Sebelum bicara topik khusus soal Nutrisi, ada baiknya kita bicara soal hal paling dasar. Apa itu Nutrisi? Komponen apa saja yang ada di dalamnya?

Nutrisi tidak lepas dari makanan. Dalam arti sempit, makanan cuma membahas apa yang masuk lewat mulut dan melewati saluran pencernaan. Namun, nutrisi juga mencakup zat yang masuk ke saluran pencernaan tanpa lewat mulut (misalnya, melalui selang lewat hidung) atau tidak lewat saluran pencernaan sama sekali (nutrisi parenteral, melalui infus). Biar simpel, nutrisi yang kita bicarakan akan fokus ke makanan yang lewat mulut saja.

Komponen nutrien apa saja yang ada dalam makanan? Banyak sekali, ada sekitar 40 jenis makronutrien dan mikronutrien yang ada dalam makanan. Suatu makanan yang mengandung semua nutrien tersebut dalam kadar yang pas, tidak lebih dan tidak kurang, kita sebut lengkap dan seimbang. Kamu bisa memeriksa apakah makanan hewanmu lengkap dan seimbang di kemasannya. Kebanyakan makanan komersil, terutama dry food, memiliki pernyataan lengkap dan seimbang. Pasti kamu tidak asing mendengar karbohidrat, protein, dan lemak. Ketiganya kita sebut makronutrien karena dibutuhkan dalam jumlah besar dalam makanan dan mengandung energi (atau kalori).

Karbohidrat

Karbohidrat umumnya dikenal sebagai sumber energi dan penghasil panas yang biasa ditemukan dalam bahan nabati: gandum, nasi, kentang, buah, tetapi juga ada dalam jumlah kecil di hati dan otot hewan. Karbohidrat dari hewan ini kita sebut glikogen.

Tidak semua karbohidrat adalah sama. Ada yang rantainya pendek, ada yang panjang. Karbohidrat rantai pendek, bisa didapat dari gula dan buah (glukosa, sukrosa, pokoknya yang manis-manis!) dan lebih mudah dan cepat diserap oleh tubuh. Karbohidrat rantai panjang kita sebut pati. Ini yang biasa kita temukan dalam nasi, gandum. Penyerapannya lebih lama karena rantainya harus dipecah dulu jadi pendek, baru bisa diserap. Karena penyerapannya lama, pati bisa membuat hewan kenyang lebih lama. Ada juga karbohidrat rantai panjang yang tidak bisa dicerna dan diserap oleh hewan. Ini yang kita sebut serat. Walau tidak bisa dicerna, serat juga punya berbagai fungsi.

Berapa kadar minimal karbohidrat dalam makanan anjing dan kucing? Tidak ada! Kucing dan anjing butuh karbohidrat (khususnya glukosa) dalam tubuhnya, tetapi tubuh mereka bisa menghasilkan glukosa dari protein dan energi dari lemak. Teorinya, mereka tidak butuh karbohidrat dalam makanan, tetapi kenapa selalu ada karbohidrat dalam pet food?

Karbohidrat dalam pet food umumnya punya dua fungsi: sebagai sumber energi dan memberi bentuk pet food (kibble). Kucing dan anjing bisa mengubah protein jadi glukosa untuk energi, tetapi mereka juga bisa langsung menggunakan karbohidrat dari makanan sebagai sumber energi. Dengan begini, mereka menghemat protein dalam makanan untuk fungsi lain dan mengurangi kerja hati yang mengubah protein jadi glukosa. Protein lebih mahal dari karbohidrat, jadi rasanya percuma kalau mahal-mahal malah diubah jadi karbohidrat.

Selain itu, karbohidrat pati juga dibutuhkan agar dry food bisa berbentuk kibble dan tidak ambyar. Sama seperti kita membuat kue atau biskuit, kalau tidak ada tepung, pasti kue tidak akan berbentuk. Melalui proses pemanasan, karbohidrat akan menggumpal, kemudian mengeras, membentuk dry food yang kita kenal. Proses ini disebut gelatinisasi. Proses ini juga yang membuat karbohidrat mudah dicerna oleh hewan, berbeda dengan bahan mentah yang sulit dicerna. Jadi, tidak benar kalau kucing dan anjing tidak bisa mencerna karbohidrat.

