Feline Infectious Peritonitis (FIP) adalah mimpi buruk pemilik kucing (dan dokter hewan yang menangani kucingnya). Sampai beberapa tahun terakhir, diagnosis FIP sama saja vonis mati karena FIP tidak ada obatnya. Namun, sekitar 3 tahun terakhir, mulai muncul harapan. FIP ada obatnya, tetapi kenyataannya tetap tidak seindah itu. Pertama, obat tersebut masih sulit didapat karena masalah hak paten dan legalitas. Kedua, walaupun bisa dibeli dari pasar gelap, harganya luar biasa, mencapai puluhan juta untuk pengobatan satu ekor kucing. Karena itu, sejak obat ini ada di Indonesia, banyak sekali penggalangan dana untuk membelinya. Dari situ, makin terkenallah FIP dan obat ini.

Bagaimana FIP bisa muncul?
FIP tidak menular secara tiba-tiba seperti virus panleukopenia atau calicivirus. Kebanyakan kucing sebenarnya sudah punya bibit FIP dalam dirinya. Bibit FIP itu bernama Feline Enteric Coronavirus (FCoV). Berbeda dengan FIP, FCoV tidak berbahaya. Kalau di manusia, mungkin setara penyakit remeh seperti flu musiman. Bedanya, FCoV menyerang sel usus dan sering menyebabkan diare. Umumnya, diare bukan penyakit aneh atau parah di kucing, apalagi anak kucing. Kebanyakan diare juga sembuh sendiri tanpa diobati atau diketahui penyebabnya, termasuk diare karena FCoV. Karena itu, kebanyakan pemilik kucing tidak pernah tahu kalau kucing mereka sudah pernah terinfeksi FCoV.

iStockPhoto/Valeriy Volkonskiy

Seperti flu, FCoV ada di mana-mana. Sebanyak 30-90% populasi kucing peliharaan atau yang tinggal di shelter terinfeksi FCoV. Umumnya, kucing yang tinggal bersama dalam satu rumah sudah pasti terinfeksi FCoV, apalagi jika jumlah kucingnya lebih dari 6. Sebaliknya, kucing liar justru lebih jarang terinfeksi FCoV (1–3).  Pada kucing yang sudah pernah terkena FCoV (dan sembuh), FCoV yang sudah ada dalam tubuh kucing bisa sewaktu-waktu bermutasi menjadi FIP. Tidak perlu panik, karena kemungkinan mutasi ini terjadi dan berhasil sangat kecil. Hanya 1 sampai 5% dari kucing yang terinfeksi FCoV akan terkena FIP (4), walaupun dalam satu eksperimen, jumlahnya bisa mencapai 20% (3). (Kondisi kucing dalam eksperimen di lab tentu berbeda dengan kondisi sehari-hari kucing peliharaan di rumah.)

FCoV adalah virus RNA, sama seperti coronavirus SARS-CoV-2 yang menyerang manusia saat ini. Dan sama dengan virus tersebut, FCoV juga sangat mudah bermutasi. Ini adalah sifat umum yang dimiliki virus RNA. Mutasi maksudnya terjadi kesalahan ketika virus-virus baru dibuat. Ibarat di pabrik mie instan, ada unit mie yang bumbunya kemasukkan dua, tetapi bisa juga ada yang tidak dapat bumbu. Mutasi ini bisa bermakna virus gagal memperbanyak diri, atau malah menjadi virus yang berbeda, baik itu lebih jinak atau lebih ganas. Tentu yang membuat khawatir adalah jika virus menjadi ganas. Ini yang terjadi ketika virus FCoV bermutasi jadi FIP.

FIP terjadi ketika virus FCoV yang semula tinggal di sel usus bermutasi jadi lebih suka tinggal di sel makrofag, khususnya makrofag di pembuluh darah, rongga perut, saraf, dan mata, tempat sering munculnya gejala khas FIP (5). Makrofag adalah salah satu sel sistem kekebalan, yang kerjanya memakan dan menghancurkan benda asing seperti bakteri dan virus. Saat virus bermutasi, kucing tidak langsung kena FIP, tetapi sistem kekebalannya akan menghadapi tantangan dari virus tersebut. Bagaimana sistem kekebalan ini merespon menentukan apakah kucing akan tetap sehat atau terkena FIP.

