feses tidak keluar sama sekali, hewan justru perlu diet yang rendah serat dan mudah dicerna (1). Fibre Response juga dapat digunakan pada beberapa kasus diare karena radang usus besar. Sama seperti Gastrointestinal, Fibre Response hanya boleh diberikan atas rekomendasi dokter hewan.

Seperti nutrisi lain, terlalu banyak serat juga akan berdampak buruk. Tergantung dari jenisnya, serat dapat mengurangi penyerapan nutrien lain di usus halus. Misalnya, serat larut air menyebabkan mineral lebih sulit dicerna, tapi tidak demikian dengan serat tidak larut, seperti selulosa. Makanan yang tinggi serat juga kurang disukai hewan dan kandungan energinya lebih kecil dari makanan biasa. Sifat ini biasa dimanfaatkan di makanan untuk penurunan berat badan, tapi pada makanan untuk hewan dengan berat normal atau kurus, ini bisa menyebabkan kekurangan nutrisi. Serat prebiotik yang terlalu banyak juga bisa memicu bakteri berkembang terlalu banyak di usus. Akibatnya, bakteri mengeluarkan terlalu banyak asam lemak dan gas, menyebabkan diare dan kembung (1,3).


Referensi
1. Hand, M. S., Thatcher, C. D., Remillard, R. L., Roudebush, P., Novtony, B. J., & Lewis, L. D. (2010). Small animal clinical nutrition. Retrieved from http://www.markmorrisinstitute.org/sacn5_chapters.html
2. Zentek, J., & Freiche, V. (2006). Digestive diseases in cats: the role of nutrition. In P. Pibot, V. Biourge, & D. Elliott (Eds.), Encyclopedia of Feline Clinical Nutrition. Royal Canin.
3. Leib, M. S. (2000). Treatment of chronic idiopathic large-bowel diarrhea in dogs with a highly digestible diet and soluble fiber: a retrospective review of 37 cases. Journal of Veterinary Internal Medicine / American College of Veterinary Internal Medicine, 14(1), 27–32. https://doi.org/10.1111/j.1939-1676.2000.tb01495.x
4. Laflamme, D. P., Xu, H., Cupp, C. J., Kerr, W. W., Ramadan, Z., & Long, G. M. (2012). Evaluation of canned therapeutic diets for the management of cats with naturally occurring chronic diarrhea. Journal of Feline Medicine and Surgery, 14(10), 669–677. https://doi.org/10.1177/1098612X12446906
5. German, A., & Zentek, J. (2006). The most common digestive diseases: The role of nutrition. In P. Pibot, V. Biourge, & D. Elliott (Eds.), Encyclopedia of Canine Clinical Nutrition (pp. 92–144). Royal Canin.

2 thoughts on “Diare? Konstipasi? Apakah Hewanmu Kurang Serat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s