Jawaban singkat: Pemberian madu boleh saja untuk anjing dan kucing, dalam jumlah sangat kecil. Untuk anjing, mungkin madu bisa dijadikan camilan karena rasanya yang manis, tapi kucing tidak bisa merasakan manis, jadi tidak ada gunanya. Walaupun tinggi energi, madu atau makanan tinggi karbohidrat tidak boleh diberikan sebagai pengganti energi pada hewan yang tidak mau makan, apalagi kalau sudah berhari-hari.

Apakah madu baik untuk kucing dan anjing? Apakah kucing dan anjing boleh diberi madu? Sayangnya, literatur tentang ini sangat terbatas. Banyak penelitian yang membahas madu manuka sebagai pembalut luka, tapi jarang sekali ada penelitian yang membahas pemberian madu sebagai bagian makanan kucing dan anjing.

Kendati demikian, apa yang bisa kita simpulkan dari data dasar mengenai fisiologi dan nutrisi mereka?

Nutrisi dalam madu
Menurut database USDA1, 100 gram madu terdiri atas 17 gram air, 0,3 gram protein, dan 82 gram karbohidrat (gula). Di antara karbohidrat tersebut, 41 gramnya adalah fruktosa dan 36 gram adalah glukosa, serta beberapa gula lain dalam jumlah kecil. Madu juga mengandung mineral, tetapi jumlahnya tidak signifikan untuk kebutuhan nutrisi kucing dan anjing. Jadi, madu hampir seluruhnya adalah gula atau karbohidrat.

Dalam 100 gram madu, terdapat 304 kcal, sedangkan dalam satu sendok makan madu, terdapat 64 kcal. Sebagai perbandingan, seekor kucing dewasa seberat 4 kg butuh sekitar 250 kcal per hari, jadi 4 sendok makan madu sudah memenuhi kebutuhan kalori harian seekor kucing (tapi bukan seluruh nutrisinya)!

Oleg Troino/Shutterstock

Apakah kucing dan anjing bisa mencerna madu?
Kucing dan anjing memang bisa mencerna karbohidrat, tetapi sebagai karnivora sejati, kucing tidak diciptakan untuk mengonsumsi terlalu banyak karbohidrat. Anjing lebih toleran pada karbohidrat karena mereka adalah omnivora. Makanan komersil kucing dan anjing pun mengandung karbohidrat.

Namun, karbohidrat dalam makanan anjing dan kucing berbeda dengan karbohidrat dalam madu. Karbohidrat dalam makanan adalah pati memiliki struktur kompleks dengan rantai panjang, biasa berasal dari nasi, gandum, jagung, atau sejenisnya. Sementara itu, karbohidrat dalam madu adalah karbohidrat sederhana atau gula, yaitu glukosa dan fruktosa, yang hanya terdiri dari satu molekul gula. Yang membedakan, karbohidrat kompleks dicerna lebih lama daripada gula, dan memang dimaksudkan demikian. Dengan begitu, kucing atau anjing yang diberi karbohidrat kompleks akan kenyang lebih lama dan tidak mengalami kenaikan gula darah yang tiba-tiba

Kendati sebagian besar penelitian fokus pada karbohidrat kompleks, usus kucing dan anjing tetap mampu menyerap gula sederhana. Kemampuan pencernaan anjing mencerna dan menyerap gula lebih baik daripada kucing2. Berbeda dengan spesies lain, usus kucing juga tidak bisa meningkatkan kemampuan mencerna gula atau karbohidrat, meskipun diberi makanan yang tinggi gula3. Meski begitu, kucing masih bisa menyerap hingga 99% gula jika diberi 5 gram glukosa per kilogram berat badan4

Setelah dicerna, apa?
Masalahnya tidak berhenti setelah gula dicerna, tetapi bagaimana gula akan diproses oleh tubuh setelah dicerna. Walaupun bisa dicerna hingga 99%, kucing yang diberi 5 gram glukosa ditemukan mengalami kadar gula darah tinggi (hiperglikemia). Kondisi ini dapat menyebabkan rasa haus berlebih, pusing, dan kelelahan. Kucing-kucing tersebut juga mengalami kencing manis; ditemukan gula yang cukup tinggi di urinnya5. Urin yang normal seharusnya tidak mengandung gula, atau hanya sejumlah sangat kecil. Ini menunjukkan bahwa saat diberi glukosa, kadar gula darah kucing naik terlalu tinggi, hingga melampaui kemampuan ginjal untuk menyaring gula, sehingga banyak yang lolos ke dalam urin. Jika berlangsung terus, ginjal bisa mengalami kerusakan.