Ilustrasi makrofag memakan bakteri

Sistem kekebalan manusia dan hewan kompleks, tidak asal serang, tetapi ada strategi masing-masing untuk menghadapi musuh yang berbeda. Dalam kasus FIP, salah strategi bisa berakibat fatal, sama fatalnya dengan tidak menyerang sama sekali. Untuk melawan virus FIP, strategi yang dibutuhkan adalah membunuh makrofag yang terinfeksi FIP, sebelum virus FIP bisa bertambah banyak dan menyerang makrofag lain hingga kucing betul-betul kena FIP. Strategi yang salah (dan fatal) adalah menyerang dengan memproduksi antibodi. Antibodi hanya bisa menetralkan virus (membuat virus tidak bisa menginfeksi dan membuat sakit) yang berada di luar sel. Biasanya, virus yang sudah dinetralkan akan dibawa oleh antibodi ke makrofag untuk dimusnahkan. Masalahnya, virus FIP justru suka jika dibawa masuk ke makrofag karena memang itu rumahnya (6). (Kondisi ini disebut antibody-dependent enhancement (ADE) dan sering dituduhkan terjadi pada COVID-19 oleh kaum antivaksin, tetapi itu cerita lain.) Semakin banyak antibodi, virus FIP justru akan semakin mudah menyerang kucing. Kondisi ini yang menyebabkan kucing terkena FIP.

Jika sistem kekebalan kucing mampu melawan dengan membunuh makrofag yang terinfeksi, kucing tidak akan terkena FIP dan kucing serta pemiliknya bisa bernapas lega. Namun, jika sistem kekebalan kucing hanya merespon virus FIP dengan antibodi dan gagal membunuh makrofag (atau sedikit sekali), yang terjadi adalah FIP tipe basah, khas ditandai perut yang membesar berisi cairan. Ini karena kompleks antibodi-virus menyebabkan kerusakan pembuluh darah, sehingga protein dalam darah mudah merembes keluar (3). Protein inilah yang cairan yang menumpuk di perut kucing.

Jika sistem kekebalan kucing merespon dengan setengah-setengah antara antibodi dan membunuh makrofag, terjadilah FIP kering. Dalam FIP kering, sistem imun mampu menahan makrofag terinfeksi sehingga hanya ada di titik-titik tertentu, tidak menyebar ke seluruh tubuh, tetapi tidak mampu mencegah kucing terkena FIP (5). Tidak ada cairan di perut seperti FIP, tetapi sebenarnya ada bungkul-bungkul nanah yang menyebabkan gangguan di organ dalam, seperti hati dan ginjal kucing. Bungkul-bungkul tersebut juga merupakan reaksi sistem kekebalan. FIP pada seekor kucing bisa berubah-ubah antara bentuk basah, kering, atau di antara keduanya.

Siapa saja kucing-kucing yang rentan kena FIP?
Semua kucing yang terinfeksi FCoV bisa terkena FIP. Biasanya, kucing yang hidup dalam satu rumah dengan banyak kucing, di cattery, dan di shelter sudah terinfeksi FCoV, apalagi jika mereka berbagi litter box.

Image by Helga Kattinger from Pixabay

Ada beberapa kucing yang risikonya lebih tinggi. Semakin muda kucing (umumnya di bawah setahun), semakin besar kemungkinan terkena FIP. Sistem imun anak kucing belum sematang kucing dewasa, sehingga virus FCoV lebih mudah bereplikasi dan makin banyak virus yang bisa bermutasi (1). Kucing di atas satu tahun jarang terkena FIP, tetapi bukannya tidak mungkin (5). Di usia tua risiko kena FIP kembali naik.

Semakin padat populasi kucing di satu rumah, semakin besar juga kemungkinan terkena FIP. Makin banyak kucing berarti makin banyak FCoV yang dikeluarkan melalui feses dan bisa menular ke kucing lain (7). Selain itu, kucing yang tinggal dalam satu rumah biasanya lebih mudah stress karena harus berbagi wilayah, makanan, litter box dengan kucing lain, belum lagi kalau terjadi konflik antarkucing. Stress adalah salah satu faktor penting dalam kemunculan FIP (2,8). Stress juga bisa muncul karena pindah rumah, kedatangan kucing baru, atau pergi ke tempat yang asing, termasuk ke klinik hewan.

