Ringkasan: Suntik jamur teorinya memang ada, tetapi prakteknya sangat jarang dipakai di klinik hewan, jadi sama saja tidak ada. Kalau ada yang menawarkan suntik jamur, kemungkinan isinya adalah obat antiparasit atau vitamin doang. Oh iya, ada sih vaksin jamur, tapi mending ga usah juga.

Beberapa orang mengobati jamur dengan kunyit, tapi buat sebagian orang, mengobati jamur kulit (dermatofita) pada hewan belum afdal kalau disuntik. Rasanya, ada yang kurang kalau sekadar diberi obat oles dan obat makan. Atau mungkin, pemilik mencari alternatif suntik karena kesulitan memberi makan obat ke hewannya. Beberapa penyedia layanan kesehatan hewan (dokter hewan dan dokter-dokteran) juga menyediakan jasa suntik jamur. Di sisi lain, banyak juga dokter hewan yang bilang bahwa suntik jamur itu tidak ada. Bagaimana fakta sebenarnya?

Berdasarkan guidelines dari asosiasi dermatologi hewan (World Association of Veterinary Dermatology), jamur bisa diobati secara topikal (obat luar) atau sistemik (untuk diedarkan ke seluruh tubuh). Obat topikal bisa diberikan sebagai sampo mandi khusus, rendaman badan dengan kandungan tertentu, dan salep. Obat sistemik umumnya diberikan sebagai obat makan, tetapi ada dua obat yang dilaporkan diberikan melalui jalur suntik.

Obat suntik fluconazole (sumber: mims.com)
Rute suntikan intravena

Obat pertama adalah fluconazole, masih bersaudara dengan obat makan itraconazole dan salep ketoconazole/miconazole yang sering digunakan. Fluconazole sendiri bisa diberikan sebagai obat makan maupun suntik. Fluconazole memang obat antijamur, tapi lebih sering digunakan untuk jenis-jenis jamur yang menyerang seluruh tubuh (sistemik). Nama jamurnya tidak perlu disebut satu-satu, ya. Yang jelas, jamur ini beda dengan jamur yang suka di kulit. Sayangnya, fluconazole ini malah kurang mempan pada jamur kulit dibanding obat-obat lain yang dioles atau dimakan. Jadi, walaupun fluconazole bisa diberikan secara suntik, obat ini tidak lebih baik dari obat makan atau oles. Teorinya begitu, tapi praktiknya, memberi suntikan fluconazole lebih susah lagi. Rute suntikannya bukan melalui bawah kulit atau pada otot seperti kebanyakan obat, tapi harus melalui pembuluh darah. Karena sulit, pemberian obat-obat sejenis ini biasa melalui infus. Jadi, kalau suntik jamur diberikan melalui bawah kulit, bisa dipastikan obat tersebut bukan fluconazole.

Sayangnya, obat-obatan setelah fluconazole di bawa ini lebih parah efektivitasnya sebagai antijamur…

Rute suntikan subkutan atau bawah kulit. (sumber: Dina Damotseva/iStock)

Obat kedua adalah lufenuron. Lufenuron sebenarnya lebih dikenal sebagai obat untuk membunuh serangga, tapi karena kerjanya mengacaukan pembentukan khitin (pembentuk kerangka luar serangga), dan jamur juga punya khitin, muncullah ide untuk menggunakan lufenuron. Berbeda dengan fluconazole, lufenuron bisa disuntikkan melalui bawah kulit. Namun, penelitian menunjukkan lufenuron kurang efektif sebagai obat jamur. Sama seperti fluconazole, obat suntik satu ini masih kalah jauh dibandingkan obat makan, oles, dan mandi yang biasa digunakan. Jadi, persepsi obat suntik lebih efektif daripada obat makan tidak berlaku untuk kasus jamur kulit atau dermatofitosis.

