Sekarang, jika kucing atau anjing mengalami gejala parvovirus (panleukopenia pada kucing) diare, muntah, dan tidak mau makan, insting pertama pemilik hewan adalah menyuap makan dengan spoit tanpa jarum. Belum terlalu lama sebelumnya, saran yang umum dilakukan justru sebaliknya; jangan memberi makan dan biarkan saluran cerna mereka beristirahat. Saran ini berubah seiring banyaknya bukti ilmiah yang mendukung pentingnya nutrisi dalam masa sakit.

Argumen untuk memuasakan hewan
Hewan yang mengalami diare dan muntah pasti mengalami gangguan struktur dan fungsi sistem pencernaannya. Jika fungsi saluran cerna terganggu, akan banyak makanan yang tidak terserap. Makanan ini ditakutkan malah mengacaukan populasi bakteri di usus besar dan memperparah diare. Selain itu, memberi makan saat muntah malah akan membuat hewan tambah mual. Dari sini, muncul ide untuk membiarkan sistem pencernaan beristirahat selama beberapa hari jika hewan mengalami diare dan muntah (1).

Mengapa nutrisi penting di saat sakit?
Hewan sehat butuh nutrisi untuk menunjang kehidupannya: memenuhi kebutuhan energi, pembentukan jaringan, menjaga fungsi fisiologis tubuh – terlebih lagi hewan sakit. Masa sakit dan tidak mau makan adalah masa yang membuat stres, bukan cuma bagi pikiran, tetapi bagi seluruh fungsi tubuh hewan. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup, tubuh mereka mengeluarkan hormon kortisol, suatu hormon yang identik dengan kondisi stres.

Image by ewa pniewska from Pixabay

Masalahnya, hormon ini membuat metabolisme tubuh makin aktif, tetapi tidak ada makanan yang bisa dimetabolisme. Tubuh butuh bahan lain untuk menghasilkan energi dan menunjang fungsi sistem-sistem di dalamnya: simpanan lemak dan protein hewan tersebut sendiri. Selama hewan tidak mau makan, mau tidak mau mereka harus bertahan hidup dengan cara memecah lemak dan otot menjadi energi, ditandai dengan tonjolan tulang belakang, bahu, dan panggul yang jadi mudah teraba. Kehilangan massa otot adalah penanda terjadinya perburukan penyakit, bahkan kematian (2). Hewan butuh asupan nutrisi dari luar untuk mencegah perombakan jaringan tubuh sendiri.

Kekurangan nutrisi saat sakit juga membuka pintu bagi serangan berbagai penyakit lain. Sebagian besar komponen sistem imun: sel darah putih, antibodi, sitokin, terbentuk dari protein. Pembentukan protein menjadi komponen tersebut membutuhkan energi (kalori). Selama tidak ada protein dan kalori yang mencukupi, tubuh harus menghemat sumber daya yang ada (dari pemecahan otot dan simpanan lemak) untuk banyak hal. Tidak ada cukup bahan untuk membangun sistem pertahanan yang kuat, diperparah dengan keberadaan parvovirus atau panleukopenia yang sengaja menyerang sel darah putih (3).

Selama sakit, hewan umumnya perlu mengonsumsi berbagai macam obat. Setelah obat masuk ke tubuh, baik dimakan maupun disuntikkan, obat akan diserap dan masuk ke aliran darah, bekerja sesuai fungsinya, kemudian diproses (detoksifikasi) di hati agar bisa dibuang melalui feses atau melalui ginjal bersama urin. Pada hewan malnutrisi, perjalanan obat ini bisa jadi terganggu. Misalnya, banyak obat membutuhkan protein sebagai pengangkut dalam darah untuk diedarkan ke organ. Kekurangan protein akan mengganggu peredaran obat. Kekurangan asupan lemak akan membuat hati kekurangan enzim untuk detoksifikasi. Obat tidak bisa dibuang dan malah bisa jadi racun bagi tubuh hewan. Dengan demikian, kekurangan nutrisi akan membuat kerja obat tidak terkendali: bisa jadi tidak efektif, atau malah terlalu efektif sampai menyebabkan efek samping (3).

