Sama seperti manusia, hewan peliharaan kita suka tidak tahan dengan godaan treats (aka snack). Kadang, mereka tergoda separah itu, sampai mereka tidak nafsu makan makanan aslinya. Apakah ini bahaya? Jelas. Kebanyakan treats nutrisinya tidak lengkap dan seimbang. Bagaimana seharusnya kita memberi treats tanpa mengacaukan asupan nutrisi mereka?

Sebelumnya, definisi treats di sini adalah semua makanan selain makanan utama (dry food atau wet food yang nutrisinya lengkap dan seimbang). Jadi, treats bukan cuma yang dijual di pet shop atau minimarket. Makanan homemade atau makanan manusia yang diberikan ke hewan peliharaan juga treats. Nah, namanya treats atau cemilan, tentu berarti porsi pemberiannya juga sedikit. Idealnya, pemberian treats tidak lebih dari 10% kebutuhan kalori harian. Menurut panduan nutrisi WSAVA, pemberian makanan yang tidak lengkap dan seimbang lebih dari 10% kalori harian adalah faktor risiko gangguan terkait nutrisi. Yang paling dekat adalah obesitas. Hewan yang diberi treats lebih berisiko kelebihan berat badan dibanding yang tidak diberi treats.

Berapa banyak 10% kebutuhan kalori harian itu? Sebelum tahu 10%nya, kita harus tahu dulu dong, kebutuhan kalori hariannya. Cara menghitungnya ada di sini, tetapi sebagai patokan, kucing seberat 3 kg bisa mendapat 15-20 kcal treats sehari. Berapa banyak kalori dalam treats? Tergantung masing-masing treats. Treats komersil biasa mencantumkan kalori dan panduan pemberian di kemasan. Untuk treats yang tidak ada kemasannya, misalnya treats homemade, kamu bisa cek kandungan kalori bahan tersebut di database nutrisi seperti USDA FoodCentral.

Selain kalori, pasti banyak perbedaan lain dari masing-masing treats. Saya akan ulas beberapa treats yang sering diberikan ke hewan peliharaan, diurutkan menurut preferensi pribadi (yang berdasarkan sains, tentunya.

1. Dental chews (treats untuk gigi)

Treats ini saya taruh di posisi pertama karena bukan sekadar camilan, tetapi memang bermanfaat untuk kesehatan gigi hewan. Namun, tidak semua treats yang mengklaim diri sebagai dental treats betul-betul berguna bagi gigi. Treats yang mendapat seal dari Veterinary Oral Health Council (VOHC) sudah melalui uji klinis dan terbukti bisa membantu mengurangi pembentukan plak atau karang gigi. Jadi, seal ini bisa jadi jaminan kualitas. Saya pakai contoh Purina DentaLife karena paling banyak ditemukan di sini dan sudah ada VOHC sealnya, tetapi ada beberapa merk lain yang juga punya seal VOHC, seperti Whimzees dan Greenies, yang beredar di Indonesia.

2. Treats komersil yang lengkap dan seimbang dan/atau mencantumkan kalori

Terdengar ribet, ya? Treats doang, kok lengkap dan seimbang? Nyatanya, ada treats yang seperti itu. Temptations memiliki nutrisi yang lengkap dan seimbang untuk kucing, walau tetap lebih baik dijadikan treats saja, bukan makanan pokok. Mereka juga mencantumkan kandungan kalori: setiap butirnya mengandung 2 kcal. Ini membantu kita memberi treats secukupnya, tidak melebihi batas kalori 10% yang dianjurkan.

3. Treats komersil olahan lainnya, yang dibuat perusahaan kredibel dan ada panduan pemberiannya

Yang kenal dengan saya pasti tahu kalau saya sangat berpatokan pada kredibilitas perusahaan. Kalau perusahaannya kredibel, saya juga percaya dengan treatsnya, walau tidak mencantumkan kalori, apalagi lengkap dan seimbang. Namun, treats tetap harus mencantumkan panduan pemberiannya. Nah, pemilik hewan juga harus patuh pada panduan ini. Jangan sampai hewan peliharaan jadi pecandu treats, lalu dituruti karena tidak mau makan yang lain.

