Plasma konvalesen. Akhir-akhir ini, kata tersebut sering muncul sebagai salah satu opsi pengobatan COVID-19. Plasma adalah bagian darah yang mengandung antibodi, sehingga diharapkan pasien penderita COVID-19 bisa membaik jika diberi plasma dari penyintas yang punya antibodi terhadap virus SARS-CoV-2. Meski begitu, penggunaan plasma konvalesen sepertinya tidak membawa banyak manfaat dalam pandemi ini (1).

Namun, saya tidak ingin membahas penggunaan plasma konvalesen untuk COVID-19. Mengingat sistem imun hewan dan manusia sebenarnya mirip, apakah terapi semacam plasma konvalesen bisa diterapkan pada anjing dan kucing?

Plasma… konvalesen?
Untuk terapi COVID-19, plasma yang digunakan harus berasal dari orang yang pernah menderita COVID-19, lalu sembuh. Karena itu, plasmanya disebut plasma konvalesen. Sementara itu, pemberian plasma pada anjing dan kucing (setidaknya yang akan dibahas di sini) lebih banyak menggunakan plasma dari hewan yang sudah divaksinasi, walau belum pernah menderita penyakit (canine parvovirus dan feline panleukopenia). Karena itu, plasma ini akan kita sebut plasma hiperimun, bukan plasma konvalesen.

Plasma untuk COVID-19 tidak diambil dari orang yang sudah divaksinasi karena ditakutkan tidak efektif, mengingat vaksin yang beredar menggunakan virus yang sudah mati, sehingga respon imunnya tidak sekuat virus yang masih hidup, atau hanya menggunakan bagian virus (spike protein), bukan virus utuh, jadi ditakutkan antibodinya terbatas pada bagian tersebut (2). Ini bukan masalah bagi anjing dan kucing, karena kebanyakan vaksin anjing dan kucing menggunakan virus hidup yang dilemahkan, tetapi masih hidup. Vaksin dengan virus hidup menghasilkan respon imun yang lebih kuat dan memorinya bisa bertahan lama, hingga bertahu-tahun setelah vaksinasi (3). Namun, ini bukan jaminan plasma hiperimun atau kovalesen efektif untuk pengobatan.

Pencegahan: bayi anjing dan kucing tanpa kolostrum
Kalau plasma hanya digunakan sebagai pencegahan, maka jawabannya adalah iya. Konsep ini sudah sering digunakan sebagai imunisasi pasif (kebalikan dari vaksinasi, yang merupakan imunisasi aktif). Misalnya, manusia yang tergigit anjing akan diberi serum antirabies, atau manusia dengan luka yang ditakutkan terkena tetanus akan diberi serum antitetanus. Kandungan serum mirip dengan plasma, hanya tanpa zat penggumpal sel darah.

Ketika lahir, anjing dan kucing hampir tidak punya kekebalan dari induknya, berbeda dengan manusia yang sudah mendapat antibodi melalui plasenta selama dalam kandungan. Anjing dan kucing baru akan mendapat antibodi induknya melalui kolostrum setelah lahir. Namun, mereka hanya bisa menyerap antibodi dari kolostrum selama 16-24 jam pertama kehidupan (4). Bagaimana kalau mereka tidak mendapat kolostrum setelah itu? Anak anjing dan kucing akan lebih rentan diserang penyakit karena tidak punya antibodi, sementara sistem imunnya sendiri masih belum matang.

Harapan belum hilang, karena mereka masih bisa mendapat antibodi melalui jalur lain: plasma atau serum hewan dewasa yang disuntikkan di bawah kulit. Bayi kucing yang disuntikkan serum kucing dewasa sebanyak 15 ml, dibagi 3 suntikan, memiliki kadar antibodi serupa dengan bayi kucing yang mendapat kolostrum (5). Sebelumnya, anak kucing dan donor serum harus dipastikan memiliki golongan darah yang sama. Prosedur ini pernah dicoba kembali dengan serum kucing dan serum kuda yang sudah divaksinasi bakteri Staphylococcus aureus. Anak kucing yang diberi serum kucing maupun kuda sama-sama dapat antibodi dalam darahnya, tetapi antibodi dari serum kuda tidak mampu membantu sel darah putih anak kucing membunuh bakteri, berbeda dengan antibodi dari serum kucing (6).

