Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah produk suplemen imun untuk hewan. Bahannya? Antibodi dari telur (imunoglobulin Y, IgY). Harganya mahal, lebih mahal dari transfer factor, yang menurut saya sudah mahal. Setelah membaca detil produk tersebut—penjelasan dan penelitiannya, saya mengernyitkan dahi. Terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab dalam pikiran saya tentang kerja produk ini.

Sekilas tentang antibodi dan IgY
Antibodi bukan istilah asing, terlebih di masa pandemi, di mana semua hal yang berbau imunitas sudah jadi barang asongan. Antibodi memang punya peran penting dalam kekebalan tubuh melawan benda asing dan agen penyebab penyakit: virus, bakteri, dan lainnya. Namun, bagaimana cara kerja antibodi?

Antibodi adalah protein. Kalau digambarkan, struktur antibodi mirip dengan huruf Y, tapi aslinya lebih meleyot. Proses munculnya antibodi cukup panjang dan ribet, tetapi secara singkat, jika tubuh bertemu benda asing baru, sel-sel imun akan mulai kenalan dengan benda asing tersebut.

Salah satu sel imun bernama sel plasma bertugas memproduksi antibodi. Proses ini tidak bisa tiba-tiba. Sel plasma perlu kenalan dulu dengan benda asing, baru kemudian mereka bisa merancang antibodi yang cocok untuk melawan benda asing ini. Setiap antibodi kerjanya spesifik, hanya bisa mengenali satu benda asing, tidak bisa asal serang semua benda asing. Proses perkenalan dan pembuatan antibodi ini butuh waktu, tetapi setelahnya, sel plasma akan ingat terus dengan benda asing tersebut. Kalau besok-besok diserang lagi oleh benda asing yang sama, proses produksi antibodi akan lebih singkat, karena sel plasma sudah punya memori (1).

Nah, mohon diingat ya, kerja antibodi spesifik; satu antibodi hanya bisa mengenali satu benda asing (kita sebutnya antigen). Kalau ibarat kunci hotel, antibodi ini ya kunci biasa, pasangannya hanya satu lubang kunci di satu pintu, bukan kunci master yang bisa buka semua pintu.

Terus antibodi IgY itu apa? Ig (imunoglobulin) adalah nama asli antibodi. Jenisnya macam-macam; kalau di mamalia ada IgG, IgM, IgA, IgD, IgE, dengan fungsi masing-masing. IgY tidak ada di mamalia. Adanya di darah unggas dan reptil, tetapi juga banyak di kuning telur sebagai bekal pertahanan anak ayam baru lahir (kalau menetas). IgY ini lagi naik daun potensinya dalam penelitian imunologi. Antibodi lain harus diambil dari darah hewan atau manusia, sementara darah susah diambil dan terbatas, diperlukan juga oleh donornya. Sementara, IgY mudah diambil dari telur, tidak perlu tusuk-tusuk. Setiap hari juga ayam bertelur, kok. Kalau kata dosen saya, telur ayam bisa jadi pabrik biologis untuk produksi antibodi IgY(2).

Image by Aline Ponce from Pixabay

Keren, ya? IgY memang punya potensi besar dan sudah banyak diteliti manfaatnya. Namun, pemberian IgY sebagai suplemen imun hewan peliharaan adalah konsep yang mengejutkan, dalam konteks tidak sesuai penelitian dan kaidah imunologis. Mengapa?

Apa yang terjadi setelah antibodi dimakan?
Segera setelah dimakan, antibodi akan sampai di lambung dan bertemu asam lambung. Antibodi adalah protein, dan protein yang bertemu asam akan mengalami denaturasi; fungsinya akan rusak. Dalam penelitian, kestabilan IgY akan turun drastis pada pH di bawah 4. pH lambung kucing dan anjing sebenarnya cukup bervariasi, dari 1,3 sampai 6,8 (3–6). pH lambung kucing lebih asam dari anjing, dan pH lambung saat hewan dipuasakan atau tidak mau makan lebih tinggi daripada pada hewan yang makan seperti biasa. Sampai sini, mungkin antibodi bisa bertahan di lambung jika pH lambung hewan tidak begitu asam, tetapi bagaimana pada lambung yang asam? Ini perlu menjadi perhatian khusus, karena suplemen antibodi IgY ini banyak dipasarkan untuk hewan yang sakit, sementara hewan yang sakit biasa tidak nafsu makan dan lambungnya lebih asam.

