Kolagen adalah salah satu tren makanan manusia yang ikut terbawa ke hewan peliharaan. Seperti kebanyakan suplemen, banyak informasi yang dilebih-lebihkan dalam marketing kolagen.

Mengenal kolagen
Kita semua (termasuk anjing dan kucing) punya kolagen yang sangat banyak di tubuh kita, terutama di tulang, tendon (pertautan otot dengan tulang), ligamen (pertautan tulang dengan tulang), dan kulit. Kolagen adalah penyusun utama jaringan ikat di tubuh kita. Fungsi utamanya sebagai matriks atau penyangga berbagai struktur organ. Jadi, kebanyakan organ di tubuh kita, termasuk kulit, bisa punya bentuk karena kolagen. Tanpa kolagen, mungkin tubuh kita cuma jadi onggokan daging dan jeroan tanpa bentuk.

(Shutterstock/Designua)

Kolagen sendiri adalah protein. Sekitar 25 sampai 30 persen protein di tubuh kita (dan anjing kucing) adalah kolagen. Karena namanya saja protein, kolagen disusun oleh asam amino. Ada 3 asam amino utama dalam struktur protein: glisin, prolin, dan hidroksiprolin. Ketiga asam amino ini bukan asam amino esensial (maksudnya tidak perlu ada dalam makanan karena tubuh bisa membuat sendiri dalam jumlah yang cukup), dan juga jarang ditemukan banyak di bagian tubuh selain kolagen. Jadi, tempat terbanyak asam amino glisin, prolin, dan hidroksiprolin, ya kolagen.

Asam amino ini membentuk rantai yang panjang. Kemudian, 3 rantai bergabung dan saling berpilin (membentuk triple-helix, kalau bahasa kerennya). Inilah yang disebut kolagen. Satu heliks bisa tersusun atas 200 sampai 1000 asam amino1 (ini akan jadi penting).1

Apa yang terjadi ketika anjing atau kucingmu makan kolagen?
Nah, tentu ada perbedaan besar antara apa itu kolagen dan apa jadinya kolagen setelah dimakan. Kalau kucingmu makan ikan, tentu kamu tidak akan menemukan ikan di tubuh kucingmu dan kucingmu tidak akan berubah jadi ikan. Kolagen pun demikian. Nyatanya, nasib protein kolagen setelah dimakan tidak terlalu berbeda dengan nasib protein ikan atau ayam yang biasa kucingmu makan.

Sesampainya di lambung, kolagen akan berjumpa dengan asam lambung dan enzim pepsin. Mereka bekerja sama memecah ikatan pada protein kolagen, sehingga kolagen yang tadinya panjang, sampai 1000 asam amino, menjadi potongan-potongan peptida (rantai pendek asam amino) yang lebih pendek.

Habis dari lambung, kolagen (atau potongan peptida yang tadinya kolagen) masuk ke usus. Di usus, lagi-lagi kolagen ketemu enzim pemecah protein di rongga dan permukaan usus. Jadi, kolagen yang sudah dipotong jadi peptida tadi, dipotong lagi menjadi peptida yang lebih kecil atau asam amino. Di usus ini juga terjadi penyerapan. Jadi, kolagen yang sudah dibuat babak belur di lambung dan usus ini akhirnya diserap masuk untuk dikirim ke pembuluh darah.2

Tapi, pas sudah diserap, bentuk kolagennya bagaimana? Umumnya, yang bisa diserap di usus cuma asam amino dan peptida kecil yang terdiri dari dua atau 3 asam amino. Setelah itupun, peptida ini masih dibongkar di sel-sel usus menjadi asam amino juga. Kalau peptida di atas 4 asam amino, masih tanda tanya bisa diserap atau tidak, soalnya terlalu besar.3 Kalaupun bisa, jumlahnya kecil sekali, biasanya di bawah 5 persen dari total yang masuk ke mulut. Semakin besar protein, semakin sedikit yang bisa diserap utuh. Kalau untuk kolagen, mungkin di bawah 1%. Saat ini, memang ada banyak penelitian yang mencari cara agar protein utuh bisa diserap, tapi target penyerapan ini pun hanya 10-20% dari total yang dimakan.2

Kok gitu? Ini sebenernya cara usus melindungi tubuh juga. Semakin besar suatu zat, apalagi protein, yang diserap tubuh, semakin besar kemungkinan sistem imun menganggapnya musuh (padahal protein tersebut tidak jahat). Kalau sistem imun menyerang, yang jadi korban bukan cuma si protein, tapi juga tubuh hewan. Biasanya, akan terjadi reaksi peradangan atau alergi di usus (dan kulit).3 Karena inilah, makanan untuk hewan yang alergi biasanya proteinnya sudah dihidrolisis atau dipotong sekecil mungkin.

