Mengenal protein
Protein adalah salah satu makronutrien penting—dan terpenting—bagi anjing dan kucing. Sebagian besar tubuh kita dan hewan peliharaan kita ini, termasuk sel-sel, otot, organ dalam, hormon, enzim, antibodi, dibuat dari protein. Bahasan lebih lengkap tentang protein ada di sini. Namun, anjing dan kucing sebenarnya bukan butuh protein; mereka butuh asam amino, potongan penyusun protein. Ada 10 asam amino yang dibutuhkan anjing dan 11 yang dibutuhkan kucing dalam makanannya. Lebih lengkap tentang kesebelasnya di sini.

Mengenal protein kasar (crude protein)
Kalau kamu membaca label makanan kucing atau anjingmu, kadang kamu akan melihat tertulis “crude protein”, bukan “protein” saja. Protein kasar bicara soal metode analisis kadar protein dalam makanan tersebut, yaitu analisis proksimat. Metode ini sebenarnya bukan mengukur protein, tetapi nitrogen. Jadi, semua nitrogen dianggap berasal dari protein, lalu dihitung menggunakan rumus, jadilah persentase protein kasar yang terlihat di label.

Saya sering dengar kalau persentase protein di bisa jadi penentu bagus tidaknya makanan hewan. Saya tidak terlalu peduli berapa persentase protein atau protein kasar, dan saran saya, kamu juga tidak perlu peduli. Kalau masih dalam satu merk, membandingkan persentase protein mungkin masih ada gunanya, tapi kalau berbeda merk, lupakan saja. Tidak ada gunanya. Kenapa?

1. Protein kasar bukan protein murni
Karena protein kasar sebenarnya menghitung jumlah nitrogen, otomatis zat-zat selain protein yang mengandung nitrogen juga termasuk di dalamnya. Sebenarnya saya tidak terlalu khawatir soal ini karena zat-zat lain tersebut jumlahnya sangat kecil, dan lagi yang tercantum di label adalah protein kasar minimum, jadi jumlah aslinya sangat mungkin lebih dari itu.

Namun, pernah ada kasus keracunan massal hewan karena melamin dalam bahan baku makanan hewan. Melamin mengandung 60% nitrogen (protein cuma sekitar 16% nitrogen), jadi ketika dianalisis, akan menghasilkan nilai protein kasar yang tinggi tapi semu. Sayangnya, melamin berbahaya bagi ginjal dan bisa menyebabkan kematian (1).

Penjelasan protein kasar di atas berlaku untuk makanan hewan di Amerika Serikat, tetapi di Eropa agak berbeda. Mereka tidak menggunakan protein kasar minimum, tetapi jumlah perkiraan protein, dengan batas minimum dan maksimum tertentu. Untuk protein makanan anjing dan kucing, batas toleransinya adalah 3%. Jadi, makanan dengan 30% protein bisa mengandung 27-33% protein (2).

2. Apakah proteinnya mudah dicerna?
Kita memberi makan hewan dengan harapan nutriennya dapat tercerna dengan baik di usus halus. Semakin banyak nutrien yang bisa dicerna dan diserap, semakin bagus makanan tersebut. Bagaimana dengan nutrien yang tidak tercerna? Nutrien tersebut akan bergerak ke usus besar, difermentasi oleh bakteri, lalu dibuang jadi kotoran. Dengan kata lain, nutrien, termasuk protein, yang banyak tapi tidak tercerna hanya akan berakhir menjadi kotoran di litter box.

Kecernaan protein dipengaruhi berbagai faktor, meliputi sumber protein, struktur protein, komposisi asam amino, pengolahan, interaksi dengan nutrien lain (3–5). Faktor-faktor ini tidak bisa kita ketahui hanya dengan membaca label. Kalau mau tahu, kita harus tanya ke perusahaan pembuatnya. Itu juga jika mereka tahu jawabannya. Percuma, kan, kalau proteinnya tinggi tetapi hanya jadi kotoran?

3. Apakah asam aminonya lengkap?
Seperti sudah disebutkan, hewan butuh asam amino esensial dalam makanan, bukan protein. Masing-masing asam amino esensial ini punya jumlah kebutuhan minimum yang harus dipenuhi. Makanan yang tidak mengandung semua asam amino esensial bisa disebut proteinnya berkualitas jelek. Kok gitu? Ibarat kita membuat kue, tentu perlu bahan beraneka ragam. Kalau ada satu bahan kurang, kita tidak akan bisa membuat kue tersebut, walau bahan lainnya berlimpah. Asam amino digunakan sebagai bahan baku pembuatan berbagai komponen tubuh. Jika salah satu asam amino kurang, asam amino lain jadi tidak berguna, ujungnya hanya dibuang lewat urin. Ya, kayak gambar di bawah ini lah.