Ada kalanya, kucing dan anjing juga menghasilkan karbohidrat, loh. Ketika menyusui, mereka menghasilkan laktosa sebagai sumber energi bagi anak-anaknya. Tidak benar kalau kitten dan puppy tidak bisa mencerna laktosa. Pada masa ini juga, induk kucing dan anjing jadi butuh karbohidrat, karena menyusui membutuhkan energi ekstra.

Kelebihan karbohidrat juga tidak baik. Bagaimanapun, kucing dan anjing butuh protein lebih tinggi dari manusia, apa lagi kucing yang merupakan karnivora sejati. Terlalu banyak karbohidrat otomatis akan membatasi kadar nutrien lain, seperti protein, dalam makanan. Karbohidrat yang tidak dicerna akan mengganggu pencernaan dan menyebabkan diare, kembung, sakit perut. Terlalu banyak karbohidrat yang diserap juga bisa menaikkan gula darah dan adanya glukosa dalam darah. Banyak yang bilang karbohidrat menyebabkan diabetes mellitus pada kucing, tapi sampai sekarang bukti yang ada saling bertentangan. Namun, karbohidrat tidak menyebabkan obesitas. Yang menyebabkan obesitas adalah lemak dan kalori berlebih.

Berapa karbohidrat maksimal yang boleh ada dalam makanan? Ini tergantung jenis karbohidratnya. Kadar maksimum karbohidrat rantai pendek (pati) lebih rendah dari karbohidrat rantai panjang (pati). Beberapa karbohidrat, seperti laktosa, bisa menyebabkan efek samping dengan dosis serendah 1,3 gram per kg berat kucing, sementara kucing bisa mencerna 6,7 gram per kg berat badan dan baik-baik saja. Secara umum, 45% karbohidrat dalam makanan (berat kering) mungkin terlalu banyak untuk kucing, tetapi anjing lebih toleran terhadap karbohidrat.

Protein

Image by Free-Photos from Pixabay

Protein adalah nutrisi terpenting bagi anjing dan kucing. Sebagian besar tubuh tersusun dari protein: jaringan, organ, kulit, rambut, hormon, enzim, antibodi. Protein sendiri juga tersusun dari bagian yang lebih kecil, yaitu asam amino. Ada 10 asam amino yang dibutuhkan anjing: metionin, arginin, threonin, triptofan, histidin, leusin, isoleusin, lysin, fenilalanin, dan valin. Masing-masing asam amino ini saya bahas dalam artikel lain. Sebetulnya, anjing dan kucing bukan membutuhkan protein, tapi asam amino. Tiap asam amino memiliki jumlah minimal yang harus terkandung dalam makanan.

Kucing membutuhkan satu asam amino tambahan, yaitu taurin. Taurin hanya tersedia dalam daging dan jantung hewan, tidak tersedia dalam bahan tumbuhan. Inilah salah satu alasan kucing adalah karnivora obligat, harus makan daging. Anjing dapat memproduksi taurin dari metionin dan sistein, tetapi kucing tidak mampu memproduksi taurin dalam jumlah yang cukup. Berbeda dengan asam amino lain yang terikat sebagai protein, taurin tersedia sebagai asam amino bebas. Artinya, kalau kamu merebus daging, kemungkinan taurin dalam daging tersebut akan lepas ke dalam air rebusan, sehingga daging tersebut jadi rendah taurin jika tidak diberi dengan air rebusannya.

Beberapa orang menyarankan melihat persentase protein dalam makanan hewan. Makin banyak protein, katanya makanan tersebut makin bagus. Saya tidak setuju. Kenyataannya, tidak sesederhana itu. Pasti kamu juga pernah lihat pet food generik yang proteinnya lebih tinggi dari pet food premium. Kok bisa?

