Dua tahun terakhir, says sering lihat seliweran post di media sosial, kalo makanan grain free lebih bagus daripada yang pake grain. Dalam beberapa tahun ke belakang, grain-free tampaknya sedang menjadi tren dalam industri pet food. Pada tahun 2015, produk grain-free bahkan menguasai 30 persen dari pasar hewan kesayangan di Amerika Serikat. Di negara lain, tren serupa dapat diamati, di mana besarnya pangsa pasar produk grain-free terus naik dan mengejar Amerika Serikat (1), salah satunya karena tragedi keracunan melamin 2007 yang melibatkan bahan baku grain, gandum dan nasi. Di Indonesia sendiri, dalam beberapa komunitas anjing dan kucing lokal dan di media sosial pun, seringkali ada pendapat yang menyarankan penggunaan makanan hewan grain-free sebagai alternatif nutrisi yang katanya lebih baik bagi peliharaan mereka. Buat saya, itu masalah preferensi pemilik saja. Makanan grain free, sama kayak yang pake grain, ada yang bagus, ada yang kurang.

Pet food grain-free tuh apa, sih?
Sederhananya, pet food yang ga pake grain, biji-bijian yang kaya pati (karbohidrat). Ini sama sekali ga berarti makanan grain-free tidak mengandung karbohidrat. Dry food tidak mungkin tidak mengandung karbohidrat, karena untuk membentuk struktur kibble sendiri butuh karbohidrat. Seringnya, karbohidrat grain-free diganti pake sumber lain yang bukan grain, misalnya kentang, kacang-kacangan, dan tapioka. Tapi, grain free ini sering di-hype-in, seolah-olah pasti lebih bagus, mana harganya juga kebanyakan lebih mahal. Biar dompet kamu ga dikerjain trik marketing, coba kita bedah klaim-klaim seputar makanan grain-free. Kamu ga perlu beli grain-free, kalau…

Kamu tidak alergi gluten atau grain.
Sebagian kecil orang (sekitar 1,4%) memang menderita kelainan imunitas yang bikin mereka sakit kalau ketemu gluten, namanya Celiac disease (2). Gluten itu apa, sih? Protein! Gluten itu protein yang ada di grain, khususnya gandum. Kalo penderita Celiac disease makan gluten, atau kalau parah, kontak pun, dia akan mengalami diare, kembung, sakit perut, karena ususnya diserang sistem imun sendiri. Sayangnya, gara-gara ini, gluten jadi otomatis dianggap jahat. Masyarakat larut dalam persepsi bahwa gluten itu jahat karena menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti obesitas, arthritis dan autisme, sehingga 30 persen masyarakat Amerika Serikat kini mengurangi gluten dalam diet mereka (3).

Kalau owner menderita Celiac diease dan harus menghindari grain di rumah, tentu pet food grain-free bisa jadi solusi. Bagaimana dengan hewannya?

Kucing atau anjingmu tidak alergi atau intoleran grain.
Sebelumnya, alergi dan intoleransi makanan berbeda, ya. Alergi melibatkan reaksi imunologis, sementara intoleransi tidak. Kalau alergi, biasa hewan akan gatal-gatal, tetapi kalau intoleran, makanan akan tidak tercerna, tapi tidak ada reaksi gatal. Contoh paling umum intoleransi pada hewan adalah intoleransi laktosa.

Penyebab alergi makanan pada anjing dan kucing. Murphy, M., & Rollins, A. (2018). Grain-Free Diets – Good or Bad? Veterinary Focus, 28(3).

Apakah kondisi seperti Celiac disease dapat ditemukan pada anjing dan kucing? Jarang sekali. Pada anjing sendiri, memang ada ras yang mungkin tidak dapat mencerna gluten, yaitu Irish Setter dan Border Terrier (4), tapi anjing lain telah beradaptasi dan gen mereka menunjukkan kemampuan mencerna pati dan gluten (5). Kalau ngomongin alergi, daging sapi, daging domba, produk dairy, ikan, dan telur lebih mungkin menyebabkan alergi pada anjing dan kucing daripada produk nabati (6). Alergi disebabkan oleh protein, bukan lemak dan karbohidrat, dan bahan hewani lebih banyak mengandung protein. Wajar saja bahan hewani lebih sering bikin alergi.

Kamu berpikir karbohidrat itu jahat dan grain cuma filler.
Bahan filler adalah bahan yang ditambahkan ke makanan agar bobotnya bertambah, tapi memiliki nilai nutrisi yang rendah. Jagung merupakan salah satu bahan yang sering dituduh sebagai filler karena “memiliki nilai nutrisi rendah dan sulit dicerna karena anjing adalah karnivora”.

Padahal, anjing bukanlah karnivora obligat seperti serigala. Mereka adalah spesies berbeda dengan kebutuhan nutrisi berbeda
. Jagung, misalnya, terutama jagung yang telah dimasak, merupakan sumber makanan yang mudah dicerna bagi hewan peliharaan kita (8). Menyebut jagung sebagai bahan filler semata juga tidak tepat, karena jagung merupakan sumber karbohidrat yang dibutuhkan untuk energi hewan, serta sumber protein dan asam linoleat, omega-6 yang penting bagi kesehatan rambut, sistem imun, dan saraf anjing dan kucing (7). Di samping itu, jagung lebih jarang menyebabkan alergi dibandingkan bahan hewani.

