Setelah melahirkan dan menyusui, induk anjing atau kucing sering menjadi kurus dan rambutnya rontok. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka sampai meninggal karena malnutrisi. Kebutuhan nutrisi pada masa reproduksi dan menyusui tidak bisa disamakan dengan kucing dewasa. Pada masa-masa ini, kebutuhan nutrisi sangat demanding. Sayangnya, banyak pemilik hewan yang belum tahu apa yang membedakan kebutuhan nutrisi mereka, sehingga sering terjadi kesalahan berikut.

1. Memberi mereka makanan dewasa
Kita sudah tahu bahwa makanan hewan dewasa dibedakan dengan kitten atau puppy, karena kedua makanan ini tersedia hampir dalam semua merk di pet shop. Semua nutrien esensial dalam makanan kitten atau puppy lebih tinggi atau sama dengan kucing dewasa. Di antaranya, yang paling krusial adalah protein, energi (kalori), lemak, kalsium, dan fosfor. Pada masa pertumbuhan, tubuh kucing bukan hanya aktif menggantikan jaringan mati, tetapi membentuk jaringan-jaringan baru di otot dan organ-organ. Protein adalah bahan baku hampir semua jaringan di tubuh, tetapi protein juga sangat penting dalam pembentukan hal-hal lain, seperti enzim, hormon, dan antibodi.

Anak kucing atau anjing butuh energi lebih karena mereka umumnya lebih efektif dari hewan dewasa, tetapi bukan hanya itu. Pembentukan jaringan juga membutuhkan energi. Seharusnya, mereka bisa saja mendapat energi lebih dengan makan lebih banyak, tetapi perut mereka yang lebih kecil dari hewan dewasa tentu tidak akan muat. Makanan mereka harus lebih padat energi. Karena itu, lemak, yang mengandung kalori lebih tinggi dibanding karbohidrat dan protein, ada lebih banyak dalam makanan anak kucing atau anjing. Anak kucing atau anjing juga membutuhkan asam lemak omega-3 untuk perkembangan saraf, tetapi omega-3 tidak terlalu dibutuhkan hewan dewasa. Kalsium dan fosfor merupakan komponen utama pertumbuhan tulang yang masih bertumbuh. Bukan hanya jumlahnya, tetapi rasionya juga harus tepat. Kalsium harus lebih banyak dari fosfor. Kekurangan kalsium atau rasio kalsium:fosfor yang kurang tepat bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang, sehingga tulang menjadi rapuh.

Selain kandungan nutrisi, bentuk dan ukuran kibble juga perlu disesuaikan. Kibble untuk anak kucing umumnya lebih kecil dan tidak sekeras kibble dewasa. Kibble yang terlalu besar dan keras akan sulit dimakan karena gigi anak kucing atau anjing umumnya masih rapuh, atau bahkan mereka bisa tersedak.

Bagaimana dengan hewan bunting dan menyusui? Walaupun tahapan kehidupan mereka digolongkan dewasa, kebutuhan nutrisi mereka sebenarnya lebih tinggi dari anak kucing atau anjing. Hewan bunting bukan hanya perlu makan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menumbuhkan janin di rahimnya. Demikian juga dengan kucing atau anjing menyusui. Mereka makan untuk dirinya dan anak-anaknya, yang hanya mendapat nutrisi dari air susu induknya selama beberapa minggu awal kehidupan. Tidak heran jika kucing dan anjing yang bunting dan menyusui akan kurus jika diberi makanan dewasa. Mereka bisa diberi makanan kitten atau puppy, tetapi lebih baik jika diberi yang khusus hewan bunting dan menyusui.

2. Memberi porsi makanan kucing dewasa
Untuk memberi makan anak kucing, cukup mengikuti takaran di belakang kemasan. Kebutuhan energi mereka mencapai 1,5 hingga 2 kali lipat kebutuhan kucing dewasa dengan berat badan sama.

