Kucing adalah karnivora, maka makanan utama mereka adalah daging. Karena sebutan karnivora ini, beberapa orang jadi beranggapan kucing hanya perlu makan daging saja, entah itu dada ayam atau ikan pindang. Ini adalah praktik yang membahayakan bagi kucing, karena nutrisi dalam daging saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi kucing.

Apa arti karnivora?
Bicara karnivora bisa berarti dua hal: tergolong dalam ordo Carnivora, atau perilaku makannya karnivora. Hewan yang tergolong dalam ordo Carnivora belum tentu perilaku makannya karnivora. Sebagai contoh, anjing dan beberapa jenis beruang juga tergolong sebagai Carnivora, tetapi perilaku makan mereka omnivora. Bahkan, panda raksasa juga termasuk Carnivora, padahal makanannya utamanya adalah daun bambu.

Bagaimana dengan kucing? Kucing memang termasuk dalam ordo Carnivora, dan perilaku makannya juga karnivora. Kucing dikenal sebagai karnivora sejati atau obligat. Namun, ini bukan berarti mereka hanya boleh makan daging. Kucing juga bisa makan bahan nabati, tetapi kucing butuh daging dalam makanan mereka. Ada beberapa kebutuhan nutrisi yang kucing yang hanya ada di daging atau sedikit sekali di bahan nabati, seperti taurin, vitamin D3, dan asam arakhidonat.

Terlepas dari apa yang dimakan kucing, yang terpenting adalah memastikan bahwa nutrisinya lengkap dan seimbang. Ada sekitar 40 nutrien yang dibutuhkan dalam makanan kucing. Lengkap berarti semua nutrien tersebut ada dalam makanan; seimbang berarti jumlahnya pas, tidak kekurangan atau kelebihan. Makanan apa pun itu, entah dry food, wet food, homemade food, harus lengkap dan seimbang apabila digunakan sebagai makanan utama. Kalau tidak, makanan tersebut hanya bisa digunakan sebagai treats.

Apakah nutrisi daging saja lengkap dan seimbang?
Kucing makan untuk memenuhi kebutuhan kalorinya. Anggaplah seekor kucing 4 kg butuh 250 kcal per hari, maka ia butuh 100 gram daging sapi 20% lemak atau 200 gram dada ayam tanpa kulit untuk memenuhi kebutuhan energi harian.

NutrienKebutuhan kucingDaging 20% lemakDada ayam tanpa kulit
Berat (gram)100152
Energi (kcal)250250250
Protein (g)15,517,950
Lemak (g)5,5205,1
Asam linoleat (mg)312420940
Asam arakhidonat (mg)3,7535150
Kalsium (mg)370189,3
Fosfor (mg)312158370
Rasio Kalsium:Fosfor1:1 – 2:11:8,71:40
Kalium (mg)375270540
Magnesium (mg)251750
Natrium (mg)47,56673
Zinc (mg)4,74,181,5
Besi (mg)51,940,77
Tembaga (mg)3,750,060,07
Vitamin A (mcg)62,54n/a
Vitamin B1 (mg)0,2750,0431,53
Vitamin B2 (mg)0,20,150,29
Vitamin B12 (mcg)1,12,140,31
Vitamin E (mcg)1,580,170,52
Vitamin D3 (IU)15,63n/a
Perbandingan nutrisi daging sapi mentah dan dada ayam rebus dengan kebutuhan nutrisi kucing dewasa. Tulisan ditebalkan menunjukkan kekurangan.

Daging saja mungkin memenuhi kebutuhan protein dan lemak kucing, tetapi banyak sekali kebutuhan mineral dan vitamin yang tidak terpenuhi. Yang paling parah adalah kekurangan kalsium serta rasio kalsium:fosfor yang tidak sesuai.

Ketidakcukupan nutrisi ini akan membawa dampak buruk bagi kesehatan, baik jangka pendek maupun panjang (biasanya sih panjang). Kekurangan tembaga (Cu) bisa mengganggu fungsi reproduksi dan menyebabkan kekurangan darah. Kekurangan zinc akan menyebabkan gangguan kulit dan kebotakan. Ini dulu sering terjadi pada anjing yang makan pet food murah, sampai-sampai ada istilah generic dog food disease. Kekurangan vitamin B1 (thiamin) akan menyebabkan gangguan saraf, mata, dan jantung, serta menyebabkan kematian dalam jangka panjang. Kekurangan vitamin A akan mengganggu pertumbuhan, regenerasi kulit, dan fungsi mata.

Namun, kasus yang paling sering terjadi pada kucing yang diberi daging saja terkait dengan kekurangan kalsium dan rasio kalsium:fosfor yang tidak tepat. Banyak kucing, terutama yang masih muda, mengalami sakit pada tulang, bahkan sampai patah. Kasus ini bernama hiperparatiroidisme nutrisional.