Kembali ke kolagen. Ketika dimakan, apakah kolagen bisa diserap secara utuh? Tidak! Kolagen cuma bisa diserap utuh kalau diberikan lewat jalur suntik (tapi saya tidak mau bahas mekanisme dan efektivitasnya karena ini bukan blog dermatologi). Seandainya dimakan, kolagen bisa diserap, tetapi hanya bagian-bagiannya yang sudah dibongkar (jadi asam amino), kemudian asam amino ini baru deh dibawa sama tubuh ke mana dibutuhkan. Makanya, saya bilang sama aja kayak makan protein ikan. Penyerapan kolagen ini juga beda-beda tergantung asal kolagennya. Misalnya, kolagen ikan nila cuma bisa diserap sampai ke aliran darah sekitar 50 persennya,4 sementara kolagen gelatin (iya, gelatin yang buat masak itu sebenarnya kolagen juga) bisa diserap sampai 86 persen.5

Ada juga kolagen yang dijual sebagai hydrolyzed collagen. Kolagen ini sudah dihidrolisis. Artinya, kolagen tersebut sudah dicerna menjadi peptida yang lebih pendek sebelum dikonsumsi. Mungkin kolagen terhidrolisis akan lebih mudah dicerna, tetapi prinsipnya sama saja. Yang dicerna adalah asam amino, bukan kolagen utuh.

Ini yang mau saya luruskan: jangan berpikir kalau makan kolagen, bimsalabim, kolagen akan nyampe ke kulit, lalu jadi glowing, atau nyampe ke sendi, terus sendi ga sakit lagi (kolagen sering dipake untuk arthritis). Kalo kucing atau anjing makan kolagen, mereka akan dapat asam amino penyusun kolagen, tapi apakah asam amino tersebut bakal dipakai tubuh untuk bikin kolagen? Itu terserah tubuh hewan yang makan. Kalau tubuhnya memang tidak mau atau tidak bisa memproduksi kolagen, ya tidak berpengaruh.

Makanya, suplemen kolagen tidak pernah jadi opsi pengobatan manusia, kucing, atau anjing yang punya penyakit bawaan tidak bisa produksi kolagen. Contoh penyakitnya sindrom Ehler-Danlos, kayak kucing di bawah ini, yang entah oleh oknum mana malah dibilang kucing tertua sedunia. Kucing ini kekurangan kolagen, bukan keriput karena tua. Selain penyakit bawaan, kolagen tidak bisa diproduksi hanya dengan asam amino prolin, glisin, hidroksiprolin dari kolagen. Ada nutrien penting lain yang berperan dalam pembuatan kolagen, seperti vitamin C dan asam amino lisin. Kalau dikasih suplemen kolagen, ya percuma saja. Mungkin protein kolagen tersebut digunakan untuk fungsi lain, jadi energi, atau malah dibuang karena tidak terpakai.

Kucign dengan sindrom Ehler-Danlos (Instagram/@tummyandgummy)

Manfaat kolagen?
Saya belum bisa bilang apakah kolagen bermanfaat atau tida, tapi saya tetap mau perjelas: seandainya kolagen bermanfaat nih, apa saja manfaat yang mungkin dikasih oleh suplemen kolagen? Maksudnya, kalau di produk suplemen, tuh, kan, banyak banget klaim manfaatnya. Misalnya, salah satu produk kolagen untuk anjing yang dijual di Indonesia mengklaim produknya bermanfaat mengurangi penuaan, menjaga kulit sehat, mengurangi rambut rontok, mempercepat pertumbuhan rambut, memperkuat sistem imun, dan menyehatkan tulang dan sendi. Saya ingin perjelas mana yang masuk akal dan masih layak dipertimbangkan, mana yang akal-akalan yang jual doang.

