Kucing adalah karnivora sejati, sementara anjing adalah karnivora fakultatif (omnivora, sih). Keduanya masuk dalam ordo Carnivora. Tetapi, mereka jarang menolak kalau diberi rumput. Bahkan, banyak pet shop ataupun toko online yang menjual rumput kucing. Kenapa kucing dan anjing suka makan rumput? Apakah ada manfaatnya, atau malah berbahaya?

Walaupun terkesan aneh, makan rumput (atau tumbuhan lainnya) adalah perilaku normal pada banyak spesies, termasuk anjing dan kucing. Dalam satu survei, 68% pemilik anjing melaporkan bahwa anjing mereka makan tumbuhan setidaknya tiap minggu, dan 79% di antaranya makan rumput (1). Kucing tidak jauh berbeda. Sebanyak 65% pemilik kucing mengaku kucingnya makan rumput setidaknya seminggu sekali (2). Pada anjing maupun kucing, perilaku ini lebih sering dilakukan pada hewan muda, lalu berkurang seiring bertambah tuanya hewan. Tetapi, saat muda, tumbuhan yang mereka makan lebih beragam, bukan rumput saja. Semakin tua hewan, mereka makin sering makan rumput dan makin jarang makan tumbuhan lain.

Apa alasan mereka makan rumput? Tidak ada yang tahu pasti, tetapi ada beberapa dugaan. Salah satunya, hewan diduga makan rumput sebagai upaya mengobati diri sendiri. Serigala dan simpanse dilaporkan juga sering makan daun utuh. Daun tersebut kemudian dikeluarkan lewat feses dan ditemukan membungkus cacing dari saluran pencernaan, sehingga muncul dugaan bahwa hewan makan daun untuk mengeluarkan parasit (3,4). Namun, kita tidak tahu apakah ada fenomena serupa pada anjing dan kucing. Tetapi, diduga kucing dan anjing muda lebih sering makan rumput karena mereka lebih rentan terhadap infeksi parasit pencernaan.


Walaupun mungkin ada hewan yang makan rumput untuk mengobati diri sendiri, yang jelas ini tidak berlaku untuk semua anjing dan kucing. Hanya 8% anjing dan 6% kucing yang menunjukkan gejala sakit sebelum makan tumbuhan. Sisanya sehat-sehat saja saat makan tumbuhan (1,2). Dalam penelitian lain, anjing dibuat diare dengan cara memberi serat mannan oligosakarida (MOS) terlalu banyak, lalu diamati pengaruhnya terhadap perilaku makan rumput. Hasilnya, justru anjing yang diare lebih sedikit makan rumput dibanding anjing yang sehat. Ini bisa jadi disebabkan rasa kenyang atau tidak nafsu makan karena sakit (5).

Dugaan lain adalah kucing dan anjing makan rumput untuk muntah. Cukup banyak (37%) kucing yang muntah setelah makan rumput, tetapi lebih banyak yang tidak muntah (2). Fenomena muntah ini sering dikaitkan dengan hairball, karena ketika kucing muntah, diduga muntah tersebut untuk mengeluarkan hairball. Alternatifnya, kucing makan rumput sebagai serat untuk mendorong hairball keluar melalui kotoran. Logikanya, hairball akan lebih banyak terjadi pada kucing rambut panjang, karena rambut mereka lebih banyak, tetapi tidak ada perbedaan frekuensi makan rumput antara kucing rambut panjang dan pendek (2).

Beberapa sumber juga menduga kucing dan anjing makan rumput untuk memenuhi nutrisi mereka. Tentu saja, rumput juga mengandung zat nutrisi seperti serat, vitamin, dan mineral. Pada manusia, da juga tren meminum jus rumput gandum. Namun, tidak ada bukti bahwa kucing membutuhkan nutrisi dari rumput. Ketika dibandingkan, frekuensi makan rumput antara anjing yang makan makanan komersi (dry food) tidak berbeda dengan yang raw food. Pemberian sayur dan buah dalam makanan anjing pun tidak berpengaruh, karena anjing tetap suka makan rumput (1).

Nampaknya, kita belum bisa menyimpulkan alasan kucing dan anjing suka makan rumput, tapi setidaknya kita bisa tenang dan yakin bahwa perilaku ini normal. Bahkan, ada penelitian yang menggunakan rumput Mischantus dalam makanan kucing sebagai sumber serat (6). Namun, apakah perilaku ini sepenuhnya aman?

Rumput gandum yang biasa dijual sebagai rumput kucing aman, asalkan ditanam tanpa menggunakan pestisida atau bahan beracun lainnya, tetapi tidak semua tanaman aman. Pakis haji, bunga lily, daun bahagia, lidah mertua, dan lidah buaya adalah sedikit contoh tanaman yang berbahaya bagi hewan jika termakan (7). Masih banyak tanaman yang berbahaya bagi kucing dan anjing. Daftar yang lebih lengkap dapat dilihat di sini.

Referensi
1.        Sueda KLC, Hart BL, Cliff KD. Characterisation of plant eating in dogs. Appl Anim Behav Sci. 2008;111(1–2):120–32.

2.        Hart BL, Hart LA, Thigpen AP, Willits NH. Characteristics of plant eating in domestic cats. Animals. 2021;11(7).

3.        McLennan MR, Hasegawa H, Bardi M, Huffman MA. Gastrointestinal parasite infections and selfmedication in wild chimpanzees surviving in degraded forest fragments within an agricultural landscape mosaic in Uganda. PLoS One. 2017;12(7):1–29.

4.        Hart BL, Hart LA. How mammals stay healthy in nature: The evolution of behaviours to avoid parasites and pathogens. Philos Trans R Soc B Biol Sci. 2018;373(1751).

5.        McKenzie SJ, Brown WY, Price IR. Reduction in grass eating behaviours in the domestic dog, Canis familiaris, in response to a mild gastrointestinal disturbance. Appl Anim Behav Sci. 2010;123(1–2):51–5.

6.        Finet SE, Southey BR, Rodriguez-Zas SL, He F, de Godoy MRC. Miscanthus Grass as a Novel Functional Fiber Source in Extruded Feline Diets. Front Vet Sci. 2021;8(June):1–13.

7.        Poppenga RH, Gwaltney-Brant S. Small Animal Toxicology Essentials. Small Animal Toxicology Essentials. Chichester: John Wiley and Sons, Inc.; 2013. 1–336 p.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s