Hiperparatiroidisme nutrisional
Kalsium dan fosfor adalah mineral yang paling banyak di tubuh, paling banyak ditemukan di tulang, tetapi juga ada di darah. Keduanya punya ikatan yang sangat mesra, tetapi jumlah dan proporsi keduanya harus pas. Rasio kalsium dan fosfor harus berada dalam rentang 1:1 sampai 2:1; kalsium harus lebih banyak dari fosfor. Masalahnya, kalsium dalam daging sangat rendah, sementara kalsiumnya tinggi. Proporsinya terbalik dengan sangat parah, bisa sampai 1:40. Apa yang akan terjadi?

Kadar kalsium dan fosfor tubuh diatur oleh hormon paratiroid (PTH). Hormon ini dikeluarkan oleh kelenjar paratiroid di leher. Ketika tubuh meraskan bahwa kadar kalsium darah terlalu rendah, PTH akan dikeluarkan untuk menambah kadar kalsium darah. Bagaimana caranya? Menambah penyerapan kalsium dan fosfor dari usus, tetapi ini tidak cukup karena kalsium dalam makanan pun terlalu sedikit. Hormon PTH juga terpaksa melucuti kalsium dari tulang. Akibatnya, tulang yang kekurangan kalsium menjadi rapuh dan mudah patah.

Beberapa laporan kasus hiperparatiroidisme nutrisi ini diterbitkan di jurnal ilmiah. Ada yang terjadi di Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Turki, dan negara-negara lain. Kebanyakan korbannya adalah anak kucing, karena tulang mereka masih bertumbuh dan butuh kalsium lebih banyak. Rumah sakit hewan milik Royal Veterinary College, sekolah kedokteran hewan terbaik Inggris, melaporkan ada 7 kasus patah tulang pada anak kucing Bengal dalam setahun. Kebanyakan dari mereka hanya diberi makan daging mentah, sebagaimana arahan breeder mereka. Beberapa kucing berhasil sembuh setelah makanannya diperbaiki, tetapi sayangnya ada yang harus ditidurkan.

Mentah? Dimasak? Proses penyajian juga berpengaruh!
Daging adalah sumber taurin, tetapi apakah kamu tahu? Taurin berbentuk asam amino bebas, bukan terikat bersama asam amino lain seperti protein pada umumnya. Ketika daging direbus, taurin sangat mudah lepas dari daging ke air rebusan. Jadi, kucing yang makan daging rebus sebagai makanan utama kemungkinan besar akan kekurangan taurin jika tidak disuplementasi. Tentu ada opsi lain, seperti memasak tanpa air, menambahkan suplemen taurin, atau memberi mentah (dengan risiko tersendiri). Apa pun itu, yang jelas, butuh pengetahuan dan keahlian nutrisi kucing yang mumpuni untuk menyusun resep makanan homemade kucing.

Bukan cuma daging yang dimasak yang punya risiko nutrisi. Banyak jenis ikan justru tidak boleh diberikan mentah karena mengandung enzim thiaminase. Thiamin (vitamin B1) adalah nutrien penting bagi kucing yang berperan dalam fungsi saraf dan metabolisme energi. Seperti sudah disebutkan, kekurangan thiamin dapat berakibat fatal pada kucing.

Tidak semua daging sama.
Selain proses penyajian, daging dari tiap spesies, atau bahkan tiap bagian tubuh hewan juga berbeda kandungan nutrisinya. Daging kelinci memiliki taurin yang rendah, bahkan tidak mencukupi kebutuhan kucing. Ini bukan karena dimasak. Kelinci utuh dan mentah pun kadar taurinnya kurang dari kebutuhan kucing. Padahal, kelinci adalah makanan alami kucing di alam, setelah rodensia (tikus) dan burung.

Dalam spesies hewan yang sama pun, nutrisi daging bisa berbeda, tergantung pemeliharaan hewan tersebut dan bagian dagingnya. Misalnya, dada ayam memiliki lemak yang sangat sedikit, sehingga masih harus diberi tambahan lemak untuk memenuhi kebutuhan lemak kucing. Sementara itu, paha ayam memiliki kandungan lemak lebih tinggi, jadi mungkin tidak perlu tambahan lemak, apalagi kalau diberi dengan kulitnya.

Kucing juga seringkali diberi ikan karena penggambaran budaya pop, padahal kucing di alam jarang sekali makan ikan. Pemberian ikan sering menyebabkan steatitis atau peradangan lemak karena tingginya asam lemak tidak jenuh dalam ikan. Asam lemak tidak jenuh sangat mudah teroksidasi, sehingga butuh ektra antioksidan untuk mencegahnya. Karena ini, makanan komersil yang mengandung ikan butuh vitamin E ekstra. Kucing yang makan ikan juga butuh ekstra vitamin K. Vitamin ini sebenarnya tidak perlu ada dalam makanan anjing dan kucing, tetapi kucing yang sering makan ikan sering ditemukan mengalami pendarahan, sehingga perlu vitamin K.