Walaupun FIP adalah penyakit viral, faktor genetik dicurigai juga punya pengaruh, terutama faktor genetik dalam interaksi kekebalan dan virus. Peran genetika belum diketahui secara pasti, tetapi kecenderungan untuk terkena FIP diduga bisa diturunkan dari induk ke anak. Karena itu, kucing yang terkena FIP tidak disarankan untuk dikawinkan (9). Kucing ras berpedigree dan kucing jantan juga diduga lebih berisiko terkena FIP (3).

Apa saja gejala FIP?
Untuk mencurigai seekor kucing terkena FIP, dokter hewan akan memperhatikan profil dan riwayat hidup kucing tersebut. Seekor kucing Persia berusia 7 bulan yang diadopsi dari breeder tentu akan lebih dicurigai daripada kucing domestik liar berusia 5 tahun, walaupun kucing domestik tersebut juga bisa terkena FIP.

Cairan perut dari kucing dengan FIP basah (sumber: Drechsler et al. (2011). doi:10.1016/j.cvsm.2011.08.004.)

Seperti penyakit lainnya, FIP menunjukkan gejala yang umum, seperti lesu, demam, tidak mau makan, dan kebengkakan kelenjar getah bening, ditambah kucing akan tampak kuning kalau sudah parah. Namun, tentu ada gejala yang khas pada FIP. FIP basah biasa cukup mudah dikenali, ditandai dengan perut yang membesar karena berisi cairan. Jika penumpukan cairan ini meluap sampai ke rongga dada, kucin akan mengalami kesulitan bernapas. FIP kering lebih sulit dikenali, apalagi kalau masih tahap awal. Kucing dengan FIP kering bisa mengalami berbagai gejala pada mata atau saraf (jalan tidak seimbang, kepala miring, kejang) (8).

Kucing saya mengalami gejala FIP. Apakah dia kena FIP?
Gejala-gejala penyakit FIP banyak yang bertabrakan dengan penyakit lain. Misalnya, perut besar berisi cairan memang patut dicurigai sebagai kasus FIP, tetapi juga bisa disebabkan cacingan, gangguan hati, atau kekurangan protein karena hal lain. Kucing dengan gangguan mata bisa karena infeksi dan gangguan saraf bisa karena masalah di telinga.

Pertama, kita harus tahu, berdasarkan gejala klinis dan riwayat hidup kucing, seberapa besar kecurigaan kalau kucing terkena FIP? Misalnya, anak kucing liar berusia 2 bulan dengan asal-usul tidak jelas lebih mungkin perutnya membesar karena cacingan daripada FIP. Jika kecurigaan terhadap penyakit lain lebih besar, dokter hewan akan melakukan tes untuk memastikan kecurigaan tersebut dahulu sebelum mempertimbangkan FIP.

Mendiagnosis FIP tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat gejala klinis. Bahkan, sebenarnya mendiagnosis kucing dengan FIP cukup sulit karena tidak ada satu pun tes yang bisa memastikan kucing kena FIP. Jadi, ada beberapa tes yang bisa dilakukan hanya untuk menguatkan atau memperlemah kecurigaan akan FIP. Dokter harus selalu mengartikan tes-tes ini berdasarkan riwayat hidup dan gejala klinis masing-masing individu kucing. Bagi dokter hewan, mendiagnosis FIP sama saja memberi vonis mati. Karena itu, diagnosis FIP harusnya hanya diberikan ketika semua kemungkinan penyakit lain sudah dipatahkan.

