Bagaimana makanan hewan komersil kering maupun basah bisa bertahan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun? Pasti ada pengawetnya! Dari kecil, kita (atau saya, sih) sering dengar kalau pengawet dalam makanan itu berbahaya, bisa menyebabkan kanker. Di makanan hewan pun, desas-desus serupa sering terdengar. Jika ini benar, tentu berbahaya sekali, mengingat anjing atau kucing makan makanan komersil setiap hari dalam porsi besar, bukan seperti kita yang makan cemilan hanya sesekali.

Mengapa ada pengawet dalam makanan?
Tentu agar awet, tapi apa maksud awet? Selama dijual, makanan komersil harus aman dan bernutrisi. Makanan yang aman bebas dari racun, bahan, dan mikroorganisme berbahaya, seperti bakteri dan jamur. Selain itu, nutrisi yang terkandung harus terjaga, sesuai yang diklaim. Jika makanan tersebut diklaim lengkap dan seimbang, berarti nutrisinya harus lengkap dan seimbang – bisa memenuhi semua kebutuhan nutrisi hewan tanpa makanan lain. Sayangnya, proses penyimpanan yang lama bisa mengancam keamanan dan nutrisi makanan. Di sinilah pengawet berperan. Jadi, pengawet yang sering dituduh berbahaya justru ada untuk membuat makanan tetap aman untuk dikonsumsi.

Pengawet sintetik antioksidan
Pengawet yang paling sering digunakan dalam makanan hewan adalah antioksidan. Makanan kucing dan anjing umumnya mengandung lemak yang cukup tinggi. Jika bertemu oksigen, lemak mudah sekali tengik. Lemak yang tengik bukan cuma tidak lagi bernutrisi, tetapi juga merusak cita rasa dan bisa membahayakan kesehatan hewan yang memakannya. Karena itu, beberapa makanan menggunakan pengawet sintetik BHA, BHT, dan etoksikuin. Mereka sering digunakan dalam makanan manusia, tetapi juga sering dituduh bahaya, tetapi apa tuduhan ini benar?

Sebelum itu, kita perlu mengenal prinsip paling mendasar toksikologi yang diwariskan dokter dari Swiss, Paracelsus: Sola dosis facit venenum “hanya dosis yang membuat sesuatu menjadi racun”. Semua hal yang ada di sekitar kita, termasuk air, udara, adalah racun sekaligus bukan racun. Jadi, kita seharusnya tidak bertanya “Apakah zat ini beracun?” melainkan “Pada dosis berapa zat ini beracun?”. Ini pun berlaku untuk pengawet sintetik yang kita bahas.

Butylated hydroxytoluene (BHT) pernah diteliti dan ditemukan menyebabkan kanker hati pada tikus yang diberi dosis super tinggi, 250 mg per kilogram berat badan (1). Beberapa efek samping lain yang dapat muncul adalah gangguan pembekuan darah dan pembesaran tiroid (2). Namun, penelitian epidemiologis pada manusia di Belanda tidak menemukan hubungan antara konsumsi BHT dan kanker (3).  Tentu saja, kunci yang membedakan adalah dosis. Penelitian pada mencit menemukan bahwa konsumsi BHT sebesar 25 mg per kilogram berat badan per hari masih aman, tetapi otoritas keamanan pangan Eropa (EFSA) menetapkan 0,25 mg per kilogram sebagai dosis aman bagi manusia (2).

Menurut EFSA, semua hewan dapat mengonsumsi Butylated hydroxyanisole (BHA) dalam dosis 150 mg/kg makanan dengan aman. Sempat ada keraguan mengenai keamanan dosis ini pada kucing karena metabolisme pembuangan BHA yang berbeda (4), tetapi tahun ini, dosis BHA tersebut sudah dianggap aman untuk kucing setelah FEDIAF melakukan penelitian (5). BHA dosis tinggi dapat menyebabkan tumor pada lambung tikus, tetapi anjing yang diberi BHA dosis tinggi (1% makanan) selama 6 bulan tidak mengalami tumor seperti pada tikus. Dosis 1% makanan sama dengan 10.000 mg/kg makanan – hampir 70 kali lipat dosis yang ditetapkan EFSA!

