Beberapa hari yang lalu, saya iseng bertanya pada teman-teman di twitter saya apakah kucing mereka suka kentut. Ternyata, banyak juga yang menjawab iya, baik yang kentutnya bau atau tidak, tetapi tidak semua. Ada yang kucingnya tidak pernah kentut, bahkan ada yang baru tahu kucing bisa kentut.

Kucing memang bisa kentut, tapi lebih jarang dari anjing. Kentut, bahasa kerennya flatus, adalah hasil dari pembentukan gas berlebih di saluran pencernaan, yang kemudian keluar lewat anus. Kadang, kentut berlebih bisa disertai sendawa, suara geraman dari perut, dan perut yang kembung dan mengencang. Mirip, kan, sama manusia?

Kentut sebenarnya cuma gas, bisa bau ataupun tidak. Gas bisa ada di saluran pencernaan karena beberapa hal:

  • Yang paling sering adalah makan angin. Iya, serius. Nama kerennya aerophagia. Ini biasa seringnya di anjing-anjing yang kalo makan suka cepat kayak kerasukan, makanya banyak udara yang masuk. Tidak menutup kemungkinan terjadi di kucing juga, sih. Ini bisa membahayakan buat ras-ras anjing besar, soalnya suka bikin lambung terpelintir dan mampet.
  • Interaksi asam lambung dengan makanan dan air liur menghasilkan gas karbondioksida.
  • Gas oksigen, nitrogen, dan karbondioksida yang larut dalam darah bisa berpindah dan ngumpul di saluran cerna.

Gas-gas dari penyebab di atas memang bisa bikin kentut, tapi tidak bau. Dalam suatu studi, 47 persen anjing mengalami kentut, tetapi hanya 13 persen yang kentutnya juga bau. Kentut bisa bau karena gas dari fermentasi bakteri, soalnya mereka menghasilkan gas-gas mengandung sulfur. Sulfur ini yang bikin kentut dan kotoran hewan bau. Kentut yang bau ini bisa cuma karena faktor makanan, tapi bisa juga menandakan adanya penyakit kalau disertai masalah pencernaan lain terkait gangguan penyerapan nutrisi di usus. Jika kentut berlebih disebabkan gangguan pencernaan, biasa juga ada gejala seperti diare dan kembung. Sekitar 26 persen kucing yang menderita diare kronis dan muntah dilaporkan juga mengalami kentut. Kondisi ini perlu penanganan dokter hewan.

Jika hewan peliharaanmu sering kentut dan kentutnya bau sampai mengganggu, mungkin makanannya harus dipertimbangkan kembali. Bahan-bahan makanan yang mengandung oligosakarida tinggi bisa menyebabkan banyaknya gas di saluran pencernaan. Oligosakarida adalah salah satu jenis karbohidrat yang tidak bisa dicerna oleh mamalia seperti kucing dan anjing, mirip dengan serat. Dalah jumlah kecil, oligosakarida bisa berfungsi sebagai prebiotik, makanan untuk bakteri baik. Namun, terlalu banyak makanan untuk bakteri di usus akan menghasilkan gas yang banyak juga. Gas inilah yang keluar sebagai kentut. Kacang-kacangan terkenal kaya akan oligosakarida, dan oleh karena itu, hewan yang punya masalah kentut mungkin sebaiknya menghindari makanan dari kacang-kacangan, termasuk kacang kedelai, kacang polong, kacang panjang, dan lainnya.

Image by pictavio from Pixabay

Hewan perlu makanan dengan kecernaan tinggi. Maksudnya, makanan harus mudah diserap, sehingga hanya sedikit sisa makanan yang tidak terserap dan sampai ke usus besar untuk difermentasi oleh bakteri. Makanan seperti ini umumnya menggunakan bahan rendah serat. Misalnya, nasi lebih dipilih dibandingkan gandum dan jagung sebagai sumber karbohidrat karena seratnya lebih rendah. Beberapa hewan juga lebih sensitif terhadap makanan tertentu. Kalau disertai gejala pencernaan diare dan masalah kulit, mungkin hewan perlu mencoba uji eliminasi makanan untuk mendiagnosis ada tidaknya alergi makanan. Banyak anjing dan kucing kurang bisa mencerna gula laktosa yang terkandung dalam susu. Hindari memberi susu pada hewan-hewan ini. Saya pernah ketemu pasien anak kucing cacingan di klinik. Saat diperiksa, diarenya menetes, cair dan bau banget. Saya tidak tahu ada hubungannya atau tidak, tapi kebetulan dia memang habis dikasih susu oleh pemiliknya.

