Alergi adalah reaksi hipersensitivitas dari sistem kekebalan tubuh terhadap benda asing. Ada tiga jenis penyebab alergi pada anjing dan kucing, dari yang paling mudah hingga paling susah didiagnosis: pinjal (kutu loncat), makanan, dan lingkungan. Ketika mencari tahu apakah kucing atau anjing menderita alergi, lupakan saja mesin-mesin canggih. Mendiagnosis alergi pada kucing dan anjing tidak butuh alat khusus apapun. Satu hewan bisa mengalami satu, dua, atau bahkan ketiganya sekaligus. Sayangnya, ini tidak berarti diagnosis alergi adalah hal yang mudah. Diagnosis alergi, apalagi alergi lingkungan, justru sangat kompleks, lama, dan ribet.

Ketika seekor anjing atau kucing datang ke klinik dengan keluhan gatal, apa yang akan dilakukan dokter hewan? Harusnya, membuat rencana untuk menemukan penyebab kegatalan tersebut (atau, lebih bagusnya sih, menghentikan gatal-gatalnya dulu). Sebenarnya, dari riwayat hidup si hewan, bentuk spot gatal, dan sebarannya di tubuh, dokter hewan bisa jadi sudah bisa menebak penyebabnya (kalau hewannya anjing). Namun, mereka (seharusnya) akan tetap melakukan protokol diagnosis ini 1.

Pinjal dari kucing (sumber: Streicher 2019 (4))
Kotoran pinjal yang diletakan pada tisu basah (sumber: Streicher 2019 (4))

Semua hewan, apalagi kucing, yang datang dengan keluhan gatal harus dicurigai menderita alergi pinjal (flea-allergy dermatitis, FAD). Alergi pinjal adalah penyebab gatal-gatal paling sering di kucing.2 Ketika pinjal hinggap dan makan melalui kulit hewan, mereka akan mengeluarkan air liur yang berisi enzim dan zat-zat lain. Tubuh hewan bereaksi dan menyerang zat-zat tersebut, dan reaksi inilah yang membuat gatal.3 Kegatalan atau kemerahan karena pinjal biasa terjadi di punggung belakang, paha dalam, atau punggung ekor hewan.

Sebaran lesi khas pada anjing yang menderita alergi pinjal (sumber: Hensel et al. 2015 (1))

Mendiagnosis hewan yang menderita alergi pinjal cukup mudah karena pinjal atau kotorannya bisa terlihat ketika rambut hewan disibakkan. Lebih lanjut, kotoran pinjal bisa diambil dan diletakkan di atas tisu yang dibasahi. Jika itu benar kotoran pinjal, akan terlihat warna merah hingga kecoklatan. Warna merah ini berasal dari darah hewan yang dihisap oleh si pinjal4. Jika pinjal atau kotorannya tidak terlihat, bukan berarti hewan tersebut pasti tidak alergi pinjal. Mungkin hanya sedikit pinjal yang hinggap di hewan tersebut, padahal satu ekor pinjal pun sudah bisa menyebabkan gatal dan gejala lainnya. Kalau begini, diagnosis akan lebih sulit, tetapi masih bisa dilakukan dengan intradermal skin test. Maksudnya, kulit hewan disuntikkan dengan alergen pinjal dan dilihat bereaksi alergi atau tidak. Sayangnya, uji ini jarang dilakukan dan rawan positif palsu (hingga 36%).5

Ya, alergi atau tidak, bagaimanapun hewan yang dihinggapi pinjal harus dibasmi pinjalnya. Selain paling mudah didiagnosis, alergi pinjal juga paling mudah diatasi. Tinggal diberi obat antiparasit (aka obat kutu), maka pinjal yang hinggap di hewan akan mati. Namun, pinjal masih bisa hinggap di lingkungan, jadi hewan bisa kena infestasi pinjal lagi kalau obat kutu tidak rutin diberikan.6

Sebaran lesi khas pada anjing yang menderita infestasi kutu (sumber: Hensel et al. 2015 (1))

Jika hewan tidak alergi pinjal dan tidak diserang pinjal, kita masih perlu mencari tahu apakah ada ektoparasit lainnya, seperti caplak, kutu, dan tungau. Caplak masih bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi kutu dan tungau biasanya harus dilihat dengan mikroskop. Lagi-lagi, semua ini bisa dibasmi dengan pemberian obat kutu rutin. (Note: tidak semua obat kutu bisa membasmi caplak dan tungau Demodex. Jika anjing atau kucingmu terserang suatu ektoparasit, pastikan obat kutu yang mau diberikan memang bisa mematikan parasit tersebut dengan melihat label obat kutu.)

