Kucing di Indonesia unik-unik. Mereka satu-satunya populasi kucing dunia yang makan tempe. Bahkan, di sini, tempe bisa sekalian jadi obat diare. Praktik ini cukup mengundang kontroversi, baik di kalangan pemilik kucing maupun dokter hewan. Bagaimana pengetahuan kita saat ini tentang tempe, kucing, dan diare memandang praktik pemberian tempe sebagai obat diare kucing?

Kacang Kedelai dalam Makanan Kucing
Tempe memang belum pernah jadi bahan makanan kucing komersil, tetapi bahan baku tempe, kacang kedelai, sudah sering digunakan dalam pet food komersil. Tahun 2000, 17 dari 42 makanan hewan di Amerika Serikat mengandung kacang kedelai dalam komposisinya. Setiap 100 gram kacang kedelai mentah mengandung 36 gram protein dan 30 gram karbohidrat. Ini saja sudah menjadikan kacang kedelai sumber protein, tetapi kacang kedelai yang biasa digunakan dalam makanan kucing bukan kacang kedelai utuh, tetapi isolat protein kedelai, yang lebih kaya protein lagi: 88 gram protein per 100 gram isolat.

Image by Александр Пономарев from Pixabay

Kenapa menggunakan isolat protein, bukan kedelai utuh? Utamanya, makanan kucing harus tinggi protein dan rendah karbohidrat, jadi isolat yang tinggi protein lebih cocok digunakan dalam makanan kucing. Selain itu, kedelai utuh mengandung beberapa zat pengganggu, seperti tripsin inhibitor yang malah membuat protein sulit dicerna, asam fitat yang mengganggu penyerapan mineral, dan zat-zat isoflavon, yang diduga meningkatkan risiko gangguan tiroid pada kucing. Dalam pemrosesan isolat protein, protein dipisahkan dari komponen kedelai lainnya, termasuk zat-zat penggangu ini. Jadi, hasil akhir isolat protein kedelai mengandung sedikit sekali zat pengganggu.

Meski kaya protein, protein kedelai tidak bisa menggantikan protein daging. Protein nabati sering dianggap kualitasnya lebih jelek dibanding protein hewani karena profil asam aminonya tidak lengkap. Ini akan mengganggu penggunaan protein oleh tubuh ketika dimakan. Kacang-kacangan, termasuk kedelai, biasa rendah metionin dan taurin, asam-asam amino esensial untuk kucing. Ini bisa diatasi dengan penambahan asam-asam amino yang kurang tersebut.

Isoflavon dan Hipertiroidisme
Hambatan terbesar dalam menggunakan kacang kedelai dalam makanan kucing adalah isoflavon. Kucing, khususnya kucing tua, cukup rentan terkena hipertiroidisme. Kondisi ini menyebabkan kucing sering minum, nafsu makan meningkat, tetapi berat badannya malah turun karena metabolisme yang terlalu cepat. Makanan diduga kuat menyumbang risiko yang cukup besar pada kejadian hipertiroidisme kucing. Salah satunya, ya isoflavon yang ada dalam kacang kedelai.

Isoflavon dalam kedelai menghambat kerja enzim tiroid peroksidase, salah satu enzim yang berperan dalam pembuatan hormon tiroid. Karena pembuatan hormon tiroid mandek, tubuh mengirim sinyal kekurangan hormon tiroid ke otak. Otak pun mengirim hormon sebagai sinyal ke tiroid untuk memproduksi lebih banyak hormon. Karena disuruh kerja terus oleh otak, tiroid bertambah besar dan menghasilkan terlalu banyak hormon tiroid. Dengan begitu, terjadilah hipertiroidisme.

Dalam satu penelitian, kucing yang diberi makanan mengandung kedelai memang memiliki konsentrasi hormon tiroid (T4) lebih tinggi dibanding yang tidak diberi kedelai. Namun, makanan dalam penelitian tersebut menggunakan tepung kedelai, bukan isolat protein kedelai seperti pada makanan komersil umumnya. Sementara, yang menentukan apakah suatu zat aman atau berbahaya adalah dosisnya. Belum ada bukti bahwa kacang kedelai dalam makanan kucing komersil dapat meningkatkan risiko hipertiroidisme. Malahan, makanan basah kalenganlah yang sudah banyak diteliti sebagai faktor risiko hipertiroidisme. Makanan kaleng lebih jarang mengandung kedelai dibanding makanan kering, tetapi zat BPA perekat tutup kaleng dapat mengganggu fungsi tiroid.

Kacang kedelai dapat digunakan dengan aman (setidaknya sejauh ini) dalam makanan kucing karena diproses menjadi isolat protein yang rendah isoflavon. Bagaimana dengan isoflavon dalam tempe? Kacang kedelai juga mengalami pemrosesan panjang sebelum menjadi tempe: dicuci, dikupas, difermentasi. Proses ini menghilangkan kandungan isoflavon, hingga isoflavon yang tersisa pada tempe hanya 18-24% isoflavon kacang kedelai. Sebagai perbandingan, isolat protein kedelai masih mengandung sekitar 47% isoflavon kedelai. Angka ini tentu bisa bervariasi, tergantung bahan baku dan situasi pemrosesan, tetapi isoflavon dan risiko hipertiroidisme bukan hal utama yang perlu ditakutkan dari tempe.