Apakah nutrisi bisa diberikan lewat infus saja?
Sebenarnya bisa, tapi jarang dilakukan karena perlu mencampur berbagai sediaan lemak, protein, vitamin, dan mineral. Infus yang biasa diberikan pada pasien di klinik hanya berisi cairan dan elektrolit, untuk mengobati dan mencegah dehidrasi. Sayangnya, nutrisi yang diberikan lewat infus langsung ke pembuluh darah tidak sebaik nutrisi yang diberikan lewat saluran pencernaan. Pemberian total parenteral nutrition (TPN, nutrisi seluruhnya lewat infus tanpa pemberian makan) meningkatkan risiko kematian pada kucing yang dirawat inap (4).

Karena tidak ada makanan yang masuk, usus kucing dan anjing jadi tidak punya kerjaan. Lama-lama, sel-sel di usus akan mengecil dan melemah. Ikatan antarselnya jadi renggang sehingga mudah ditembus oleh bakteri jahat (5). Bakteri jahat yang berhasil menembus pertahanan usus bisa menyerang organ-organ lain dan memperparah penyakit. Mungkin bakteri ini biasanya tidak bahaya ketika hewan sehat, tetapi hewan yang sakit sistem imunnya lemah, sehingga sangat mudah ditembus penumpang gelap. Bisa juga, bakteri tersebut sebenarnya hanya menyerang usus, tetapi sel-sel pertahanan usus merespon dengan memberi sinyal peradangan. Sinyal inilah yang melesat ke organ-organ lain dan menyebabkan berbagai kerusakan (6).

Beri makan sesegera mungkin
Walaupun dulu memuasakan hewan adalah praktik yang umum, paradigma sekarang sudah berubah. Pemberian nutrisi sesegera mungkin dapat mengurangi penurunan berat badan, mempercepat perbaikan gejala klinis, dan memperkuat pertahanan sel usus pada anjing yang menderita parvovirosis (7). Hewan juga bisa lebih cepat pulang dari rawat inap jika diberi nutrisi dalam 24 jam pertama (8). Pemberian nutrisi melalui saluran cerna (bukan infus) mungkin awalnya menyebabkan hewan muntah, tetapi pada hari-hari berikutnya mereka lebih jarang muntah dan memiliki kesempatan bertahan hidup yang lebih baik (9).

Image by photosforyou from Pixabay

Makanan seperti apa yang dibutuhkan?
Kucing dan anjing yang sedang sakit biasanya tidak nafsu makan. Karena itu, kita harus berusaha memenuhi nutrisi mereka dengan memberi makan sesedikit mungkin. Makanan yang memenuhi kriteria ini biasanya berupa makanan basah, tinggi kalori (setidaknya 1 kcal/gram), tinggi lemak, tinggi protein, mengandung ekstra asam amino glutamin untuk perbaikan usus, dan berstekstur halus, bahkan hampir cair agar mudah melewati spoit atau selang (10). Royal Canin Recovery (1,18 kcal/gram) dan Hill’s Prescription Diet a/d (1,17 kcal/gram) sering disarankan dokter hewan karena memenuhi kriteria tersebut.

Jangan gunakan makanan tinggi karbohidrat, apalagi jika hewan sudah tidak makan berhari-hari. Hati hewan yang tidak makan sudah terbiasa menggunakan lemak dan protein sebagai sumber energi, sehingga tubuhnya akan kaget jika tiba-tiba diberi karbohidrat dalam jumlah besar (3). Kemungkinan terburuknya, akan terjadi ketidakseimbangan elektrolit darah yang disebut refeeding syndrome. Kondisi ini bisa mematikan, tetapi untungnya jarang terjadi pada kucing dan anjing, kecuali jika tidak makan berminggu-minggu (11).

Berapa banyak?
Idealnya, makanan diberikan sebanyak resting energy requirement (RER) hewan tersebut. RER adalah total kebutuhan kalori hewan dalam satu hari ketika tidak melakukan aktivitas apapun selain makan. Klik di sini untuk cara menghitung RER.

Pemberian nutrisi sebanyak RER dilakukan agar semua kebutuhan hewan terpenuhi dari makanan saja, jadi mereka tidak perlu merombak jaringan otot dan lemak sendiri dan bisa lebih cepat sembuh. Hewan yang diberi makan mendekati RER, atau setidaknya 60% RER, memiliki kesempatan sembuh yang lebih baik (12,13). RER seekor kucing dewasa seberat 3,5 kg adalah 180 kcal. Ini setara dengan ¾ kaleng Royal Canin Recovery atau 1 kaleng Hill’s a/d. Pemberian makan sebaiknya dilakukan sedikit-sedikit tetapi sesering mungkin (5 sampai 6 kali sehari). Jika hewan sudah berhari-hari tidak makan, mulai dengan setengah atau sepertiga RER, lalu tingkatkan setiap hari hingga mencapai RER.