Selain itu, gula, kan, seharusnya berfungsi sebagai sumber energi. Proses mengubah gula menjadi energi berlangsung di hati, tetapi hati kucing ternyata tidak punya enzim yang diperlukan dalam proses tersebut, enzim glukokinase. Meski begitu, kucing punya enzim lain yang bisa memetabolisme gula, yaitu enzim-enzim heksokinase, yang jumlahnya lebih tinggi di kucing daripada di anjing6.

Enzim fruktokinase yang digunakan dalam metabolisme fruktosa, komponen gula terbesar madu, juga dimiliki kucing7. Sayangnya, kapasitas kerja enzim-enzim ini dalam memproses gula tidak setinggi glukokinase yang tidak mereka miliki. Dengan begitu, kucing dan anjing memang bisa mencerna dan menggunakan gula dalam madu, tetapi seberapa banyak? Kemungkinan cukup rendah, terutama untuk kucing.

Image by Steve Buissinne from Pixabay

Madu sebagai treats dan suplemen harian
Kalau owner mau menggunakan madu sebagai treats, tentu madu harus disukai oleh kucing dan anjing. Apakah demikian? Sayangnya, madu tidak berbau, padahal bau makanan sangat memengaruhi kesukaan makanan anjing dan kucing, lebih dari rasa. Meski begitu, rasa makanan tetap dapat memengaruhi selera mereka.

Anjing menyukai rasa manis fruktosa dan glukosa8,9, mirip dengan manusia. Oleh karena itu, madu dapat dijadikan treats untuk anjing. Beberapa anjing yang tidak bisa asal mengkonsumsi treats tinggi protein dan natrium dari daging, misalnya karena sakit ginjal dan jantung. Madu bisa menjadi alternatif treats untuk mereka.

Berbeda dengan anjing, kucing tidak bisa merasakan manis. Mereka secara alami tidak memiliki gen untuk reseptor rasa manis10,11, karena itu kemungkinan madu tidak akan terasa apa-apa untuk mereka. Meski begitu, mungkin ada kucing yang tetap akan menerima madu karena teksturnya atau kandungan lainnya.

Dalam kedokteran hewan, madu banyak digunakan sebagai pembalut luka karena dapat mencegah infeksi12. Namun, sebagai suplemen atau makanan, pemberian madu tidak diketahui memiliki manfaat apapun bagi kesehatan anjing dan kucing. Masih banyak suplemen lain yang lebih terbukti dan diketahui manfaatnya, tetapi bagaimanapun, anjing dan kucing sehat yang makan makanan lengkap dan seimbang tidak butuh suplemen tambahan.

Madu saat hewan tidak mau makan
Manusia yang pingsan karena lupa makan biasa akan diberikan makanan manis seperti teh manis atau air gula sebagai sumber energi. Namun, kucing tidak bisa menggunakan glukosa atau fruktosa dengan baik sebagaimana manusia. Jadi, praktik memberikan madu ke kucing sebagai pengganti energi sulit dikatakan efektif.

Image by Daga_Roszkowska from Pixabay

Jika kucing atau anjing sudah tidak makan berhari-hari, memberi madu (atau karbohidrat secara umum) malah bisa membawa efek buruk. Selama tidak mendapat asupan nutrisi, khususnya karbohidrat, dari luar, hewan tersebut akan memecah protein, dan kemudian cadangan lemak dari tubuhnya sendiri untuk dijadikan sumber energi. Jadi, sebagian besar energi hewan selama tidak makan didapat dari lemak. Jika tiba-tiba diberi makanan tinggi karbohidrat, tubuh hewan yang sudah beradaptasi dengan lemak bisa kaget dengan perubahan tersebut13.

