Ringkasan:
Produk transfer factor yang sering digunakan untuk kucing berbeda dengan transfer factor yang awalnya ditemukan dan sering diteliti. Produk tersebut bertentangan dengan cara kerja transfer factor dan tidak didukung penelitian kredibel. Hanya ada beberapa penelitian di jurnal predator. Selama tidak ada penelitian di hewan peliharaan yang menyatakan mereka lebih tahan sakit atau cepat sembuh, kita tidak bisa menilai efektivitas produk ini.

“Suplemen imunitas” ini mulanya adalah produk untuk manusia, tapi entah sejak kapan, perusahaan yang membuatnya juga memproduksi subset produk untuk kucing dan anjing. Meski begitu, di e-commerce, saya lihat banyak yang menjual Transfer Factor manusia untuk kucing. Saya tidak tahu beda keduanya, tapi menurut saya seharusnya isinya sama. Produk ini biasa dijual melalui skema MLM di manusia. Senior dokter hewan saya pernah cerita juga ada yang menawarkan ke klinik tempat beliau bekerja. Harganya lumayan tidak ramah di kantong, menurut saya. Makanya, banyak yang jual eceran per kapsul di e-commerce, walaupun saya tidak tahu produsennya memperbolehkan atau tidak.

Ngomongin harganya yang tidak ramah kantong, apakah sebanding dengan manfaatnya? Sebelum masuk ke sana, mungkin kita perlu tahu sedikit tentang kerja sistem imun yang terkait dengan Transfer Factor.

Sekilas tentang sistem imun manusia dan hewan
Ada dua jenis sistem imun: sistem imun nonspesifik dan spesifik. Ketika diserang musuh pertama kali, sistem imun nonspesifik akan bereaksi. Kulit, lendir, bulu hidung termasuk ke dalam sistem imun nonspesifik, tetapi ada juga sel-sel tertentu yang memakan musuh. Sesuai namanya, nonspesifik, sistem imun ini tidak pandang bulu. Tidak peduli siapa musuhnya, selama dia tahu bahwa itu musuh, ya akan diserang.

Sementara itu, sistem imun spesifik bekerja sesuai dengan musuh yang dihadapi. Beda musuh, beda juga cara menyerangnya. Karena itu, kerja sistem imun spesifik lebih efisien dan efektif, tetapi butuh waktu lebih untuk mengenali dan membentuk pasukan penyerang musuh. Ada dua jenis sistem imun spesifik: humoral (antibodi), dan berperantara sel. Transfer Factor mengklaim bekerja melalui sistem imun berperantara sel. Biar lebih jelas, silakan baca slideshow di bawah.


Apa itu Transfer Factor?
Setelah sekali bertemu dan melawan musuh, misalnya SARS-CoV-2 (virus penyebab COVID-19), sistem imun spesifik akan membentuk memori terhadap virus tersebut. Jadi, besok-besok kalau ketemu virus SARS-CoV-2 lagi, sistem kekebalan humoral (antibodi) dan berperantara sel bisa langsung menyerang dengan cepat. Makanya, orang yang sudah pernah kena COVID-19 cenderung lebih kebal, setidaknya selama beberapa bulan setelahnya, atau orang yang sudah kena cacar sekali, konon tidak akan kena cacar lagi. Vaksinasi juga menggunakan cara kerja yang sama dalam membentuk imunitas.

Memori kekebalan ini hanya ada pada tubuh orang yang sudah pernah bertemu virus tersebut. Namun, tahun 1949, seorang dokter bernama H. Sherwood Lawrence membuktikan bahwa memori kekebalan ditransfer ke orang lain. Bahkan, sel tersebut tidak perlu berbentuk utuh dan dan masih hidup. Sel yang sudah pecah menjadi molekul kecil juga bisa (1). Dengan demikian, orang yang belum pernah bertemu musuh bisa mendapat memori dari sel imun orang lain. Molekul yang bisa mentransfer kekebalan inilah yang disebut transfer factor.

Ibaratnya, negara A pernah berperang dengan negara X dan menang. Negara A jadi tahu taktik perang negara X dan bisa menyusun strategi kalau negara X suatu saat menyerang kembali. Kemudian, negara X malah menyerang negara B, sahabat negara A. Negara A pun mengirim tenaga militernya yang sudah mengenal negara X ke negara B, sehingga negara B dapat menyusun strategi yang lebih matang.