Etoksikuin mungkin punya sejarah yang lebih problematik. FDA Amerika Serikat pernah menerima laporan dari pemilik hewan bahwa hewan mereka mengalami gangguan reproduksi, kulit, dan kanker setelah mengonsumsi etoksikuin. Mereka pun melakukan penelitian dengan anjing Beagle selama 3,5 tahun dan 2 generasi dengan etoksikuin sebanyak 0, 180, dan 360 ppm, tetapi tidak menemukan masalah seperti dilaporkan. Saat itu, kadar maksimal etoksikuin dalam makanan adalah 150 ppm, tetapi FDA memutuskan menurunkannya menjadi 75 ppm untuk memuaskan pemilik hewan yang melapor (6). EFSA menetapkan batas yang lebih rendah, yaitu 50 mg/kg makanan (ppm dan mg/kg hampir sama), tetapi dalam dosis ini, efektivitas etoksikuin sebagai pengawet diragukan. Dalam dosis tinggi, etoksikuin dapat menurunkan berat badan, melukai lambung, dan merusak hati (7).

Pengawet antimikrobial
Sebenarnya, kerusakan karena mikroorganisme bukan masalah besar pada makanan kering. Makanan kering biasanya mengandung lemak tinggi, kandungan air rendah (di bawah 12%), dan aktivitas air rendah (8). Aktivitas air adalah air yang tersedia untuk perkembangan mikroorganisme, dan karena itu lebih penting daripada kandungan air saja.

Koy_Hipster / Shutterstock.com

Bagaimana dengan makanan basah? Makanan basah kalengan biasa kandungan air dan aktivitas airnya lebih tinggi, tetapi dikemas secara steril, sehingga tidak akan terkontaminasi sampai kemasannya dibuka, tetapi akan cepat rusak setelah itu. Pengawet antimikrobial sebenarnya lebih penting untuk makanan semibasah karena aktivitas airnya tinggi dan pengemasannya tidak steril seperti makanan basah, tetapi makanan seperti ini jarang ditemui di Indonesia untuk kucing. Pengawet yang biasa digunakan adalah pengikat air seperti propilen glikol dan senyawa asam (9).

Alternatif pengawet sintetis
Walaupun ketakutan terhadap pengawet sintetis tidak betul-betul didukung bukti ilmiah, kebanyakan makanan hewan untuk segmen menengah ke atas sudah meninggalkannya dan beralih ke pengawet alami, seperti vitamin E (tokoferol) dan vitamin C (asam askorbat). Sayangnya, harga pengawet alami bisa 5 sampai 10 kali lipat pengawet sintetis. Selain itu, efektivitasnya tidak sebaik pengawet sintetis pada kondisi ekstrem, seperti lingkungan panas (6).

Karena itu, penggunaan pengawet alami bukan satu-satunya strategi. Kemasan makanan kering juga didesain sedemikian rupa agar isinya awet dengan modified atmosphere packaging (MAP). Oksigen adalah musuh pet food karena menyebabkan lemak jadi tengik dan mikroorganisme dapat berkembang, jadi oksigen dalam kemasan tersebut dikeluarkan dan digantikan dengan karbon dioksida atau nitrogen. Tidak seperti oksigen, kedua gas ini tidak bereaksi dengan lemak dan mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Nitrogen juga mencegah kemasan kolaps. Selain gas pengisinya, bahan kemasan juga punya peran dalam memastikan kualitas makanan. Bahan yang dipilih harus tidak mudah ditembus gas dan tahan terhadap rembesan lemak dari makanan (10). Biasanya, bahan kemasan terdiri dari beberapa lapisan, dengan lapisan terdalam dari plastik polietilen atau polipropilen, dengan ketebalan bergantung pada kandungan lemak dalam makanan (9). Semua keunggulan kemasan ini akan hilang ketika makanan direpack, jadi makanan repack tidak akan seawet makanan dalam kemasan asli.