FIP basah lebih mudah didiagnosis daripada FIP kering, salah satunya karena cairan di perut kucing dengan FIP basah bisa sangat membantu diagnosis. Jika perut kucing membesar tapi keberadaan cairan masih diragukan, bisa dilakukan ultrasonografi (USG) dan Roentgen. Jika betul-betul ada cairan, cairan dapat disedot. Sekilas, cairan karena FIP biasa berwarna kuning dan kental. Cairan tersebut bisa dicek di lab dan diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat komposisi kimia dan sel di dalamnya, tetapi paling umum diujikan dengan tes Rivalta. Tes ini dilakukan untuk mengira-ngira kandungan protein dalam cairan. Cairan perut FIP biasanya kaya protein sehingga tes Rivaltanya akan positif. Yang dibutuhkan cuma cuka dan air, jadi sebenarnya bisa dilakukan di semua klinik.

Seberapa akurat tes Rivalta dalam mendiagnosis FIP? Jika hasil negatif, kemungkinan 90% cairan tersebut tidak disebabkan FIP. Jika hasil positif, kemungkinan kucing tersebut memang FIP sekitar 58%, tetapi bisa juga disebabkan infeksi bakteri atau kanker kelenjar getah bening, misalnya (10). Hasil ini harus diinterpretasikan berdasarkan riwayat hidup dan gejala klinis. Maksudnya, jika kucing berusia 10 tahun tes Rivaltanya positif, kita pantas mencurigai positifnya karena kanker, tetapi jika yang diuji positif adalah kucing usia 6 bulan, FIP adalah pilihan utama. Kanker kelenjar getah bening bukan sesuatu yang wajar terjadi di usia ini.

Tes lain yang umum dilakukan adalah pengecekan darah complete blood count (CBC)/hematologi dan biokimia darah. CBC menghitung jumlah sel-sel darah merah, darah putih, trombosit, serta ukurannya. CBC tidak bisa mendiagnosis FIP secara spesifik, tetapi bisa mengonfirmasi adanya infeksi. Kucing yang terkena FIP umumnya mengalami penurunan sel darah putih limfosit, kenaikan sel darah putih neutrofil (di beberapa mesin, namanya granulosit), dan penurunan sel darah merah (RBC) (8). Perlu diketahui kalau tidak semua kucing FIP mengalami ketiganya, dan hasil darah seperti ini juga bisa terlihat pada kucing yang stress.

Hasil tes CBC (sumber: SpicyMilkBoy, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Uji Rivalta positif ditandai cairan perut yang tidak bercampur dengan air (sumber: Tasker, 2018 (8))

Tes biokimia darah bisa lebih membantu dalam diagnosis FIP. Yang paling sering diperhatikan adalah jumlah protein dalam darah, albumin dan globulin. Hampir 90% kasus FIP ditandai dengan kenaikan globulin. Globulin memang biasa naik sebagai reaksi sistem imun jika terjadi infeksi. Albumin darah sering mengalami penurunan tetapi tidak sesering kenaikan globulin, khususnya karena kebocoran albumin dari pembuluh darah yang rusak. Rasio albumin:globulin (A:G) sering digunakan sebagai standar diagnosis FIP. Tidak ada standar yang pasti, tetapi umumnya kucing yang memiliki rasio A:G di atas 0,8 hampir dapat dipastikan tidak FIP, sementara yang rasio A:Gnya di bawah 0,4 sangat dicurigai FIP. Ada tumpang tindih hasil untuk rasio A:G di antara kedua nilai tersebut (11–14). Sekali lagi, hasil ini harus diinterpretasikan dalam konteks riwayat, gejala klinis, dan tes lainnya. Beberapa kucing tampak mata, mulut, dan telinganya kuning ketika dibawa ke dokter. Jika kucing ini diperiksa darahnya, biasa akan terlihat kenaikan bilirubin karena kerusakan sel darah merah.

Kucing yang mengalami kekuningan di telinganya (sumber: Sabar, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