Mula-mula, usus hewan yang sudah mungkin akan mengalami diare karena banyak karbohidrat yang tidak tercerna14. Setelah diserap, sel-sel di tubuh juga kaget harus apa saat bertemu glukosa kembali. Mereka sudah terlanjur nyaman dengan lemak sebagai sumber energi. Kadar gula darah bisa naik hingga terlalu tinggi dan menyebabkan kekacauan elektrolit dalam darah, sehingga bisa membahayakan nyawa hewan15.

Hewan yang sudah berhari-hari tidak mau makan harus diberi makanan yang sesuai dengan status metabolismenya saat itu. Mereka sudah terbiasa menggunakan energi dari lemak. Karena itu, makanan terapi untuk hewan-hewan ini dibuat dengan lemak tinggi, tetapi karbohidrat rendah (2-4 gram/100 kcal). Mereka juga butuh protein tinggi untuk membangun kembali jaringan tubuh yang terlanjur dibongkar untuk menghasilkan energi. Strategi ini digunakan oleh makanan seperti Royal Canin Recovery atau Hill’s Urgent Care a/d. Jika hewan sudah mau makan, barulah kadar karbohidrat dinaikkan pelan-pelan13. Ini pun menggunakan karbohidrat kompleks, sebagaimana ada dalam makanan hewan, bukan gula seperti madu.

Jadi, tidak disarankan memberi madu untuk hewan yang tidak mau makan. Masih banyak pilihan makanan darurat lain yang sesuai dengan kebutuhan anjing dan kucing.

Referensi

1. US Department of Agriculture. Honey (SR LEGACY, 169640) Honey. 1–4 (2019). Available at: https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/169640/nutrients. 

2. Batchelor, D. J. et al. Sodium/glucose cotransporter-1, sweet receptor, and disaccharidase expression in the intestine of the domestic dog and cat: Two species of different dietary habit. Am. J. Physiol. – Regul. Integr. Comp. Physiol. 300, 67–75 (2011).

3. Buddington, R. K., Chen, J. W. & Diamond, J. M. Dietary regulation of intestinal brush-border sugar and amino acid transport in carnivores. Am. J. Physiol. – Regul. Integr. Comp. Physiol. 261, (1991).

4. Kienzle, E. Carbohydrate Metabolism of the Cat. 3. Digestion of Sugars. J Anim Physiol a Anim Nutr 63, 203–210 (1993).

5. Kienzle, E. Blood Sugar Levels and Renal Sugar Excretion After the Intake of High Carbohydrate Diets in Cats. J. Nutr. 124, 2563–2567 (1994).

6. Tanaka, A. et al. Comparison of expression of glucokinase gene and activities of enzymes related to glucose metabolism in livers between dog and cat. Vet. Res. Commun. 29, 477–485 (2005).

7. Springer, N., Lindbloom-Hawley, S. & Schermerhorn, T. Tissue expression of ketohexokinase in cats. Res. Vet. Sci. 87, 115–117 (2009).

8. Tôrres, C. L., Hickenbottom, S. J. & Rogers, Q. R. Palatability Affects the Percentage of Metabolizable Energy as Protein Selected by Adult Beagles. J. Nutr. 133, 3516–3522 (2003).

9. Ferrell, F. Preference for sugars and nonnutritive sweeteners in young beagles. Neurosci. Biobehav. Rev. 8, 199–203 (1984).

10. Li, X. et al. Pseudogenization of a sweet-receptor gene accounts for cats’ indifference toward sugar. PLoS Genet. 1, 0027–0035 (2005).

11. Pekel, A. Y., Mülazımoğlu, S. B. & Acar, N. Taste preferences and diet palatability in cats. J. Appl. Anim. Res. 48, 281–292 (2020).

12. Vogt, N. A., Vriezen, E., Nwosu, A. & Sargeant, J. M. A Scoping Review of the Evidence for the Medicinal Use of Natural Honey in Animals. Front. Vet. Sci. 7, 1–14 (2021).

13. Saker, K. E. & Remillard, R. L. Critical Care Nutrition and Enteral-Assisted Feeding. in Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition (Mark Morris Institute, 2010).

14. Mutlu, G. M., Mutlu, E. A. & Factor, P. GI complications in patients receiving mechanical ventilation. Chest 119, 1222–1241 (2001).

15. Brenner, K., KuKanich, K. S. & Smee, N. M. Refeeding syndrome in a cat with hepatic lipidosis. J. Feline Med. Surg. 13, 614–617 (2011).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s