Kamu bisa tahu berapa banyak kucing makan sehari dengan melihat panduan di kemasan atau menghitung sendiri, tapi berapa kali kucing harusnya makan dalam sehari? Apakah tiga kali sehari seperti manusia?

Ada beberapa praktik berbeda terkait ini, misalnya artikel Kompas yang bilang sekali atau dua kali sehari atau artikel Okezone yang bilang kucing harusnya dikasih makan sekali sehari saja, tetapi bukti ilmiah bisa memberi kita jawaban.

Image by suju-foto from Pixabay

Tinjauan evolusi dan perilaku alami
Ada satu mantra sakral di kalangan praktisi kucing: kucing bukan anjing kecil. Walaupun sama-sama karnivora dan mencari makan dengan berburu, nenek moyang kucing dan anjing (serigala) punya perilaku makan yang berbeda sekali. Anjing berburu dalam kawanan, jadi mereka bisa merubuhkan mangsa besar, seperti rusa. Namun, kucing adalah pemburu soliter (1) Karena ukuran tubuhnya kecil dan berburu sendiri, tentu mangsanya juga kecil. Makanan utama lucing liar adalah tikus, burung, dan kelinci (2).

Berapa kali kucing makan di alam? Satu ekor mencit mungkin hanya mengandung 30 kcal, apa lagi 70-80% tubuhnya adalah air. Anggaplah kucing seberat 4 kg butuh 250 kcal per hari, berarti mereka butuh 8 ekor mencit untuk memenuhi kebutuhan kalorinya. Kucing lebih suka makan tangkapan baru daripada disimpan untuk nanti, setiap makan pun mereka harus berburu dulu. Dalam sehari, berarti alaminya mereka bisa berburu dan makan sampai 8 kali dalam porsi kecil, berbeda dengan anjing atau manusia yang makan 2 atau 3 kali sehari dalam porsi lebih besar.

Itu, kan, kucing liar yang makanannya hewan buruan. Bagaimana dengan kucing peliharaan yang terbiasa makan makanan komersil? Beberapa penelitian pada kucing peliharaan menemukan hasil serupa: mereka makan dalam porsi kecil tapi sering selama 24 jam. Ada yang bilang kucing lebih banyak di malam hari, ada yang bilang siang, ada yang bilang subuh dan sore. Ketika diberi dry food sepanjang hari, kucing bisa makan sampai 7 sampai 20 kali sehari, rata-rata 5-7 gram setiap kali makan (3–5). Namun, bisa ada perbedaan antarkucing atau antarras, misalnya kucing Persia makan lebih lama dan lebih sedikit dibanding kucing lain karena bentuk rahangnya yang pesek menyulitkan lidah mengambil kibble.

Jadi, perilaku makan kucing adalah porsi kecil sepanjang hari, bukan porsi besar dua kali sehari seperti manusia. Dari sudut pandang kesejahteraan hewan, masuk akal jika kita membiarkan kucing mengekspresikan perilaku alami dengan makan sebagaimana perilaku alaminya.

Implikasi bagi kesehatan
Namun, apakah frekuensi makan sepenting itu? Adakah efeknya bagi kesehatan, bila kucing makan 2 kali atau 20 kali?

Salah satu penyakit yang paling sering menyerang kucing di Indonesia adalah susah pipis (FLUTD), yang bisa disebabkan adanya batu di saluran kencing (urolithiasis). Saya pernah menjumpai praktisi yang bilang penyebabnya adalah kucing yang dibiarkan makan sering sepanjang hari (“ngemil”), dan menyarankan kucing diberi makan dua kali sehari saja. Saya tidak tahu apa maksud pernyataan tersebut. Mungkin maksud beliau adalah jangan sampai kucingnya obesitas, karena obesitas memang salah satu faktor risiko susah pipis (6,7). Namun, pemberian makan dalam porsi besar justru kontraproduktif dalam mencegah terbentuknya batu di saluran kemih.

Sampai beberapa tahun terakhir, batu yang paling sering menyebabkan urolithiasis di kucing adalah struvite (8,9). Sekarang sih, jumlahnya balap-balapan dengan kalsium oksalat. Kalau kamu pernah dengar saran cari makanan kucing yang rendah magnesium, itu untuk mencegah terbentuknya struvite, karena nama asli dan pembentuk struvite adalah magnesium amonium fosfat. Selain komposisi mineral, pembentukan struvite sangat dipengaruhi oleh keasaman urin. Struvite mudah membentuk di urin basa (pH lebih dari 7), dan karena itu banyak makanan kering yang ditambahkan pengasam urin (10). (Ini salah satu yang bikin kasus urolithiasis kalsium oksalat naik, tapi itu cerita lain).