4. Treats rumahan dari bahan hewani

Sebenarnya, daging dan telur adalah makanan sehat, tapi bagaimanapun nutrisinya tidak lengkap dan seimbang, jadi tetap kita sebut treats. Telur atau daging sebaiknya dimasak dulu, kecuali kita bisa yakin tidak ada bakteri penyebab penyakit di dalamnya. Untuk daging, ini hampir tidak mungkin, jadi memang harus dimasak, setidaknya bagian luarnya (kita masak steak juga begitu, kan). Masaknya direbus, dibakar, dipanggang, atau apa? Terserah, tapi kalau direbus, akan banyak taurin (dan mungkin nutrisi lain) yang terbuang bersama air rebusan. Ya ini tidak masalah sih, kan dagingnya cuma treats.

Beberapa telur mungkin memenuhi standar bebas Salmonella, tetapi tetap lebih baik dimasak dulu. Saya sering lihat kucing kalau dikasih telur, dikasih kuningnya saja. Padahal, putihnya juga bernutrisi kaya protein, tetapi rendah lemak, berbeda dengan kuning telur. Untuk kucing yang overweight, justru lebih bagus dikasih putihnya daripada kuningnya, karena kalorinya lebih rendah. Sayangnya, di putih telur mentah ada zat antinutrisi tripsin inhibitor, yang menghambat pencernaan dan penyerapan protein, dan avidin, yang mengikat vitamin biotin sehingga tidak bisa dicerna. Tripsin inhibitor dan avidin akan hancur dengan pemasakan, jadi memang putih telur harus dimasak dulu.

Berapa banyak daging dan telur yang diberikan sebagai treats? Setiap bagian dan asal daging berbeda nutrisinya, jadi bisa disesuaikan sendiri. Telur juga demikian. Sebagai patokan, 10 gram daging sapi kaya lemak atau 1/3 bagian telur utuh sudah mencapai batas 10% kalori harian untuk kucing seberat 4 kg.

5. Buah dan sayur yang aman (terutama untuk anjing)

Image by silviarita from Pixabay

Terdengar aneh, tetapi beberapa anjing (dan mungkin kucing) suka makan buah dan sayur. Buah dan sayur cenderung rendah kalori dibanding treats komersil atau hewani, jadi cocok untuk mencegah obesitas. Tidak semua buah dan sayur aman diberikan ke hewan peliharaan, jadi selalu pastikan dulu buah atau sayur yang diberikan tidak mengandung zat berbahaya. Salah satu daftar bisa dilihat di sini.

5. Rawhide

Walaupun reputasinya cukup jelek, rawhide tidak selalu buruk. Bahkan, ada penelitian yang bilang rawhide bisa membantu membersihkan karang gigi. Namun, tidak semua rawhide diolah dengan baik dan aman, jadi hanya beli rawhide dari produsen yang kredibel. Sesuaikan juga ukuran dan kekerasan raw hide dengan ukuran hewan peliharaanmu. Rawhide yang terlalu kecil takutnya malah tertelan dan membuat tersedah pada anjing besar, sementara raw hide yang terlalu keras bisa membuat gigi patah atau lepas.

Jika hewan peliharaanmu menderita atau berisiko tinggi terkena batu kencing jenis kalsium oksalat, jangan berikan rawhide. Rawhide terbuat dari kulit sapi, yang tinggi akan asam amino hidroksiprolin. Makanan tinggi hidroksiprolin dapat memicu pembentukan oksalat, sehingga meningkatkan risiko terkena batu kencing kalsium oksalat.

6. Treats kering mentah (pig ears)

Philip Kinsey/Shutterstock

Treats seperti raw pig ears (telinga babi), bully stick (penis sapi), dan gullet stick (kerongkongan sapi) sering ditemukan terkontaminasi bakteri, khususnya Salmonella. Walau dikeringkan, ternyata suhu pengeringan treats ini tidak cukup tinggi untuk membunuh bakteri. Kontaminasi ini bisa membuat hewan atau pemiliknya mengalami gangguan pencernaan. Pemberian treats seperti ini tidak disarankan jika di rumah ada anak kecil, orang tua, ibu hamil, dan orang dengan sistem imun lemah.