Di lambung juga ada enzim-enzim yang memecah protein menjadi peptida atau asam amino. Tentu, antibodi tidak akan berfungsi lagi jika sudah dipecah menjadi asam amino. Sebagian kecil (0-20%) antibodi mungkin dapat mempertahankan fungsinya ketika sampai di usus (7), tetapi jika terlalu sedikit, antibodi tidak akan ada gunanya. Berbagai teknologi telah dicoba untuk melindungi IgY dari asam lambung dan enzim pemecah protein, misalnya enkapsulasi lemak dan pelapisan dengan gum arab (8). Jika produk suplemen antibodi tidak menggunakan teknologi semacam ini, patut diragukan apakah antibodi betul-betul bisa sampai ke usus.

Jika antibodi dapat bertahan di usus, ya sudah, antibodi hanya akan bertahan di sana (kalau tidak dikeluarkan bersama kotoran). Antibodi tidak bisa diserap usus menuju aliran darah karena berukuran terlalu besar (9), kecuali pada hewan baru lahir. Mereka masih bisa menyerap antibodi dari kolostrum selama 24 jam pertama kehidupan (10,11). Dalam berbagai penelitian penggunaan antibodi sebagai suplemen makanan memang terbatas untuk benda asing yang melewati saluran pencernaan: mulut, lambung, atau usus (8,12,13), bukan bagian tubuh lain.

Antibodi bekerja spesifik
Seperti sudah saya katakan dan ulangi, antibodi itu kerjanya spesifik, hanya bisa mengenali dan menyerang satu jenis benda asing. Antibodi melawan virus panleukopenia, ya hanya bisa mengenali virus panleukopenia, tidak bisa mengenali calicivirus atau bakteri E. coli, misalnya. Untuk membuat antibodi IgY spesifik, ayam yang memproduksi telur tentu harus punya antibodi IgY terhadap benda asing yang diinginkan. Caranya? Ayam tersebut harus “divaksin” dengan benda asing tersebut, agar kemudian bisa membentuk antibodi terhadapnya.

Sudah banyak sekali penelitian tentang prospek pemanfaatan IgY untuk mencegah atau sebagai terapi/pengobatan penyakit, baik di manusia, hewan peliharaan, atau hewan produksi (14). Dalam semua penelitian tersebut, IgY yang digunakan spesifik untuk benda asing tertentu: bakteri E. coli dan Salmonella penyebab diare, bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi, parvovirus anjing, dan masih banyak lagi. Malahan, pemberian kuning telur atau IgY nonspesifik tidak memberikan manfaat yang jelas (13,15).

Nah, ketika ada suplemen mengandung antibodi IgY dan diklaim bisa meningkatkan kerja sistem imun, kita patut bertanya: antibodi tersebut kerjanya spesifik terhadap apa? Jika tidak ada klaim spesifik, rasanya kerja suplemen tersebut jadi bertentangan dengan prinsip imunologi dasar. Mungkin cara kerjanya berbeda dengan IgY-IgY lain? Ini menjadi PR produsennya untuk menjelaskan.

Penutup
Suplemen antibodi IgY sebagai penguat imun memang terdengar keren, tetapi banyak rintangan yang harus diatasi untuk membuktikan bahwa suplemen seperti ini memang bermanfaat. Sebagaimana suplemen lain, kita patut bertanya: adakah penelitian menggunakan produk tersebut pada spesies target (dalam hal ini, hewan peliharaan)? Penelitian harus menggunakan produk yang dimaksud, bukan meminjam penelitian dengan komponen serupa (antibodi IgY), karena proses pengolahan yang berbeda antarproduk tentu memengaruhi manfaatnya.