Persentase protein dihitung dengan metode sederhana bernama analisis proksimat. Metode ini tidak menghitung jumlah protein atau asam amino secara langsung, tetapi jumlah nitrogen dalam makanan. Kenapa nitrogen? Nitrogen ada dalam protein, tetapi tidak ada dalam karbohidrat, lemak, dan mineral. Nitrogen ada dalam beberapa vitamin, tetapi jumlahnya sangat kecil. Kadar nitrogen inilah yang kemudian dihitung sebagai jumlah protein secara kasar.

Perhitungan ini tidak begitu akurat. Berat semua protein diasumsikan 16%nya nitrogen, padahal kadar nitrogen bervariasi dalam tiap asam amino. Sebenarnya, ini tidak masalah, karena perbedaannya kecil, dan persentase protein kasar ditulis sebagai jumlah minimal di kemasan pet food. Ini menjadi masalah ketika ada pihak yang curang dalam alur produksi pet food.

Tahun 2007, terjadi skandal besar dalam industri pet food. Banyak hewan mati karena kerusakan ginjal. Setelah ditelusuri, sebabnya adalah keracunan melamin dalam pet food. Kok bisa ada melamin? Melamin berasal dari bahan baku pet food, gluten gandum dan protein nasi yang diimpor dari Cina. Pemasok sengaja memasukkan melamin agar terlihat seolah tinggi protein, karena melamin mengandung 66% nitrogen. Reaksi melamin dan asam sianurat akan menghasilkan racun yang merusak ginjal. Tragedi ini adalah salah satu pemicu naik daunnya tren makanan grain-free. Inilah pentingnya memilih pet food yang diproduksi perusahaan kredibel dengan quality control yang baik dari bahan baku hingga produk akhir.

Yang lebih penting dari itu, kita tidak tahu kualitas protein dalam pet food. Percuma proteinnya tinggi jika kualitasnya jelek. Protein yang baik harus mudah dicerna dan digunakan oleh tubuh. Protein yang tidak tercerna hanya akan dibuang lewat feses. Protein yang tercerna, tapi tidak bisa digunakan oleh tubuh, hanya akan diubah jadi glukosa dan gugus aminonya dibuang lewat urin. Ini dapat terjadi jika protein tinggi tetapi profil asam aminonya tidak lengkap.

Sebagai panduan kasar, AAFCO mensyaratkan makanan kucing dewasa mengandung protein minimal 26% dan anjing dewasa 18% berat kering. Protein minimal untuk hewan buntin dan menyusui, serta kitten dan puppy lebih tinggi, yaitu 18% dan 22%. Namun, ini hanya patokan kasar untuk protein. Untuk setiap asam amino, ada pula kadar minimal sendiri-sendiri.

Tidak ada maksimal protein, tetapi terlalu banyak protein juga tidak baik.

Lemak

Saya sudah pernah menyinggung soal lemak ketika membahas VCO dan minyak ikan. Lemak punya ciri khusus yang membedakannya dari protein dan karbohidrat: tidak larut air. Selain itu, kalori lemak 2 kali lipat lebih tinggi dibanding keduanya. Lemak mengandung sekitar 9 kcal per gram, sementara protein dan karbohidrat hanya 4 kcal per gram. Karena itu, lemak sangat efektif berfungsi sebagai sumber energi, tetapi penyerapan dan penggunaannya tidak secepat karbohidrat. Lemak yang tidak digunakan akan disimpan sebagai jaringan lemak (adiposa) di tubuh.

Selain sumber energi, lemak diperlukan dalam penyerapan vitamin larut lemak, vitamin A, D, E, dan K. Lemak juga menyusun beberapa bagian tubuh, seperti membran sel dan otak. AAFCO mewajibkan makanan anjing dan kucing mengandung 5,5% dan 8,5% lemak (berat kering).