Kolagen untuk osteoarthritis (radang sendi)
Manfaat kolagen yang paling banyak diteliti adalah untuk penanganan radang sendi (osteoarthritis). Sebelum saya lanjut membahas hasil penelitiannya, saya perlu ingatkan kalau penelitian mengenai rasa sakit osteoarthritis ini sangat rentan efek plasebo karena penilaian manusia atas rasa sakit hewan adalah hal yang subjektif.6 Jadi, penelitian yang ada harus ditafsirkan dengan hati-hati.

Menurut European Food Safety Authority di tahun 2011, belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan adanya hubungan antara suplemen kolagen dan kesehatan sendi.7 Tahun 2012, suatu systematic review di Journal of Veterinary Internal Medicine menemukan bahwa kebanyakan suplemen untuk osteoarthritis, termasuk kolagen terhidrolisis, memiliki bukti efektivitas yang lemah.8 Tentu saja, sejak saat itu hingga sekarang, sudah banyak penelitian lain yang diterbitkan. Apakah penelitian-penelitian baru ini memperkuat atau malah memperlemah bukti efektivitas kolagen?

Tahun 2017, suatu penelitian yang disponsori Royal Canin menguji efek makanan terapetik untuk osteoarthritis.9 Makanan ini mengandung kolagen terhidrolisis, ekstrak polifenol teh hijau, dan ekstrak kurkumin dari kunyit. Karena bahan aktifnya bukan cuma kolagen, sulit untuk mengetahui apakah hasil penelitian ini karena kolagen, atau karena kunyit, atau karena teh hijau, atau gabungan ketiganya. Tapi, apa hasilnya? Ada pengurangan rasa sakit saat manipulasi sendi (maksudnya, ditekuk) pada anjing yang diberi makanan terapetik dibandingkan yang tidak, tetapi tidak ada perbedaan kepincangan, rasa sakit saat diam, dan rasa sakit saat dipegang. Seperti sudah saya bilang, rasa sakit adalah hal yang subjektif dan sangat rawan efek plasebo. Tetapi, ada juga penilaian objektif dengan mengukur gaya yang dikeluarkan kaki anjing ketika berjalan dan biomarker serum (zat-zat penanda osteoarthritis dalam darah, biasanya yang terkait peradangan). Tidak ada perbedaan antar kelompok juga dalam keduanya. Kalau menurut saya, penelitian ini malah memperlemah bukti efektivitas kolagen untuk osteoarthritis.

Tahun 2021, ada lagi penelitian yang membandingkan efek pemberian suplemen kolagen, glukosamin kondroitin, dan makanan terapetik (kali ini Hill’s j/d).10 Ada dua kelemahan metodologi yang mencolok dalam penelitian ini. Pertama, tidak ada kelompok kontrol negatif, karena menurut peneliti, kurang etis jika membiarkan hewan kontrol menderita osteoarthritis tanpa diberi pengobatan apa pun. Jadi, kelompok yang diberi Hill’s j/d dianggap pengganti kelompok kontrol. Masalahnya, makanan ini juga mengandung glukosamin kondroitin dan omega-3 dari minyak ikan, yang juga sering digunakan sebagai suplemen osteoarthritis. Jadi, kegunaan kelompok j/d sebagai pengganti kontrol rasanya patut dipertanyakan. Kedua, tidak ada blinding pengamat. Maksudnya, pemilik anjing dan peneliti sama-sama tahu anjing yang mana mendapat suplemen apa. Padahal, blinding sangat penting, apalagi untuk pengamatan subjektif seperti rasa sakit. Dalam penelitian ini pun, sebenarnya tidak ada perubahan rasa sakit yang berarti. Ada perubahan kecil kadar MMP-3 (salah satu penanda osteoarthritis) dalam darah pada anjing yang diberi kolagen, tetapi perubahan ini tidak begitu berarti secara klinis. Tidak jelas juga apakah perubahan ini karena kolagen atau fluktuasi biasa.