Bagaimana dengan kucing bunting? Selain mengganti makanan, porsinya dapat ditambah secara perlahan sejak awal kebuntingan hingga 25-50% dari kebutuhan energi kucing dewasa (1,6 sampai 2 kali RER, klik di sini untuk belajar menghitung). Kebutuhan energi kucing akan berfluktuasi selama masa kebuntingan, jadi tidak perlu panik jika pada minggu tertentu mereka makan lebih sedikit, tetapi kemudian makan lebih banyak.

Perbedaan grafik pertumbuhan janin kucing (queen, garis atas)dan anjing (bitch, garis bawah). Sumber: Fontaine 2012.

Nutrisi anjing bunting sedikit berbeda. Pertumbuhan janin kucing biasanya teratur dan linear selama 2 bulan masa kebuntingan, tetapi fetus anjing baru membesar pada sepertiga masa atau tiga minggu terakhir kebuntingan. Jadi, selama dua per tiga masa kebuntingan awal, porsi makan anjing tetap sama dengan anjing dewasa (1,8 kali RER), tetapi makanannya diganti. Pada tiga minggu terakhir, porsi makan ditambah perlahan hingga 3 kali RER.

Ini berbeda dengan kucing dan anjing menyusui. Kucing dan anjing menyusui boleh diberi makanan tak terbatas, karena memang butuh energi yang demikian besar untuk memberi makan diri sendiri dan bayi-bayinya yang bertumbuh dengan cepat. Namun, jika ingin menghitung secara pasti, kucing dan anjing menyusui dapat diberi porsi makan dewasa ditambah 25% untuk setiap ekor anak.

thka/Shutterstock

3. Memberi susu sapi atau manusia pada bayi kucing
Susu sudah dibahas lebih lengkap dalam artikel ini. Ada anggapan yang salah bahwa anak kucing dan anjing tidak boleh minum susu berlaktosa, sehingga mereka sering diberi susu manusia bebas laktosa. Faktanya, anak anjing dan kucing masih bisa mencerna laktosa, karena susu induknya pun mengandung laktosa. Pemberian susu untuk spesies lain, seperti manusia, sapi, atau kambing, kepada anak kucing dan anjing tidaklah tepat, tetapi bukan karena mengandung laktosa. Masa pertumbuhan anak kucing dan anjing lebih cepat dan drastis dibanding spesies lain tersebut, dan karena itu, banyak komponen nutrien yang lebih tinggi dalam susu anjing dan kucing. Pemberian susu yang tidak tepat dapat mengganggu pertumbuhan dan sistem tubuh mereka.

4. Terlalu sedikit kalsium… atau terlalu banyak
Kebutuhan kalsium lebih tinggi pada hewan bunting dan masa pertumbuhan. Induk kucing atau anjing yang kekurangan kalsium dari makanannya akan mengerahkan kalsium dari tubuhnya sendiri, termasuk tulang dan darah, untuk pertumbuhan janin dan produksi susu. Kondisi ini dapat berujung pada eklampsia, suatu keadaan yang ditandai kejang-kejang dan dapat berakhir dengan kematian jika tidak segera ditangani. Kebutuhan kalsium sudah diperhitungkan dalam formulasi makanan hewan untuk indukan atau anakan sehingga tidak perlu suplemen lagi.

Namun, beberapa pembiak atau pemilik kucing dan anjing juga memberi suplemen kalsium tambahan selama masa kebuntingan. Praktik ini juga dapat menyebabkan eklampsia! Tubuh kucing dan anjing sudah memiliki mekanisme sendiri dalam mengatur keseimbangan kalsium dalam berbagai komponen tubuh. Ini diatur oleh hormon paratiroid dan kalsitonin. Ketika darah kekurangan kalsium, tulang akan melepaskan sebagian kalsium ke darah, dan demikian juga sebaliknya. Pemberian kalsium berlebih akan membuat kerja hormon-hormon ini mendadak bego. Ketika kebutuhan kalsium tiba-tiba naik saat menyusui, hormon paratiroid lupa menyuruh tulang melepas kalsium ke darah, sehingga malah terjadi kekurangan kalsium.