Mengganti oksigen dalam kemasan dalam nitrogen. Sumber: Encyclopedia of feline clinical nutrition, Royal Canin 2006

Makanan basah kalengan menggunakan strategi yang berbeda pula. Kandungan air yang tinggi membuat makanan basah lebih rentan dirusak mikroorganisme, tetapi makanan kaleng yang belum dibuka justru bisa bertahan lebih lama karena kondisi pengemasan yang steril. Maksudnya, di dalam kaleng benar-benar tidak ada mikroorganisme karena sudah dibunuh dengan pemanasan. Ditambah lagi, isi kaleng berada dalam keadaan vakum. Tidak ada udara, jadi tidak ada oksidasi lemak atau perkembangbiakan mikroorganisme (9). Namun, kondisi ini tentu akan hilang ketika kaleng dibuka, sehingga makanan kaleng idealnya dihabiskan dalam 3 hari dan disimpan dalam kulkas.

Penutup
Pengawet sintetik dalam makanan hewan sebenarnya tidak seseram itu, selama dosis yang digunakan tidak berlebih. Perusahaan makanan hewan yang kredibel pasti memerhatikan hal ini. Meski begitu, ada opsi yang lebih aman, yakni pengawet alami dan modifikasi kemasan, tetapi lebih mahal dari pengawet sintetis. Manfaat modifikasi kemasan hanya bisa didapat dengan membeli makanan dalam kemasan asli.

Referensi
1.        Moch RW. Pathology of BHA- and BHT-induced lesions. Food Chem Toxicol [Internet]. 1986;24(10):1167–9. Available from: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/0278691586903042

2.        EFSA Panel on Food Additives and Nutrient Sources added to Food (ANS). Scientific Opinion on the re-evaluation of butylated hydroxytoluene BHT (E 321) as a food additive. EFSA J. 2012;10(3):1–43.

3.        Botterweck AA, Verhagen H, Goldbohm RA, Kleinjans J, van den Brandt PA. Intake of butylated hydroxyanisole and butylated hydroxytoluene and stomach cancer  risk: results from analyses in the Netherlands Cohort Study. Food Chem Toxicol  an Int J Publ Br  Ind Biol Res Assoc. 2000 Jul;38(7):599–605.

4.        Bampidis V, Azimonti G, Bastos M de L, Christensen H, Dusemund B, Kouba M, et al. Safety of butylated hydroxy anisole (BHA) for all animal species. EFSA J. 2019;17(12).

5.        Bampidis V, Azimonti G, Bastos M de L, Christensen H, Dusemund B, Fašmon Durjava M, et al. Safety and efficacy of a feed additive consisting of butylated hydroxyanisole (BHA) for use in cats (FEDIAF). EFSA J. 2021;19(7).

6.        Aldrich G. Ingredient Myths That Have Altered the Course of Pet Food: Byproducts, Synthetic Preservatives and Grain. In: Tackling Myths About Pet Nutrition. Atlanta, Georgia: Nestle Purina; 2013. p. 11–2.

7.        Safety and efficacy of ethoxyquin (6‐ethoxy‐1,2‐dihydro‐2,2,4‐trimethylquinoline) for all animal species. EFSA J. 2016;13(11):1–58.

8.        Carrión PA, Thompson LJ. Pet Food [Internet]. Food Safety Management: A Practical Guide for the Food Industry. Elsevier Inc.; 2014. 379–396 p. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/B978-0-12-381504-0.00015-9

9.        Crane SW, Cowell CS, Stout NP, Moser EA, Millican J, Peter Romano J, et al. Commercial Pet Food. In: Hand MS, Thatcher CD, Remillard RL, Roudebush P, Novtony BJ, Lewis LD, editors. Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition. Topeka: Mark Morris Institute; 2010.

10.      Milijasevic M, Babic Milijasevic J, Lakicevic B, Lukic M, Borovic B, Veskovic S, et al. Food packaging and modified atmosphere – Roles, materials and benefits. IOP Conf Ser Earth Environ Sci. 2019;333(1).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s