Jika protein dibaratkan tong kayu, air yang dapat ditampung bergantung pada papan penyusunnya, yakni asam amino.

Apa kita bisa tahu kelengkapan asam amino hanya dari melihat persentase protein? Tentu tidak. Tapi, makanan komersil yang mencantumkan klaim lengkap dan seimbang harusnya sudah lengkap juga asam aminonya. Mereka juga harusnya punya data lengkap analisis tiap asam amino. Kalau makanan homemade atau sejenisnya, tidak tahu deh…

4. Bagaimana kualitas proteinnya?
Kuantitas protein tidak lantas menentukan kualitas. Sumber protein bisa menentukan kualitas protein. Misalnya, dari seekor hewan sapi, protein yang bagus berasal dari daging dan organ dalam (hati, paru, ginjal, jantung, dsb.). Sementara, protein dari jaringan ikat, seperti trakhea atau kolagen, adalah protein berkualitas jelek. Jaringan ikat mengandung asam amino hidroksiprolin, yang dalam jumlah tinggi berisiko memicu penbentukan batu kencing kalsium oksalat (6).

Kibble berwarna kecoklatan karena reaksi Maillard

Kita juga tidak bisa tahu seberapa banyak dari asam amino yang dikonsumsi dan diserap yang benar-benar bisa digunakan tubuh. Dalam pengolahan makanan hewan, sering terjadi reaksi antara protein dan gula, yang disebut reaksi Maillard. Reaksi Maillard menambah cita rasa dan aroma makanan, tetapi mengorbankan nilai nutrisi. Asam amino lisin sering menjadi korban pertama reaksi Maillard. Lisin yang terlibat dalam reaksi ini tetap bisa dicerna, tetapi tidak bisa digunakan tubuh, jadi hanya akan dibuang (7). Karena itu, proses produksi makanan hewan harus memperhitungkan reaksi Maillard dan menambahkan lisin sebagai kompensasinya.

5. Protein dan mikrobiota usus
Fermentasi prebiotik (serat) umumnya dianggap baik karena menghasilkan zat yang berguna bagi tubuh, tetapi bagaimana dengan fermentasi protein? Jawaban jujurnya: kita belum tahu. Makanan tinggi protein bisa berimbas buruk pada bakteri baik pemakan serat seperti Bifidobacterium, Lactobacillus, dan Megasphaera (8). Pemberian raw food, yang merupakan makanan tinggi protein, meningkatkan populasi bakteri pemakan protein, Proteobacteria, Fusobacteria, dan Clostridia. Bakteri golongan ini sering dianggap jelek, tetapi belum tentu memang berefek jelek dalam konteks ini. Bisa jadi, jumlahnya meningkat hanya karena memang lebih banyak protein yang jadi makanannya (9).

Image by Arek Socha from Pixabay

Bakteri pemakan protein menghasilkan berbagai zat; ada yang bermanfaat, ada yang berefek buruk. Zat-zat seperti spermidin, kadaverin, dan putresin bisa menghambat penuaan sel dan memperkuat pertahanan sel usus terhadap bakteri jahat. Namun, mereka terkenal membuat feses lebih bau. Hidrogen sulfida juga membuat feses bau dan dicurigai terkait dengan kasus perlukaan pada usus besar (10).

6. Protein berlebih hanya akan dibuang dan jadi lemak.
Tubuh tidak dapat menyimpan protein seperti halnya lemak atau karbohidrat. Jika hewan makan lebih banyak protein dari kebutuhannya, protein tersebut akan dirombak di hati. Satu bagian akan digunakan sebagai energi atau disimpan sebagai lemak tubuh. Satu bagian akan diubah jadi amonia, kemudian urea, lalu dibuang bersama urin. Mengingat protein cukup mahal dibanding lemak dan karbohidrat, memberi makan protein terlalu tinggi hanya akan menghasilkan urin mahal.

Diet tinggi protein juga akan meningkatkan kadar urea dalam darah. Pada kucing sehat, ini tidak masalah, tetapi ada kemungkinan protein tinggi dapat merusak ginjal anjing dalam jangka panjang (11). Ini berkaitan dengan fermentasi protein di usus besar. Fermentasi asam amino triptofan menghasilkan senyawa indol yang beracun bagi ginjal.

