Kucing, sang karnivora sejati, tentu tidak sama kebutuhan nutrisinya dengan manusia. Apa saja perbedaannya? Apa yang membuat mereka berbeda?

Anatomi dan Morfologi

Image by Leo Lachnit from Pixabay
Carnassial teeth – by Kreuzschnabel – Own work, CC BY-SA 3.0,

Bicara nutrisi pasti tidak lepas dari sistem pencernaan: mulut, kerongkongan, lambung, usus. Ternyata, sistem pencernaan kucing dan manusia memang berbeda.

Kita mulai dari rongga mulut, yang di dalamnya ada gigi, lidah, dan kelenjar ludah. Kucing memiliki 26 gigi susu yang akan berganti menjadi 30 gigi permanen pada usia sekitar 6 bulan. Jumlahnya mirip dengan gigi manusia (32), tetapi ada perbedaan fungsional. Taring kucing terlihat jelas lebih panjang dan tajam daripada manusia. Sebagai hewan pemburu, mereka butuh taring ini untuk membunuh mangsanya. Selain taring, gigi geraham atas dan bawah mereka saling bertaut dalam bentuk yang unik. Susunan gigi khas karnivora yang disebut carnassial teeth ini berfungsi untuk memotong-motong daging mangsanya.

Lidah kucing lebih tipis dibanding manusia dan diselubungi tonjolan seperti kait (papilla) untuk membantu dalam grooming. Kucing juga menggunakan lidah untuk minum dengan menjilat air, berbeda dengan hewan herbivora yang punya pipi penuh. Hewan herbivora bisa menghisap air dengan mengandalkan pipinya, tetapi kucing tidak bisa. Volume minum mereka sedikit-sedikit karena harus melawan gravitas. Selain itu, indra pengecap pada lidah kucing lebih sedikit dibanding manusia, sehingga mereka tidak begitu peka pada cita rasa. Mereka lebih mengandalkan penciuman untuk makan.

Image by rihaij from Pixabay

Seperti pada manusia, kelenjar ludah kucing juga menghasilkan ludah untuk melumasi makanan dan melindungi mulut dari bakteri jahat. Namun, berbeda dengan manusia, ludah kucing tidak punya enzim amilase. Enzim ini berfungsi memecah karbohidrat pati menjadi lebih sederhana dan mudah dicerna, tetapi makanan alami kucing rendah karbohidrat, jadi wajar jika mereka tidak butuh enzim amilase di ludah mereka. Biar begitu, mereka masih bisa mencerna pati karena ada enzim amilase di pankreas mereka.

Selain komponen dalam mulut, pergerakan mulut kucing juga berbeda dari manusia. Kita bisa menggerakkan rahang dengan leluasa, ke atas bawah atau kiri kanan. Herbivora dan omnivora punya kemampuan ini, tetapi karnivora hanya bisa menggerakkan rahangnya ke atas bawah. Mereka tidak terlalu butuh kemampuan menggerakkan rahang untuk menggilas makanan kaya serat dan karbohidrat, sebagaimana omnivora atau herbivora.

Setelah ditelan, makanan akan melewati kerongkongan dan sampai ke lambung. Lambung kucing konon lebih asam dibandingkan lambung manusia, tetapi keasaman lambung sebenarnya bervariasi untuk tiap kucing (pH 1-4). pH lambung akan lebih asam saat kucing belum makan atau puasa. pH yang asam membantu kucing mencerna makanan dan membunuh agen penyakit dalam makanan.

Usus kucing lebih pendek dibandingkan herbivora dan omnivora. Sebagai perbandingan, panjang tubuh kucing dibanding saluran pencernaannya adalah sekitar 1:4, sementara anjing, seekor omnivora perbandingannya 1:6, dan kerbau, seekor herbivora, 1:20. Makanan kucing sebagian besar terdiri dari daging, yang bisa dicerna dan diserap dengan cepat, jadi tidak perlu lama-lama transit di usus. Sebaliknya, makanan herbivora mengandung banyak serat dari tumbuhan yang tidak mudah dicerna dan butuh waktu lama untuk melewati usus.

Kebutuhan Nutrisi: Makronutrien
Sebagai karnivora, kucing butuh lebih banyak protein dibanding hewan herbivora dan omnivora. Selain untuk membangun jaringan dan komponen lain dalam tubuh seperti enzim dan hormon, kucing juga membutuhkan protein untuk dipecah dan dijadikan sumber energi, glukosa. Hewan omnivora dan herbivora hanya memecah protein menjadi energi kalau kekurangan makanan, tetapi pada kucing, pemecahan protein menjadi glukosa terjadi terus menerus. Glukosa sangat sedikit jumlahnya dalam makanan alami kucing, sementara glukosa dibutuhkan sebagai sumber energi otak, sel darah merah, dan Karena itu, kucing butuh protein lebih banyak agar sebagian dapat selalu diubah menjadi glukosa.

