Saya sering dengar kalimat “makanan kucing itu cocok-cocokan”. Setelah saya selidiki, yang dimaksud makanan cocok itu ada kriterianya: kucingnya mau makan, kotorannya bagus, dan kucingnya sehat. Walaupun kedengarannya seperti jodoh, tidak bisa ditebak, makanan kucing tidak serandom jodoh. Ada penjelasan ilmiahnya, kenapa kucing suka satu makanan tapi tidak suka makanan lain; kenapa kotorannya lembek dan bau ketika makan satu makanan, tetapi padat jika makan makanan lain.

Saya suka martabak terang bulan, tetapi saya rasa kucing ga akan suka. Sebaliknya, kucing suka banget dikasih wet food kucing, tapi ketika saya cicip, kok tidak ada rasanya, ya? Selera kucing dan manusia memang tidak bisa disamakan. Dalam tulisan ini, saya akan bahas makanan apa, sih, yang disukai kucing.

Ringkasan daya suka pada kucing. sumber: Pekel et al., 2020

Indra penciuman
Manusia mengandalkan indra pengecap untuk merasakan makanan, sedangkan kucing mengandalkan indra penciuman. Kemampuan indra penciuman kucing lebih baik dari manusia (tetapi tidak sebaik anjing), jadi penciuman berperan penting sekali dalam menentukan kucing mau makan atau tidak.

Kalau ada dua makanan, dan satunya berbau lebih kuat dari yang lain, kucing akan memilih makanan tersebut tanpa melirik makanan satunya. Karena itu, kucing cenderung lebih suka wet food dibanding dry food, bahkan banyak kasus kucing yang tidak mau makan dry food setelah diberi wet food. Kucing cenderung lebih suka cita rasa dan aroma ikan dibanding daging lain.

Sebegitu pentingnya indra penciuman dalam perilaku makan kucing, sampai kucing bisa tidak mau makan kalau mengalami anosmia (kehilangan indra penciuman). Indra penciuman bisa terganggu karena penuaan, obat-obatan tertentu, atau sakit, sehingga kucing bisa kurang nafsu makan di saat-saat ini.

Indra pengecap
Beberapa sumber melaporkan kucing punya 470 indra pengecap, sementara manusia punya 2000-8000. Sayangnya, saya tidak bisa menemukan sumber asli yang menyatakan temuan tersebut. Indra perasa kucing memang tidak sesensitif manusia, tetapi rasa makanan tetap berpengaruh terhadap selera makan kucing.

Hal yang paling unik tentang indra pengecap kucing adalah tidak adanya reseptor rasa manis. Reseptor rasa manis tersusun dari protein T1R2 dan T1R3 di lidah, tetapi kucing tidak punya gen yang mengkodekan reseptor T1R3. Hal ini masuk akal, mengingat makanan utama kucing adalah daging, yang memang rasanya tidak manis. Jadi, reseptor rasa manis akan sia-sia juga di kucing. Namun, terkadang ada kucing yang kelihatannya suka makanan manis, seperti es krim atau kue. Itu bukan karena kucing suka rasa manis, tetapi ada rasa lain dalam makanan tersebut, seperti lemak atau protein, yang memang disukai kucing. Meskipun kucing tidak bisa merasakan manis, mereka tidak suka pada pemanis buatan seperti sakarin. Pemanis buatan diduga terasa pahit di lidah kucing.

Image by Here and now, unfortunately, ends my journey on Pixabay from Pixabay

Bicara soal rasa pahit, kucing pernah dikira tidak bisa merasakan pahit. Reseptor rasa pahit berguna untuk memberi tahu kalau ada racun pada tumbuhan, supaya hewan bisa menghindari tumbuhan tersebut. Sementara itu, kucing tidak makan tumbuhan, jadi reseptor pahit dianggap tidak akan berguna. Namun, ternyata kucing punya reseptor pahit dan tidak suka rasa pahit. Jadi untuk apa reseptor pahit pada kucing? Mungkin kucing juga terekspos pada tumbuhan yang pahit dan beracun, entah karena mereka makan tumbuhan sendiri, atau ketika memakan organ pencernaan mangsanya. Mungkin juga, reseptor pahit kucing berguna untuk menghindari komponen pahit dalam tubuh mangsanya, seperti asam empedu atau bisa ular.