Belum afdal kalau belum membahas data di manusia, karena biasanya data kedokteran manusia lebih banyak daripada kedokteran hewan. Menurut suatu meta-analisis tahun 2018 mengenai suplemen untuk osteoarthritis, bukti manfaat kolagen terhidrolisis yang berarti secara klinis hanya untuk jangka pendek (kurang dari 3 bulan).11 Namun, data ini hanya dari satu penelitian, dan itupun disponsori perusahaan suplemen (yang berarti ada risiko bias yang cukup berarti). Untuk jangka menengah dan panjang, data yang ada menunjukkan kolagen kurang bermanfaat untuk osteoarthritis.

Kolagen mengatur sistem imun
Sebelum lanjut membahas kulit, saya mau membahas jenis kolagen lain, sekaligus membahas klaim meningkatkan sistem imun. Dari tadi, saya mengoceh soal kolagen terhidrolisis, tetapi baru-baru ini ada kolagen jenis lain, yaitu undenatured type II collagen (UC-II). Produk ini baru dipatenkan oleh Interhealth Nutraceuticals, Inc. tahun 2014.12 Kolagen biasa bekerja dengan menyediakan bahan baku pembuatan kolagen, tetapi UC-II bekerja dengan memodifikasi sistem imun.

Osteoarthritis terjadi karena sistem imun menyerang persendian dan menyebabkan peradangan di sendi. Secara teori, dengan makan UC-II, tubuh akan menganggap kolagen ini bukan musuh (karena kebanyakan makanan bukan musuh, kecuali ada alergi), lalu sel imun Treg akan mengirim pesan ke sel imun di sendi agar berhenti menyerang kolagen, karena kolagen bukan musuh.13 Masalahnya, kolagen yang sering dijual, apalagi untuk anjing dan kucing, bukanlah UC-II. Simpelnya saja, kolagen UC-II adalah kolagen tipe II, sementara yang sering dijual adalah kolagen tipe I, karena paling banyak di tubuh hewan. Jadi, saya bisa paham kalau UC-II diklaim bisa mengatur sistem imun, tetapi kalau kolagen biasa, saya tidak tahu, deh.

Sebenarnya, bukti manfaat UC-II untuk osteoarthritis lebih banyak dan lebih baik daripada kolagen biasa,11,14,15 tetapi saya tidak akan membahasnya di sini karena nanti terlalu panjang, dan kolagen tipe ini jauh lebih mahal serta jarang dijual dibandingkan kolagen biasa. Saya cuma berhasil menemukan satu merk suplemen UC-II manusia di Tokped. Namun, kebanyakan penelitian UC-II juga disponsori Interhealth Nutraceuticals, Inc. (lagi, risiko bias), jadi penafsirannya tetap perlu dilakukan dengan hati-hati.

Kolagen untuk kulit dan rambut
Gimana dengan klaim kolagen untuk kesehatan kulit dan rambut? Kalau di manusia, tren minuman berkolagen kayaknya hype banget gara-gara katanya bagus untuk kulit. Sebenarnya, ada beberapa perbedaan kulit anjing-kucing dengan manusia, seperti ketebalan, pH kulit, hingga perbedaan di tingkat molekuler. Sayangnya, tidak ada penelitian yang membahas efek suplemen kolagen di anjing atau kucing. Jadi, kita pakai data manusia, saja, ya, walaupun manusia tidak punya rambut di sekujur tubuh kayak anjing dan kucing.

Konon, suplemen kolagen bisa merangsang sel fibroblas di tubuh untuk membuat kolagen, memperkuat serat kolagen, membantu pertumbuhan sel fibroblas, meningkatkan produksi asam hyaluronat. Konon juga, ini karena reseptor di sel fibroblas (sel tukang bikin kolagen) bisa mengenali kolagen yang dimakan.16 Sudah saya bahas kalau kolagen yang dimakan itu akan hancur jadi asam amino. Sama saja kayak makan rumah, tapi yang berbekas cuma batu batanya. Apa batu bata masih bisa dikenali sebagai rumah? Kan tidak. Sama saja dengan kolagen. Yang dikenali sel fibroblas itu kolagen yang utuh, yang masih berbentuk triple-helix, biasanya kolagen yang diproduksi tubuh sendiri.17

Tahun 2013, European Food Safety Authority sempat memberi pendapat untuk salah satu suplemen kolagen yang diklaim bisa menjaga kesehatan kulit.18 Menurut mereka, bukti yang dipaparkan pemohon (produsen suplemen) tidak menunjukkan adanya manfaat kolagen untuk kulit. Secara spesifik, kolagen tidak mengurangi transepidermal water loss (TEWL, menunjukkan fungsi barrier kulit) dan meningkatkan elastisitas kulit.

