Sebelum berevolusi menjadi anjing, anjing adalah serigala. Kalau dipikir, kayak lelucon, bagaimana serigala yang gagah bisa berevolusi jadi anjing… Pug.

Image by StockSnap from Pixabay

Yang paling menarik dari kisah domestikasi anjing adalah mereka mendomestikasi diri sendiri, bukan dipaksa manusia. Ya, ini juga hanya hipotesis sih. Kita tidak akan pernah tahu dengan yakin bagaimana proses domestikasi anjing, kecuali ada ahli fisika yang menemukan mesin waktu, tapi hipotesis inilah yang paling banyak diyakini di komunitas ilmiah karena paling banyak didukung bukti arkeologis.

Saya tidak akan bahas sejarah domestikasi secara mendetail, karena fokus artikel ini adalah nutrisi, bukan sejarah. Secara singkat, domestikasi serigala menjadi anjing dimulai ribuan tahun lalu. Ada yang bilang 40 ribu, ada yang bilang 20 ribu tahun lalu. Mungkin domestikasi tidak terjadi cuma sekali dan di satu tempat. Yang jelas, anjing adalah hewan pertama yang didomestikasi manusia, bahkan di akhir zaman es, saat manusia masih berburu dan meramu.

Serigala, nenek moyang anjing, adalah karnivora dan predator. Mereka butuh berburu untuk makan dan bertahan hidup. Namun, berburu tidak lepas dari kompetisi dengan spesies lain. Buat serigala, ada satu spesies lain yang sangat mengancam perburuan mereka. Spesies ini tidak gagah dan buas, tapi mereka bisa bekerja sama dan menggunakan alat, dan karena itu mereka sangat sukses. Spesies itu bernama Homo sapiens. Manusia. Ini benar-benar ancaman bagi ketersediaan makanan serigala.

Lantas, apa yang serigala lakukan? Sebagian dari mereka tetap berburu dan menjadi serigala, tetapi makanan tidak cukup untuk semua. Yang paling kuat dan bisa berburulah yang bisa makan. Sebagian yang tidak kuat berkompetisi pada akhirnya mati. Namun, ada sebagian lagi serigala yang memutuskan berhenti berburu. Mereka sadar tidak bisa bersaing dengan manusia sehingga mereka memilih mendekati pemukiman manusia yang habis berburu dan makan. Sama seperti kita, Homo sapiens di masa itu pun kalau makan ada sisanya, baik itu tulang, sisa organ, atau makanan yang busuk. Beberapa serigala yang tidak sanggup berburu ini pun memilih menelan gengsi dan memungut sisa-sisa makanan Homo sapiens.

Bukan gengsi, ya sebenarnya. Beberapa dari mereka kebetulan punya gen yang lebih ramah terhadap manusia, dalam arti tidak takut dan defensif jika berada dekat manusia. Mereka inilah yang mendekati pemukiman manusia. Mereka juga berkembang biak dan kawin dengan sesamanya, serigala yang hidup dekat manusia. Anak serigala yang lahir dari orang tua yang ramah juga mewarisi gen ramah. Pewarisan gen ini bukan cuma tampak pada perilaku, tapi juga tampilan fisik. Serigala yang terdomestikasi berukuran lebih kecil, moncongnya lebih pendek dan lebar, dan matanya lebih besar membulat. Ciri lain, seperti telinga yang jatuh, juga khas pada dometikasi. Demikian terjadi terus menerus, hingga terciptalah anjing yang kita kenal.

Nutrisi dan perilaku makan serigala
Perilaku makan dan nutrisi serigala ikut berubah dalam proses domestikasi. Makanan utama serigala adalah hewan-hewan herbivora pemamah biak, seperti rusa dan kancil, serta beberapa mamalia yang lebih kecil, seperti berang-berang dan kelinci. Setelah berhasil melumpuhkan mangsa, mereka akan langsung membuka rongga tubuh dan memakan organ dalam hewan: jantung, paru-paru, hati, limpa, ginjal. Organ lebih cepat membusuk dibandingkan otot daging. Perilaku makan mereka adalah feast or famine, berpesta atau kelaparan. Berbeda dengan kucing yang bisa dengan mudah melumpuhkan mangsa kecil seperti tikus dan burung, tidak mudah bagi serigala berburu hewan besar seperti rusa. Namun, sekali makan, mereka bisa makan hingga 20% berat badan mereka. Karena itu, mereka bisa bertahan tidak makan berhari-hari, sampai mereka berburu lagi.