Walaupun kedua obat di atas memang obat antijamur dan bisa disuntikkan, saya rasa di lapangan, penggunaannya sangat, sangat jarang di hewan. Lantas, apa sebenarnya yang biasa disuntikkan sebagai “suntik jamur”? Ada beberapa dugaan…

Yang paling memungkinkan adalah ivermectin, karena banyak desas-desus dari klinik yang mengatakan demikian (walau saya sangat berharap desas-desus tersebut salah). Masalahnya, ivermectin sama sekali bukan obat jamur. Ivermectin adalah obat antiparasit yang kerjanya mengacaukan sistem saraf cacing/kutu sampai lumpuh lalu mati. Sayangnya, ivermectin tidak akan mempan pada organisme yang tidak punya sistem saraf, seperti… jamur. Lantas, kenapa ivermectin sering digunakan sebagai “suntik jamur”?

Ada penyakit yang gejalanya mirip jamur, sama-sama membuat kulit berkerak di bagian wajah. Namun, penyakit ini — skabiosis atau scabies — tidak disebabkan jamur, tapi tungau Notoedres cati. Saya bahkan sering melihat orang di media sosial yang menyuntik sendiri kucing atau kelincinya yang “jamuran” dengan ivermectin dari toko online, padahal sebenarnya hewan tersebut terkena skabiosis. Tungau ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, tapi sebenarnya masih berkerabat dengan laba-laba (bukan serangga, sih, teknisnya) dan bisa dibunuh dengan ivermectin. Jadi, kucing skabiosis memang bisa diobati dengan suntik ivermectin. Bagaimana bisa informasi yang sampai ke masyarakat tetap “suntik jamur”, walau sebenarnya “suntik tungau”? Saya tidak tahu. Mungkin ada miskomunikasi antara dokter yang mengobati dengan pemilik hewan. Namun, yang saya bingungkan, ada saja dokter hewan yang secara gamblang menulis “suntik jamur” di daftar harganya.

Kucing dengan skabiosis (sumber: Hellmann et al. 2013. Parasitology Research. 112)

Kucing dengan dermatofitosis atau jamur (sumber: Moriello K.A.. 2020. Dermatophytosis. In: Noli C., Colombo S. (eds) Feline Dermatology. Springer, Cham.)

Kemungkinan lain yang pernah saya dengar, yang disuntikkan hanyalah terapi suportif seperti obat antigatal atau vitamin untuk kulit. Beberapa vitamin, seperti vitamin E, niasin (B3), kolin, asam pantotenat (B5), dan inositol, memang bisa membantu persembuhan kulit. Saya tidak bisa memastikan apa yang disuntikkan, tetapi walaupun terapi suportif bisa membantu mengurangi gejala atau mempercepat persembuhan, tidak ada yang benar-benar menyerang jamur itu sendiri, sebagaimana obat jamur seharusnya.

Biocan M Plus, injection suspension for dogs
Vaksin jamur Bioveta untuk anjing

Saya sebenarnya tidak berniat memasukkan vaksin jamur sebagai kemungkinan, tapi saya pernah dengar sekali dua kali kalau vaksin jamur ini ada di Indonesia. Ada tidak ada, saya bahas saja sedikit. Vaksin jamur ini isinya jamur yang sudah dimatikan. Konsep kerjanya kira-kira mirip dengan vaksin virus. Kekebalan tubuh terhadap jamur tidak mengandalkan antibodi, tetapi kekebalan berperantara sel. Jadi, yang menyerang jamur itu sel imunnya langsung, bukan antibodi. Masalahnya, vaksin, apa lagi vaksin yang dimatikan, seringnya memicu kekebalan antibodi. Berdasarkan beberapa penelitian dengan vaksin jamur, konsensus saat ini menyatakan vaksin jamur tidak memberikan perlindungan terhadap jamur, tetapi mungkin bisa sedikit membantu saat persembuhan. Saran saya, sih, mending tidak usah.

Referensi
1.        Frymus T, Gruffydd-Jones T, Pennisi MG, Addie D, Belák S, Boucraut-Baralon C, et al. Dermatophytosis in Cats: ABCD guidelines on prevention and management. J Feline Med Surg. 2013;15(7):598–604.

2.        Moriello KA, Coyner K, Paterson S, Mignon B. Diagnosis and treatment of dermatophytosis in dogs and cats.: Clinical Consensus Guidelines of the World Association for Veterinary Dermatology. Vet Dermatol. 2017;28(3):266–8.

3.        Plumb DC. Veterinary Drug Handbook Sixth Edition. Ames, Iowa: Blackwell Publishing Ltd; 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s