Bagaimana dengan rasa asin? Kucing kurang peka terhadap rasa asin, walau tetap bisa merasakannya. Dalam satu penelitian, kucing tidak lebih suka air yang asin dibanding air biasa, tetapi ada juga yang menemukan kucing lebih suka air asin. Rasa asin dari natrium membuat kucing minum lebih banyak, sehingga ini sering dimanfaatkan sebagai strategi makanan khusus kucing dengan gangguan saluran kemih.

Kucing mungkin juga suka rasa asam, tetapi penelitian yang membahas ini cukup jarang. Beberapa makanan kucing diformulasikan dengan asam fosfor untuk menambah cita rasanya. Daging juga pHnya agak asam, jadi masuk akal kalau kucing cukup suka rasa asam.

Rasa apa yang disukai kucing? Asam amino, rantai penyusun protein, tetapi tidak semua asam amino. Kucing suka pada asam amino yang cenderung berasa manis di lidah manusia, yaitu prolin, sistein, ornithin, lisin, dan histidin. Namun, mereka tidak suka asam amino “pahit”: isoleusin, arginin, triptofan, dan fenilalanin.

Kucing juga memiliki reseptor umami, yang sebenarnya terkait dengan asam glutamat, salah satu asam amino juga. Belum diketahui apakah kucing menyukai rasa umami, tetapi kemungkinan besar begitu, mengingat asam glutamat sering ditemukan di daging, makanan alami kucing. Hidrolisat ragi sering ditambahkan sebagai penyedap makanan kucing, dipercaya karena mengandung asam glutamat yang memunculkan rasa umami. Kucing juga memiliki reseptor kokumi, suatu rasa yang memperkuat cita rasa manis, asin, dan umami, tetapi ada perbedaan antara reseptor kokumi dan manusia. Reseptor kokumi kucing selaku karnivora mungkin berperan penting dalam persepsi cita rasa daging (seperti asam amino dan umami).

Nutrisi dalam makanan
Di alam, energi (kalori) dari makanan kucing rata-rata didapat dari 54% protein, 45% lemak, dan 1% karbohidrat. Jika disuruh memilih makanan sendiri dalam eksperimen laboratorium, mereka memilih komposisi energi 53% dari protein, 36% dari lemak, dan 11% dari karbohidrat. Mereka membatasi konsumsi karbohidrat tidak lebih dari 3 gram/kg berat badan per hari. Kucing suka pada rasa protein, tetapi tidak semua protein. Mereka tidak begitu suka protein nabati (seperti kedelai) atau jaringan ikat (seperti dari trakhea hewan). Mereka suka protein dari daging dan organ dalam.

Kucing juga suka cita rasa lemak, sehingga banyak pet food melapisi kibblenya dengan lemak untuk menambah cita rasa. Namun, tidak semua lemak disukai oleh kucing. Lemak-lemak jenis medium chain triglyceride, seperti yang ditemukan pada minyak kelapa, justru tidak disukai kucing.

Bentuk dan ukuran kibble
Meskipun kucing suka ikan, mereka tidak peduli apakah kibble berbentuk ikan, bunga, atau paha ayam (emang ada, ya?). Namun, bentuk dan ukuran kibble bisa berpengaruh terhadap kemudahan makan kucing, dan tentu kucing lebih suka dengan kibble yang mudah dimakan. Yang paling sederhana, anak kucing yang baru belajar makan tentu butuh kibble yang kecil dan tidak terlalu keras. Kalau terlalu besar dan keras, mereka akan kesulitan makan, atau malah tersedak. Sebaliknya, jika kucing dewasa diberi kibble yang terlalu kecil, mereka akan malas mengunyah dan malah langsung menelan makanan.

Dalam satu penelitian industri (data tidak diterbitkan), kucing lebih suka kibble berbentuk bulat pipih “O” daripada segitiga atau “X”, tetapi mereka paling tidak suka kibble berbentuk silinder. Namun, perbedaan preferensi kibble ini juga bisa dipengaruhi ras dan morfologi rahang kucing. Tahun 1999, Royal Canin membuat makanan khusus kucing ras Persia untuk pertama kalinya. Ini dilatarbelakangi temuan bahwa mereka mengambil kibble dengan bagian bawah lidah, bukan atas lidah, gigi, ataupun bibir. Cara makan ini membuat mereka sering kesulitan dan butuh waktu lebih lama untuk makan. Sejak saat itu, Royal Canin membuat kibble berbentuk almond yang mempermudah kucing Persia untuk makan.