Sel yang akan menjadi transfer factor adalah sel limfosit T, salah satu sel darah putih, jadi pembuatan transfer factor membutuhkan darah. Darah kemudian dipisahkan bagiannya, hingga didapat sel darah putih limfosit saja. Sel darah putih ini kemudian dipecahkan menjadi molekul transfer factor (2). Pada manusia, darah diambil dari pembuluh darah, tetapi sel darah putih yang bisa didapatkan sedikit. Kalah jumlahnya dengan sel darah merah dan plasma darah.

dibuat oleh AF untuk txtdaripetfood

Sel darah putih bisa didapatkan lebih banyak di organ kekebalan: limpa dan limfonodus, tetapi tidak mungkin mengambilnya dari manusia. Manusianya bisa mati. Namun, manusia bukan satu-satunya spesies yang bisa menghasilkan transfer factor. Transfer factor bisa dibuat dari sel darah putih di limpa dan limfonodus hewan, meski dengan begitu hewannya harus dibunuh (3,4).

Sayangnya, cara kerja transfer factor belum diketahui dengan jelas. Menurut Bernstein (5), penelitian mengenai transfer factor sempat mandek karena beberapa alasan:

  1. Di tahun 1950-1990an, tidak ada teknologi yang mampu menganalisis transfer factor pada level molekuler.
  2. Transfer factor berasal dari darah. Sulit untuk menjamin keamanannya di saat penyakit AIDS, yang penularannya dari darah, mencekam. Transfer factor ditakutkan bisa menjadi kendaraan penyebaran AIDS.
  3. Cara kerja transfer factor tidak bisa dijelaskan. Sulit untuk percaya bahwa transfer factor memang efektif, sementara cara kerjanya tidak diketahui.

Apakah transfer factor memang bisa dijadikan terapi kekebalan ini itu?
Bisa saja. Sudah ada lumayan banyak penelitian yang membahasnya penggunaan transfer factor pada pengobatan manusia (3,6–8), itu semua tidak relevan.

Karena transfer factor yang digunakan dalam penelitian-penelitian tersebut berbeda dengan transfer factor produk MLM, yang ada pada gambar pertama post ini!

Produk Transfer Factor vs transfer factor asli
Seperti sudah saya bahas, transfer factor asli (sering disebut juga dialyzable leukocyte extract, DLE) berasal dari sel darah putih, limfosit T, yang diambil dari darah atau limpa dan limfonodus. Sementara itu, produk MLM Transfer Factor terbuat dari kolostrum dan kuning telur. Kolostrum adalah susu pertama yang keluar setelah melahirkan. Warnanya kekuningan dan mengandung antibodi, karena memang fungsinya adalah bekal imunitas bayi baru lahir. Beberapa artikel ilmiah mengenai DLE atau transfer factor secara eksplisit menolak produk Transfer Factor dari kolostrum tersebut disebut transfer factor, karena ya memang berbeda (2,5,9). Kasarnya, produk tersebut hanya mendomplang nama transfer factor HS Lawrence.

dibuat oleh AF untuk txtdaripetfood

Selanjutnya, post ini akan fokus pada produk Transfer Factor dari kolostrum dan kuning telur yang sering digunakan di kucing. Untuk memudahkan, istilah produk Transfer Factor (dengan huruf kapital) saya gunakan untuk mengacu pada produk tersebut, sementara transfer factor asli dari darah akan saya tulis dengan huruf kecil atau saya sebut DLE (dialyzable leukocyte extract).

Memproduksi transfer factor dari kolostrum dan kuning telur?
Bukan tidak mungkin untuk memproduksi transfer factor dari kolostrum. Kolostrum juga mengandung sel darah putih (10,11), walau jumlahnya jauh di bawah sel darah putih di darah. Kalau kuning telur, setahu saya tidak ada, tetapi mungkin ada molekul lain yang fungsinya mirip transfer factor (4). Namun, kerja sel T yang dijadikan transfer factor DLE itu harusnya spesifik mengenali musuh tertentu. Misalnya, transfer factor untuk panleukopenia, ya harus diproduksi dari sel T yang sudah kenal dan punya memori cara menyerang panleukopenia. Transfer factor khusus panleukopenia tersebut tidak bisa jadi transfer factor untuk penyakit lain, misalnya calicivirus atau chlamydiosis. Kalau mau buat transfer factor untuk calicivirus, perlu sel T yang memang mengenali calicivirus.

