Jamuran adalah penyakit kulit langganan di kucing dan anjing. Saking langganannya, beberapa orang jadi kreatif mencari cara mengobati kucingnya dengan cara apa pun selain ke dokter hewan. Cara demikian yang paling umum adalah virgin coconut oil (VCO), yang sudah pernah saya bahas, dan kunyit, yang lebih ngetren baru-baru ini. Bagaimana pandangan sains soal kunyit sebagai obat jamur?

Sekilas tentang Jamur pada Anjing dan Kucing
Jamur atau fungi sebenarnya adalah suatu kingdom yang luas, mencakup ragi untuk membuat roti, khamir untuk membuat tempe, sampai jamur tiram yang suka kita goreng dan makan. Di kucing dan anjing sendiri, penyakit jamuran banyak macamnya. Ada jamur Malassezia, yang bentuknya seperti ragi dan suka jadi penumpang gelap pada hewan dengan alergi. Ada juga jamur-jamur yang tampak menyebabkan luka terbuka. Bahkan, ada yang lebih bahaya karena menyerang organ dalam yang tidak kelihatan. Jenis-jenis jamur ini tidak akan saya bahas karena jarang dikunyiti atau disuntikjamur-i.

Kucing yang menderita jamur Sporotrichosis, bukan dermatofitosis (sumber: Rossow et al. 2020. Journal of Fungi 6:247)

Yang akan saya bahas dan paling sering ada di kucing adalah jamur di kulit bagian luar, atau lebih keren disebut dermatofitosis. Jamur jenis ini menyebabkan kulit merah dan berkerak, rambut rontok, hingga botak kalau parah. Namun, tidak semua kulit berkerak atau rambut rontok adalah jamur. Sebelum memvonis seekor kucing atau anjing menderita jamur, masih diperlukan pemeriksaan lanjutan seperti lampu Wood, pemeriksaan mikroskop, dan kultur jamur supaya tidak salah pengobatan. Yang bisa melakukan pemeriksaan tentu saja dokter hewan. Untungnya, jamur-jamur dermatofitosis tidak bahaya pada anjing dan kucing dengan sistem imun yang sehat, atau dengan kata lain, kalau kena pun akan disembuhkan sendiri oleh sistem imun. Target pengobatan adalah membantu mempercepat persembuhan dan mencegah penyebaran ke hewan lain atau manusia (1).

Apakah jamur takut dengan Pikachu?
Akhir-akhir ini, suka ada foto kucing diwarnai kuning dengan kunyit oleh pemiliknya dengan dalih mengobati jamur (atau kutu, tapi ah sudahlah). Saya tidak tahu apakah si kucing memang menderita jamur dan bagaimana pemiliknya bisa yakin kucingnya jamuran. Apakah penggunaan kunyit sebagai obat jamur ini ada landasan ilmiahnya? Beberapa penelitian dan ulasan membahas efek antijamur kunyit terhadap jamur selain dermatofitosis, termasuk jamur pada bahan makanan (2,3). Saya tidak akan mengulasnya. Saya cuma akan mengulas penelitian kunyit pada dermatofita.

Bahan aktif apa yang terdapat pada kunyit sehingga dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan jamur? Jawabannya bertentangan. Kebanyakan penelitian menggunakan kurkumin (4–6), suatu zat aktif dalam kunyit yang sering digadang-gadang berfungsi sebagai antiradang dan antioksidan, tetapi dalam satu penelitian, minyak kurkumin justru tidak berefek pada pertumbuhan jamur. Malahan, minyak kunyit secara keseluruhan menghambat pertumbuhan jamur, yang berarti ada bahan aktif selain kurkumin yang dapat mengurangi jamur. Karena lebih banyak penelitian menggunakan kurkumin, bahasan berikutnya akan fokus pada kurkumin.

Image by Steve Buissinne from Pixabay

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minyak kunyit atau minyak kurkumin dapat menghambat pertumbuhan jamur secara in vitro (menggunakan agar di lab) (6–9). Namun, pada beberapa penelitian yang lebih baru (5,10), kurkumin memang membantu menghambat pertumbuhan, tetapi kurkumin bukan bintang utamanya. Kurkumin hanya menjadi pendukung dalam terapi sesungguhnya, yaitu terapi radiasi. Jadi, radiasi cahaya yang membunuh sel jamur.

Terdengar menjanjikan? Apa yang salah dengan penelitian-penelitian di atas? Hampir semuanya menggunakan jamur Trichophyton rubrum. Jamur ini sangat umum pada manusia, tetapi tidak umum menyerang anjing dan kucing. Jamur yang paling sering menyerang anjing dan kucing adalah Microsporum canis, diikuti Trichophyton mentagrophytes dan Microsporum gypseum. Jika kunyit mempan terhadap jamur manusia, apakah berarti mempan juga pada jamur pada kucing dan anjing? Bisa iya, bisa tidak. Perlu penelitian pada jamur kucing dan anjing untuk tahu jawabannya.