FIP tidak bisa didiagnosis menggunakan test kit seperti panleukopenia. Jika ada test kit yang katanya untuk FIP, test kit tersebut sebenarnya adalah test kit FCoV. Seperti sudah saya bilang sebelumnya, FCoV memang ada pada sebagian besar kucing di seluruh dunia, tapi hanya sebagian kecil yang akan terkena FIP. Lebih dari 90% kucing yang positif FCoV tidak akan terkena FIP. Kemudian, beberapa test kit mengecek keberadaan antibodi dalam darah, bukan keberadaan antigen atau virus itu sendiri. Ini membuat tes tersebut lebih tidak akurat. Bahkan, sekarang pun tidak ada yang menggunakan rapid test antibodi untuk COVID-19, tidak seperti antigen. Hasil test kit positif hanya menunjukkan kucing pernah terkena FCoV. Antibodi biasanya akan tetap ada terlepas dari apakah virus masih ada atau tidak, karena antibodi adalah bagian kekebalan tubuh kucing itu sendiri. Malah, kucing yang sudah kena FIP parah bisa jadi test kitnya negatif karena virusnya terlalu banyak. Jika semua antibodi digandeng oleh virus, antibodi tidak bisa dideteksi test kit. Sebenarnya, pengujian antibodi FIP/FCoV ini kurang berguna (9). Jangan percaya kalau ada yang mendiagnosis kucing FIP hanya berdasarkan test kit.

Bagaimana dengan pengujian antigen? PCR bisa dilakukan untuk menghitung partikel virus, tapi PCR tidak membedakan FCoV dengan FIP. Negatif palsu juga sering terjadi. Meski begitu, hasil positif di darah atau cairan perut bisa membantu diagnosis, karena FCoV yang belum bermutasi biasanya hanya diam di usus, tidak keluyuran (9). Sayangnya, PCR FIP sepertinya sangat jarang dilakukan di Indonesia. Pengujian yang paling akurat sebenarnya dilakukan dengan mengambil sampel jaringan dari organ kucing, kemudian diwarnai khusus untuk melihat apakah ada virus FIP. Namun, kucing harus dibedah untuk mengambil sampel. Ini tidak mungkin dilakukan di kucing yang sudah sakit parah, sehingga biasa dilakukan di kucing yang sudah mati.

Apakah FIP menular?
Bukannya tidak mungkin, tetapi sampai sekarang, kemungkinan FIP menular sangat, sangat kecil. Kucing yang kena FIP tidak mengeluarkan virus FIP, jadi tidak menular. Sampai saat ini, belum ada laporan penularan FIP dari kucing ke kucing secara alami. Di lab, FIP bisa ditularkan dengan cara menyuntikan cairan perut kucing dengan FIP ke kucing lain, tetapi ini tidak mungkin terjadi secara alami (5).

Beda ceritanya dengan FCoV. FCoV sangat bisa menular melalui feses. Biasanya, jika ada satu kucing terkena FIP, maka semua kucing dalam satu rumah itu sudah kena FCoV, jadi kucing yang FIP tidak perlu diisolasi. Namun, kalau nanti ada kucing baru, kucing tersebut harus dipisahkan agar tidak tertular FCoV dari kucing di rumah.

Apakah ada vaksin FIP?
Ada vaksin hidup yang bisa digunakan untuk kucing berusia di atas 16 minggu, tetapi penggunaannya tidak direkomendasikan. Manfaat vaksin ini diragukan. Vaksin FIP hanya mempan pada kucing yang belum pernah kena FCoV sebelumnya. Masalahnya, kebanyakan kucing sudah kena FCoV sebelum usia 16 minggu (usia minimal vaksin), padahal justru kucing-kucing inilah yang memerlukan vaksin. Pada kucing yang sudah kena FCoV, ada kemungkinan kecil vaksin justru akan mempercepat munculnya FIP karena antibody-dependent attachment (15). Vaksin FIP harus cukup kuat untuk merangsang kekebalan untuk membunuh sel, bukan memproduksi antibodi, seperti kebanyakan vaksin lain. Ini yang membuat kesulitan dalam membuat vaksin FIP. Namun, saat ini pun masih ada peneliti yang mengupayakan pembuatan vaksin FIP yang efektif (5)

Vaksin FIP (sumber: qualityvetproduct.com/en/product/primucell-fip-en/)

Bagaimana cara mencegah FIP?
Kita belum tahu. Cara paling aman adalah mengadopsi kucing dari tempat yang tidak ada FCoV-nya, kemudian kucing dicek dengan test kit antibodi untuk memastikan bahwa kucing tersebut bebas FCoV. Namun, cara ini hanya berlaku untuk calon pemilik yang belum mengadopsi kucing.