Suhu
Kucing lebih suka makanan bersuhu tubuh atau suhu ruangan. Maka itu, wet food yang baru keluar dari kulkas sebaiknya dihangatkan dulu sebelum diberikan. Selain suhunya lebih disukai kucing, proses pemanasan akan menguatkan aroma wet food, sehingga lebih menarik untuk kucing.

Image by Helga Kattinger from Pixabay

Pengalaman
Anak kucing akan lebih mudah menerima makanan yang dimakan ibunya. Dalam satu penelitian, anak kucing yang melihat ibunya makan pisang jadi lebih memilih pisang dibanding pelet daging, meskipun kucing alaminya tidak makan pisang. Anak kucing juga lebih cepat menerima makanan baru jika didampingi ibunya, hanya butuh satu atau dua kali bertemu makanan tersebut, dibandingkan jika ibunya tidak ada di tempat, yang butuh berkali-kali.

Jika diberi makanan baru, kucing cenderung akan lebih memilih makanan baru tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai novelty effect atau neofilia. Di alam, makan dari berbagai sumber adalah adalah strategi kucing agar tidak kekurangan nutrisi. Di awal pergantian makanan, mungkin kucing akan suka sekali makanan barunya, bahkan sampai makan lebih banyak dari kebutuhan kalorinya. Namun, jika ternyata makanan baru tersebut tidak seenak makanan lama, kucing akan kembali memilih makanan lamanya dalam 5-6 hari.

Sebaliknya, beberapa kucing malah sulit menerima makanan baru. Fenomena ini disebut neofobia. Ketika diberi pilihan daging mentah atau kibble dry food, kucing peliharaan (yang dari kecil makan dry food) memilih dry food dan tidak mau makan daging mentah. Sementara itu, kucing liar yang tinggal di peternakan lebih memilih daging mentah. Mereka tidak suka kibble, mungkin karena tidak terbiasa dengan teksturnya yang keras.

Pengalaman yang buruk juga bisa membuat kucing benci dengan makanan tertentu. Makanan yang membuat kucing muntah akan ditolak jika kucing diberi makanan tersebut lagi. Kucing terlanjur menghubungkan makanan tersebut dengan pengalaman muntah yang tidak menyenangkan. Karena ini juga, tidak disarankan mengganti makanan atau memaksa kucing makan ketika rawat inap di klinik hewan. Pengalaman berada di klinik hewan biasanya tidak menyenangkan, sehingga ditakutkan mereka akan jadi benci pada makanan tersebut setelah pulang dari klinik. Ini bukan berarti kucingnya dibiarkan tidak makan jika tidak nafsu makan, ya. Ada opsi lain yang tidak membuat trauma, seperti pemasangan feeding tube, tetapi jika tidak memungkinkan, memberi hewan makan tetap lebih baik daripada tidak makan sama sekali.

Processing…
Success! You're on the list.

Referensi
Bartoshuk, L. M., & et al. (1975). Taste rejection of nonnutritive sweeteners in cats. Journal of Comparative and Physiological Psychology, 89(8), 971–975. https://doi.org/10.1037/h0077172

Belloir, C., Savistchenko, J., Neiers, F., Taylor, A. J., McGrane, S., & Briand, L. (2017). Biophysical and functional characterization of the N-terminal domain of the cat T1R1 umami taste receptor expressed in Escherichia coli. PLoS ONE, 12(10), 1–19. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0187051

Bradshaw, J. W. S. (1991). Sensory and experiential factors in the design of foods for domestic dogs and cats. Proceedings of the Nutrition Society, 50(1), 99–106. https://doi.org/10.1079/pns19910015

Bradshaw, J. W.S., Healey, L. M., Thorne, C. J., MacDonald, D. W., & Arden-Clark, C. (2000). Differences in food preferences between individuals and populations of domestic cats Felis silvestris catus. Applied Animal Behaviour Science, 68(3), 257–268. https://doi.org/10.1016/S0168-1591(00)00102-7

Bradshaw, John W.S. (1986). Mere exposure reduces cats’ neophobia to unfamiliar food. Animal Behaviour, 34(2), 613–614. https://doi.org/10.1016/S0003-3472(86)80135-X

Bradshaw, John W.S., Goodwin, D., Legrand-Defrétin, V., & Nott, H. M. R. (1996). Food selection by the domestic cat, an obligate carnivore. Comparative Biochemistry and Physiology – A Physiology, 114(3), 205–209. https://doi.org/10.1016/0300-9629(95)02133-7

Bradshaw, John W S. (2006). The Evolutionary Basis for the Feeding Behavior of Domestic Dogs (Canis familiaris) and Cats (Felis catus). The Journal of Nutrition, 136(February), 1927S-1931S.