Makanan alami kucing memang daging, tetapi daging tikus, bukan ayam atau sapi. Mereka bukan hanya makan daging, tetapi organ dan tulang juga. Image by rihaij from Pixabay.

Apakah memberi daging saja lebih murah?
Makanan kucing premium berada di kisaran harga 100 ribu rupiah per kilogram. Jika kucing makan 50 gram sehari, berarti biaya yang dikeluarkan hanya 5 ribu rupiah per hari. Makanan kucing ini sudah lengkap dan seimbang, tidak perlu tambahan apa pun.

Anggaplah harga daging ayam adalah 35 ribu rupiah per kilogram. Jika kucing butuh 150 gram daging per hari, berarti biaya makan daging per harinya adalah 5,25 ribu rupiah. Untuk membuat makanan yang lengkap dan seimbang, masih diperlukan tambahan bahan lain dan suplemen vitamin mineral.

Jadi, sebenarnya harga memberi makan daging dan makanan komersil premium sama saja. Malahan, lebih murah memberi makanan komersil.

Jadi, harus bagaimana?
Kucing butuh makanan yang lengkap dan seimbang. Ini bisa didapat dengan memberi makanan komersil yang bertuliskan “complete and balanced“. Kamu bisa saja membuat makanan rumah sendiri, tetapi resep yang lengkap dan seimbang hanya bisa didapat dari ahli nutrisi, dan tentu harga untuk memberi makannya lebih mahal. Beberapa situs, seperti BalanceIT dan petdiets.com, menawarkan resep makanan hewan dan dikelola langsung oleh dokter hewan spesialis nutrisi. Resep ini berbeda untuk masing-masing hewan, tergantung ras, usia, gaya hidup, dan berat badan.

Processing…
Success! You're on the list.

Referensi
1.        Nagata N, Yuki M. Nutritional Secondary Hyperparathyroidism in a Cat. J Anim Clin Med. 2013;22(3):101–4.

2.        Lenox C, Becvarova I, Archipow W. Metabolic bone disease and central retinal degeneration in a kitten due to nutritional inadequacy of an all-meat raw diet. J Feline Med Surg Open Reports. 2015;1(1):205511691557968.

3.        Femenia F, Fontaine JJ, Lair-Fulleringer S, Berkova N, Huet D, Towanou N, et al. Clinical, mycological and pathological findings in turkeys experimentally infected by Aspergillus fumigatus. Avian Pathol. 2007;36(3):213–9.

4.        Taylor-Brown F, Beltran E, Chan DL. Secondary nutritional hyperparathyroidism in Bengal cats. Vet Rec. 2016;179(11):287–8.

5.        Owens TJ, Fascetti AJ, Calvert CC, Larsen JA. Rabbit Carcasses for Use in Feline Diets: Amino Acid Concentrations in Fresh and Frozen Carcasses With and Without Gastrointestinal Tracts. Front Vet Sci. 2021;7(January):1–8.

6.        FEDIAF. Nutritional Guidelines for Complete and Complementary Pet Food for Cats and Dogs. Nutr Guidel – Complet Complement Pet Food a Cats Dogs. 2018;(August):96.

7.        USDA. Chicken, broiler or fryers, breast, skinless, boneless, meat only, raw [Internet]. FoodData Central. 2019. p. fdc.nal.usda.gov. Available from: https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/171706/nutrientshttps://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/?query=ndbNumber:11216https://fdc.nal.usda.gov/index.html

8.        US Department of Agriculture. Beef, ground, 80% lean meat / 20% fat, raw [Internet]. 2019. Available from: https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/174036/nutrients

9.        Gross KL, Yamka RM, Khoo C, Friesen KG, Jewell DE, Schoenherr WD, et al. Macronutrients. In: Hand MS, Thatcher CD, Remillard RL, Roudebush P, Novtony BJ, Lewis LD, editors. Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition. 5th ed. Topeka: Mark Morris Institute; 2010. p. 48–104.

10.      Wedekind KJ, Yu S, Kats L, Paetau-Robinson I, Cowell CS. Micronutrients: Minerals and Vitamins. In: Hand MS, Thatcher CD, Remillard RL, Roudebush P, Novtony BJ, Lewis LD, editors. Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition. Topeka, KS: Mark Morris Institute; 2010. p. 107–48.

11.      Moarrabi A, Mosallanejad B, Khadjeh G, Noorani B. Nutritional Secondary Hyperparathyroidism in Cats under Six-Month-Old of Ahvaz. Ivsa [Internet]. 2008;3:59–66. Available from: http://ivsajournals.com/pdf_3216_d727ebd533fb78596abe316a3813c736.html

12.      Spitze AR, Wong DL, Rogers QR, Fascetti AJ. Taurine concentrations in animal feed ingredients; cooking influences taurine content. J Anim Physiol Anim Nutr (Berl). 2003;87(7–8):251–62.

13.      Case LP, Daristotle L, Hayek MG, Raasch MF. Common Nutrition Myths and Feeding Practices. Canine Feline Nutr. 2011;277–94.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s