Hasil kultur Microsporum canis di bawah mikroskop (sumber:Rjgalindo from es, CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons)
Hasil kultur Trichophyton mentagrophytes di bawah mikroskop (sumber: CDC/ Dr. Lucille K. Georg, Public domain, via Wikimedia Commons)

Semua penelitian hanya dilakukan di lab secara in vitro, bukan di hewan hidup. Ada sih, satu penelitian di marmut (9), tapi usianya sudah cukup tua – diterbitkan tahun 1995! Seharusnya, jika kunyit memang semenjanjikan itu, banyak penelitian pada hewan hidup yang bisa dilakukan dalam rentang hampir 30 tahun ini. Mengapa uji in vitro menjadi masalah? Bukannya bagus mengurangi animal testing?

Kulit hewan atau manusia tidak bisa disamakan dengan agar yang digunakan untuk menumbuhkan jamur di lab. Studi in vitro bisa menggunakan jaringan kulit, tapi soal kunyit dan jamur ini, tidak ada yang menggunakan kulit – semuanya agar. Supaya bisa bekerja, obat (dalam hal ini, kunyit) harus bisa menembus lapisan kulit tempat jamur berakar, dan bertahan lama hingga bisa berefek terhadap jamur. Bisa tidaknya suatu obat menembus kulit ditentukan berbagai faktor yang rumit, seperti kelarutan dalam lemak, ukuran molekul obat, dan pH obat. Belum lagi, kulit hewan juga dihinggapi bakteri normal kulit dan dilapisi skin barrier (11). Kondisi ini tentu sangat berbeda dengan agar di lab. Kurkumin dalam kunyit sendiri diketahui kurang mampu menembus kulit, sehingga harus dicampur zat pembawa dulu sebelum dipakai (12–14). Jadi, kalau kunyit sekadar dioles di bulu, hewan memang terlihat kuning dari luar, tapi belum tentu zat aktif kunyit benar-benar masuk ke kulit.

Kemudian, bagaimana dengan dosisnya? Minyak kunyit yang sudah diekstraksi – yang digunakan dalam penelitian-penelitian di atas – berbeda dengan kunyit utuh yang sering dioleskan ke rambut kucing. Dalam penelitian Apisariyakul et al. (9), 500 gram bubuk kunyit diekstraksi menjadi 5,4 gram minyak kurkumin. Kandungan air kunyit berkisar 70 hingga 90% (15), jadi mereka menggunakan sekitar 2500 gram kunyit mentah. Ini berarti kunyit mentah mengandung 0,2% kurkumin. Sementara itu, dosis minimum untuk menghambat pertumbuhan jamur secara in vitro (di lab) adalah 0,8% (6). Dengan begitu saja, dosis kunyit mentah tidak mencapai dosis efektif, padahal dosis untuk dipakai pada hewan hidup harus lebih tinggi dari dosis di lab. Belum lagi, tidak semua ekstrak kunyit beserta ampas digunakan di tubuh kucing, yang berarti konsentrasi zat aktif kunyit yang dipakai lebih rendah dari itu.

Keamanan kunyit
Kunyit sebenarnya cukup aman bila termakan dan sudah banyak ditambahkan ke dalam makanan hewan. Otoritas keamanan pangan Eropa (EFSA) memperbolehkan batas maksimum 15 mg/kg ekstrak kunyit dalam makanan hewan. Namun, kunyit dan kurkumin dapat menyebabkan iritasi pada mata, saluran pernapasan, dan kulit jika terjadi kontak. Pada orang (dan mungkin kucing dan anjing) yang sensitif, kontak dengan kunyit bisa menyebabkan radang dan kaligata pada kulit (16).

Simpulan
Berdasarkan data yang ada sampai sekarang, penggunaan kunyit sebagai obat luar untuk jamur tidak membawa manfaat yang jelas (selain kepuasan pemilik karena punya kucing warna kuning mentereng), tetapi dengan risiko yang cukup nyata. Untuk itu, penggunaan kunyit, apalagi kunyit utuh diblender dan langsung dioles di hewan, tidak bisa disarankan.

Sebagai catatan samping, konsensus dokter hewan spesialis kulit (1) dan spesialis kucing (17) sepakat bahwa pengobatan topikal (obat luar, salep) untuk dermatofitosis tanpa obat makan tidak cukup karena susahnya obat menembus kulit dan kemungkinan banyak titik jamur yang tertutup rambut. Jika ingin memberi obat topikal, sebaiknya area sekitar titik jamur dicukur dulu agar obat bisa meresap dengan baik. Belum lagi, kebiasaan kucing menjilati dirinya akan mengurangi keampuhan obat dan membawa risiko keracunan.

