Budi, seorang pemilik kucing panik dan bingung harus apa karena kucingnya kesulitan pipis. Dia pun bertanya ke sosial media dan grup pecinta hewan. Tidak lupa pesan: jangan suruh ke dokter hewan, soalnya ga ada duit. Dibalaslah oleh beberapa pemilik hewan baik hati: belikan RC Urinary S/O saja, sama suplemen. Dulu kucing saya susah pipis, dikasih itu, sembuh. Dengan penuh harap, Budi langsung checkout Urinary S/O 400 gram seharga 75 ribu rupiah, tambah suplemen 5 kapsul 50 ribu. Seminggu kemudian, Budi bingung dan tambah panik karena kucingnya masih susah pipis. Karena kucingnya sudah gemetar dan muntah-muntah, Budi terpaksa membawanya ke dokter hewan. Ketika diperiksa dengan radiografi, ternyata, di saluran pipis kucing Budi memang ada batu, tetapi jenis batunya tidak bisa dilarutkan dengan makanan; harus dikeluarkan manual. Batunya kecil, jadi tidak perlu operasi besar, tetapi kucing Budi terpaksa dirawat inap karena sudah keracunan pipis sendiri.

Beberapa merk makanan hewan memiliki lini produk spesial yang dilabeli berbagai macam kondisi kesehatan: Urinary, Hepatic, Gastrointestinal. Makanan-makanan ini kadang disebut vet diet atau prescription diet, tetapi nama resminya adalah makanan terapetik (therapeutic diet). Nutrisi di dalamnya cukup berbeda dengan makanan hewan pada umumnya, karena dimaksudkan untuk membantu penyembuhan atau mendukung hewan dengan kondisi kesehatan tertentu. Terkadang, makanan-makanan ini dianggap sebagai pertolongan pertama, bahkan pengganti kunjungan ke dokter hewan, padahal, penggunaan makanan terapetik sebenarnya harus didasarkan rekomendasi dokter hewan. Ada apa dengan makanan terapetik sehingga tidak boleh dibeli semarangan? Saya akan gunakan Royal Canin sebagai contoh biar mudah, tapi ini berlaku untuk semua merk makanan terapetik.

Beberapa makanan mempunyai kontraindikasi
Walaupun kesannya seperti obat, sebenarnya makanan terapetik tidak mengandung obat. Hanya saja, nutrisinya sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga berbeda dari makanan pada umumnya. Namun, tidak semua hewan cocok dengan modifikasi pada makanan terapetik. Pemberian makanan terapetik bisa-bisa malah menambah masalah baru.

Sebagai contoh paling umum, Royal Canin Urinary S/O sering dijadikan pertolongan pertama pada kucing yang kesulitan pipis. Makanan ini memang bisa melarutkan batu dan kristal tertentu dengan cara mengasamkan urin, mengurangi mineral pembentuk batu, dan membuat kucing rajin minum. Kucing mudah haus dan rajin minum karena kandungan natrium/sodium pada Urinary S/O lebih tinggi dibanding makanan biasa, mirip seperti orang kehausan kalau habis makan makanan yang banyak mengandung garam atau MSG. Untuk kucing sehat, ini bukan masalah, tetapi bisa jadi masalah bagi kucing dengan gangguan ginjal atau jantung. Kucing-kucing seperti ini tidak boleh makan natrium terlalu tinggi karena bisa meningkatkan tekanan darah dan memperparah kerusakan organnya. Jadi, mereka tidak boleh makan Urinary S/O, atau kalaupun terpaksa, harus dipantau dengan ketat.

Makanan terapetik Royal Canin Gastrointestinal juga sering dijadikan pertolongan pertama di saat diare. Makanan ini tinggi lemak dan kalori agar hewan suka dan bisa memenuhi kebutuhan energi walau hanya makan sedikit. Sayangnya, ada kondisi diare tertentu yang malah akan makin parah jika diberi makanan tinggi lemak, misalnya protein losing enteropathy (PLE), suatu kondisi di mana protein dalam tubuh malah bocor ke dalam usus dan terbuang bersama feses sehingga terjadi diare. Anjing dan kucing dengan PLE harus diberi makanan rendah lemak untuk mengurangi kebocoran protein. Sebelum meresepkan makanan terapetik, dokter hewan akan memeriksa dan memastikan dulu (atau setidaknya membuat daftar dugaan) penyebab diare, agar hewan tidak akan malah tambah sakit gara-gara makanan.

Selain itu, kebanyakan makanan terapetik diformulasikan untuk hewan dewasa, tetapi sering diberikan pada hewan usia anak-anak. Ada produk yang boleh saja diberikan, karena nutrisinya memenuhi kebutuhan mereka, misalnya Royal Canin Hypoallergenic dan Gastrointestinal Kitten/Puppy, tetapi banyak yang tidak boleh. Jika diberikan pada anakan, makanan ini bisa mengganggu pertumbuhan mereka, menciptakan defisiensi nutrisi, dan membuat masalah baru. Ya, kadang tidak terelakan sih, hewannya terpaksa makan makanan terapetik walau masih anakan. Dokter hewan bisa menimbang risiko dan manfaat dalam keadaan seperti ini.

