Apakah kamu sering memberi “vitamin” pada peliharaanmu? Sebenarnya, yang dimaksud vitamin lebih tepat disebut suplemen, karena kandungannya bukan vitamin saja. Penggunaan suplemen memang makin lama makin populer pada manusia maupun hewan. Tahun 2004, 13,2% pemilik anjing dan 5,5% pemilik kucing di Amerika Serikat memberikan suplemen kepada peliharaan mereka (1), tetapi, tahun 2020, 44% pemilik anjing sehat mengaku rutin memberikan suplemen (2). Bukan cuma pemilik hewan, kebanyakan dokter hewan juga sering meresepkan suplemen dan nutraceutical pada pasiennya (3).

Kenapa pemilik memberikan suplemen? Alasannya bermacam-macam, karena suplemen pun bermacam-macam manfaat dan tujuan pemberiannya. Ada kalanya juga hewan sedang mengalami kondisi spesifik, misal sakit, habis operasi, butuh energi ekstra. Di saat seperti ini, suplemen bisa jadi bermanfaat. Saya membahas masing-masing jenis suplemen secara mendetail dalam artikel tersendiri.

Namun, seringkali juga, pemilik tidak punya tujuan khusus dalam memberi suplemen, sekadar biar sehat, gemuk, imun tubuh bagus. Dalam kasus seperti ini, pemberian suplemen tidak berguna. Sebenarnya, hewan yang sudah diberi makanan bernutrisi lengkap dan seimbang tidak perlu diberi suplemen tambahan, karena semua nutrisi yang dibutuhkan sudah ada di makanan.

Pemilik juga perlu tahu bahwa tidak semua suplemen aman dan bermanfaat. Di Amerika Serikat, regulasi yang mengatur suplemen hewan tidak diatur seperti regulasi obat. Sebuah ulasan oleh National Research Council (NRC) Amerika Serikat tahun 2014 menemukan bahwa data keamanan untuk beberapa suplemen anjing, kucing, dan kuda sangat minim (4). Kasus keracunan pernah terjadi, baik karena kontaminasi produk itu sendiri (5) maupun overdosis (6,7). Dalam kasus tersebut, kelihatannya hewan menelan suplemen dalam dosis besar (ratusan pil) karena penyimpanan yang kurang hati-hati. Namun, kesalahan dosis pemberian, baik dosis berlebih, sehingga terjadi keracunan, ataupun dosis kurang, sehingga manfaat yang diinginkan tidak didapatkan, bisa saja terjadi karena ketidaktahuan pemilik. Beberapa suplemen juga bisa berinteraksi dengan obat lain dan malah menyebabkan efek samping, misalnya minyak ikan dengan obat pengencer darah. Ini bisa dicegah jika pemilik berkonsultasi dan mengetahui dosis yang tepat untuk hewan, tetapi masalahnya, pemilik sering tidak memberi tahu suplemen apa saja yang digunakan kepada dokter hewan dan dokternya juga tidak menanyakan.

Image by Lucio Alfonsi from Pixabay

Masalah kualitas juga menjadi isu penting dalam pasar suplemen. Seringkali, apa yang dituliskan di label tidak sesuai dengan produk di dalamnya, entah jenis kandungan maupun jumlahnya. Ini terjadi di banyak produk suplemen glukosamin kondroitin (8) dan probiotik (9). Di Amerika Serikat, tidak ada mekanisme jelas yang menjamin transparansi dan akuntabilitas suplemen selama belum ada kasus yang dilaporkan (4). Di Indonesia sendiri, khususnya di e-commerce, banyak suplemen hewan yang tidak jelas komposisinya, produsennya, kandungannya, tetapi dipasarkan dengan berbagai klaim kesehatan yang cukup hebat.

Tidak mudah untuk mengevaluasi apakah suatu produk suplemen betul-betul bagus, seperti klaimnya. Namun, ada beberapa pertanyaan yang patut diajukan untuk menguji suatu suplemen (10):

