Saya sering dengar mitos kalau makanan kucing yang aman itu kadar magnesiumnya di bawah 0,09%. Di atas itu, makanan dianggap berpotensi menyebabkan FLUTD. Saya sudah bahas kenapa ini mitos di artikel ini. Daripada mempermasalahkan magnesium, ada mineral yang lebih bisa “membahayakan” saluran kemih, yaitu fosfor. Fosfor mungkin tidak seterkenal magnesium, tetapi fosfor juga bisa berperan dalam pembentukan batu di saluran kemih. Yang lebih bahaya, fosfor berlebih bisa menyumbang risiko kerusakan ginjal dalam jangka panjang.

Apa itu fosfor?
Fosfor adalah makromineral yang dibutuhkan dalam makanan, paling banyak kedua setelah kalsium. Sebenarnya, fosfor punya banyak peran penting. Di tulang dan gigi, ada fosfor yang menemani kalsium. Di membran tiap sel tubuh kita kita, ada fosfor yang menyusun lapisan phospholipid bilayer. Kita bisa beraktivitas pun karena ada fosfor dalam adenosine triphosphate (ATP).

Menurut Nutritional Guidelines FEDIAF 2021 (1), makanan kucing dewasa harus mengandung setidaknya 0,26 gram fosfor setiap 100 gram bahan kering makanan (0,26%), sementara makanan kucing bunting dan menyusui harus mengandung 0,84% fosfor. Angka ini berkurang dari guidelines sebelumnya (2018), yang menetapkan kadar minimum 0,5% untuk makanan kucing dewasa (2). Belum ada batas maksimum fosfor dalam makanan kucing, berbeda dengan batas maksimum fosfor dalam makanan anjing yang sudah ditetapkan (1,6% untuk anjing dewasa). Kadar fosfor maksimum belum ditentukan karena belum diketahui, bukan berarti tidak ada batas maksimum. Seperti semua hal, fosfor yang berlebihan juga tidak baik.

Kapan fosfor bisa membahayakan?
Organ yang jadi fokus utama dari penelitian soal fosfor adalah ginjal. Gagal ginjal kronis adalah penyakit yang sangat umum, bahkan jadi penyebab utama kematian kucing di atas 5 tahun (3). Dokter hewan, peneliti, dan ahli nutrisi masih berusaha memecahkan teka-teki kadar maksimum fosfor yang tidak membahayakan kesehatan kucing. Sejauh ini, telah terdapat beberapa data dari penelitian yang dapat membantu.

  • Dalam penelitian Dobenecker et al. (4), kucing mengalami penurunan fungsi ginjal setelah 29 hari makan makanan dengan kadar fosfor 1,6%. Ini ditandai dengan keberadaan protein dan gula di dalam urin. Kedua zat ini harusnya tidak ditemukan di urin jika fungsi filtrasi ginjal bekerja dengan benar.
  • Dalam penelitian pertama Alexander et al. (5), kucing yang makan makanan dengan 4,8 gram/1000 kcal fosfor (3,6 gram/1000 kcal fosfor inorganik) mengalami kerusakan ginjal dalam 4 minggu. Studi tersebut terpaksa dihentikan secara prematur karena kerusakan ginjal terlalu parah. Sementara, pada penelitian kedua, 36% kucing yang mengonsumsi 3,6 gram/1000 kcal fosfor selama 28 minggu terdeteksi mengalami kelainan ginjal ketika di-USG. Mereka menyimpulkan bahwa batas aman fosfor pada makanan kucing berada di bawah 3,6 gram/1000 kcal. Ini setara dengan 1,44% jika makanan mengandung 4000 kcal/gram.
  • Dalam penelitian Coltherd et al. (6), kucing baik-baik saja, tidak mengalami kerusakan ginjal setelah mengonsumsi makanan dengan 5 gram/1000 kcal fosfor selama 30 minggu. Konsentrasi 5 gram/1000 kcal setara dengan 2% fosfor jika makanan mengandung 4000 kcal/gram.