Gejala yang sama bisa memiliki sebab berbeda
Kucing kesulitan pipis (FLUTD) sering dianggap karena batu, batu, dan batu, padahal sebagian besar kasus FLUTD tidak jelas penyebabnya. Tidak ada batu, tetapi tiba-tiba kantung kemih jadi radang dan perih saja. Untuk kasus seperti ini, makanan kering Urinary S/O tidak akan banyak membantu. Ya, membantu sih, dengan membuat lebih banyak minum, tetapi kucing juga butuh modifikasi lingkungan agar tidak stress. Kalau tidak, percuma saja. Selain itu, kucing yang mengalami radang tanpa batu lebih cocok diberikan makanan Urinary S/O yang basah, bukan yang kering.

Contoh lain yang mungkin lebih jarang adalah makanan Hypoallergenic. Makanan ini dibuat untuk kucing atau anjing yang alergi makanan. Proteinnya dipotong kecil-kecil biar tidak dikenali sistem imun yang bikin alergi. Namun, tidak semua kasus gatal-gatal disebabkan alergi makanan. Bisa saja penyebabnya alergi pinjal atau lingkungan. Kalaupun bukan alergi makanan, sebenarnya tidak apa-apa hewan makan Hypoallergenic, tapi gejala tidak akan sembuh sempurna jika tidak ditangani penyebabnya. Kalau alergi pinjal, pinjalnya dibunuh; kalau alergi lingkungan, hindari kontak dengan alergen di lingkungan. Lagipula, makanan terapetik umumnya lebih mahal, jadi kalau tidak perlu, untuk apa pakai makanan terapetik?

Hewan peliharaanmu mungkin punya kondisi khusus
Royal Canin Gastrointestinal mungkin cocok diberikan pada sebagian besar kasus diare, tetapi makanan ini juga mengandung beberapa alergen paling umum: ayam dan gandum. Jika hewan peliharaanmu punya alergi makanan, lalu kebetulan diare karena alasan apapun, kamu tidak perlu mengganti makanannya dengan Gastrointestinal. Malahan, diarenya bisa tambah parah jika hewan mengonsumsi bahan yang membuat alergi. Selain untuk alergi makanan, Hypoallergenic juga bisa diindikasikan untuk kasus diare. Mungkin sebagian besar orang tidak tahu, soalnya namanya tidak mencerminkan “untuk diare”, tapi protein Hypoallergenic yang mudah dicerna justru sangat cocok untuk usus yang sedang sakit.

Terkadang, hewan mengalami dua penyakit sekaligus. Misalnya, kucing yang menderita diabetes ternyata juga mulai mengalami kerusakan ginjal. Apakah kucing ini harus makan makanan terapetik untuk diabetes atau ginjal? Atau malah keduanya dicampur? Dicampur bukan solusi, karena efek terapetiknya malah jadi loyo, setengah-setengah. Dalam kasus seperti ini, pilihan makanan berdasarkan prioritas kondisi yang lebih genting. Bagaimana kita tahu mana yang lebih genting? Tentu dengan bertanya ke dokter hewan, yang akan memutuskan berdasarkan pemeriksaan fisik dan klinis hewan tersebut.

Memberi rasa aman yang palsu
Budi, yang ada di awal tulisan ini, awalnya merasa tenang setelah membeli Urinary S/O untuk kucingnya. Sehari, dua hari, tiga hari, belum ada tanda-tanda kucingnya membaik. Ia masih tenang. Semua butuh proses, batinnya. Hari keempat, kucingnya lemas, dia baru mulai berpikir ada yang aneh. Hari kelima, kucing tersebut muntah, menandakan penyakit susah pipis kucingnya sudah memasuki babak baru. Budi baru membawa kucing tersebut ke dokter hewan setelah seminggu, ketika kucing sudah keracunan oleh urea dalam pipisnya sendiri. Budi harus membayar lebih mahal untuk penanganan macam-macam, dan kemungkinan kucingnya selamat juga lebih kecil. Andai Budi tidak terlena saran pecinta kucing di internet dan langsung ke dokter, mungkin kucingnya sudah sehat kembali dalam seminggu tersebut.

Saya juga beberapa kali mendengar ada kucing yang diare, lalu kotorannya kembali padat setelah diberi makanan Gastrointestinal. Ketika kembali ke makanan lama, kotorannya kembali lembek dan cair. Awalnya memang menyenangkan melihat kucing seolah sembuh setelah diberi makanan terapetik, tetapi Gastrointestinal cuma membantu mendukung persembuhan dan meringankan gejala. Jika penyebab diare tidak diatasi, pemberian Gastrointestinal hanya akan memberi rasa aman semu, sementara penyebab asli diare bisa saja malah bertambah parah karena dibiarkan.

Penutup
Makanan-makanan terapetik di atas hanya sebagian kecil contoh yang sering digunakan oleh pemilik hewan. Semua makanan terapetik punya kontraindikasi masing-masing, jadi tidak boleh diberi sembarangan. Di atas itu, makanan terapetik hanya membantu kondisi hewan, tetapi tidak bisa menggantikan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat oleh dokter hewan. Jika hewan peliharaanmu sakit, solusinya adalah periksakan ke dokter hewan, bukan beli makanan mahal dari e-commerce.

Processing…
Success! You're on the list.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s