Sayangnya, kondisi tidak selalu ideal. Tentu tidak mudah memberi makan sebanyak itu dalam satu hari, kecuali dilakukan pemasangan feeding tube. Jika demikian, pemberian nutrisi sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Setidaknya 15 sampai 25% dari kebutuhan kalori harian cukup untuk mempertahankan kesehatan usus (6).

Risiko dan Kontraindikasi
Walaupun pemberian nutrisi lewat saluran cerna adalah pilihan terbaik, pilihan ini juga punya kekurangan. Kita tidak bisa memaksa makan hewan yang kesadarannya kurang baik karena makanannya berisiko masuk ke paru-paru dan menyebabkan peradangan. Pemberian makan lewat saluran cerna juga sia-sia jika hewan terus-terusan muntah walau sudah diobati, atau kerja saluran cerna sedang terganggu atau tersumbat. Ini ditandai dengan banyaknya sisa makanan di lambung beberapa jam setelah pemberian makan (6).

Terakhir, memaksa hewan makan adalah pengalaman yang membuat stres hewan dan pemiliknya. Kadang, hewan jadi menghubungkan rasa makanan tersebut dengan pengalaman tidak enak tersebut, sehingga mereka tambah tidak mau makan (10). Opsi yang lebih mudah adalah penggunaan feeding tube atau selang makan yang menuju ke esofagus, lambung, atau usus, tetapi opsi ini juga memiliki risiko dan kesulitannya sendiri, yang tidak akan dibahas lebih lanjut di sini.

Referensi
1.        Kenichiro Y. Why Your Parvo Patient Should Be Fed Right Away: Ecc Nutrition. In: Western Veterinary Conference. 2018. p. 1–5.

2.        Chan DL. Early Enteral Nutrition is Warranted in the Septic Abdomen Patient. 2012;21–4.

3.        Saker KE, Remillard RL. Critical Care Nutrition and Enteral-Assisted Feeding. In: Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition. Topeka, KS: Mark Morris Institute; 2010.

4.        Pyle SC, Marks SL, Kass PH. Factors Associated With Administration of Total Parenteral Nutrition in Cats : 75 Cases ( 1994 – 2001 ). J Am Vet Med Assoc [Internet]. 2001;2(3):779–83. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20345781

5.        Kerby VL. Fat for the Stat : Critical Care Nutrition ( VT30 ). In: Western Veterinary Conference. 2020.

6.        Michel KE. Benefits and Risks of Early Enteral Nutrition. In: International Veterinary Emergency and Critical Care Symposium. 2011.

7.        Mohr AJ, Leisewitz AL, Jacobson LS, Steiner JM, Ruaux CG, Williams DA. Effect of Early Enteral Nutrition on Intestinal Permeability, Intestinal Protein Loss, and Outcome in Dogs with Severe Parvoviral Enteritis. J Vet Intern Med. 2003;17(6):791–8.

8.        Liu DT, Brown DC, Silverstein DC. Early nutritional support is associated with decreased length of hospitalization in dogs with septic peritonitis: A retrospective study of 45 cases (2000-2009). J Vet Emerg Crit Care. 2012;22(4):453–9.

9.        Will K, Nolte I, Zentek J. Early enteral nutrition in young dogs suffering from haemorrhagic gastroenteritis. J Vet Med Ser A Physiol Pathol Clin Med. 2005;52(7):371–6.

10.      Goy-Thollot I, Elliott D. Nutrition and critical care in cats. In: Encyclopedia of Feline Clinical Nutrition. Royal Canin; 2006.

11.      Cook S, Whitby E, Elias N, Hall G, Chan DL. Retrospective evaluation of refeeding syndrome in cats: 11 cases (2013–2019). J Feline Med Surg. 2021;23(10):883–91.

12.      Brunetto MA, Gomes MOS, Andre MR, Teshima E, Gonçalves KNV, Pereira GT, et al. Effects of nutritional support on hospital outcome in dogs and cats. J Vet Emerg Crit Care. 2010;20(2):224–31.

13.      Remillard RL, Darden DE, Michel KE, Marks SL, Buffington CA, Bunnell PR. An investigation of the relationship between caloric intake and outcome in hospitalized dogs. Vet Ther. 2001;2(4):301–10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s