Hasil penelitian di atas mungkin tampak aneh, kontradiktif, seolah banyaknya jumlah fosfor dalam makanan tidak berhubungan dengan kerusakan ginjal. Yang perlu diketahui, jumlah bukan satu-satunya yang mempengaruhi efek fosfor pada kesehatan ginjal.

Sumber dan bentuk sediaan fosfor dalam makanan sangat berpengaruh. Ada fosfor organik, yang berasal dari daging dan tulang hewan, serta dari tumbuhan. Sekitar 60 sampai 80 persen fosfor dari hewan bisa diserap, tetapi fosfor dari tumbuhan lebih rendah yang bisa diserap, hanya 30 sampai 40 persen. Ini karena fosfor tumbuhan tersedia sebagai asam fitat, suatu zat antinutrisi yang bisa mengurangi penyerapan mineral (7). Ada juga fosfor inorganik, yang biasa berasal dari bahan sintetis. Fosfor inorganik bisa dicerna hingga 100 persennya. Nah, penelitian Alexander et al. (5) sengaja menggunakan sumber fosfor inorganik, yaitu sodium dihidrogen fosfat (SDHP), sebagai sumber utama. Namanya saja sudah terdengar “tidak alami”. Sementara itu, Coltherd et al. (6) juga menggunakan fosfor inorganik, tetapi hanya sedikit. Sumber fosfor utamanya tetap fosfor organik.

Image by Hans Braxmeier from Pixabay

Fosfor inorganik lebih mungkin merusak ginjal daripada fosfor organik karena lebih banyak yang benar-benar diserap tubuh. Kalau fosfor organik, sebagian terbuang bersama feses tanpa diserap, jadi tidak menyebabkan apa-apa. Jadi, walaupun fosfor dalam Coltherd et al. (6) lebih banyak, tidak sampai merusak ginjal seperti penelitian Alexander et al. (5).

Selain organik atau inorganik, ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu kalsium dalam makanan. Kalsium dan fosfor punya hubungan yang mesra di makanan dan di tubuh. Keduanya adalah mineral yang paling banyak dibutuhkan, terutama di tulang dan gigi. Penyerapan keduanya di usus dipengaruhi oleh vitamin D, tetapi juga saling mempengaruhi. Bahkan, ketika sudah diserap pun, keseimbangan kalsium dan fosfor dikontrol oleh hormon yang sama: hormon paratiroid. Rasio kalsium dan fosfor dalam makanan harus berada dalam rentang 1,0 sampai 2,0 (1). Pokoknya, kalsium harus lebih banyak daripada fosfor. Ini sering jadi masalah kalau memberi makanan homemade, apa lagi yang bahannya hanya daging. Rasio kalsium dan fosfornya terbalik, serta kalsiumnya sangat kurang, sehingga terjadilah sekresi hormon paratiroid berlebih. Hewan yang mengalami ini bisa mengalami gangguan pertumbuhan dan tulangnya jadi rapuh. Lebih lengkap saya sudah bahas di sini.

Kembali lagi ke ginjal. Kucing-kucing dalam penelitian di atas yang mengalami gangguan ginjal bukan cuma diberi makanan dengan fosfor berlebih, tapi rasio kalsium dan fosfornya juga kurang dari 1,0. Fosfor lebih banyak dari kalsium. Jadi, selain mempengaruhi tulang, rasio kalsium dan fosfor juga bisa merusak ginjal jika tidak tepat.

Hingga saat ini, belum ada bukti pasti kalau fosfor berlebih dalam makanan hewan merupakan penyebab kerusakan ginjal. Namun, makanan dengan fosfor tinggi (lebih dari 1,6% berat kering), rasio kalsium dan fosfor kurang dari 1,0, dan tinggi fosfor inorganik tampaknya memperbesar risiko kerusakan ginjal. Oleh karena itu, makanan yang memenuhi kriteria di atas patut dihindari.