Anjing atau kucingmu tidak diserang ektoparasit dan sudah diberi obat kutu rutin, tetapi masih gatal? Sekarang, kita perlu memastikan apakah ada infeksi bakteri atau jamur. Ini dilakukan dengan mengambil sampel kerokan kulit (iya, dikerok sampai berdarah) kemudian diwarnai dan dilihat di bawah mikroskop. Bakteri yang sering menyerang adalah Staphylococcus, sementara jamur yang dimaksud adalah Malassezia. Ini berbeda dengan jamur dermatofita yang suka dikasih VCO, kunyit, suntik jamur itu, dan cara diagnosisnya juga berbeda. Kalau jamur yang itu, sudah pernah dibahas di sini dan di sini. Kalau pengecekan di mikroskop menunjukkan adanya, ya tinggal diobati; bakteri dengan antibiotik, jamur dengan obat jamur. Perlu diketahui kalau mereka ini oportunis. Biasanya, mereka cuma jadi infeksi sekunder. Artinya, kulit si hewan sudah rusak, misalnya karena alergi atau terserang ektoparasit, lalu mereka masuk dan ikutan menginfeksi.

Jamur Malassezia di bawah mikroskop (sumber: self, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
Anjing yang mengalami dermatitis Malassezia (sumber: self, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Bagaimana kalau tidak ada ektoparasit ataupun infeksi bakteri dan jamur? Kita bisa mulai yakin hewanmu alergi, tetapi alergi apa? Langkah berikutnya adalah memastikan hewan punya alergi makanan atau tidak. Satu-satunya cara untuk mendiagnosis alergi makanan adalah uji eliminasi diet (diet elimination trial). Sekali lagi. Satu-satunya cara untuk mendiagnosis alergi makanan adalah uji eliminasi diet (diet elimination trial). Diet elimination trial lebih lengkap sudah saya bahas di sini. Uji ini memang lama dan penuh kerjasama penuh antara dokter hewan dan pemilik hewan, karena selama 2-3 bulan, hewan tidak boleh makan apapun selain makanan yang diujikan. Namun, ini satu-satunya cara. Tidak ada jalan pintas. Apakah alergi bisa didiagnosis dengan cek darah? Tidak. Di kucing, uji ini bahkan akurasinya cuma 20%. Sering terjadi positif palsu. Bagaimana dengan intradermal skin test, yang kulitnya ditusuk-tusuk? Sulit juga. Akurasinya cuma 40-70%. Tidak jauh beda dengan lempar koin. Uji feses, rambut, air liur, semuanya juga tidak akurat 7. Satu-satunya cara untuk mendiagnosis alergi makanan adalah uji eliminasi diet (diet elimination trial).

Sebaran lesi khas pada anjing yang menderita alergi makanan atau lingkungan (atopik dermatitis) (sumber: Hensel et al. 2015 (1))

Jika hewan peliharaanmu tidak juga menderita alergi makanan, kemungkinan yang tersisa cuma alergi lingkungan, atau nama kerennya atopik dermatitis (AD). Jadi, cara mendiagnosis alergi makanan dan lingkungan sebenarnya gampang dan tidak perlu mesin aneh-aneh: singkiran saja semua kemungkinan lainnya. Sebenarnya, ada beberapa checklist yang bisa membantu diagnosis AD, seperti kriteria Favrot untuk anjing8, tetapi penggunaannya tidak menggantikan protokol ini. Di anjing, sebenarnya sebaran gatal-gatal untuk alergi lingkungan dan makanan juga khas banget. Kalau anjing gatal-gatal di ketiak, selangkangan, telapak kaki, tetapi bagian panggulnya bersih, kemungkinan besar alergi lingkungan atau makanan. Sudah bisa ditebak. Sayangnya, kucing tidak begitu. Kucing yang alergi, sebaran gatalnya tidak bisa diprediksi. Suka-suka dia; bisa botak doang, bisa ada bentol-bentol merah, atau bisa luka-luka karena eosinophilic granuloma complex (EGC).9 Eh, tapi kalau di kucing bisa dan sering disertai asma juga, sih. Konon, asma kucing adalah satu-satunya penyakit nonkulit yang ditangani dokter hewan spesialis kulit.