Image by pasja1000 from Pixabay

Sebaliknya, kucing tidak butuh karbohidrat. Kucing hanya mendapat 1-2% energi dari karbohidrat (dan 54% protein, 45% lemak). Karena itu, kemampuan mereka mencerna karbohidrat sangat terbatas. Enzim-enzim yang bekerja dalam pencernaan karbohidrat cukup rendah jumlahnya di kucing. Kapasitas penyerapan karbohidrat di usus juga terbatas dan tidak fleksibel. Maksudnya, penyerapan karbohidrat tidak akan meningkat walau kucing makan banyak karbohidrat. Kendati demikian, kucing tetap bisa mencerna karbohidrat dengan baik dalam jumlah secukupnya. Karbohidrat kompleks yang sudah dimasak, sebagaimana sumber karbohidrat yang digunakan dalam pet food, lebih dapat ditoleransi dibandingkan karbohidrat sederhana (gula) dan mentah.

Dibanding manusia, kucing (dan anjing) lebih bisa menoleransi lemak tinggi dalam makanan. Mereka, kan, tidak bisa makan terlalu banyak karbohidrat, jadi kebutuhan energi didapat dari protein dan lemak. Ditambah lagi, makanan alami mereka memang tinggi lemak jenuh. Kalau kita, manusia, makan terlalu banyak lemak jenuh, kita akan takut kena kolesterol, gangguan jantung, dan penyakit lain. Kucing tidak perlu takut akan penyakit-penyakit tersebut, karena darah mereka lebih banyak mengandung kolesterol baik (HDL, yang membawa lemak ke hati) dibanding kolesterol jahat (LDL, yang membawa lemak dari hati ke seluruh tubuh), berkebalikan dengan manusia.

Kebutuhan Nutrisi: Asam Amino, Asam Lemak, dan Mikronutrien
Tentu ada perbedaan kandungan nutrisi daging dan tumbuhan. Hewan herbivora yang biasa mengonsumsi tumbuhan mampu mengolah berbagai nutrien dalam tumbuhan menjadi nutrien penting yang mereka butuhkan. Kucing, yang biasa makan hewan lain, mendapatkan nutrien-nutrien tersebut dari makanannya. Karena itu, banyak nutrien penting yang tidak bisa kucing buat sendiri dan harus didapat dari makanan.

Mungkin, nutrien yang paling terkenal dibutuhkan kucing adalah taurin. Taurin adalah asam amino sulfur yang hanya didapat dari daging atau organ dalam hewan, tidak didapat dari tumbuhan. Hewan herbivora dan omnivora bisa membuat taurin dari asam amino sulfur lain: metionin dan sistein, tetapi kucing tidak bisa. Taurin diperlukan untuk kontraksi otot, pembuatan asam empedu, dan kesehatan mata. Hewan omnivora dan herbivora bisa menggunakan asam amino lain, glisin, untuk membuat asam empedu, tetapi kucing harus menggunakan taurin. Ciri khas kucing yang kekurangan taurin adalah gangguan perbesaran jantung yang disebut dilated cardiomyopathy (DCM) dan kerusakan retina mata.

Asam amino spesial lain yang dibutuhkan kucing adalah arginin. Arginin berperan dalam detoksifikasi amonia, hasil metabolisme protein, menjadi urea yang bisa dibuang di urin. Untuk manusia, arginin bukan asam amino esensial, tetapi, arginin penting sekali bagi kucing yang makanannya sangat tinggi protein. Selain itu, manusia bisa menggunakan asam amino lain dalam mengubah amonia jadi urea, tetapi kucing mutlak butuh arginin. Kekurangan arginin beberapa jam saja bisa membuat kucing keracunan amonia, bahkan mati.

Kucing juga membutuhkan asam arakhidonat, asam lemak omega-6 yang hanya ada di tubuh hewan. Hewan lain bisa memproduksi asam arakhidonat dari omega-6 lain yang ditemukan di tumbuhan, asam linoleat, tetapi kucing tidak. Kekurangan asam arakhidonat akan mengganggu fungsi reproduksi dan kesehatan kulit.