Sayangnya, kerja produk Transfer Factor tidak begitu. Satu produk Transfer Factor dari kolostrum dan kuning telur diberikan untuk semua jenis penyakit, padahal penyakit sapi dan ayam berbeda dengan penyakit manusia dan kucing. Sangat kecil kemungkinan sel T mereka punya memori penyakit manusia dan kucing.

Apakah mungkin membuat transfer factor untuk kucing dari kolostrum dan kuning telur? Mungkin saja. Caranya, sapi atau ayam tersebut harus diimunisasi dengan penyakit tertentu yang mau dibuat transfer factornya. Misalnya, untuk membuat transfer factor panleukopenia, sapi harus disuntik panleukopenia dulu, lalu setelah kekebalan terbentuk, baru diambil transfer factor dari kolostrumnya. Mudah untuk bicara teori seperti ini, tetapi kenyataannya, saya juga tidak yakin bisa.

Cara ini sudah dimanfaatkan oleh Royal Canin dalam membuat pengganti susu anjing dengan antibodi terhadap parvovirus menggunakan kuning telur (Puppy ProTech). Parvovirus anjing disuntikkan kepada ayam petelur, lalu kuning telur yang mengandung antibodi terhadap parvovirus digunakan untuk membuat susu. Walaupun sama-sama spesifik, antibodi berbeda dengan sel T atau transfer factor. Antibodi tidak punya memori, jadi dalam beberapa minggu juga akan hilang. Selain itu, transfer antibodi adalah proses alami induk ke anak melalui kolostrum, berbeda dengan transfer factor yang merupakan hal baru

dibuat oleh AF untuk txtdaripetfood


Tidak terbayang akan sebanyak apa jenis produk Transfer Factor jika dibuat spesifik untuk tiap penyakit.

Sebenarnya, apa yang ditawarkan oleh Transfer Factor?
Menurut websitenya 4Life (produsennya), Transfer Factor mendukung kerja sistem imun dengan cara:

  1. Membantu sel sistem imun mengenali ancaman yang datang (bakteri, virus, atau penyebab penyakit lainnya).
  2. Mempercepat respon sistem imun setelah mengenali musuh.
  3. Membantu mengingat musuh yang pernah dihadapi, sehingga ketika musuh datang lagi, sistem imun tubuh sudah tahu cara melawannya.

    Klaimnya sama seperti transfer factor asli alias DLE.

Pertanyaan terpenting: adakah bukti ilmiahnya?
Setelah mengetahui bahwa transfer factor asli (DLE) berbeda dengan produk MLM Transfer Factor, kita tidak bisa menggunakan hasil penelitian DLE untuk membuktikan klaim produk Transfer Factor. Mereka juga tahu itu, sehingga mereka punya penelitian sendiri.

Klaim yang paling sering dibuat adalah Transfer Factor meningkatkan kerja sistem imun hingga 437%. Studi tersebut katanya diterbitkan di Journal of American Nutraceutical Association (1999). Jurnal tersebut sangat sulit dicari jejaknya di internet, suatu tanda bahwa jurnal tersebut bukan jurnal yang terpercaya atau berpengaruh.

Studi tersebut sendiri ternyata adalah studi in vitro, bukan dilakukan di manusia hidup, tetapi pada darah yang sudah diambil, lalu diujikan di tabung di lab. Darah yang sudah diambil diberikan Transfer Factor, kemudian dipertemukan dengan sel kanker. Setelah itu, mereka menemukan bahwa aktivitas sel NK (natural killer) dalam membunuh sel kanker meningkat 437%.

