Untuk kelinci dan marmut, sebenarnya pelet cuma bagian kecil dari total makanan harian. Makanan utama mereka adalah hay. Namun, pemberian pelet tetap direkomendasikan untuk memastikan pemenuhan nutrisi, apa lagi kalau owner malas menyiapkan sayur beraneka ragam tiap hari. Sayangnya, banyak pelet di pasaran yang dibuat asal-asalan, bukan untuk kesehatan dan kebaikan hewannya. Kalau begini, bisa-bisa pemberian pelet malah membawa efek buruk bagi kesehatan kelinci. Apa lagi, masih banyak owner yang menjadikan pelet makanan utama atau tidak terbatas. Apa sih kriteria pelet yang baik?

Sayang sekali, penelitian dan regulasi mengenai nutrisi kelinci, marmut, atau mamalia eksotik lainnya belum sebanyak di anjing dan kucing. Ada pun, lebih banyak yang membahas kelinci sebagai hewan ternak atau marmut sebagai hewan lab.

Kalau di anjing dan kucing, ada panduan nutrisi dari AAFCO dan FEDIAF untuk makanannya. Sebenarnya, FEDIAF juga punya panduan nutrisi untuk kelinci peliharaan (1), tetapi panduan ini tidak sepopuler dan mengikat panduan untuk anjing dan kucing. Selain itu, dry food atau wet food anjing dan kucing harus lengkap dan seimbang, dalam arti nutrisi anjing dan kucing sudah cukup terpenuhi dari satu produk itu saja. Kita tidak bisa menerapkan prinsip yang sama di kelinci atau marmut, karena mereka juga butuh hay dan sayuran, bahkan lebih banyak dari pelet.

Sebelum ngomongin nutrisi lebih jauh, sadar ga, saya membedakan penyebutan kibble dan pelet? Ini bukan istilah marketing saja, tapi kibble dan pelet memang dibuat dengan proses berbeda. Kibble anjing dan kucing dibuat dengan proses ekstrusi (seperti chiki dan sereal yang kita makan), sementara pelet dibuat dengan proses peletisasi. Mesin yang digunakan tentu berbeda Proses peletisasi lebih murah dari ekstrusi, tetapi butuh waktu lebih lama dan tidak sefleksibel ekstrusi. Makanya, bentuk kibble bisa bermacam-macam, tetapi pelet bentuknya silinder terus. Kebanyakan makanan kelinci berbentuk pelet yang dibuat melalui peletisasi, tetapi ada juga yang diekstrusi (2). Namun, untuk kelinci, keduanya kita sebut pelet.

Jadi, kelinci butuh pelet yang seperti apa?

Nutrisi
Kunci nutrisi pelet dan marmut kelinci adalah tinggi serat, rendah karbohidrat, mungkin rendah protein dan lemak juga, tetapi ini relatif. FEDIAF (1) merekomendasikan makanan kelinci dewasa secara keseluruhan (bukan pelet saja) mengandung 14-25% serat kasar, 0-20% karbohidrat pati, 12-17% protein, 2-5% lemak, 0,5% kalsium, dan 0,4% fosfor. Masih banyak nutrien lain yang dibutuhkan, tetapi ini yang umum dicantumkan di kemasan. Persentase di sini maksudnya berapa gram nutrien tersebut dalam 100 gram makanan.

Kadar masing-masing nutrien ini harus pas. Protein yang terlalu tinggi ditakutkan bisa menyuburkan perkembangan bakteri jahat proteolitik (Clostridium spp.) di usus, karena mereka menggunakan nitrogen dari protein untuk hidup (3). Karbohidrat yang tinggi juga mengganggu keseimbangan bakteri di usus, bahkan bisa menyebabkan gangguan pergerakan saluran pencernaan (GI stasis). Lemak terlalu tinggi bisa menyebabkan penambahan berat badan berlebih, apa lagi kalau peletnya enak. Kekurangan kalsium atau ketidakseimbangan kalsium fosfor bisa menyebabkan gangguan tulang dan gigi.

FEDIAF belum punya panduan serupa untuk marmut, tetapi prinsip tinggi serat, rendah karbohidrat tetap berlaku. Yang spesial dari marmut dan membedakannya dengan kelinci, mereka tidak bisa membuat vitamin C sendiri dari glukosa, jadi vitamin C harus didapat dari makanan, seperti manusia. Vitamin C mudah rusak jika teroksidasi, sehingga vitamin C dalam pelet marmut harus dilindungi dengan stabilisasi dan tidak boleh disimpan terlalu lama.

Kenapa seratnya disebut serat kasar? Serat kasar cuma menghitung serat yang tidak larut air, selulosa dan lignin; itu pun tidak semuanya. Padahal, total serat yang dibutuhkan kelinci juga mencakup serat lainnya, dan selisihnya bisa jauh sekali. Misalnya, dalam satu studi (4), makanan yang dianalisis semuanya mengandung serat kasar dalam kisaran mirip-mirip, belasan persen, tapi ternyata total seratnya bervariasi sekali. Ada yang 15%, ada yang 30%, bahkan ada yang sampai 51%. Jadi, sebenarnya, serat kasar ini metode analisis yang kurang bisa diandalkan. Sebenarnya, FEDIAF juga punya rekomendasi untuk neutral detergent fibre (NDF), yaitu 35-45%. Ini hampir sama dengan serat total, cuma tidak menghitung pektin (serat larut air). Sayangnya, jarang ada makanan kelinci yang mencantumkan NDF di label. Jadi harus bagaimana?