Kebutuhan vitamin kucing pun agak unik. Kucing tidak bisa mengubah beta-karoten, seperti yang ada di wortel, menjadi vitamin A, jadi mereka harus mendapat vitamin A aktif dari makanan. Vitamin A aktif paling banyak ada di hati hewan. Begitu juga dengan vitamin D. Banyak hewan lain bisa menghasilkan vitamin D3 sendiri jika kulit terpapar sinar UV B matahari, tetapi kucing tidak bisa. Vitamin D3 sudah didapat dari makan lemak dan organ mangsanya. Sebenarnya ada vitamin D2, yang bisa didapat dari tumbuhan, tetapi kucing tidak begitu bisa memanfaatkan vitamin D2 seefisien vitamin D3. Hewan lain bisa menghasilkan vitamin B3 dari asam amino triptofan. Kucing sebenarnya juga bisa; mereka punya enzim yang dibutuhkan untuk proses tersebut. Namun, kerja enzim lain lebih tinggi, sehingga triptofan malah diarahkan untuk membuat zat lain dan tidak cukup untuk membuat vitamin B3. Karena itu, kucing tetap butuh lebih banyak vitamin B3.

Image by Rsape from Pixabay

Sebaliknya, kucing tidak butuh vitamin C seperti manusia. Mereka bisa memproduksi vitamin C di hati dari glukosa. Primata, kelelawar, dan marmut tidak punya kemampuan ini. Mereka juga normalnya tidak butuh vitamin K, tetapi menjadi butuh jika makanan mereka banyak terdiri atas ikan. Kucing yang makan ikan mengalami pendarahan — gejala khas vitamin K. Mungkin karena ikan kaya akan omega-3 EPA dan DHA, yang diketahui punya efek mengencerkan darah.

Referensi

1.        Horwitz D, Soulard Y, Junien-Castagna A. The feeding behavior of the cat. In: Pibot P, Biourge V, Elliott D, editors. Encyclopedia of Feline Clinical Nutrition. Aimargues: Royal Canin; 2006.

2.        Reis PM, Jung S, Aristoff JM, Stocker R. How cats lap: Water uptake by Felis catus. Science (80- ). 2010;330(6008):1231–4.

3.        Armstrong PJ, Gross KL, Becvarova I, Debraekeleer J. Introduction to Feeding Normal Cats. In: Hand MS, Thatcher CD, Remillard RL, Roudebush P, Novtony BJ, Lewis LD, editors. Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition. Topeka, KS: Mark Morris Institute; 2010.

4.        Noel AC, Hu DL. Cats use hollow papillae to wick saliva into fur. Proc Natl Acad Sci U S A. 2018;115(49):12377–82.

5.        Tolbert MK, Olin S, MacLane S, Gould E, Steiner JM, Vaden S, et al. Evaluation of Gastric pH and Serum Gastrin Concentrations in Cats with Chronic Kidney Disease. J Vet Intern Med. 2017;31(5):1414–9.

6.        Beasley DE, Koltz AM, Lambert JE, Fierer N, Dunn RR. The evolution of stomach acidity and its relevance to the human microbiome. PLoS One. 2015;10(7):1–12.

7.        Green AS, Ramsey JJ, Villaverde C, Asami DK, Wei A, Fascetti AJ. Cats are able to adapt protein oxidation to protein intake provided their requirement for dietary protein is met. J Nutr. 2008;138(6):1053–60.

8.        ROGERS QR, MORRIS JG. Do cats really need more protein? J Small Anim Pract. 1982;23(9):521–32.

9.        Morris JG. Idiosyncratic nutrient requirements of cats appear to be diet-induced evolutionary adaptations. Nutr Res Rev. 2002;15(01):153.

10.      Eisert R. Hypercarnivory and the brain: Protein requirements of cats reconsidered. J Comp Physiol B Biochem Syst Environ Physiol. 2011;181(1):1–17.

11.      Kararli TT. Comparison of the gastrointestinal anatomy, physiology, and biochemistry of humans and commonlt used laboratory animals. Biopharm Drug Dispos. 1995;16:351–80.

12.      Grandjean D, Merrill R, Buckley C, Morris P, Charlton C, Stevenson A. WALTHAM® pocket book of Essential Nutrition for Cats and Dogs [Internet]. Mars, Inc. Waltham; 2009. p. 64. Available from: http://www.waltham.com/dyn/_assets/_pdfs/waltham-booklets/Essentialcatanddognutritionbookletelectronicversion.pdf

13.      Delaney SJ, Dzanis DA. Safety of vitamin K1 and its use in pet foods. J Am Vet Med Assoc. 2018;252(5):537–42.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s