Apakah tempe bisa menyembuhkan diare kucing?
Jawabannya: mungkin bisa, mungkin tidak, tetapi tidak penelitian mengenai pemberian tempe di kucing sejauh ini. Beberapa penelitian yang dilakukan di spesies lain juga memberi hasil yang tidak jelas, tetapi mari kita telaah bukti yang ada untuk saat ini.

Pada manusia, tempe tradisional bisa memperpendek durasi diare dibandingkan kacang kedelai, tetapi durasinya hanya lebih singkat setengah hari. Selain itu, perbedaan durasi diare setelah pemberian tempe buatan industri dan kacang kedelai malah tidak berbeda nyata. Babi yang diberi tempe mengalami diare yang lebih singkat dan gejala yang lebih ringan dibanding yang diberi kacang kedelai. Namun, babi-babi ini sengaja dibuat diare dengan bakteri E. coli. Walaupun tampaknya tempe bisa berguna pada kasus ini, kita tidak tahu bagaimana efek tempe pada diare karena sebab lain. Lagipula, diare pada kucing seringnya disebabkan makanan, dan akan sembuh sendiri dalam beberapa hari.

Beberapa pendukung tempe-untuk-kucing mengatakan tempe mengandung probiotik dan prebiotik yang baik untuk kesehatan usus, sehingga bisa membantu penyembuhan diare. Probiotik adalah bakteri baik di usus, sementara prebiotik adalah makanannya probiotik, umumnya berupa serat. Rasanya, tempe tidak mengandung probiotik. Tempe paling sering difermentasi dengan jamur Rhizopus, tetapi Rhizopus hampir tidak pernah disebut sebagai probiotik bagi kucing. Probiotik kucing yang paling sering digunakan itu Lactobacillus, Bifidobacterium, Enterococcus faecium, Clostridium hiaruronis; semuanya adalah bakteri.

Bagaimana dengan tempe sebagai prebiotik? Bahasan ini lebih menarik. Di Jepang, beberapa peneliti pernah menelusuri efek pemberian tempe gembus (okara tempe) pada anjing. Anjing yang diberi tempe gembus memiliki lebih banyak bakteri baik Bifidobacterium dan Bacillus, serta lebih banyak asam lemak rantai pendek yang diproduksi bakteri baik. Walaupun berbeda spesies, penelitian ini punya kelebihan dibanding penelitian soal tempe dan diare lainnya. Anjing sendiri berkerabat dengan kucing: sama-sama karnivora dan paling banyak dipelihara manusia. Namun, penelitian tersebut menggunakan anjing sehat, tidak menderita diare, jadi kita tidak tahu apakah perubahan ini bisa membawa penyembuhan diare. Selain itu, tempe gembus yang digunakan sedikit berbeda dengan tempe biasa.

(Digambarin Aqila)

Kemungkinan mekanisme lain masih berkutat pada bakteri, tetapi kali ini bakteri jahat yang sering menyebabkan diare, Eschericia coli. Berdasarkan penelitian in vitro, ada karbohidrat dalam tempe bernama arabinosa yang bisa berikatan dengan penjuluran dari E. coli, yaitu fimbriae. Fimbriae ini dibutuhkan untuk melekat ke sel usus, tetapi tidak bisa karena dihalangi arabinosa dari tempe. Terdengar bagus, tapi penelitian ini cuma dilakukan pada bakteri di lab, bukan di kucing (atau spesies lain) hidup, jadi kita tidak tahu apakah hal yang sama akan terjadi di usus sungguhan. Selain itu, tidak semua diare disebabkan E. coli. Kalaupun mekanisme ini terjadi di usus, tidak semua diare bisa membaik dengan tempe.

Mekanisme lain tempe yang diduga mengurangi diare adalah menghambat atau membunuh bakteri. Apakah mekanisme ini sungguh ada? Beberapa penelitian menjawab mungkin iya, tetapi tempe tidak pilih-pilih bakteri mana yang mau dihambat. Lucunya, tempe malah ditemukan menghambat pertumbuhan bakterik bai seperti Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus, tetapi tidak menghambat pertumbuhan bakteri jahat penyebab diare Eschericia coli dan Salmonella enteritidis. Jadi, sepertinya efek antibakteri tempe tidak bisa diandalkan untuk menghentikan diare.

Sumber: Roubos-Van Den Hil PJ, Nout M. Anti-Diarrhoeal Aspects of Fermented Soya Beans. In: El-Shemy H, editor. Soybean and Health [Internet]. InTech; 2011. p. 137–44.