Image by Ferdie De Oliveira from Pixabay

Komposisi
Kalau kita bicara soal makanan anjing dan kucing, saya tidak merekomendasikan membaca daftar komposisi, tetapi kalau bicara makanan kelinci, mungkin membaca komposisi ada gunanya. Sulit untuk tahu total serat dalam makanan, tetapi makanan yang bahan dasarnya hay cenderung lebih tinggi serat totalnya (4). Dalam penelitian lain, ada makanan yang lemaknya terlalu rendah, dan ternyata memang tidak ada bahan berbau lemak di komposisinya (5). Tetapi, komposisi tetap tidak bisa dijadikan patokan, karena kita tidak tahu proporsi sebenarnya tiap bahan. Seringkali juga, penggunaan istilah dalam komposisi tidak detail, jadi kita tidak bisa tahu apa-apa.

Bagaimana dengan pelet yang menggunakan bahan alfalfa hay? Bukannya alfalfa kurang bagus untuk kelinci dewasa? Memang alfalfa hay kurang bagus jika diberikan sebagai hay utama secara tidak terbatas, tetapi tidak masalah jika dijadikan pelet. Pelet memang kodratnya lebih padat nutrisi daripada hay, dan pemberian hay sendiri memang baiknya dibatasi. Selama komposisi nutrisinya masih dalam rentang yang dianjurkan, tidak apa-apa.

Bentuk dan Tampilan
Di anjing dan kucing, bentuk kibble memang bisa memengaruhi perilaku makan. Di kelinci, tampilan pelet juga sangat menentukan bagus tidaknya. Ada dua jenis pelet yang sering dipasarkan untuk kelinci, pelet seragam, yang bentuknya sama semua, dan muesli, yang berupa campuran berbagai bahan, mirip sereal manusia.

Muesli untuk kelinci. Jiang Hongyan/Shutterstock.com

Tampilan muesli memang cantik, tetapi ini memicu perilaku pilih-pilih makan (6). Mereka cuma akan memilih bagian muesli yang dirasa enak, tetapi sisanya yang dianggap kurang enak ditinggal, padahal yang ditinggal biasa mengandung nutrisi yang dibutuhkan kelinci, seperti serat dan kalsium. Perilaku pilih-pilih makan ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan kelinci. Selengkapnya mengenai muesli dan pelet seragam bisa dibaca di sini.

Sains di Balik Makanan
Sama seperti makanan anjing dan kucing, makanan kelinci dan marmut yang baik dibuat oleh perusahaan dan orang-orang yang peduli pada sains nutrisi, bukan keuntungan semata. Selain dari hal-hal yang sudah disebut di atas, ada dua kriteria yang bisa saya bagikan. Apakah mereka melakukan penelitian untuk memajukan ilmu nutrisi? Apakah mereka memberi dukungan terhadap pendidikan dokter hewan? Di Indonesia, ada dua merk makanan kelinci dan marmut yang saya tahu melakukan ini: Oxbow Animal Health dan Burgess. Artikel ini tidak disponsori keduanya, kok.

Banyak penelitian yang saya gunakan dalam tulisan ini didukung oleh Burgess. Beberapa penelitian di mamalia eksotik lainnya yang pernah saya baca didukung oleh atau ditulis oleh dokter hewan dari Oxbow. Saya sudah pernah mendapat akses webinar kesehatan mamalia eksotik untuk dokter hewan dari keduanya. Dengan Oxbow sendiri, saya malah sudah pernah berkomunikasi untuk kerja sama dengan mahasiswa Kedokteran Hewan, dengan tanggapan yang sangat baik.

Simpulan
Pelet hanya bagian kecil dari makanan kelinci dan marmut, tidak bisa menggantikan hay dan sayuran. Namun, tetap penting untuk memastikan mereka mendapat nutrisi seharusnya dari pelet. Pelet yang baik tinggi serat dan rendah karbohidrat, berbahan dasar hay atau rumput, bentuknya seragam, dan didukung oleh perusahaan yang peduli sains.

Referensi
1.        FEDIAF. Nutritional Guidelines for Feeding Pet Rabbits. Eur Pet Food Ind Fed [Internet]. 2013;(May):1–42. Available from: http://www.fediaf.org
2.        Crane SW, Cowell CS, Stout NP, Moser EA, Millican J, Peter Romano J, et al. Commercial Pet Food. In: Hand MS, Thatcher CD, Remillard RL, Roudebush P, Novtony BJ, Lewis LD, editors. Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition. Topeka: Mark Morris Institute; 2010.
3.        García-Palomares J, Carabaño R, García-Rebollar P, De Blas JC, Corujo A, García-Ruiz AI. Effects of a dietary protein reduction and enzyme supplementation on growth performance in the fattening period. World Rabbit Sci. 2006;14(4):231–6.
4.        Molina J, Martorell J, Hervera M, Pérez-Accino J, Fragua V, Villaverde C. Preliminary study: Fibre content in pet rabbit diets, crude fibre versus total dietary fibre. J Anim Physiol Anim Nutr (Berl). 2015;99(S1):23–8.
5.        Kazimierska K, Biel W. Analysis of the nutrient composition of selected commercial pet rabbit feeds with respect to nutritional guidelines. J Exot Pet Med [Internet]. 2021;39(April 2020):2–6. Available from: https://doi.org/10.1053/j.jepm.2021.06.006
6.        Prebble JL, Meredith AL. Food and water intake and selective feeding in rabbits on four feeding regimes. J Anim Physiol Anim Nutr (Berl). 2014;98(5):991–1000.

2 thoughts on “Memilih Pelet untuk Kelinci dan Marmut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s