Tidak semua lemak sama. Kita sudah sering mendengar asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Secara struktural, perbedaannya ada di ikatan karbon rangkap ganda, yang hanya dimiliki lemak tidak jenuh (lihat gambar). Pada manusia, semak jenuh sering disebut lemak jahat, sementara lemak tidak jenuh disebut lemak baik. Sebenarnya, semua lemak baik jika jumlahnya tidak berlebih. Di samping itu, anjing dan kucing tidak mudah terkena gangguan kolesterol seperti manusia, dan secara alami dietnya memang tinggi lemak. Namun, ada beberapa jenis asam lemak tidak jenuh yang harus ada dalam makanan karena diperlukan untuk fungsi fisiologis tertentu, seperti kesehatan kulit dan saraf.

Asam lemak tidak jenuh omega-6, asam linoleat, harus ada dalam makanan anjing maupun kucing, dewasa maupun anakan. Asam linoleat dapat ditemukan pada hewan maupun tumbuhan, misalnya dari jagung. Kadar minimal asam linoleat dalam makanan anjing dan kucing dewasa adalah 1,1% dan 0,6% berat kering. Asam lemak ini dibutuhkan dalam kesehatan kulit dan sistem reproduksi. Kulit hewan yang kekurangan asam linoleat akan tambah kering, kusam, dan berkerak. Kucing juga membutuhkan omega-6 lain, yaitu asam arakhidonat, yang hanya didapat dari hewan. Anjing dapat memproduksi asam arakhidonat dari asam linoleat, sementara kucing tidak bisa.

Kitten, puppy, serta hewan bunting membutuhkan asam lemak lain, yaitu omega-3 asam alpha-linolenat, EPA, dan DHA. Bahasan lebih lengkap mengenai ketiganya ada di sini. Omega-3 penting bagi kitten dan puppy karena jaringan saraf dan otak mereka masih dalam masa perkembangan. Asam alpha-linolenat bisa didapat dari tumbuhan (biji rami/flaxseed), tetapi EPA dan DHA umumnya didapat dari ikan. Saat ini, beberapa suplemen EPA dan DHA dikembangkan berasal dari alga dan udang krill. Di alam liar, EPA dan DHA juga bisa didapat dari otak dan mata hewan lain yang dimangsa kucing dan anjing. Walau tidak harus, kucing dan anjing dewasa juga boleh diberi EPA dan DHA. EPA dan DHA memiliki sifat antiradang dan dapat menjaga fungsi otak hewan yang mulai menua.

Karena kalorinya yang tinggi, makanan tinggi lemak bisa menyebabkan obesitas jika dimakan terlalu banyak. Apa lagi, lemak memiliki rasa yang disukai hewan, bahkan sering digunakan sebagai penambah palatabilitas makanan. Oleh sebab itu, pemilik harus berhati-hati dalam mengontrol pemberian makanan.

Artikel berikutnya akan membahas nutrien lain yang jumlahnya lebih kecil, tetapi tidak kalah penting, yaitu mikronutrien: vitamin dan mineral.

Referensi
Grandjean, D., Merrill, R., Buckley, C., Morris, P., Charlton, C., & Stevenson, A. (2009). WALTHAM® pocket book of Essential Nutrition for Cats and Dogs. Mars, Inc, p. 64. Retrieved from http://www.waltham.com/dyn/_assets/_pdfs/waltham-booklets/Essentialcatanddognutritionbookletelectronicversion.pdf
Gross, K. L., Yamka, R. M., Khoo, C., Friesen, K. G., Jewell, D. E., Schoenherr, W. D., … Zicker, S. C. (2010). Macronutrients. In M. S. Hand, C. D. Thatcher, R. L. Remillard, P. Roudebush, B. J. Novtony, & L. D. Lewis (Eds.), Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition (5th ed., pp. 48–104). Topeka: Mark Morris Institute.
Kirk, C. (2013). Feline Nutrition: What Is Excess Carbohydrate? Companion Animal Summit: Tackling Myths About Pet Nutrition, 25–30. Atlanta, Georgia: Purina.


3 thoughts on “Ada Apa di Mangkuk Peliharaanku? Dasar Nutrisi Kucing dan Anjing (Makronutrien)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s