Gullet stick juga berisiko menyebabkan keracunan hormon tiroid (tirotoksikosis). Karena berasal dari kerongkongan yang dekat dengan kelenjar tiroid, terkadang ada kelenjar tiroid yang ikut termakan. Akibatnya, hormon tiroid dalam tubuh anjing yang memakannya menjadi terlalu tinggi, lalu menyebabkan gejala seperti sering minum, sering kencing, kecemasan, dan penurunan berat badan. Hal seperti ini juga pernah terjadi pada manusia yang makan hamburger (daging giling) dengan kelenjar tiroid terikut di dalamnya.

7. Tulang

Image by Shutterbug75 from Pixabay

Treats komersil berbahan tulang, atau tulang dari dapurmu, bisa membuat hewan peliharaanmu tersedak, menyumbat dan merobek saluran pencernaan, muntah, diare, pendarahan, bahkan mengalami kematian. FDA USA tidak menyarankan memberi treats tulang pada hewan peliharaan. Beberapa orang ilang ini hanya berlaku untuk tulang yang sudah dimasak; tulang mentah aman diberikan karena tidak serapuh tulang masak. Ini tidak membuat tulang menjadi aman. Tulang mentah, sama seperti daging mentah, juga membawa risiko penyakit dari bakteri. Selain itu, tulang yang terlalu keras bisa merusak gigi hewan yang mengigitnya.

8. Bahan makanan apapun yang beracun
Banyak makanan yang aman untuk kita ternyata beracun bagi anjing dan kucing. Selalu cari tahu dulu sebelum memberi apapun pada mereka. Cek list benda beracun di sini.

Referensi
1.        Broome MR, Peterson ME, Kemppainen RJ, Parker VJ, Richter KP. Exogenous thyrotoxicosis in dogs attributable to consumption of all-meat commercial dog food or treats containing excessive thyroid hormone: 14 cases (2008-2013). J Am Vet Med Assoc. 2015;246(1):105–11.

2.        Stull JW, Peregrine AS, Sargeant JM, Weese JS. Pet husbandry and infection control practices related to zoonotic disease risks in Ontario, Canada. BMC Public Health. 2013;13(1).

3.        Morelli G, Catellani P, Miotti Scapin R, Bastianello S, Conficoni D, Contiero B, et al. Evaluation of microbial contamination and effects of storage in raw meat-based dog foods purchased online. J Anim Physiol Anim Nutr (Berl). 2020;104(2):690–7.

4.        Adley C, Dillon C, Morris CP, Delappe N, Cormican M. Prevalence of Salmonella in pig ear pet treats. Food Res Int [Internet]. 2011;44(1):193–7. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.foodres.2010.10.041

5.        Courcier EA, Thomson RM, Mellor DJ, Yam PS. An epidemiological study of environmental factors associated with canine obesity. J Small Anim Pract. 2010;51(7):362–7.

6.        Freeman L, Becvarova I, Cave N, Zealand N, Mackay C, Nguyen P, et al. WSAVA Nutrition Assessment Guidelines 2011. J Small Anim Pract. 2011;00(June):1–12.

7.        Finley R, Reid-Smith R, Weese JS, Angulo FJ. Human Health Implications of Salmonella-Contaminated Natural Pet Treats and Raw Pet Food. Clin Infect Dis [Internet]. 2006 Mar 1;42(5):686–91. Available from: https://doi.org/10.1086/500211

8.        Stookey GK. Soft rawhide reduces calculus formation in dogs. J Vet Dent. 2009;26(2):82–5.

9.        FDA. No Bones (or Bone Treats) About It: Reasons Not to Give Your Dog Bones [Internet]. 2017. Available from: https://www.fda.gov/consumers/consumer-updates/no-bones-or-bone-treats-about-it-reasons-not-give-your-dog-bones

10.      Pinto CFD, Lehr W, Pignone VN, Chain CP, Trevizan L. Evaluation of teeth injuries in Beagle dogs caused by autoclaved beef bones used as a chewing item to remove dental calculus. PLoS One. 2020;15(2):1–15.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s