Untuk kucing yang sudah kena FCoV, cara yang bisa dilakukan hanya mengurangi stress, karena stress bisa memicu munculnya FIP. Karena sifat rentan terhadap FIP mungkin diturunkan secara genetik, hindari mengawinkan kucing yang terkena FIP.

Mengenai obat FIP
Walaupun FIP lama dikenal sebagai vonis mati karena tidak ada obatnya, saat ini, ada dua kandidat obat yang dapat menyembuhkan FIP, GS-441524 dan GC-376. Keduanya bekerja dengan menghambat replikasi virus. Berdasarkan uji klinis, kedua obat ini bisa menyembuhkan 78% dan 35% kucing FIP dalam jangka panjang (16,17). Di antara keduanya, GS-441524 tampak lebih efektif dan lebih jarang menyebabkan kejadian kambuhan FIP setelah sembuh. Selain itu, GS-441524 bisa menyembuhkan FIP kering yang menyerang saraf dan mata, sementara GC-376 tidak (17,18). Hanya obat tertentu yang bisa menembus mata dan otak karena ada penghalang sebagai pelindung aliran darah ke sana.

Sayangnya, tetap ada beberapa kendala dalam mengobati FIP. Obat ini belum bisa didapatkan secara legal karena masalah hak paten. Selama ini, obat FIP diproduksi secara ilegal di Tiongkok dan didapatkan secara diam-diam melalui pasar gelap. Harganya pun tidak murah. Karena ilegal, banyak dokter hewan yang enggan menggunakannya, sehingga banyak pemilik kucing dengan FIP yang menggunakan sendiri tanpa bantuan dokter hewan (19). Masalahnya, tidak jarang pemilik kucing asal mendiagnosis kucing dengan FIP dan langsung menyuntik GS-441524, padahal ketika diperiksa dokter hewan, kucingnya menderita penyakit lain. Dokter hewan saja biasanya enggan dan sangat hati-hati dalam memberi diagnosis FIP karena begitu seriusnya penyakit ini. Sangat aneh kalau ada yang mendiagnosis FIP hanya berdasarkan gejala klinis yang ringan atau satu tes saja.

Jika kucing benar-benar terkena FIP, pengobatan FIP bisa sangat melelahkan kucing dan ownernya. Baik GS-441524 maupun GC-376 tidak bisa digunakan hanya sebentar. Obat tersebut harus digunakan minimal selama 12 minggu (84 hari) walaupun kucing terlihat sembuh sebelum itu (16,17). Di bawah itu, risiko FIP kembali kambuh cukup besar. Bahkan, beberapa kucing tetap mengalami kambuh setelah diobati 12 minggu, sehingga pengobatannya harus diperpanjang (19).

Selain itu, karena obat ini masih baru dan belum legal, profil keamanannya belum diketahui. Ada laporan efek samping kerusakan ginjal, tetapi ini masih abu-abu (17). Tetapi, yang pasti, suntikan obat ini sangat menyakitkan karena sangat asam dan volume penyuntikannya cukup besar. Kucing pasti merasa kesakitan dan tidak jarang mengamuk. Perlukaan, pengerasan, dan bahkan abses juga bisa terjadi di area penyuntikan (19). Dan, ini perlu dilakukan selama 84 hari. Saat ini, sebenarnya GS-441524 sudah ada dalam bentuk oral, tetapi efektivitasnya tidak setinggi obat suntik dan harganya lebih mahal (20)

Referensi
1.        Bell ET, Toribio JALML, White JD, Malik R, Norris JM. Seroprevalence study of Feline Coronavirus in owned and feral cats in Sydney, Australia. Aust Vet J. 2006;84(3):74–81.

2.        Pedersen NC, Sato R, Foley JE, Poland AM. Common virus infections in cats, before and after being placed in shelters, with emphasis on feline enteric coronavirus. J Feline Med Surg. 2004;6(2):83–8.

3.        Pedersen NC. A review of feline infectious peritonitis virus infection: 1963-2008. J Feline Med Surg [Internet]. 2009;11(4):225–58. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.jfms.2008.09.008

4.        Licitra BN, Millet JK, Regan AD, Hamilton BS, Rinaldi VD, Duhamel GE, et al. Mutation in spike protein cleavage site and pathogenesis of feline coronavirus. Emerg Infect Dis. 2013;19(7):1066–73.