Bagaimana dengan alat-alat tes alergi di luar sana? Memangnya ga guna?
Ini saya coba bahas satu-satu, deh. Tapi, perlu diketahui kalau tes-tes ini bukan jalan pintas untuk mendiagnosis alergi, tapi untuk membantu konfirmasi diagnosis dan pengobatan. Jadi, ga bisa tuh, datang ke klinik dan minta “tes alergi” ke dokternya, terus besoknya langsung keluar hasil si Blacky alergi abc, xyz, lalala (seharusnya). Tes-tes ini hanya dilakukan setelah si anjing atau kucing didiagnosis alergi lingkungan melalui alur di atas. Terus apa gunanya dong? Ya, memang ga terlalu berguna sih. Tes-tes ini cuma perlu dilakukan kalau gejala alerginya parah banget, terus ga hilang-hilang (kalau musiman kan hilang timbul, tuh), terus diobatin gejalanya juga susah.1 Kalau begitu, pemilik dan dokter hewan harus pakai cara terakhir: cari tahu penyebab alergi dan pastikan hewannya terhindari dari itu.

Intradermal skin test (IDST)
Untuk melakukan IDST, biasanya hewan dibius karena akan ditusuk-tusuk. Hewannya pasti tidak bisa disuruh diam seperti manusia. Kemudian, satu sisi tubuhnya dicukur, lalu disuntikkan beberapa ekstrak tersangka penyebab alergi. Nanti, dokter akan mengamati ada reaksi alergi yang muncul atau tidak. Tapi, IDST ini jarang dilakukan di klinik biasa. Biasanya, yang melakukan cuma dokter hewan spesialis kulit.

IDST pada anjing (sumber: Firn/Shutterstock)

IDST adalah gold standard dalam per-tes-tes-an alergi, khususnya atopik dermatitis. Tapi, sebenarnya IDST tidak gold-gold amat juga. Tes ini tidak bisa digunakan untuk screening alergi, tapi cuma dipakai setelah kita tahu si anjing atau kucing memang alergi lingkungan, tapi belum tahu alergi sama apa di lingkungan.1,9,10 Apakah debu, sari pati bunga, atau apa? Nah, itu yang kita cari tahu dengan IDST. Kenapa IDST tidak bisa dipakai untuk screening? Karena tes ini rawan positif palsu dan negatif palsu. Seringkali, hewan sebenarnya tidak alergi, tapi muncul hasil positif 1,9,10. Kalau begini, kita jadi gagal menemukan penyebab alergi yang sebenarnya. Oh iya, IDST cuma digunakan untuk alergi lingkungan, bukan makanan.

Uji serologi pengukuran IgE dalam darah
IgE adalah antibodi yang berperan kalau tubuh diserang cacing, parasit lain, dan alergi. Kalau membicarakan pengukuran IgE, ada dua tes yang berbeda: mengukur total IgE dalam darah dan IgE spesifik terhadap masing-masing alergen dalam darah. Ada tes yang mengukur total IgE dalam darah karena ada anggapan kalau hewan yang alergi pasti IgEnya lebih tinggi. Masuk akal, sih, tapi ternyata hasil penelitian membuktikan itu salah. Banyaknya IgE dalam darah tidak berhubungan dengan munculnya alergi .11

Bagaimana dengan pengukuran IgE spesifik alergen? Antibodi kerjanya spesifik, jadi IgE pun kerjanya spesifik. Misalnya hewan alergi terhadap debu dan rumput, maka ada IgE untuk debu, dan ada IgE untuk rumput. Masing-masing berbeda dan terpisah. Mengukur IgE spesifik alergen masih lebih berguna dibandingkan total IgE, tetapi harap diingat dulu, ini adalah tes IgE, bukan tes alergi. Sama seperti IDST, tes ini tidak bisa digunakan untuk screening. Uji ini hanya dilakukan pada hewan yang sudah didiagnosis atopik dermatitis. Kalau dibandingkan IDST, pengukuran IgE punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Uji ini lebih “aman”, karena hewan tidak perlu dibius seperti IDST. Pengambilan darah juga lebih praktis dan tidak menyakitkan dibandingkan ditusuk-tusuk berulang kali. Namun, uji IgE ini kurang sensitif dibandingkan IDST, karena tidak memperhitungkan beberapa jalur alergi lain.9

Sejauh ini, cuma kedua alat pengujian di atas yang berguna dan sering digunakan dalam pengujian alergi. Alat-alat lain sebaiknya tidak digunakan karena… tidak berguna.

Bioresonance allergy test
Tes alergi bioresonansi didasari prinsip kalau semua makhluk hidup dan benda memancarkan gelombang elektromagnetik.12 Cara kerjanya, sampel DNA diambil dari pasien. Kemudian, gelombang elektromagnetik dari tersangka alergi dipancarkan ke DNA. Nah, baru habis itu dilihat reaksi DNAnya untuk tahu alergi atau tidak.13 Kalau kedengarannya aneh, ya memang aneh, sih. Kata eyangnya ilmu pengobatan alternatif, Edzard Ernst, bioresonance ini banyak fafifuwaseswos teknis susah dimengerti, padahal isinya omong kosong, khas jualan pseudosains.14 Ketika diujikan di manusia pun, tes alergi ini tidak akurat sama sekali dan tidak bisa dipakai untuk diagnosis alergi.12 Kalau di hewan, belum ada penelitiannya sama sekali.