Image by auenleben from Pixabay

Konsep ini juga bisa diterapkan pada anak anjing. Pemberian serum anjing dewasa sebanyak 16 ml melalui suntikan bawah kulit dapat meningkatkan kadar antibodi darah anak anjing, tetapi jumlahnya tetap tidak setinggi anak anjing yang mendapat kolostrum secara alami (7,8). Ini perlu dilakukan dengan hati-hati, karena ada risiko pembentukan luka dan kematian jaringan pada lokasi suntikan. Peneliti juga pernah mencoba memberi serum secara oral pada anak anjing baru lahir, tetapi cara ini gagal meningkatkan antibodi anak anjing (7–9).

Walaupun antibodi meningkat, ini tidak serta merta berarti anak anjing dan kucing yang diberi “kolostrum palsu” jadi aman dari penyakit. Perlu penelitian yang betul-betul menantang mereka dengan virus penyakit untuk mengetahuinya, tetapi mungkin ini sulit dilakukan karena bisa membunuh banyak anak anjing dan kucing.

Pengobatan dan terapi virus
Plasma dan serum hiperimun sudah pernah digunakan sebagai terapi pada anjing dan kucing yang sakit. Plasma ini dijual secara komersil; tidak perlu mencari donor konvalesen seperti pada manusia karena semua anjing yang dipanen plasmanya sudah divaksin dengan virus hidup. Lagi-lagi, ini bukan jaminan plasma akan efektif untuk terapi. Bagaimana dengan bukti ilmiahnya?

Image by ewa pniewska from Pixabay

Dalam sebuah penelitian tahun 1983, 10 anjing sengaja diinfeksi dengan parvovirus (10). Empat hari kemudian, beberapa anjing dipilih untuk diberi 2 ml plasma hiperimun secara intravena (ke dalam pembuluh darah, bukan bawah kulit seperti pada bayi anjing). Semua anjing mengalami gejala klinis diare, lesu, dan tidak mau makan. Namun, anjing yang diberi plasma tidak sampai diare berdarah dan cuma satu yang muntah, sementara hampir semua anjing yang tidak diberi plasma mengalami keduanya. Pada akhirnya, 50% anjing yang tidak diberi plasma mati, sementara tidak ada anjing yang mati setelah diberi plasma.

Tidak lama kemudian (1985), penelitian serupa kembali dilakukan. Anjing juga diinfeksi parvovirus di lab, bukan secara alami, tetapi kali ini, serum hiperimun diberikan 24 jam setelah infeksi virus (11). Anjing yang diberi serum tidak menunjukkan gejala klinis atau penurunan jumlah sel darah putih, seperti anjing yang tidak diberi serum. Baik penelitian ini maupun yang sebelumnya tampak menjanjikan, tetapi keduanya menggunakan anjing yang diinfeksi secara buatan. Peneliti tahu persis kapan mereka terinfeksi dan kapan gejala klinis muncul. Sayangnya, kenyataan di lapangan tidak serapi itu.

Tiga puluh tahun kemudian, ada lagi penelitian tentang plasma hiperimun sebagai terapi parvovirus (12). Namun, penelitian ini menggunakan 14 anjing yang terinfeksi secara alami di suatu rumah sakit hewan, bukan anjing yang diinfeksi di lab seperti sebelumnya. Rata-rata mereka mulai menunjukkan gejala klinis 24 jam sebelum dibawa ke rumah sakit. Separuh anjing diberikan 12 ml plasma hiperimun secara intravena, sementara separuhnya diberi larutan infus biasa (NaCl 0,9%). Pemberian plasma tidak menghasilkan perbaikan jumlah sel darah putih, jumlah virus dalam darah, lama waktu rawat inap, ataupun harga perawatan. Dalam kata lain, penelitian ini tidak menunjukkan manfaat terapi plasma hiperimun pada anjing terinfeksi parvovirus.