Kucing dan anjing tidak butuh karbohidrat, tetapi bukan berarti karbohidrat itu jahat. Karbohidrat adalah sumber energi yang mudah digunakan, bahkan dibutuhkan pada masa-masa tertentu, misalnya saat kebuntingan dan menyusui. Terlalu banyak karbohidrat, seperti porsi nasi pada makanan kita, memang tidak baik untuk kucing dan anjing, tetapi karbohidrat pada makanan komersil anjing dan kucing jumlahnya aman dan mudah dicerna, karena telah melewati berbagai proses pengolahan. Sejauh ini, walau masih didebatkan, belum ada bukti pasti bahwa karbohidrat berefek buruk pada kucing.

Karbohidrat juga tidak menyebabkan obesitas, seperti beberapa pemahaman. Kandungan kalori karbohidrat hampir sama dengan protein, yakni sekitar 4 kcal per gram. Makanan tinggi lemaklah yang lebih mungkin menyebabkan obesitas, karena mengandung 9 kcal per gram, jauh lebih tinggi dari karbohidrat.

Kamu punya anjing ras besar.

Image by JacLou DL from Pixabay

Sebenarnya, topik ini lebih cocok dijadikan artikel tersendiri. Sejak 2018, FDA, BPOMnya Amerika Serikat, banyak menerima laporan kasus dilated cardiomyopathy (DCM) pada anjing, khususnya ras besar, yang diduga terkait makanan grain-free (9). DCM adalah kondisi pembesaran jantung dan pelemahan otot jantung, yang akhirnya menyebabkan kegagalan memompa darah dan kematian. Kasus dilaporkan paling banyak terjadi pada anjing Labrador Retriever. DCM biasanya disebabkan kekurangan asam amino taurin dan masalah genetik, tetapi pada kasus-kasus ini, beberapa anjing membaik setelah makanan grain-freenya diganti.

Hingga saat ini, FDA belum menemukan hubungan pasti sebab-akibat antara makanan dan DCM. Beberapa studi menemukan korelasi, tetapi belum cukup bukti untuk menyatakan hubungan sebab-akibat (10). Kasus ini cukup sarat kepentingan. Beberapa tokoh, terutama yang bekerja dengan perusahaan makanan grain-free, menegaskan makanan grain-free tidak terkait dengan DCM, tetapi banyak juga dokter hewan dan ahli nutrisi yang menyarankan untuk menghindari makanan grain-free, terutama yang menggunakan daging-daging tidak biasa (kanguru, buaya, dan lainnya), dan menggunakan kacang-kacangan (legume) sebagai sumber karbohidratnya, sampai ada kejelasan mengenai hubungan DCM dan diet.

Kasus DCM terkait diet ini hampir tidak teramati pada kucing. Namun, kucing tidak luput dari DCM jika makanannya tidak lengkap dan seimbang, khususnya jika kekurangan taurin.

Referensi
1.        Tagore P. Natural and grain-free pet food: Serious contenders [Internet]. 2016 [cited 2019 Oct 18]. Available from: https://www.gfk.com/insights/press-release/natural-and-grain-free-pet-food-serious-contenders/

2.        Singh P, Arora A, Strand TA, Leffler DA, Catassi C, Green PH, et al. Global Prevalence of Celiac Disease: Systematic Review and Meta-analysis. Clin Gastroenterol Hepatol. 2018;16(6):823-836.e2.

3.        Webb D. Whole Grains: Gluten-Free, Grain-Free, and Wheat-Free Diets. Today’s Dietititan. 2019;21(9):16.

4.        Murphy M, Rollins A. Grain-Free Diets – Good or Bad? Vet Focus. 2018;28(3).

5.        Axelsson E, Ratnakumar A, Arendt M-L, Maqbool K, Webster M, Perloski M, et al. The genomic signature of dog domestication reveals adaptation to a starch-rich diet. Nature. 2013 Jan 23;495.

6.        Roudebush P, Guilford WG, Jackson HA. Adverse Reaction To Food. In: Hand MS, Thatcher CD, Remillard RL, Roudebush P, Novtony BJ, Lewis LD, editors. Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition. Topeka, KS: Mark Morris Institute; 2010.

7.        Siyuan S, Tong L, Liu R. Corn phytochemicals and their health benefits. Food Sci Hum Wellness [Internet]. 2018;7(3):185–95. Available from: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2213453018301009

8.        Walker JA, Harmon DL, Gross KL, Collings GF. Evaluation of nutrient utilization in the canine using the ileal cannulation technique. J Nutr [Internet]. 1994 Dec;124(12 Suppl):2672S—2676S. Available from: https://doi.org/10.1093/jn/124.suppl_12.2672S

9.        Food and Drugs Administration. FDA Investigation into Potential Link between Certain Diets and Canine Dilated Cardiomyopathy [Internet]. 2019. Available from: https://www.fda.gov/animal-veterinary/news-events/fda-investigation-potential-link-between-certain-diets-and-canine-dilated-cardiomyopathy

10.      Ontiveros ES, Whelchel BD, Yu J, Kaplan JL, Sharpe AN, Fousse SL, et al. Development of plasma and whole blood taurine reference ranges and identification of dietary features associated with taurine deficiency and dilated cardiomyopathy in golden retrievers: A prospective, observational study. PLoS One [Internet]. 2020;15(5):1–25. Available from: http://dx.doi.org/10.1371/journal.pone.0233206

11.      Freid KJ, Freeman LM, Rush JE, Cunningham SM, Davis MS, Karlin ET, et al. Retrospective study of dilated cardiomyopathy in dogs. J Vet Intern Med. 2021;35(1):58–67.



One thought on “Kucing dan Anjingmu Tidak Butuh Grain Free Kalau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s