Fosfor dalam makanan hewan komersil
Masalahnya, mengetahui jumlah dan bentuk sediaan fosfor dalam makanan hewan tidak semudah itu. Baik FEDIAF maupun AAFCO tidak mewajibkan adanya informasi jumlah fosfor, kalsium, atau rasio kalsium dan fosfor di kemasan makanan hewan. Yang wajib diberi tahu hanya protein, lemak, serat, kandungan air, abu (semua mineral digabung), dan baru-baru ini, karbohidrat (masih rencana). Memang ada beberapa makanan hewan yang inisiatif mencantumkan fosfor dan kalsiumnya, tetapi ini bukan hal yang umum. Tentu ada cara untuk tetap mengetahui informasi ini, yaitu dengan menghubungi perusahaan yang memproduksi makanan tersebut. Sekalian juga, tanyakan sumber fosfor apa yang digunakan, dan apakah makanan ini sudah pernah diujikan. Beberapa perusahaan makanan hewan rutin mengujikan makanannya ke kucing sungguhan, agar tahu apakah makanan yang mereka produksi benar-benar aman dan sehat untuk kucing.

Image by ❤ Monika 💚 💚 Schröder ❤ from Pixabay

Penelitian tahun 2020 di Colorado menemukan masih banyak yang harus dibenahi soal fosfor di makanan hewan (8). Dari 82 makanan komersil yang mereka teliti, 16% makanan memiliki rasio kalsium dan fosfor kurang dari 1,0. Rata-rata makanan mengandung fosfor 3 gram/kcal (kurang lebih 1,2%), tetapi 33% mengandung fosfor lebih tinggi dari 3,6 gram/kcal (kurang lebih 1,44%). Ini melebihi batas aman dalam penelitian Alexander et al. (5). Makanan all life stage cenderung mengandung fosfor lebih tinggi dari makanan khusus kucing dewasa, tetapi ini wajar, karena anak kucing butuh fosfor lebih tinggi dari kucing dewasa. Tampaknya, protein juga punya hubungan khusus dengan fosfor. Makanan yang tinggi protein cenderung mengandung fosfor lebih tinggi.

Memang tidak mudah memilih makanan hewan, apa lagi dengan banyaknya informasi yang sulit diketahui hanya dari kemasan. Untuk itu, saya selalu menyarankan menggunakan panduan memilih makanan hewan dari WSAVA. Makanan yang memenuhi panduan ini biasanya lebih sehat dan aman dibandingkan makanan lainnya.

Referensi
1.        FEDIAF. Nutritional Guidelines for Complete and Complementary Pet Foods for Cats and Dogs. FEDIAF; 2021.

2.        FEDIAF. Nutritional Guidelines for Complete and Complementary Pet Food for Cats and Dogs. Nutritional Guidelines – For Complete and Complementary Pet Food for a Cats and Dogs. 2018. p. 96.

3.        O’Neill DG, Church DB, McGreevy PD, Thomson PC, Brodbelt DC. Longevity and mortality of cats attending primary care veterinary practices in England. J Feline Med Surg. 2015;17(2):125–33.

4.        Dobenecker B, Webel A, Reese S, Kienzle E. Effect of a high phosphorus diet on indicators of renal health in cats. J Feline Med Surg. 2018;20(4):339–43.

5.        Alexander J, Stockman J, Atwal J, Butterwick R, Colyer A, Elliott D, et al. Effects of the long-term feeding of diets enriched with inorganic phosphorus on the adult feline kidney and phosphorus metabolism. Br J Nutr. 2019;121(3):249–69.

6.        Coltherd JC, Alexander J, Pink C, Rawlings J, Elliott J, Haydock R, et al. Towards establishing no observed adverse effect levels (NOAEL) for different sources of dietary phosphorus in feline adult diets: Results from a 7 month feeding study. Br J Nutr. 2021;1–16.

7.        Cupisti A, Kalantar-Zadeh K. Management of Natural and Added Dietary Phosphorus Burden in Kidney Disease. Semin Nephrol [Internet]. 2013;33(2):180–90. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.semnephrol.2012.12.018

8.        Summers SC, Stockman J, Larsen JA, Zhang L, Rodriguez AS. Evaluation of phosphorus, calcium, and magnesium content in commercially available foods formulated for healthy cats. J Vet Intern Med. 2020;34(1):266–73.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s