Keamanan
Sejujurnya, pemberian tempe dalam jangka pendek tidak berbahaya. Kita juga belum tahu apakah tempe bisa menyembuhkan diare atau tidak (jadi ada kemungkinan bisa). Namun, tempe bukan makanan yang lengkap dan seimbang. Kendati kaya protein, protein nabati tempe tidak bisa memenuhi kebutuhan asam amino kucing. Mencampur tempe dengan daging ikan atau ayam hanya membantu sedikit, tetapi tetap saja makanan tersebut tidak jadi lengkap dan seimbang.

Hewan diare bunuh nutrisi khusus untuk mengganti elektrolit yang hilang dan membantu persembuhan sel-sel usus yang sedang terluka. Banyak makanan terapetik yang diformulasikan lengkap dan seimbang, dan juga cocok untuk membantu hewan diare, entah karena tambahan serat tertentu, lebih mudah dicerna, atau strategi lain. Selain itu, bagaimanapun diare hanya gejala dari macam-macam penyebab. Untuk menyembuhkan diare, tidak cukup hanya memberi tempe atau makanan terapetik. Penyebab diarenyalah yang harus diatasi.

Penutup
Saya tidak antitempe. Justru, saya sangat optimis tempe akan punya tempat dalam industri makanan kucing dan anjing, walau entah kapan. Saya rasa tempe adalah versi upgrade dari kacang kedelai, dan kalau kacang kedelai bisa digunakan dalam makanan kucing, apalagi tempe? Namun, prinsip makanan hewan harus mengedepankan nutrisi yang lengkap dan seimbang, serta berbasis bukti ilmiah. Selama tempe tidak menjadi bagian makanan yang lengkap dan seimbang, dan penggunaannya untuk diare belum dibuktikan secara ilmiah, rasanya masih banyak opsi lain yang lebih baik dibanding tempe.

Referensi
1.        Peterson ME. Hyperthyroidism in Cats: What’s causing this epidemic of thyroid disease and can we prevent it? J Feline Med Surg. 2012;14(11):804–18.

2.        van Hoek I, Hesta M, Biourge V. A critical review of food-associated factors proposed in the etiology of feline hyperthyroidism. J Feline Med Surg. 2015;17(10):837–47.

3.        Redmon JM, Shrestha B, Cerundolo R, Court MH. Soy isoflavone metabolism in cats compared with other species: Urinary metabolite concentrations and glucuronidation by liver microsomes. Xenobiotica. 2016;46(5):406–15.

4.        White HL, Freeman LM, Mahony O, Graham PA, Hao Q, Court MH. Effect of dietary soy on serum thyroid hormone concentrations in healthy adult cats. AJVR. 2004;65(5):586–91.

5.        Fernandez-Lopez A, Lamothe V, Delample M, Denayrolles M, Bennetau-Pelissero C. Removing isoflavones from modern soyfood: Why and how? Food Chem [Internet]. 2016;210:286–94. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.foodchem.2016.04.126

6.        Wang HJ, Murphy PA. Mass Balance Study of Isoflavones during Soybean Processing. J Agric Food Chem. 1996;44(8):2377–83.

7.        Liener IE. Implications Of Antinutritional Components In Soybean Foods. Vol. 34, Critical Reviews in Food Science and Nutrition. 1994. 31–67 p.

8.        Court MH, Freeman LM. Identification and concentration of soy isoflavones in commercial cat foods. Am J Vet Res. 2002;63(2):181–5.

9.        Roubos-Van Den Hil PJ, Nout MJR, Beumer RR, Van Der Meulen J, Zwietering MH. Fermented soya bean (tempe) extracts reduce adhesion of enterotoxigenic Escherichia coli to intestinal epithelial cells. J Appl Microbiol. 2009;106(3):1013–21.

10.      Roubos-Van Den Hil PJ, Nout M. Anti-Diarrhoeal Aspects of Fermented Soya Beans. In: El-Shemy H, editor. Soybean and Health [Internet]. InTech; 2011. p. 137–44. Available from: http://www.intechopen.com/books/trends-in-telecommunications-technologies/gps-total-electron-content-tec- prediction-at-ionosphere-layer-over-the-equatorial-region%0AInTec

11.      Roubos-van den Hil PJ, Nout MJR, van der Meulen J, Gruppen H. Bioactivity of tempe by inhibiting adhesion of ETEC to intestinal cells, as influenced by fermentation substrates and starter pure cultures. Food Microbiol [Internet]. 2010;27(5):638–44. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.fm.2010.02.008

12.      Yogo T. Influence of dried okara-tempeh on the composition and metabolites of fecal microbiota in dogs. Int J Appl Res Vet Med. 2011;9(2):176.

13.      Soenarto Y, I S, Herman H, M K, D K. Antidiarrheal characteristics of tempe produced traditionally and industrially in children aged 6-24 months with acute diarrhea. Paediatr Indones. 2001;41(2):88.

14.      Kiers JL, Meijer JC, Nout MJR, Rombouts FM, Nabuurs MJA, Van Der Meulen J. Effect of fermented soya beans on diarrhoea and feed efficiency in weaned piglets. J Appl Microbiol. 2003;95(3):545–52.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s