Ya, sebenarnya saya selalu skeptis mendengar kata “immune booster”, seperti pada suplemen ini. Sistem imun itu kompleks; banyak komponen yang kerjanya saling bertentangan. Ketika ada yang mengklaim produk XYZ meningkatkan kerja sistem imun, kita perlu bertanya: komponen sistem imun yang mana?

Referensi

1.        Day MJ, Schultz RD. Veterinary Immunology – Principles and Practice. Boca Raton: CRC Press; 2014. 3 p.

2.        Wibawan IWT. Pemanfaatan Telur Ayam Sebagai Pabrik Biologis (Kajian Pustaka). Maj Ilm Peternak. 2008;11(1).

3.        Tolbert MK, Olin S, MacLane S, Gould E, Steiner JM, Vaden S, et al. Evaluation of Gastric pH and Serum Gastrin Concentrations in Cats with Chronic Kidney Disease. J Vet Intern Med. 2017;31(5):1414–9.

4.        Akimoto M, Nagahata N, Furuya A, Fukushima K, Higuchi S, Suwa T. Gastric pH profiles of beagle dogs and their use as an alternative to human testing. Eur J Pharm Biopharm [Internet]. 2000;49(2):99–102. Available from: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0939641199000703

5.        Beasley DE, Koltz AM, Lambert JE, Fierer N, Dunn RR. The evolution of stomach acidity and its relevance to the human microbiome. PLoS One. 2015;10(7):1–12.

6.        Brosey BP, Hill RC, Scott KC. Gastrointestinal volatile fatty acid concentrations and pH in cats. Am J Vet Res. 2000;61(4):359–61.

7.        Reilly RM, Domingol R, Sandhu J. Oral Delivery of Antibodies. Clin Pharmacokinet. 1997;32(4):313–23.

8.        Nguyen S Van, Umeda K, Kodama Y. Oral passive immunotherapeutics. Hum Vaccin Immunother. 2013;9(5):1–10.

9.        Blum PM, Phelps DL, Ank BJ, Krantman HJ, Stiehm ER. Survival of oral human immune serum globulin in the gastrointestinal tract of low birth weight infants. Pediatr Res. 1981;15(9):1256–60.

10.      Weström B, Arévalo Sureda E, Pierzynowska K, Pierzynowski SG, Pérez-Cano FJ. The Immature Gut Barrier and Its Importance in Establishing Immunity in Newborn Mammals. Front Immunol. 2020;11(June).

11.      Chastant-Maillard S, Freyburger L, Marcheteau E, Thoumire S, Ravier JF, Reynaud K. Timing of the Intestinal Barrier Closure in Puppies. Reprod Domest Anim. 2012;47(SUPPL. 6):190–3.

12.      Roberts AK, Harris HC, Smith M, Giles J, Polak O, Buckley AM, et al. A Novel, Orally Delivered Antibody Therapy and Its Potential to Prevent Clostridioides difficile Infection in Pre-clinical Models. Front Microbiol. 2020;11(September):1–16.

13.      Wang Z, Li J, Li J, Li Y, Wang L, Wang Q, et al. Protective effect of chicken egg yolk immunoglobulins (IgY) against enterotoxigenic Escherichia coli K88 adhesion in weaned piglets. BMC Vet Res. 2019;15(1):1–12.

14.      Pereira EP V, Tilburg MF Van, Florean EOPT, Guedes MIF. Egg yolk antibodies (IgY) and their applications in human and veterinary health: A review. Int Immunopharmacol. 2019;73:293–303.

15.      Shi H, Zhu J, Zou B, Shi L, Du L, Long Y, et al. Effects of specific egg yolk immunoglobulin on pan-drug-resistant Acinetobacter baumannii. Biomed Pharmacother. 2017;95:1734–42.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s