Jangan lupa kalau sulfur adalah pelaku utama dalam bau kentut dan kotoran hewan. Karena itu, makanan untuk hewan yang rawan kentut juga harus dikontrol sulfurnya. Jangan iseng kasih bahan makanan tinggi sulfur, seperti bawang (selain tinggi sulfur, juga berpotensi membunuh sel darah), kacang, bumbu dapur, brokoli, kubis, sayur kol, dan sayuran lainnya. Asam amino sulfur, metionin, sistein, dan taurin, merupakan komponen penting dalam kebutuhan nutrisi anjing dan kucing, tetapi bisa membuat kentut bau jikaberasal dari sumber protein kualitas rendah, sehingga tidak terserap sepenuhnya, atau berasal dari bahan yang tidak bisa ditoleransi hewan, sehingga sulit dicerna. Jika ini terjadi, coba ganti makanan dengan makanan yang berkualitas lebih bagus atau menggunakan sumber protein berbeda. Misalnya, jika makanan awal menggunakan sumber protein ayam, coba ganti dengan makanan dengan protein utama ikan.

Image by Uschi Dugulin from Pixabay

Selain makanannya sendiri, mengubah gaya hidup dan perilaku makan juga bisa membantu mengurangi kentut. Kentut lebih sering terjadi pada hewan yang jarang keluar dan malas bergerak. Ajak hewan berjalan selam 30 menit di luar setelah makan untuk mendorong buang air besar dan mengeluarkan gas. Selain itu, hewan harus dibiasakan tidak makan terlalu cepat untuk mengurangi angin yang ikut tertelan, apalagi pada ras hewan hidung pesek. Membagi makanan menjadi porsi kecil tapi sering, makan di lokasi yang tenang untuk mengurangi nafsu kompetisi, dan memberi campuran makanan kering dan basah bisa memperlama waktu makan hewan. Beberapa makanan juga didesain untuk memperlama waktu makan, misalnya makanan dengan kibble berbentuk donat.

Jika cara di atas tidak berhasil, mungkin hewan memerlukan terapi secara medis dan perlu dibawa ke dokter hewan. Beberapa bahan katanya dapat mengurangi kentut, di antaranya arang aktif (norit), zink asetat, bismut subsalisilat, simetikon, ekstrak Yucca schidigera, antibiotik, dan berbagai macam ramuan herbal. Sayangnya, di antara bahan tersebut, yang terbukti manjur menurut penelitian hanya bismut subsalisilat, sink sulfat, dan antibiotik yang tak terserap. Yucca schidigera sering digunakan sebagai bahan tambahan dalam makanan, tetapi bukti kegunaannya dalam mengurangi bau kotoran dan kentut masih diperdebatkan. Beberapa tahun belakangan, mulai juga ada ketertarikan penelitian untuk menggunakan probiotik Bacillus subtilis C-3102 untuk mengontrol bau kotoran.

Referensi
1.        Roudebush P. Flatulence: Causes and Management Options. Compend Contin Educ Pract Vet. 2001;23(12):1075–81.

2.        de Lima DC, Souza CMM, Nakamura N, Mesa D, de Oliveira SG, Félix AP. Dietary supplementation with Bacillus subtilis C-3102 improves gut health indicators and fecal microbiota of dogs. Anim Feed Sci Technol. 2020;270(September).

3.        Dos Reis JS, Zangerônimo MG, Ogoshi RCS, França J, Costa AC, Almeida TN, et al. Inclusion of Yucca schidigera extract in diets with different protein levels for dogs. Anim Sci J. 2016;87(8):1019–27.

4.        Vierbaum L, Eisenhauer L, Vahjen W, Zentek J. In vitro evaluation of the effects of Yucca schidigera and inulin on the fermentation potential of the faecal microbiota of dogs fed diets with low or high protein concentrations. Arch Anim Nutr [Internet]. 2019;73(5):399–413. Available from: https://doi.org/10.1080/1745039X.2019.1616498

5.        Urrego MIG, Pedreira RS, Santos K de M, Ernandes MC, Santos JPF, Vendramini THA, et al. Dietary protein sources and their effects on faecal odour and the composition of volatile organic compounds in faeces of French Bulldogs. J Anim Physiol Anim Nutr (Berl). 2021;105(S1):65–75.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s