Agar bisa bertahan dalam masa puasa ini, mereka bisa menghemat perombakan protein, berbeda dengan kucing yang butuh asupan protein lebih tinggi. Beberapa nutrisi penting, seperti asam amino arginin dan niasin (vitamin B3), juga bisa diproduksi sendiri oleh serigala. Sifat ini tidak dimiliki kucing.

Pada kotoran mereka juga ditemukan sisa-sisa tumbuhan, baik dedaunan, rumput, maupun buah. Mereka mungkin makan rumput sebagai upaya mengeluarkan parasit, seperti cacing, dari saluran pencernaan. Buah juga mungkin mengandung tambahan energi. Namun, tumbuhan hanya menyumbang tidak sampai 3% dari makanan total serigala.

Secara keseluruhan, diet alami serigala mengandung sekitar 67% protein, 30% lemak, 1,4% karbohidrat, dan 6,4% abu mineral. Sebanyak 54% energi didapat dari protein dan 45% energi dari lemak, sementara hanya 1% energi didapat dari karbohidrat.

Bagaimana dengan nutrisi anjing?

Karakteristik omnivora anjing. Gambar dari Bosch, Hagen-Plantinga, & Hendriks (2015). https://doi.org/10.1017/S0007114514002311

Secara taksonomi, anjing memang digolongkan dalam ordo Carnivora. Namun, berbeda dengan kucing dan serigala, perilaku makan anjing sebenarnya lebih cocok disebut omnivora. Maksudnya, anjing sebenarnya bisa saja menjadi vegetarian, bahkan sudah banyak pet food komersil vegetarian untuk anjing. Semua nutrisi yang dibutuhkan anjing bisa dipenuhi dari bahan nabati. Namun, membuat makanan vegetarian untuk anjing jauh lebih kompleks dibanding membuat makanan dengan daging; tidak disarankan kalau tidak terpaksa. Kalaupun pemilik mau, ini harus dikonsultasikan dulu dengan dokter hewan yang menangani anjingnya.

Beberapa karakteristik omnivora anjing (yang tidak ada pada kucing) sebenarnya sudah ada pada serigala, meliputi kemampuan memproduksi taurin, arginin, niasin, dan asam arakhidonat (zat-zat nutrisi ini esensial pada kucing karena mereka tidak bisa, atau payah sekali dalam memproduksinya) dan kemampuan menghemat penggunaan protein. Ini tidak lepas dari sifat serigala yang sering berpuasa untuk waktu lama.

Namun, proses domestikasi juga membedakan kebutuhan nutrisi anjing dengan serigala. Di awal pertemuan manusia dengan serigala (yang akan berevolusi menjadi anjing), mereka mengubah strategi mencari makan dari berburu menjadi mengais makanan (scavenging). Ketika manusia mulai bercocok tanam, diet mereka makin diperkaya makanan dari tumbuhan dan pati. Anjing yang makan dari makanan manusia ikut merasakan dampaknya. Dibanding serigala, gen-gen yang berperan dalam metabolisme karbohidrat (AMY2B, MGAM, dan SGLT1) lebih banyak dan aktif di anjing setelah revolusi pertanian, menunjukkan meningkatnya kemampuan mereka dalam mencerna pati.