Pengaruh frekuensi makan terhadap pH urin. Sumber: Small Animal Clinical Nutrition 6th ed, Mark Morris Institute via Clinician’s Brief

Bukan cuma makanan itu sendiri, tapi frekuensi makan juga bisa berpengaruh terhadap keasaman urin. Beberapa penelitian membuktikan kalau kucing yang diberi makan sehari sekali atau dipuasakan akan mengalami fase di mana urinnya jadi basa, dan karena itu, batu struvite jadi mudah membentuk (11–13).

Kenapa bisa begitu? Saat makan, lambung akan mengeluarkan asam. Untuk mengkompensasi asam yang dikeluarkan di lambung, tubuh juga perlu menghemat asam, biar keseimbangan asam-basa tubuh terjaga. Caranya? Ginjal akan menahan asam yang harusnya dikeluarkan di urin, diserap lagi ke darah. Akibatnya, ya urin jadi lebih basa. Fenomena ini disebut postprandial alkaline tide. Semakin banyak porsi yang dimakan kucing, semakin banyak asam lambung yang dikeluarkan, semakin basalah urin kucing dan struvite berkesempatan membentuk. Sebaliknya, jika kucing makan sedikit-sedikit sepanjang hari, pH urin cenderung stabil, tidak akan tiba-tiba jadi basa.

Kalau dikasih makan terus menerus, bukannya kucing akan jadi obesitas?
Sebenarnya, kucing bisa mengontrol kebutuhan kalori hariannya, tetapi, makanan kucing hari ini didesain dengan palatabilitas tinggi. Karena terlalu enak, kucing sering lupa diri dan makan terlalu banyak. Ini yang membuat obesitas pada kucing makin naik (14). Di sisi lain, memberi makan sekali atau dua kali juga bukan solusi. Kucing yang stress karena perilaku alaminya tidak terpenuhi juga bisa melampiaskan dengan makan dan malas bergerak (15). Terlebih, kucing yang makan lebih sering juga lebih sering beraktivitas dibanding yang hanya makan sekali (16). Kuncinya, kita bukan memberi makan tidak terbatas. Porsi hariannya tetap kita kontrol sesuai takaran porsi, hanya saja, kita biarkan dry food tersedia sepanjang hari.

Lebih baik lagi, kita bisa gunakan dispenser atau puzzle feeder, agar makanan tidak tergeletak saja sepanjang hari. Puzzle feeder juga bisa menstimulasi perilaku bermain sebagai pengayaan mental kucing (17). Puzzle feeder tidak harus mahal. Beberapa bahan di rumah juga bisa jadi puzzle feeder, seperti cetakan es batu atau tatakan telur. Kamu juga bisa coba melempar kibble di lantai, biar kucing termotivasi bergerak untuk makan. Beberapa tips bisa dicek di sini.

Gimana dengan studi yang bilang kucing makan sekali sehari bisa bikin kurus?
Studi tersebut memang benar (18). Yang salah adalah orang-orang yang menginterpretasi secara asal, atau bahkan tanpa membaca. Dalam studi dengan 16 kucing tersebut, kucing yang diberi makan sekali sehari memiliki hormon kekenyangan dan kadar insulin yang lebih tinggi dalam darah, sehingga diduga dapat membantu proses penurunan berat badan sambil tetap menjaga massa otot. Namun, hasil yang paling penting, yaitu perubahan berat badan kucing yang diberi makan sekali maupun empat kali tidak berbeda. Mungkin hasilnya akan berbeda jika studi itu dilakukan lagi dengan waktu yang lebih lama atau kucing yang lebih banyak, tetapi sebelum ada bukti yang lebih kuat, kita belum bisa menyimpulkan makan sekali sehari lebih baik untuk kucing.

Processing…
Terima kasih! Nantikan update txtdaripetfood ya!

Referensi

1.        Bradshaw JWS. The Evolutionary Basis for the Feeding Behavior of Domestic Dogs (Canis familiaris) and Cats (Felis catus). J Nutr. 2006;136(February):1927S-1931S.