Carpenter, J. A. (1956). Species differences in taste preferences. Journal of Comparative and Physiological Psychology, 49(2), 139–144. https://doi.org/10.1037/h0048407

Hall, J. A., Vondran, J. C., Vanchina, M. A., & Jewell, D. E. (2018). When fed foods with similar palatability, healthy adult dogs and cats choose different macronutrient compositions. Journal of Experimental Biology, 221(14). https://doi.org/10.1242/JEB.173450

Hewson-Hughes, A. K., Hewson-Hughes, V. L., Miller, A. T., Hall, S. R., Simpson, S. J., & Raubenheimer, D. (2011). Geometric analysis of macronutrient selection in the adult domestic cat, felis catus. Journal of Experimental Biology, 214(6), 1039–1041. https://doi.org/10.1242/jeb.049429

Horwitz, D., Soulard, Y., & Junien-Castagna, A. (2006). The feeding behavior of the cat. In P. Pibot, V. Biourge, & D. Elliott (Eds.), Encyclopedia of Feline Clinical Nutrition. Aimargues: Royal Canin.

Houpt, K. A. (1991). Feeding and drinking behavior problems. The Veterinary Clinics of North America. Small Animal Practice, 21(2), 281–298. https://doi.org/10.1016/S0195-5616(91)50033-4

Laffitte, A., Gibbs, M., Hernangomez de Alvaro, C., Addison, J., Lonsdale, Z. N., Giribaldi, M. G., … McGrane, S. J. (2021). Kokumi taste perception is functional in a model carnivore, the domestic cat (Felis catus). Scientific Reports, 11(1), 1–17. https://doi.org/10.1038/s41598-021-89558-w

Lei, W., Ravoninjohary, A., Li, X., Margolskee, R. F., Reed, D. R., Beauchamp, G. K., & Jiang, P. (2015). Functional analyses of bitter taste receptors in domestic cats (Felis catus). PLoS ONE, 10(10), 1–12. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0139670

Li, X., Li, W., Wang, H., Bayley, D. L., Cao, J., Reed, D. R., … Brand, J. G. (2006). Cats Lack a Sweet Taste Receptor. J Nutr, 136(7 Suppl), 1932-1934S. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3624763/pdf/nihms412728.pdf

MacDonald, M. L., Rogers, Q. R., & Morris, J. G. (1985). Aversion of the cat to dietary medium-chain triglycerides and caprylic acid. Physiology and Behavior, 35(3), 371–375. https://doi.org/10.1016/0031-9384(85)90311-7

Pekel, A. Y., Mülazımoğlu, S. B., & Acar, N. (2020). Taste preferences and diet palatability in cats. Journal of Applied Animal Research, 48(1), 281–292. https://doi.org/10.1080/09712119.2020.1786391

Plantinga, E. A., Bosch, G., & Hendriks, W. H. (2011). Estimation of the dietary nutrient profile of free-roaming feral cats: possible implications for nutrition of domestic cats. British Journal of Nutrition, 106(S1), S35–S48. https://doi.org/10.1017/s0007114511002285

Salaun, F., Blanchard, G., Le Paih, L., Roberti, F., & Niceron, C. (2017). Impact of macronutrient composition and palatability in wet diets on food selection in cats. Journal of Animal Physiology and Animal Nutrition, 101(2), 320–328. https://doi.org/10.1111/jpn.12542

Wyrwicka, W. (1978). Imitation of mother’s inappropriate food preference in weanling kittens. The Pavlovian Journal of Biological Science : Official Journal of the Pavlovian, 13(2), 55–72. https://doi.org/10.1007/BF03000667

Wyrwicka, W., & Long, A. M. (1980). Observations on the initiation of eating of new food by weanling kittens. The Pavlovian Journal of Biological Science : Official Journal of the Pavlovian, 15(3), 115–122. https://doi.org/10.1007/BF03003692

Zaghini, G., & Biagi, G. (2005). Nutritional peculiarities and diet palatability in the cat. Veterinary Research Communications, 29(SUPPL. 2), 39–44. https://doi.org/10.1007/s11259-005-0009-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s