Penelitian terbaru tahun 2020 disponsori oleh Plasvacc, suatu perusahaan yang memproduksi plasma hiperimun kuda dan anjing. Dalam kasus seperti infeksi virus, transfusi plasma sebenarnya biasa dilakukan untuk mengembalikan tekanan dan protein darah, terlepas dari kadar antibodinya. Seperti penelitian sebelumnya, penelitian Plasvacc ini juga menggunakan anjing yang terinfeksi secara alami. Sebanyak 16 ekor diberi plasma sebanyak 10 ml/kg, sementara 15 diberi larutan infus biasa (NaCl 0,9%). Anjing yang diberi plasma menunjukkan perbaikan gejala syok (artinya, denyut jantung dan tekanan darah kembali stabil) dibanding yang tidak diberi plasma. Namun, tidak ada perbedaan lama rawat inap dan angka kematian antara kedua kelompok. Ini bisa berarti plasma tidak meningkatkan kemungkinan sembuh, atau jumlah sampel terlalu kecil sehingga perbedaan tidak terdeteksi. Idealnya, penelitian perlu melibatkan 260 anjing agar jumlah sampel bisa dibilang cukup.

Ada penelitian lain yang masih berkutat pada canine parvovirus dan plasma, tetapi plasma hiperimun yang digunakan mengandung antibodi hiperimun feline panleukopenia dari kuda (Feliserin) (13). Walaupun berbeda virus, baik canine parvovirus maupun feline panleukopenia masih bersaudara dekat. Terbukti, secara in vitro, antibodi panleukopenia bisa menetralkan canine parvovirus. Sayangnya, hasil in vivo pada anjing yang terkena parvovirus tidak menunjukkan hal yang sama. Tidak ada perbedaan antara anjing yang diberi Feliserin maupun tidak, baik dalam angka kematian, gejala klinis, parameter lab, dan lama persembuhan.

By Whoisjohngalt – Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=97954389

Kalau begitu, apakah plasma hiperimun bermanfaat dalam pengobatan parvovirus? Plasma hiperimun hanya memberi manfaat yang nyata pada penelitian buatan, di mana anjing diinfeksi sengaja, tetapi tidak begitu jelas pada pasien anjing yang terinfeksi secara alami. Kalaupun bermanfaat, kelihatannya manfaat plasma hiperimun tidak begitu besar, kecuali diberikan di awal infeksi. Di awal infeksi, antibodi dalam plasma memang bisa berperan menghalau virus agar tidak bisa masuk ke sel. Namun, ketika virus sudah menginfeksi sampai menunjukkan gejala klinis, kekebalan berperantara sel T mulai lebih berperan untuk membersihkan virus dan sel terinfeksi. Ini tidak bisa dibantu oleh plasma, karena plasma hanya mengandung antibodi, bukan sel T pembunuh.

Bagaimana dengan penyakit selain parvovirus dan panleukopenia? Satu penelitian lain dengan Feliserin menggunakan 42 kucing dengan gejala gangguan pernapasan, campuran kasus infeksi feline calicivirus dan feline herpesvirus-1 (14). Feliserin mengandung antibodi feline panleukopenia, feline calicivirus, dan feline herpesvirus-1. Kucing yang diberi Feliserin maupun tidak sama-sama membaik. Tidak ada perbedaan klinis nyata dan untuk semua gejala.

Feliserin. sumber: selectavet.de

Sebenarnya, kekebalan dari antibodi serum tidak berperan besar dalam kekebalan kucing terhadap calicivirus dan herpesvirus. Kekebalan terhadap kedua virus ini lebih mengandalkan kekebalan lokal di gerbang masuknya, hidung dan mulut, serta kekebalan seluler. WSAVA sendiri tidak menganjurkan pengujian titer antibodi calicivirus dan herpesvirus pada kucing, karena hasilnya tidak akurat untuk menentukan status kekebalan (15).

