Hype kolostrum bukan hanya naik panggung di pasar kesehatan manusia, tetapi juga hewan peliharaan. Sayangnya, masih banyak kesalahpahaman soal kolostrum. Kolostrum memang berguna, bahkan sangat penting, dalam keadaan tertentu, tetapi kolostrum yang penting ini sangat berbeda dengan kolostrum yang banyak dijual. Kolostrum yang dijual justru lebih sering tidak berguna.

Mengenal kolostrum

Kolostrum adalah susu yang pertama kali diproduksi induk hewan setelah melahirkan. Kalau di hewan ternak, kolostrum sering juga disebut susu jolong. Produksi kolostrum paling tinggi selama 24 jam pertama setelah kelahiran, dan setelah itu induk mulai mengurangi produksi kolostrum, digantikan dengan susu biasa.

Dari segi nutrisi, kolostrum mengandung protein dan lemak yang lebih tinggi, serta lebih kental daripada susu biasa. Namun, bukan ini perbedaan utama kolostrum. Salah satu komponen protein kolostrum adalah antibodi induk. Jumlahnya cukup banyak. Antibodi ini adalah bekal kekebalan dari induk kucing atau anjing yang diturunkan untuk melindungi anak-anaknya selama beberapa minggu pertama kelahiran.

Antibodi dalam kolostrum kebanyakan berupa imunoglobulin G (IgG). Kelas antibodi ini adalah yang paling banyak dan punya peran paling penting dalam kekebalan tubuh melawan serangan infeksi. Sementara, kalau di susu, antibodi yang paling banyak adalah IgA. IgA juga penting, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit daripada IgA. Perannya juga berbeda. Kalau IgG beredar dalam darah untuk berpatroli di seluruh tubuh, IgA lebih berperan di garis depan tempat-tempat agen infeksi bisa masuk, seperti hidung, mulut, mata, dan usus. Bagian-bagian tersebut biasa punya lendir atau cairan pelindung. Nah, di situlah IgA juga ada dan melindungi pintu masuk tubuh terhadap infeksi.

Mengapa kolostrum penting untuk anak kucing dan anjing?
Manusia dan anjing (atau kucing) sama-sama menyusui, tetapi ada perbedaan yang sangat penting dalam praktik menyusui spesies-spesies ini. Jika bayi manusia tidak dapat kolostrum, itu bukan masalah besar. Namun, kalau bayi anjing atau kucing tidak dapat kolostrum, mereka akan sangat, sangat rentan sakit dan mudah mati. Saya sendiri sering melihat bayi-bayi hewan yang tidak disusui ibunya tidak bisa bertahan, meskipun sudah dikasih susu pengganti paling bagus sekalipun (susu kucing atau anjing, ya, bukan susu kambing, SGM, dan sebagainya).

Walaupun janin masih berada di tubuh induk selama kehamilan, mereka punya tubuh sendiri dengan sistem-sistem organ yang bekerja sendiri-sendiri, termasuk sirkulasi darah masing-masing. Terdapat plasenta yang berfungsi untuk mengantar nutrisi dan oksigen dari induk ke janin, serta membawa zat sisa dari janin ke induk. Tapi, karena tidak semua benda di darah janin boleh masuk ke darah induk dan sebaliknya, ada “sekat pembatas” antara darah induk dan darah janin. Tebalnya pembatas ini berbeda-beda antarspesies hewan, tergantung jenis plasentanya.

Perbedaan tipe plasenta spesies hewan. Plasenta anjing dan kucing berupa tipe endoteliokorial (b), sementara manusia bertipe hemokorial (c) (sumber: PrabhuDas et al. 2015)

Perbedaan plasenta ini memengaruhi proses pewarisan kekebalan (antibodi) induk ke janin. Plasenta milik hewan primata, termasuk manusia, berbeda tipe dengan plasenta milik karnivora seperti anjing dan kucing. Pada plasenta primata, ada 4 lapis sekat pembatas antara darah induk dan janinnya, sementara di plasenta karnivora, termasuk anjing dan kucing, ada 6 lapis. Semakin banyak lapisan, semakin sulit bagi zat-zat dalam darah untuk berpindah dari darah induk ke janin.