Hasil ini tidak membuktikan apa-apa. Pertama, sel NK tidak sama dengan sistem imun secara keseluruhan. Sel NK hanya satu komponen sistem imun yang demikian kompleks. Serangan yang berbeda seharusnya mengaktifkan komponen yang berbeda. Meningkatkan sistem imun juga tidak selalu bagus. Peradangan adalah hasil peningkatan sistem imun, tetapi bisa membunuh. Karena itu, semua suplemen yang mengklaim bisa “meningkatkan sistem imun” secara tidak spesifik hanya fafifu, sih. Kedua, penelitian tersebut dilakukan in vitro, pada darah di luar tubuh yang langsung dipertemukan dengan produk Transfer Factor. Kenyataannya, produk Transfer Factor dimakan, diserap di usus, lalu diedarkan lewat peredaran darah. Proses yang berbeda sekali, kan? Oleh karena itu, kita tidak bisa menganggap hasil in vitro memiliki efek yang sama ketika produk tersebut diberikan pada tubuh orang hidup.

Sepertinya, perusahaan Transfer Factor sadar akan kelemahan ini. Dalam 3 tahun terakhir, mereka punya studi-studi baru untuk dijadikan bukti bahwa Transfer Factor efektif, terlihat dari catatan kaki websitenya.

  • Method development for the analysis of PBMC-mediated killing of K562 cells by bovine colostrum and various fractions (12)
    Sama seperti studi sebelumnya, studi ini adalah studi in vitro yang melihat kemampuan sel darah dalam membunuh sel kanker setelah diberi kolostrum sapi. Karena ini adalah studi in vitro, komentar saya sama seperti di atas. Menariknya, mereka tidak membawa istilah transfer factor, tapi kolostrum sapi, sebagai obyek yang diteliti.
  • Effects of Transfer Factor Supplementation on Immune Reactions in Mice (13)
  • Non-specific immunostimulatory effects of transfer factor (14)
  • Antigen-specific immunomodulatory effects of transfer factor (15)
    Banyak ya, studi barunya? Namun, komentar saya untuk ketiga artikel di atas sama. Toh, ketiganya ditulis oleh orang yang sama dan dengan metode yang mirip. Pertama, studi dilakukan di mencit, bukan di spesies target, yakni manusia atau kucing. Siapa yang mau mengobati kucing dengan transfer factor? Mahal, Bun. Sementara, sistem imun tikus dan manusia atau kucing, kan tidak sama, walau lebih mirip dibanding hasil in vitro. Kedua, ketiganya tidak mengukur kerja sel T sebagai pelaku kekebalan berperantara sel, padahal kan, itu esensi transfer factor? Ketiga dan yang paling penting, ketiga studi tersebut diterbitkan di jurnal predator (diterbitkan oleh Medcrave, Annex Publisher, dan Austin Publishing Group, reputasi mereka bisa dicari di Google). Jurnal predator adalah jurnal tidak jelas, asal bayar bisa terbit, mau sejelek apa pun penelitiannya. Aneh sekali kalau ada tiga studi, dan ketiganya diterbitkan di jurnal predator. Ini tentu menimbulkan pertanyaan mengenai integritas peneliti.

Jadi, apakah produk Transfer Factor berguna (atau, kucing saya pake Transfer Factor sembuh, tuh)?
Sulit juga untuk bilang produk MLM Transfer Factor tidak berguna sama sekali, dan mungkin memang kandungan produk tersebut bisa memengaruhi kerja sistem imun. Misalnya, kolostrum memang mengandung beberapa komponen bioaktif dan dilaporkan bisa meningkatkan respon imun anjing terhadap vaksin (16). Namun, satu yang pasti: produk yang mendomplang nama Transfer Factor ini tidak sama sama dengan transfer factor dari sel T darah yang ditemukan oleh Dr HS Lawrence, dan sampai sekarang, tidak ada bukti kalau suplemen tersebut benar-benar efektif Kalau mau beli kolostrum saja sih, banyak merk lain yang lebih murah.

Oh, dan kucing sembuh setelah pakai transfer factor tidak sama dengan kucing sembuh karena pakai transfer factor. Selama kucing sakit, toh owner juga pasti memberi perhatian lebih, memberi obat, membawa ke dokter, yang semuanya berpengaruh bagi kesembuhan kucing. Perlu penelitian uji acak terkendali (randomized controlled trial) untuk membuktikan efektivitas suatu obat atau suplemen. Sayangnya, perusahaan yang membuat produk Transfer Factor belum mau melakukannya di kucing maupun manusia.