Fenomena ini juga tidak bisa dipukul rata untuk seluruh anjing di dunia. Diet anjing di berbagai belahan dunia bergantung juga pada apa yang dimakan manusia. Misalnya, anjing di Jepang lebih banyak mengonsumsi ikan laut, seperti manusia di Jepang. Perbanyakan gen metabolisme pati banyak ditemukan di mana manusia bergantung paling bergantung pada hasil pertanian. Sebaliknya, anjing di daerah yang tidak bergantung pada hasil tani, seperti Artik atau Australia, tidak mengalami perbanyakan gen AMY2B yang terlalu dramatis. Kemampuan mencerna pati ini juga berhubungan, tetapi tidak selalu, dengan ras anjing, tergantung pada diet yang mereka makan. Misalnya, Alaskan Malamute, yang dietnya lebih rendah pati, memiliki gen AMY2B yang cenderung sedikit.

Perilaku makan mereka juga berubah dari nenek moyang mereka. Tidak seperti serigala yang sering makan besar lalu berpuasa berhari-hari, makanan anjing selalu tersedia, mengikuti jadwal makan manusia. Beberapa ras besar masih membawa kebiasaan makan serigala, yaitu makan dengan cepat dan lahap, bahkan tanpa mengunyah. Kebiasaan ini dapat menjadi faktor risiko terpuntirnya lambung (gastric dilation volvulus). Perilaku makan anjing agak berbeda dengan kucing, yang lebih sering makan sedikit-sedikit tapi sering sepanjang hari(sampai 20 kali dalam sehari).

Profil makronutrien makanan yang dipilih anjing juga agak berbeda dengan serigala. Mereka memilih makanan yang lebih sedikit protein (30% energi dari protein, dibandingkan 54% pada serigala), tetapi lebih banyak lemak (63% vs 45% energi) dan karbohdrat (7% vs 1% energi). Temuan ini menegaskan bahwa anjing bukan serigala. Mereka sudah menjadi spesies yang berbeda. Untuk itu, tidak perlu memaksakan anjing mengonsumsi makanan serigala. Biarlah anjing makan makanan anjing.

Join the conversation

Referensi

1. Clutton-Brock J. Origins of the dog: The archaeological evidence. In: Serpell J, editor. The Domestic Dog: Its Evolution, Behavior and Interactions with PeopleIts Evolution, Behavior and Interactions with People Second Edition. 2nd editio. Oxford: Oxford University Press; 2017.

2. Bosch G, Hagen-Plantinga EA, Hendriks WH. Dietary nutrient profiles of wild wolves: Insights for optimal dog nutrition? Br J Nutr. 2015;113:S40ā€“54.

3. Axelsson E, Ratnakumar A, Arendt M-L, Maqbool K, Webster M, Perloski M, et al. The genomic signature of dog domestication reveals adaptation to a starch-rich diet. Nature. 2013 Jan 23;495.

4. Arendt M, Cairns KM, Ballard JWO, Savolainen P, Axelsson E. Diet adaptation in dog reflects spread of prehistoric agriculture. Heredity (Edinb). 2016;117(5):301ā€“6.

5. Ollivier M, Tresset A, Bastian F, Lagoutte L, Axelsson E, Arendt ML, et al. Amy2B copy number variation reveals starch diet adaptations in ancient European dogs. R Soc Open Sci. 2016;3(11).

6. Reiter T, Jagoda E, Capellini TD. Dietary variation and evolution of gene copy number among dog breeds. PLoS One. 2016;11(2):1ā€“19.

7. Tsutaya T, Naito YI, Ishida H, Yoneda M. Carbon and nitrogen isotope analyses of human and dog diet in the Okhotsk culture: Perspectives from the Moyoro site, Japan. Anthropol Sci. 2014;122(2):89ā€“99.

8. Bradshaw JWS. The Evolutionary Basis for the Feeding Behavior of Domestic Dogs (Canis familiaris) and Cats (Felis catus). J Nutr. 2006;136(February):1927S-1931S.

9. Roberts MT, Bermingham EN, Cave NJ, Young W, McKenzie CM, Thomas DG. Macronutrient intake of dogs, self-selecting diets varying in composition offered ad libitum. J Anim Physiol Anim Nutr (Berl). 2018;102(2):568ā€“75.

4 thoughts on “Omnivora atau Karnivora? Evolusi Nutrisi Anjing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s