Bagi molekul kecil seperti oksigen, asam amino, dan berbagai vitamin dan mineral, ini tidak masalah. Namun, tidak begitu bagi molekul besar seperti antibodi, yang tersusun atas ratusan asam amino. Antibodi induk masih bisa berpindah dengan cukup leluasa pada primata, seperti manusia, tetapi pada anjing dan kucing, lapisan pembatas yang banyak membuat transfer antibodi ini susah. Bayi manusia bisa mendapat sebagian besar, bahkan semua antibodi yang dibutuhkannya dari plasenta selama kehamilan, sementara bayi anjing dan kucing hanya bisa mendapat sekitar 5 persen dari total antibodi yang dibutuhkan selama dalam kandungan induknya. Pada beberapa hewan, seperti kambing atau sapi, transfer antibodi selama kehamilan malah hampir tidak terjadi sama sekali. Sekat antara darah induk dan janin mereka lebih tebal dari anjing dan kucing.

Hewan yang tidak mendapat antibodi yang cukup selama dikandung akan lahir dengan keadaan sangat rentan, tidak terlindungi sama sekali. Di sinilah pentingnya kolostrum. Mereka akan mendapat semua antibodi yang dibutuhkan dari kolostrum.

Pemberian kolostrum tidak sesimpel itu!
Idealnya, bayi kucing atau anjing yang baru lahir akan langsung disusui kolostrum oleh induknya, kemudian tumbuh dengan sehat. Kenyataannya, kadang ada induk yang tidak mau menyusui anaknya, susunya tidak keluar, atau mati dalam proses kelahiran. Bayi-bayi ini tentu tidak bisa mendapat kolostrum, padahal 90-95% antibodi yang mereka butuhkan adanya di kolostrum induk! Karena inilah anak kucing dan anjing tetap gampang mati walaupun sudah diberi susu pengganti terbaik.

Masalah lainnya adalah penyerapan kolostrum. Ingat, antibodi memiliki molekul yang besar. Sama seperti plasenta, sebenarnya protein bermolekul besar seperti antibodi tidak bisa menembus usus. Normalnya, antibodi (yang adalah protein) akan dihancurkan menjadi asam-asam amino kecil dan diserap layaknya protein lain. Kalau begini, tentu fungsinya sebagai antibodi juga hilang.

Namun, saat baru lahir, sistem pencernaan hewan belum seperti hewan dewasa. Pertama, lambung dan pankreas belum banyak mengeluarkan enzim protease (enzim yang mencerna protein, termasuk antibodi). Kedua, di permukaan usus, masih ada reseptor terhadap antibodi IgG. Kedua faktor ini memungkinkan antibodi dalam kolostrum diserap utuh dan masuk ke aliran darah bayi hewan. Sayangnya, usus hewan akan langsung mulai “menutup” setelah hewan lahir, dan proses ini akan selesai dalam 16-24 jam. Setelah 24 jam, bayi anjing dan kucing sudah tidak bisa lagi mencerna antibodi dalam kolostrum. Jadi, pemberian kolostrum lewat dari 24 jam setelah kelahiran akan sia-sia jika tujuannya memberi antibodi ke si bayi.

Bisakah kita menggunakan susu kolostrum yang dijual di pet shop?
Bisa sih bisa, tapi bayi anjing dan kucing butuh kolostrum anjing dan kucing juga, bukan kolostrum sapi atau kambing, walaupun sama-sama kolostrum. Tiap antibodi bekerja spesifik, hanya untuk satu virus, atau satu bakteri, atau agen penyakit lain. Kalau kita ingin memberi bayi kucing kolostrum dengan antibodi terhadap penyakit kucing, kita butuh kolostrum kucing (idealnya yang sudah divaksin). Masalahnya, susu kolostrum kucing dan anjing yang dijual di pet shop biasanya berupa kolostrum sapi atau kambing. Kolostrum sapi juga punya hormon dan faktor pertumbuhan yang ada dalam kolostrum kucing dan anjing, tetapi tidak ada antibodi terhadap penyakit kucing dan anjing. Mungkin adanya antibodi penyakit sapi (yang kita tidak butuhkan). Kalau begini, rasanya jadi sia-sia karena tidak sesuai pemberian kolostrum itu sendiri.

Susah, sih, untuk memproduksi kolostrum kucing dan anjing dalam jumlah besar seperti sapi. Kucing dan anjing berukuran kecil, beda dengan sapi yang bisa ratusan kilogram. Jumlah kolostrum yang diproduksi pasti jauh berbeda. Kemudian, anjing dan kucing sekali lahiran bisa banyak, sampai 8 ekor pun bisa. Sementara, sapi seperti manusia, sekali lahiran anaknya cuma satu, atau dua tapi jarang (seperti kembar manusia), padahal puting susunya ada 4. Sisa kolostrumnya bisa diambil untuk dijual.