  1. Apakah produk ini benar-benar bermanfaat seperti klaimnya? Apakah ada penelitiannya atau cuma berdasarkan testimoni? Testimoni ala Klinik Tong Fang tidak bisa dijadikan dasar klaim manfaat.
  2. Apakah produk ini benar-benar mengandung zat yang diklaim? Apakah zat tersebut bisa digunakan oleh tubuh? Contohnya, kunyit diklaim bermanfaat sebagai antiradang dan antioksidan, tetapi sebenarnya sangat sulit diserap dan digunakan ketika dimakan (11).
  3. Kalau sudah ada penelitian, apakah studi tersebut hanya dilakukan di lab (in vitro) atau sudah diujikan pada hewan hidup (in vivo)? Zat yang bermanfaat in vitro belum tentu bermanfaat pada hewan hidup. Contohnya, ivermectin disebut dapat menghambat replikasi virus in vitro, tetapi dosis yang digunakan terlalu tinggi dan tidak mungkin bisa digunakan pada orang hidup.
  4. Apakah penelitian dilakukan pada spesies yang sama, misalnya penelitian suplemen anjing dilakukan di anjing, bukan mencit? Walaupun anatomi dan fisiologi tiap hewan mirip, banyak juga perbedaan yang mungkin memengaruhi efektivitas dan keamanannya. Misalnya, herbal yang mengandung kafein aman bagi manusia, tetapi dosis kecil pun bisa beracun kucing dan anjing.
  5. Apakah penelitian menggunakan dosis yang dikandung dalam produk? Perbedaan dosis bisa memengaruhi keamanan dan efektivitas.
  6. Apakah ada grup kontrol pada penelitiannya? Grup kontrol adalah grup yang tidak menerima suplemen, agar bisa dibandingkan dengan grup yang menerima suplemen. Kalau tidak ada grup kontrol, bagaimana kita tahu grup yang menerima suplemen lebih baik dibanding yang tidak?
  7. Apakah penelitian dipublikasikan di publikasi ilmiah, misal di jurnal peer-reviewed atau prosiding konferensi? Jika tidak dipublikasi, kita tidak tahu apakah metode penelitian dan hasilnya benar-benar berkualitas dan layak dipercaya.
  8. Ada bahan aktif apa di produk tersebut, terutama jika ada lebih dari satu bahan aktif? Apakah bahan-bahan tersebut bisa berinteraksi dan menyebabkan efek buruk?
  9. Apakah hewan sedang menerima pengobatan lain? Mungkinkan suplemen ini berinteraksi dengan obat?
  10. Apakah suplemen ini sudah pernah diuji keamanannya pada dosis yang dianjurkan?
  11. Apakah margin of safety (rentang dosis terkecil efektif dan maksimum sebelum keracunan) sudah ditentukan? Jangan sampai hewan malah keracunan suplemen karena kita tidak tahu dosis yang aman.

Beberapa suplemen yang sudah saya bahas:

Referensi

1.        Laflamme D, Abood SK, Fascetti A, Fleeman L, Freeman LM, Michel KE, et al. Pet feeding practices of dog and cat owners. J Am Vet Med Assoc [Internet]. 2008;232(5):687–94. Available from: https://avmajournals-avma-org.subzero.lib.uoguelph.ca/doi/pdf/10.2460/javma.232.5.687

2.        Bianco A V., Abood S, Mutsaers A, Woods JP, Coe JB, Verbrugghe A. Unconventional diets and nutritional supplements are more common in dogs with cancer compared to healthy dogs: An online global survey of 345 dog owners. Vet Comp Oncol. 2020;18(4):706–17.

3.        Elrod SM, Hofmeister EH. Veterinarians’ attitudes towards use of nutraceuticals. Can J Vet Res. 2019;83(4):291–7.

4.        Finno CJ. Veterinary Pet Supplements and Nutraceuticals. Nutr Today. 2020;55(2):97–101.

5.        Ooms TG, Khan SA, Means C. Suspected caffeine and ephedrine toxicosis resulting from ingestion of an herbal supplement containing guarana and ma huang in dogs: 47 cases (1997-1999). J Am Vet Med Assoc. 2001;218(2):225–9.

6.        Nobles IJ, Kha S. Multiorgan dysfunction syndrome secondary to joint supplement overdosage in a dog. Can Vet J. 2015;56(4):361–4.

7.        Borchers A, Epstein SE, Gindiciosi B, Cartoceti A, Puschner B. Acute enteral manganese intoxication with hepatic failure due to ingestion of a joint supplement overdose. J Vet Diagnostic Investig. 2014;26(5):658–63.

8.        Ramey DW, Eddington N, Thonar E, Lee M. An analysis of glucosamine and chondroitin sulfate content in oral joint supplement products. J Equine Vet Sci. 2002;22(3):125–7.

9.        Weese S, Martin H. Assessment of commercial probiotic bacterial contents and label accuracy. Can Vet J. 2011;52(1):43–6.

10.      Fascetti AJ. Nutraceuticals. In: 13th ECVIM-CA Congress. 2003.

11.      Kocaadam B, Şanlier N. Curcumin, an active component of turmeric (Curcuma longa), and its effects on health. Crit Rev Food Sci Nutr. 2017;57(13):2889–95.

One thought on “Hewan Peliharaanmu Tidak Butuh Vitamin dan Suplemen Kalau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s