2.        Plantinga EA, Bosch G, Hendriks WH. Estimation of the dietary nutrient profile of free-roaming feral cats: possible implications for nutrition of domestic cats. Br J Nutr. 2011;106(S1):S35–48.

3.        Ligout S, Si X, Vlaeminck H, Lyn S. Cats reorganise their feeding behaviours when moving from ad libitum to restricted feeding. J Feline Med Surg. 2020;22(10):953–8.

4.        Horwitz D, Soulard Y, Junien-Castagna A. The feeding behavior of the cat. In: Pibot P, Biourge V, Elliott D, editors. Encyclopedia of Feline Clinical Nutrition. Aimargues: Royal Canin; 2006.

5.        Kane E, Rogers QR, Morris JG. Feeding behavior of the cat fed laboratory and commercial diets. Nutr Res [Internet]. 1981;1(5):499–507. Available from: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S027153178180053X

6.        Piyarungsri K, Tangtrongsup S, Thitaram N, Lekklar P, Kittinuntasilp A. Prevalence and risk factors of feline lower urinary tract disease in Chiang Mai, Thailand. Sci Rep [Internet]. 2020;10(1):1–8. Available from: http://dx.doi.org/10.1038/s41598-019-56968-w

7.        Defauw PAM, Van de Maele I, Duchateau L, Polis IE, Saunders JH, Daminet S. Risk factors and clinical presentation of cats with feline idiopathic cystitis. J Feline Med Surg. 2011;13(12):967–75.

8.        Kopecny L, Palm CA, Segev G, Larsen JA, Westropp JL. Urolithiasis in cats: Evaluation of trends in urolith composition and risk factors (2005-2018). J Vet Intern Med. 2021;35(3):1397–405.

9.        Houston DM, Vanstone NP, Moore AEP, Weese HE, Weese JS. Evaluation of 21 426 feline bladder urolith submissions to the Canadian Veterinary Urolith Centre (1998-2014). Can Vet J. 2016;57(2):196–201.

10.      Forrester SD, Kruger JM, Allen T. Feline Lower Urinary Tract Diseases. In: Hand MS, Thatcher CD, Remillard RL, Roudebush P, Novtony BJ, Lewis LD, editors. Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition. Topeka, KS: Mark Morris Institute; 2010.

11.      Taton GF, Hamar DW, Lewis LD. Evaluation of ammonium chloride as a urinary acidifier in the cat. J Am Vet Med Assoc. 1984 Feb;184(4):433–6.

12.      Tarttelin MF. Feline struvite urolithiasis: fasting reduced the effectiveness of a urinary  acidifier (ammonium chloride) and increased the intake of a low magnesium diet. Vet Rec. 1987 Sep;121(11):245–8.

13.      Finke MD, Litzenberger BA. Effect of food intake on urine pH in cats. J Small Anim Pract. 1992;33(6):261–5.

14.      Sadek T, Hamper B, Horwitz D, Rodan I, Rowe E, Sundahl E. Feline Feeding Programs: Addressing behavioral needs to improve feline health and wellbeing. J Feline Med Surg. 2018;20(11):1049–55.

15.      McMillan FD. Stress-induced and emotional eating in animals: A review of the experimental evidence and implications for companion animal obesity. J Vet Behav Clin Appl Res [Internet]. 2013;8(5):376–85. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.jveb.2012.11.001

16.      de Godoy MRC, Ochi K, de Oliveira Mateus LF, de Justino ACC, Swanson KS. Feeding frequency, but not dietary water content, affects voluntary physical activity in young lean adult female cats. J Anim Sci. 2015;93(5):2597–601.

17.      Dantas LMS, Delgado MM, Johnson I, Buffington CT. Food puzzles for cats: Feeding for physical and emotional wellbeing. J Feline Med Surg. 2016;18(9):723–32.

18.      Camara A, Verbrugghe A, Cargo-Froom C, Hogan K, DeVries TJ, Sanchez A, et al. The daytime feeding frequency affects appetite-regulating hormones, amino acids, physical activity, and respiratory quotient, but not energy expenditure, in adult cats fed regimens for 21 days. PLoS One [Internet]. 2020;15(9 September):1–23. Available from: http://dx.doi.org/10.1371/journal.pone.0238522

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s