Metode pemberian kolostrum ketika tidak bisa memberi kolostrum
Walaupun tidak bisa mendapat kolostrum dari induknya, masih ada cara agar bayi kucing dan anjing mendapat antibodi dan terlindungi. Cara paling meyakinkan, tetapi paling susah, adalah menitipkan anak kucing atau anjing dalam 24 jam pertama ke induk lain yang baru melahirkan. Hampir tidak mungkin, kecuali kamu kenal semua pemilik kucing di kotamu atau kamu punya pabrik kucing. Tapi, kalau kamu beneran punya pabrik kucing atau anjing (aka breeding), kamu bisa menyimpan stok kolostrum beku ketika ada indukan yang lahiran dan sukses menyusui. Kolostrum ini bisa disimpan di freezer -20 derajat Celcius selama 6 bulan dan diberikan 3 ml per 100 gram berat bayi ketika ada bayi yang membutuhkan.

Image by Lauren Rathbone from Pixabay

Sebelumnya melakukan cara di atas di kucing, pastikan dulu kucing induk atau donor memiliki golongan darah yang sama dengan bayi yang menerima. Bahaya banget kalau induk golongan B nyumbang kolostrum ke bayi golongan darah A. Antibodinya bisa-bisa malah nyerang dan membunuh si anak. Kucing yang golongan darah B sebenarnya jarang, dan cuma banyak di ras tertentu, seperti British Shorthair dan Devon Rex. Sebaliknya, kalau induk golongan darah A nyumbang ke anak golongan darah B, masih bisa selamat, tetapi memang paling bagus golongan darah keduanya sama.

Kalau kamu punya anjing, sudah ada pengganti produk milk replacer sekaligus kolostrum terhadap Parvovirus dan E. coli, Royal Canin Puppy ProTech. Produk ini tidak menggunakan kolostrum anjing asli, tetapi antibodi yang dibuat menggunakan ayam dan kuning telur. Namun, belum ada penelitian yang membuktikan langsung kalau produk ini bisa melindungi anjing terhadap Parvovirus dan E. coli. Di kucing, sayangnya, belum ada produk serupa di Indonesia.

Kalau sudah lewat sehari, pemberian kolostrum melalui sistem pencernaan paling hanya melindungi permukaan usus, tetapi tidak bisa diserap. Kita tetap bisa memberi antibodi untuk seluruh tubuh, hanya saja dengan rute lain, yaitu disuntik di bawah kulit (oleh dokter hewan, itu pun jarang yang mempraktikkan). Yang disuntikkan bukan kolostrum, tetapi serum dari darah induk yang sudah divaksin (sehingga punya antibodi yang memadai terhadap virus berbahaya). Namun, ada risiko terjadinya kerusakan dan kematian jaringan kulit jika memilih metode ini. Metode ini tetap tidak sebaik pemberian kolostrum secara alami, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Lagi-lagi, golongan darah harus dipastikan sama terlebih dahulu.

Suplemen kolostrum untuk anjing kucing dewasa (setelah sapih)
Saya sebenarnya tidak merekomendasikan pemberian suplemen kolostrum, sama seperti saya tidak merekomendasikan pemberian suplemen kalau hewan sudah makan makanan lengkap dan seimbang, kecuali memang ada tujuan atau masalah kesehatan khusus. Ditambah lagi, suplemen kolostrum yang biasa dijual adalah kolostrum sapi, yang antibodinya cuma berguna untuk sapi (termasuk suplemen ini). Tapi, bagaimanapun, dalam kolostrum sapi juga ada kandungan-kandungan lain, seperti hormon-hormon pertumbuhan dan laktoferin (protein pengikat zat besi, dan memang ada yang meneliti efeknya di anjing dan kucing.

Satu studi di tahun 2004 menunjukkan bahwa pemberian 0,5 gram kolostrum sapi per hari mungkin dapat meningkatkan kualitas kotoran anak anjing. Namun, studi tersebut cukup rawan bias karena penilaian kotoran adalah hal yang subjektif, tetapi tidak disebutkan mengenai adanya prosedur blinding pada pengamat (maksudnya, pengamat dibuat tidak tahu feses yang diamati adalah milik anjing yang diberi kolostrum atau tidak).