5.        Pedersen NC. An update on feline infectious peritonitis: Virology and immunopathogenesis. Vet J [Internet]. 2014;201(2):123–32. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.tvjl.2014.04.017

6.        Pedersen NC, Liu H, Scarlett J, Leutenegger CM, Golovko L, Kennedy H, et al. Feline infectious peritonitis: Role of the feline coronavirus 3c gene in intestinal tropism and pathogenicity based upon isolates from resident and adopted shelter cats. Virus Res [Internet]. 2012;165(1):17–28. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.virusres.2011.12.020

7.        Foley JE, Poland A, Carlson J, Pedersen NC. Risk factors for feline infectious peritonitis among cats in multiple-cat  environments with endemic feline enteric coronavirus. J Am Vet Med Assoc. 1997 May;210(9):1313–8.

8.        Tasker S. Diagnosis of feline infectious peritonitis: Update on evidence supporting available tests. J Feline Med Surg. 2018;20(3):228–43.

9.        Kennedy MA. Feline Infectious Peritonitis: Update on Pathogenesis, Diagnostics, and Treatment. Vet Clin North Am – Small Anim Pract [Internet]. 2020;50(5):1001–11. Available from: https://doi.org/10.1016/j.cvsm.2020.05.002

10.      Fischer Y, Sauter-Louis C, Hartmann K. Diagnostic accuracy of the Rivalta test for feline infectious peritonitis. Vet Clin Pathol. 2012;41(4):558–67.

11.      Jeffery U, Deitz K, Hostetter S. Positive predictive value of albumin: Globulin ratio for feline infectious peritonitis in a mid-western referral hospital population. J Feline Med Surg. 2012;14(12):903–5.

12.      Hartmann K, Binder C, Hirschberger J, Cole D, Reinacher M, Schroo S, et al. Comparison of Different Tests to Diagnose Feline Infectious Peritonitis. J Vet Intern Med. 2003;17(6):781–90.

13.      Pedersen NC. An update on feline infectious peritonitis: Diagnostics and therapeutics. Vet J [Internet]. 2014;201(2):133–41. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.tvjl.2014.04.016

14.      Riemer F, Kuehner KA, Ritz S, Sauter-Louis C, Hartmann K. Clinical and laboratory features of cats with feline infectious peritonitis – a retrospective study of 231 confirmed cases (2000–2010). J Feline Med Surg. 2016;18(4):348–56.

15.      Scherk MA, Ford RB, Gaskell RM, Hartmann K, Hurley KF, Lappin MR, et al. Disease information fact sheet: Feline infectious peritonitis. J Feline Med Surg. 2013;15(Supplementary File of AAFP Feline Vaccination Advisory Panel Report):785–808.

16.      Pedersen NC, Perron M, Bannasch M, Montgomery E, Murakami E, Liepnieks M, et al. Efficacy and safety of the nucleoside analog GS-441524 for treatment of cats with naturally occurring feline infectious peritonitis. J Feline Med Surg. 2019;21(4):271–81.

17.      Pedersen NC, Kim Y, Liu H, Galasiti Kankanamalage AC, Eckstrand C, Groutas WC, et al. Efficacy of a 3C-like protease inhibitor in treating various forms of acquired feline infectious peritonitis. J Feline Med Surg. 2018;20(4):378–92.

18.      Dickinson PJ, Bannasch M, Thomasy SM, Murthy VD, Vernau KM, Liepnieks M, et al. Antiviral treatment using the adenosine nucleoside analogue GS-441524 in cats with clinically diagnosed neurological feline infectious peritonitis. J Vet Intern Med. 2020;34(4):1587–93.

19.      Jones S, Novicoff W, Nadeau J, Evans S. Unlicensed gs-441524-like antiviral therapy can be effective for at-home treatment of feline infectious peritonitis. Animals. 2021;11(8):1–14.

20.      Krentz D, Zenger K, Alberer M, Felten S, Dorsch R, Matiasek K, et al. Curing Cats with Feline Infectious Peritonitis with an Oral Multi-Component Drug Containing GS-441524. Viruses. 2021;13(2228).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s