Anak kucing 2 bulan yang mengalami patah tulang karena kekurangan kalsium (Nagata & Yuki, 2011).

Kekurangan dan kelebihan kalsium juga berbahaya bagi anak kucing dan anjing. Kalsium berperan penting dalam pembentukan tulang, sehingga tulang yang kekurangan kalsium akan mudah patah dan sakit. Sebaliknya, pemberian kalsium berlebih juga membahayakan karena anak anjing belum bisa mengatur penyerapan kalsium dari usus. Pada anjing besar, pemberian suplemen kalsium sering menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang.

5. Tidak membatasi makanan
Kelebihan nutrisi sama buruknya dengan kekurangan nutrisi. Selama kebuntingan, nutrisi anjing dan kucing bunting tetap harus ditakar. Ini untuk menghindarkan obesitas pada induk atau pertumbuhan fetus yang terlalu besar; keduanya bisa mempersulit proses kelahiran (distokia), yang dapat mengancam nyawa induk dan bayinya. Sesaat sebelum melahirkan, berat kucing bunting harus berkisar 140 sampai 150% berat normalnya, sementara berat anjing bunting 110-125% berat normalnya.

Elizabett/Shutterstock

Demikian juga pada anak kucing dan anjing. Walau mereka butuh energi lebih banyak, mereka juga bisa terkena obesitas. Jika makanannya tidak dibatasi atau dituruti terus saat mereka minta, akan sulit mengontrol porsi makan mereka saat dewasa. Kucing atau anjing yang obesitas lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Bagaimana dengan makanan all life stages?
Saya sering mendapat pertanyaan mengenai makanan all life stages, misalnya untuk rumah yang ada banyak kucing, sehingga sulit memisahkan makanan tiap kucing. Saya sebenarnya lebih suka jika makanan disesuaikan untuk masing-masing individu kucing menurut usia, gaya hidup, ras, dan kebutuhannya. Ini bukan berarti makanan all life stages itu buruk, cuma sayang, pilihannya sangat terbatas, karena sedikit sekali merk yang punya makanan all life stages.

Sebenarnya, dari segi nutrisi, makanan all life stages tidak berbeda dari makanan untuk reproduksi dan laktasi. AAFCO dan FEDIAF tidak mengatur batas nutrisi makanan all life stages secara spesifik, tetapi karena masa reproduksi dan laktasi adalah yang paling berat dari semua tahapan kehidupan, makanan yang melewati uji untuk reproduksi dan laktasi pasti juga memenuhi kebutuhan dewasa dan masa pertumbuhan.

Jadi, secara sederhana, anak anjing dan kucing serta anjing dan kucing dewasa bisa makan makanan reproduksi dan laktasi (mother and baby/weaning). Anjing atau kucing dewasa bisa makan makanan anak anjing dan kucing (kitten/puppy), terlepas dari label all life stages. Namun, kalau memang bisa memberi makanan spesifik, itu lebih baik.

Referensi
1.        Fontaine E. Food intake and nutrition during pregnancy, lactation and weaning in the dam and offspring. Reprod Domest Anim. 2012;47(SUPPL. 6):326–30.

2.        Fontaine E. Nutrition in Dog & Cat Reproduction : How to Tackle Frequent Misconceptions. In: 38TH Annual OAVT Conference & Trade Shth. 2016.

3.        Gross KL, Becvarova I, Debraekeleer J. Feeding Nursing and Orphaned Kittens from Birth to Weaning. In: Hand MS, Thatcher CD, Remillard RL, Roudebush P, Novtony BJ, Lewis LD, editors. Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition. Topeka, KS: Mark Morris Institute; 2010.

4.        Debraekeleer J, Gross KL, Zicker SC. Feeding Reproducing Dogs. In: Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition. Topeka, KS: Mark Morris Institute; 2010.

5.        Gross KL, Becvarova I, Debraekeleer J. Feeding Reproducing Cats. In: Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition. Topeka, KS: Mark Morris Institute; 2010.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s