Anjing yang menjalani terapi bioresonance. Robert Petrovic/Shutterstock

Kinesiologi
“Semua disfungsi organ akan disertai dengan kelemahan otot,” kemudian muncullah tes alergi yang tidak masuk akal ini12. Pasien akan disuruh memegang botol berisi tersangka penyebab alergi di satu tangan, kemudian kekuatan otot di kedua tangannya akan diukur. Jika otot yang memegang botol lebih lemah, maka pasien alergi pada benda tersebut. Kalau memperhitungkan mekanisme alergi yang dikerjakan sistem kekebalan, memang tidak masuk akal. Dan lagi-lagi, setelah diteliti, tes ini tidak berguna 15.

Selain kedua tes ini, masih banyak tes alergi aneh seperti tes rambut, tes saliva, elektrodermal, sitotoksik, IgG serum, fafifuwasweswos yang tidak dibuktikan secara ilmiah. Oh iya, tidak lupa uji yang sudah dibuktikan secara ilmiah, IDST dan IgE alergen serum, juga bisa jadi tidak berguna kalau digunakan dengan salah, untuk screening, bukan setelah didiagnosis atopik dermatitis. Ingatlah, tidak ada jalan pintas menuju diagnosis alergi.

Referensi
1.        Hensel, P., Santoro, D., Favrot, C., Hill, P. & Griffin, C. Canine atopic dermatitis: Detailed guidelines for diagnosis and allergen identification. BMC Vet. Res. 11, 1–13 (2015).

2.        Griffin, C. E. Feline Flea Allergy Dermatitis. Saunders Manual of Small Animal Practice 11, (2006).

3.        Dryden, M. & Blackmore, J. C. A review of flea allergy dermatitis in the dog and cat. Companion Anim. Pract. 19, 10 (1989).

4.        Streicher, M. Flea Allergy Dermatitis. Small Anim. Dermatology Tech. Nurses 85–101 (2019). doi:10.1002/9781119108641.ch6

5.        Moriello, K. & McMurdy, M. The prevalence of positive intradermal skin test reactions to flea extract in clinically normal cats. Companion Anim. Pract. 19, 28–30 (1989).

6.        Carlotti, D. N. & Jacobs, D. E. Therapy, control and prevention of flea allergy dermatitis in dogs and cats. Vet. Dermatol. 11, 83–98 (2000).

7.        Mueller, R. S. & Olivry, T. Critically appraised topic on adverse food reactions of companion animals (4): can we diagnose adverse food reactions in dogs and cats with in vivo or in vitro tests? BMC Vet. Res. 13, 275 (2017).

8.        Olivry, T. et al. Treatment of canine atopic dermatitis: 2010 clinical practice guidelines from the International Task Force on Canine Atopic Dermatitis. Vet. Dermatol. 21, 233–248 (2010).

9.        Santoro, D., Pucheu-Haston, C. M., Prost, C., Mueller, R. S. & Jackson, H. Clinical signs and diagnosis of feline atopic syndrome: detailed guidelines for a correct diagnosis. Vet. Dermatol. 32, 26-e6 (2021).

10.      Diesel, A. Cutaneous hypersensitivity dermatoses in the feline patient: A review of allergic skin disease in cats. Vet. Sci. 4, 1–10 (2017).

11.      DeBoer, D. J. & Hillier, A. The ACVD task force on canine atopic dermatitis (XVI): Laboratory evaluation of dogs with atopic dermatitis with serum-based ‘allergy’ tests. Vet. Immunol. Immunopathol. 81, 277–287 (2001).

12.      Wüthrich, B. Unproven techniques in allergy diagnosis. J. Investig. Allergol. Clin. Immunol. 15, 86–90 (2005).

13.      Bioresonancetherapy.com. Bioresonance Therapy And Food Allergy Testing. Available at: https://bioresonancetherapy.com/articles/bioresonance-therapy-and-food-allergy-testing/.

14.      Ernst, E. Bioresonance , a Study of Pseudo-Scientific Language. Forsch Komplementärmed Kl. Naturheilkd 11, 171–173 (2004).

15.      Hammond, C. & Lieberman, J. A. Unproven Diagnostic Tests for Food Allergy. Immunol. Allergy Clin. North Am. 38, 153–163 (2018).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s