Penutup
Penggunaan plasma dan serum yang mengandung antibodi bukan hal baru dalam kedokteran hewan. Serum hiperimun bisa digunakan sebagai pengganti kolostrum pada anak anjing dan kucing yang rentan, sebagai perlindungan di awal kehidupan. Namun, penggunaannya sebagai terapi atau pengobatan penyakit virus belum menunjukkan manfaat yang pasti. Daripada berkutat dengan plasma atau serum hiperimun yang belum pasti manfaatnya, lebih baik lindungi peliharaanmu dari virus dengan cara yang lebih pasti: vaksinasi.

Referensi
1.        Janiaud P, Axfors C, Schmitt AM, Gloy V, Ebrahimi F, Hepprich M, et al. Association of Convalescent Plasma Treatment with Clinical Outcomes in Patients with COVID-19: A Systematic Review and Meta-analysis. JAMA – J Am Med Assoc. 2021;325(12):1185–95.

2.        Focosi D, Franchini M. COVID19 immune plasma donation after vaccination: pros and cons. Transfus Apher Sci. 2020;(January):2020–2.

3.        Siegrist C-A. Vaccine Immunology. In: Plotkin’s Vaccines. 2018. p. 16-34.e7.

4.        Weström B, Arévalo Sureda E, Pierzynowska K, Pierzynowski SG, Pérez-Cano FJ. The Immature Gut Barrier and Its Importance in Establishing Immunity in Newborn Mammals. Front Immunol. 2020;11(June).

5.        Levy JK, Crawford PC, Collante WR, Papich MG. Use of adult cat serum to correct failure of passive transfer in kittens. J Am Vet Med Assoc. 2001;219(10):1401–5.

6.        Crawford PC, Hanel RM, Levy JK. Evaluation of treatment of colostrum-deprived kittens with equine IgG. Am J Vet Res. 2003;64(8):969–75.

7.        Bouchard G, Plata-Madrid H, Youngquist RS, Buening GM, Ganjam VK, Krause GF, et al. Absorption of an alternate source of immunoglobulin in pups. Am J Vet Res. 1992 Feb;53(2):230–3.

8.        Poffenbarger EM, Olson PN, Chandler ML, Seim HB, Varman M. Use of adult dog serum as a substitute for colostrum in the neonatal dog. Am J Vet Res. 1991 Aug;52(8):1221–4.

9.        Mila H, Feugier A, Grellet A, Anne J, Gonnier M, Martin M, et al. Inadequate passive immune transfer in puppies: Definition, risk factors and prevention in a large multi-breed kennel. Prev Vet Med [Internet]. 2014;116(1–2):209–13. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.prevetmed.2014.05.001

10.      Ishibashi K, Maede Y, Ohsugi T, Onuma M, Mikami T. Serotherapy for dogs infected with canine parvovirus. Japanese J Vet Sci [Internet]. 1983;45(1):59–66. Available from: http://www.mendeley.com/research/geology-volcanic-history-eruptive-style-yakedake-volcano-group-central-japan/

11.      Meunier PC, Cooper BJ, Appel MJ, Lanieu ME, Slauson DO. Pathogenesis of canine parvovirus enteritis: sequential virus distribution and passive immunization studies. Vet Pathol. 1985;22(6):617–24.

12.      Bragg RF, Duffy AL, DeCecco FA, Chung DK, Green MT, Veir JK, et al. Clinical evaluation of a single dose of immune plasma for treatment of canine parvovirus infection. J Am Vet Med Assoc. 2012;240(6):700–4.

13.      Gerlach M, Proksch AL, Unterer S, Speck S, Truyen U, Hartmann K. Efficacy of feline anti-parvovirus antibodies in the treatment of canine parvovirus infection. J Small Anim Pract. 2017;58(7):408–15.

14.      Friedl Y, Schulz B, Knebl A, Helps C, Truyen U, Hartmann K. Efficacy of passively transferred antibodies in cats with acute viral upper respiratory tract infection. Vet J [Internet]. 2014;201(3):316–21. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.tvjl.2014.05.002

15.      Day MJ, Horzinek MC, Schultz RD, Squires RA. WSAVA Guidelines for the vaccination of dogs and cats. J Small Anim Pract. 2016;57(1):E1–45.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s