Referensi
1.        Lawrence HS. The Cellular Transfer of Cutaneous Hypersensitivity to Tuberculin in Man. Proc Soc Exp Biol Med. 1949;71(4):516–22.
2.        Macias AE, Guaní-Guerra E. Transfer Factor: Myths and Facts. Arch Med Res. 2020;51(7):613–22.
3.        McMeeking A, Borkowsky W, Klesius PH, Bonk S, Holzman RS, Lawrence HS. A controlled trial of bovine dialyzable leukocyte extract for cryptosporidiosis in patients with AIDS. J Infect Dis. 1990;161(1):108–12.
4.        Xu YP, Zou WM, Zhan XJ, Yang SH, Xie DZ, Peng SL. Preparation and determination of immunological activities of anti-HBV egg yolk extraction. Cell Mol Immunol. 2006;3(1):67–71.
5.        Root-Bernstein R. The Mysterious, and Potentially Revolutionary , Immunological Properties of Transfer Factor : A Review. Preprints. 2019;(2019050386).
6.        Castrejón Vázquez MI, Reséndiz-Albor AA, Ynga-Durand MA, Arciniega Martínez IMI, Orellana-Villazon VI, García López CA, et al. Dialyzable Leukocyte Extract (TransferonTM) Administration in Sepsis: Experience from a Single Referral Pediatric Intensive Care Unit. Biomed Res Int. 2019;2019.
7.        Mellado-Sánchez G, Lázaro-Rodríguez JJ, Avila S, Vallejo-Castillo L, Vázquez-Leyva S, Carballo-Uicab G, et al. Development of functional antibodies directed to human dialyzable leukocyte extract (Transferon®). J Immunol Res. 2019;2019.
8.        Pizza G, De Vinci C, Fornarola V, Palareti A, Baricordi O, Viza D. In vitro studies during long term oral administration of specific transfer factor. Biotherapy. 1996;9(1–3):175–85.
9.        Viza D, Fudenberg H, Palareti A, Ablashi D, Vinci C De, Pizza G. Transfer factor: An overlooked potential for the prevention and treatment of infectious diseases. Folia Biol (Czech Republic) [Internet]. 2013;59(2):53–67. Available from: http://www.embase.com/search/results?subaction=viewrecord&from=export&id=L369453930%5Cnhttp://fb.cuni.cz/file/5680/FB2013A0007.pdf
10.      Diaz-Jouanen E, Williams RC. T and B lymphocytes in human colostrum. Clin Immunol Immunopathol. 1974;3(2):248–55.
11.      Ohtsuka H, Terasawa S, Watanabe C, Kohiruimaki M, Mukai M, Ando T, et al. Effect of parity on lymphocytes in peripheral blood and colostrum of healthy holstein dairy cows. Can J Vet Res. 2010;74(2):130–5.
12.      Vieira-Brock P d, Andersen A, Vaughan B, Vollmer D. Method development for the analysis of PBMC-mediated killing of K562 cells by bovine colostrum and various fractions. J Immunol [Internet]. 2019 May 1;202(1 Supplement):183.18 LP-183.18. Available from: http://www.jimmunol.org/content/202/1_Supplement/183.18.abstract
13.      Vetvicka V, Vetvickova J. Effects of Transfer Factor Supplementation on Immune Reactions in Mice. J Nutr Heal Sci [Internet]. 2019;6(3):301. Available from: https://www.researchgate.net/publication/337544663
14.      Vetvicka V, Fernandez-Botran. Non-specific immunostimulatory effects of transfer factor. 2020;8(1):6–11. Available from: http://medcraveonline.com
15.      Vetvicka V, Vetvickova J. Antigen-specific immunomodulatory effects of transfer factor. Austin J Clin Pathol. 2020;7(1):1–4.
16.      Satyaraj E, Reynolds A, Pelker R, Labuda J, Zhang P, Sun P. Supplementation of diets with bovine colostrum influences immune function in dogs. Br J Nutr. 2013;110(12):2216–21.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s