7. Keberlanjutan lingkungan dan ketersediaan pangan
Selain lebih mahal secara ekonomis, produksi protein juga menuntut harga yang mahal dari lingkungan. Produksi protein, apalagi protein hewani, menghasilkan jejak karbon yang sangat tinggi. Sebagai perbandingan, produksi 1 kg daging sapi menghasilkan emisi karbon dioksida sebesar 20,4 kg, sedangkan produksi 1 kg gandum hanya menghasilkan 0,45 kg emisi. Rasanya, harga ini sia-sia jika ujungnya protein hanya dibuang menjadi urin mahal (12).

Salah satu solusi untuk keberlanjutan ini adalah penggunaan by products. By products adalah hasil produksi hewan yang tidak diminati manusia, seperti jeroan – bukan karena nutrisinya, tetapi masalah selera saja.  Dengan menggunakan by products, manusia dan hewan tidak perlu rebutan makanan, dan lebih sedikit hewan yang harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan makanan.

Bonus: makanan tinggi protein bikin gendut?
Ini tidak benar. Yang membuat hewan gendut adalah makanan tinggi kalori atau tinggi lemak, karena kalori itulah yang akan disimpan menjadi lemak di tubuh. Justru, makanan untuk kontrol berat badan rata-rata lebih tinggi protein dibanding makanan biasa, untuk menjaga massa otot dan penggunaan energi selama porsi makan dikurangi (13). Contohnya, Royal Canin Satiety (untuk menurunkan berat badan) mengandung 11,1 gram protein setiap 100 kcal, sementara Royal Canin Fit (untuk kucing sehat outdoor) mengandung 8,4 gram protein setiap 100 kcal.

Referensi
1.        Rumbeiha W, Morrison J. A Review of Class I and Class II Pet Food Recalls Involving Chemical Contaminants from 1996 to 2008. J Med Toxicol. 2011;7(1):60–6.

2.        FEDIAF. Nutritional Guidelines for Complete and Complementary Pet Food for Cats and Dogs. Nutr Guidel – Complet Complement Pet Food a Cats Dogs. 2018;(August):96.

3.        Tjernsbekk MT, Tauson AH, Matthiesen CF, Ahlstrøm. Protein and amino acid bioavailability of extruded dog food with protein meals of different quality using growing mink (Neovison vison) as a model. J Anim Sci. 2016;94(9):3796–804.

4.        Joye I. Protein digestibility of cereal products. Foods. 2019;8(6):1–14.

5.        Golder C, Weemhoff JL, Jewell DE. Cats have increased protein digestibility as compared to dogs and improve their ability to absorb protein as dietary protein intake shifts from animal to plant sources. Animals. 2020;10(3):1–11.

6.        Zentek J, Schulz A. Urinary Composition of Cats Is Affected by the Source of Dietary Protein. J Nutr. 2004;(134):2162-2165S.

7.        Van Rooijen C, Bosch G, Van Der Poel AFB, Wierenga PA, Alexander L, Hendriks WH. The Maillard reaction and pet food processing: Effects on nutritive value and pet health. Nutr Res Rev. 2013;26(2):130–48.

8.        Hooda S, Vester Boler BM, Kerr KR, Dowd SE, Swanson KS. The gut microbiome of kittens is affected by dietary protein:carbohydrate ratio and associated with blood metabolite and hormone concentrations. Br J Nutr. 2013;109(9):1637–46.

9.        Pilla R, Suchodolski JS. The Gut Microbiome of Dogs and Cats, and the Influence of Diet. Vet Clin North Am – Small Anim Pract [Internet]. 2021;51(3):605–21. Available from: https://doi.org/10.1016/j.cvsm.2021.01.002

10.      Wernimont SM, Radosevich J, Jackson MI, Ephraim E, Badri D V., MacLeay JM, et al. The Effects of Nutrition on the Gastrointestinal Microbiome of Cats and Dogs: Impact on Health and Disease. Front Microbiol. 2020;11(June):1–24.

11.      Ephraim E, Cochrane CY, Jewell DE. Varying protein levels influence metabolomics and the gut microbiome in healthy adult dogs. Toxins (Basel). 2020;12(8):1–16.

12.      Acuff HL, Dainton AN, Dhakal J, Kiprotich S, Aldrich G. Sustainability and Pet Food: Is There a Role for Veterinarians? Vet Clin North Am – Small Anim Pract [Internet]. 2021;51(3):563–81. Available from: https://doi.org/10.1016/j.cvsm.2021.01.010

13.      des Courtis X, Wei A, Kass PH, Fascetti AJ, Graham JL, Havel PJ, et al. Influence of dietary protein level on body composition and energy expenditure in calorically restricted overweight cats. J Anim Physiol Anim Nutr (Berl). 2015;99(3):474–82.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s