Shutterstock/kristiillustra

Ada dua studi yang lebih baru, satu di anjing, dan yang terbaru di kucing oleh Nestlé Purina. Dosis yang digunakan dalam kedua studi adalah 0,1% kolostrum sapi dalam makanan. Sama seperti penelitian sebelumnya, yang menjadi fokus adalah kesehatan sistem pencernaan. Studi ini mengamati peningkatan antibodi IgA pada feses. IgA ini bisa ada karena kolostrum menstimulasi sekresi IgA atau justru berasal dari kolostrum itu sendiri (karena kolostrum mengandung antibodi). Harapannya, IgA ini bisa membangun kekebalan saluran cerna terhadap agen penyakit, tetapi ini tidak diamati dalam kedua penelitian. Tampaknya, juga terjadi perubahan mikrobiota usus yang menjadi lebih stabil dan baik.

Kedua studi ini juga mengamati efek pemberian kolostrum pada antibodi setelah kucing dan anjing divaksin. Pada studi anjing, yang digunakan adalah anjing dewasa yang memang sudah divaksin. Anjing-anjing tersebut diberi booster vaksin distemper. Anjing yang diberi kolostrum maupun tidak sama-sama mengalami kenaikan antibodi distemper, tetapi pada anjing yang tidak diberi kolostrum, antibodi tersebut segera turun dalam beberapa minggu, hingga di bawah konsentrasi sebelum booster vaksin (cukup aneh, karena bagaimanapun booster vaksin harusnya meningkatkan antibodi). Pada studi kucing, antibodi rabies setelah vaksin lebih cepat naik pada kelompok kolostrum, tetapi kelompok yang tidak diberi kolostrum segera mengejar dan tidak ada perbedaan pada akhirnya.

Kedua studi memang menunjukkan manfaat kolostrum sapi. Hal tersebut mungkin saja karena memang banyak komponen bioaktif dalam kolostrum, tetapi hasilnya masih perlu direplikasi dalam penelitian lain (yang sampai sekarang belum ada). Perlu diketahui juga bahwa studi tersebut tidak lepas dari risiko bias karena Nestlé Purina sudah menggunakan kolostrum sapi dalam makanan hewannya, bahkan sebelum studi tersebut terbit. Kalau menurut saya, pemberian kolostrum sapi ke anjing atau kucing jatuhnya mungkin bermanfaat, mungkin tidak, tetapi tampaknya aman. Pendapat ini akan berubah ketika nanti ada lebih banyak bukti ilmiah mengenai efek kolostrum.

Referensi
1.        Gross, K. L., Becvarova, I. & Debraekeleer, J. Feeding Nursing and Orphaned Kittens from Birth to Weaning. in Small Animal Clinical Nutrition, 5th Edition (eds. Hand, M. S. et al.) (Mark Morris Institute, 2010).

2.        Fontaine, E. Food intake and nutrition during pregnancy, lactation and weaning in the dam and offspring. Reprod. Domest. Anim. 47, 326–330 (2012).

3.        Chucri, T. M. et al. A review of immune transfer by the placenta. J. Reprod. Immunol. 87, 14–20 (2010).

4.        Wooding, P. & Burton, G. Implantation, Maternofetal Exchange and Vascular Relationships. in Comparative Placentation 47–81 (Springer, 2008).

5.        Chastant-Maillard, S. & Mila, H. Canine colostrum. Vet. Focus 26, 32–38 (2016).

6.        Mila, H. & Chastant-Maillard, S. The first two days of life of puppies : crucial steps for survival. in 17th EVSSAR Congress Reproduction and Pediatrics in Dogs, Cats, and Exotics (eds. Schäfer-Somi, S., Partyka, A., Niżański, W. & Hagman, R.) (European Veterinary Society for Small Animal Reproduction, 2018).

7.        Chastant-Maillard, S. et al. Timing of the Intestinal Barrier Closure in Puppies. Reprod. Domest. Anim. 47, 190–193 (2012).

8.        Weström, B., Arévalo Sureda, E., Pierzynowska, K., Pierzynowski, S. G. & Pérez-Cano, F. J. The Immature Gut Barrier and Its Importance in Establishing Immunity in Newborn Mammals. Front. Immunol. 11, (2020).

9.        Giffard, C. J., Seino, M. M., Markwell, P. J. & Bektash, R. M. Benefits of bovine colostrum on fecal quality in recently weaned puppies. J. Nutr. 134, 2126–2127 (2004).

10.      Gore, A. M. et al. Supplementation of Diets With Bovine Colostrum Influences Immune and Gut Function in Kittens. Front. Vet. Sci. 8, 1–7 (2021).

11.      Satyaraj, E. et al. Supplementation of diets with bovine colostrum influences immune function in dogs. Br. J. Nutr. 110, 2216–2221 (2013).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s