Lantas, kenapa banyak yang mengaku kucing atau anjingnya sembuh setelah diberi kunyit? Kembali ke bagian pertama, dermatofitosis sebenarnya bisa sembuh sendiri tanpa diapa-apakan dalam 1 sampai 3 bulan jika sistem imun hewannya sehat. Jadi, tidak heran kalau jamur sembuh kalau diberi kunyit, terlepas dari manjur atau tidaknya kunyit.

Referensi
1.        Moriello KA, Coyner K, Paterson S, Mignon B. Diagnosis and treatment of dermatophytosis in dogs and cats.: Clinical Consensus Guidelines of the World Association for Veterinary Dermatology. Vet Dermatol. 2017;28(3):266–8.

2.        Praditya D, Kirchhoff L, Brüning J, Rachmawati H, Steinmann J, Steinmann E. Anti-infective properties of the golden spice curcumin. Front Microbiol. 2019;10(MAY):1–16.

3.        Zorofchian Moghadamtousi S, Abdul Kadir H, Hassandarvish P, Tajik H, Abubakar S, Zandi K. A review on antibacterial, antiviral, and antifungal activity of curcumin. Biomed Res Int. 2014;2014.

4.        Baltazar LM, Krausz AE, Souza ACO, Adler BL, Landriscina A, Musaev T, et al. Trichophyton rubrum is inhibited by free and nanoparticle encapsulated curcumin by induction of nitrosative stress after photodynamic activation. PLoS One. 2015;10(3):1–14.

5.        Brasch J, Freitag-Wolf S, Beck-Jendroschek V, Huber M. Inhibition of dermatophytes by photodynamic treatment with curcumin. Med Mycol. 2017;55(7):754–62.

6.        Wuthi-udomlert M, Grisanapan W, Luanratana O, Caichompoo W. Antifungal activity of Curcuma longa grown in Thailand. Southeast Asian J Trop Med Public Health. 2000;31 Suppl 1:178–82.

7.        Jankasem M, Wuthi-udomlert M, Gritsanapan W.  Antidermatophytic Properties of Ar -Turmerone, Turmeric Oil, and Curcuma longa Preparations . ISRN Dermatol. 2013;2013(April 2009):1–3.

8.        Sharma M, Sharma R. Synergistic antifungal activity of curcuma longa (turmeric) and zingiber officinale (ginger) essential oils against dermatophyte infections. J Essent Oil-Bearing Plants. 2011;14(1):38–47.

9.        Apisariyakul A, Vanittanakom N, Buddhasukh D. Antifungal activity of turmeric oil extracted from Curcuma longa (Zingiberaceae). J Ethnopharmacol. 1995;49(3):163–9.

10.      Baltazar LM, Ray A, Santos DA, Cisalpino PS, Friedman AJ, Nosanchuk JD. Antimicrobial photodynamic therapy: An effective alternative approach to control fungal infections. Front Microbiol. 2015;6(MAR):1–11.

11.      Nair A, Jacob S, Al-Dhubiab B, Attimarad M, Harsha S. Basic considerations in the dermatokinetics of topical formulations. Brazilian J Pharm Sci. 2013;49(3):423–34.

12.      Chen Y, Wu Q, Zhang Z, Yuan L, Liu X, Zhou L. Preparation of curcumin-loaded liposomes and evaluation of their skin permeation and pharmacodynamics. Molecules. 2012;17(5):5972–87.

13.      Yousef SA, Mohammed YH, Namjoshi S, Grice JE, Benson HAE, Sakran W, et al. Mechanistic evaluation of enhanced curcumin delivery through human skin in vitro from optimised nanoemulsion formulations fabricated with different penetration enhancers. Pharmaceutics. 2019;11(12).

14.      Mohanty C, Sahoo SK. Curcumin and its topical formulations for wound healing applications. Drug Discov Today [Internet]. 2017;22(10):1582–92. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.drudis.2017.07.001

15.      Hirun S, Utama-ang N, Roach PD. Turmeric (Curcuma longa L.) drying: an optimization approach using microwave-vacuum drying. J Food Sci Technol. 2014;51(9):2127–33.

16.      Bampidis V, Azimonti G, Bastos M de L, Christensen H, Kos Durjava M, Kouba M, et al. Safety and efficacy of turmeric extract, turmeric oil, turmeric oleoresin and turmeric tincture from Curcuma longa L. rhizome when used as sensory additives in feed for all animal species. EFSA J. 2020;18(6).

17.      Frymus T, Gruffydd-Jones T, Pennisi MG, Addie D, Belák S, Boucraut-Baralon C, et al. Dermatophytosis in Cats: ABCD guidelines on prevention and management. J Feline Med Surg. 2013;15(7):598–604.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s