Selanjutnya, karena saya bukan tenaga kesehatan manusia, saya pinjam potongan salah satu review suplemen untuk kulit manusia mengenai kolagen:16

“Secara keseluruhan, uji klinis yang menunjukkan adanya peningkatan elastisitas dan kekencangan kulit setelah konsumsi suplemen kolagen rata-rata ukuran sampelnya kecil, bahkan problematik karena beberapa penelitian tidak menggunakan grup kontrol. Dengan demikian, untuk saat ini, uji-uji klinis tersebut tidak cukup kuat dijadikan bukti adanya manfaat suplemen kolagen untuk kulit.”

Ada systematic review dan meta-analisis terbaru (2021) yang menyimpulkan bahwa kolagen bermanfaat untuk kelembaban dan elastisitas kulit, serta mengurangi keriput.19 Setelah saya baca, data yang ada tidak seindah itu. Kebanyakan penelitian yang digunakan justru tidak menemukan perbedaan nyata antara kelompok orang yang diberi kolagen atau plasebo. Dan, walaupun meta-analisis menunjukkan ada manfaat kolagen dibanding plasebo, manfaatnya relatif kecil, sehingga saya tidak yakin apakah ada manfaat tersebut ada artinya. Selain itu, funnel plot menunjukkan studi yang ukuran sampelnya kecil cenderung menunjukkan hasil yang besar, suatu indikasi adanya bias publikasi. Saya tidak bisa bilang apakah ini berpengaruh pada hasil meta-analisis atau tidak.

Funnel plot systematic review de Miranda et al. (2021)

Kalau kolagen bisa bermanfaat untuk kulit, menurut saya, hanya sebagai supplier bahan pembuat kolagen itu sendiri (prolin, glisin, hidroksprolin). Sebenarnya, ada yang mempertanyakan apakah benar glisin itu bukan asam amino esensial (tidak mesti ada dalam makanan).20 Kalau seandainya ini benar, konsumsi kolagen tentu akan membantu tubuh membuat kolagen, tetapi sejauh ini, bukti ilmiah yang ada cukup lemah dan subjektif. Yang paling krusial, belum ada bukti ilmiah di anjing atau kucing.

Oh, terus bagaimana dengan rambut? Rambut dan kulit tersusun atas asam amino yang berbeda. Rambut tersusun atas asam amino sulfur metionin dan sistein. Jadi, pemberian kolagen tidak mungkin memberi efek langsung pada rambut, tetapi rambut yang sehat tentu perlu kulit yang sehat sebagai tempat bertautnya. Kolagen bisa bermanfaat untuk rambut hanya dengan menyehatkan kulit, tidak lebih.

Apakah ada risiko pemberian kolagen?
Kolagen sebenarnya aman, bahkan merupakan bagian makanan alami kucing dan anjing. Misalnya, setiap 100 gram daging sapi mengandung sekitar 4,3 gram kolagen.16 Namun, pertimbangkan ulang pemberian suplemen kalau kucing atau anjingmu pernah kena atau berisiko kena kencing batu (urolithiasis), terutama kalau batunya kalsium oksalat.

Batu kalsium oksalat (Joel MillsCC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Sebenarnya, kolagen dianggap protein kualitas rendah dalam makanan hewan. Kolagen berasal dari jaringan ikat, sementara yang kita mau adalah otot. Jaringan ikatlah yang membuat daging jadi alot. Terkait masalah kencing, yang jadi masalah adalah asam amino hidroksiprolin dalam kolagen. Hidroksiprolin yang tidak terpakai tubuh akan dimetabolisme menjadi glioksilat, yang kemudian akan diubah jadi oksalat di hati, lalu dibuang melalui urin. Pada berbagai spesies, termasuk manusia, tikus, dan babi, konsumsi hidroksiprolin terbukti menaikkan kandungan oksalat dalam urin.21 Hasil yang sama sudah diamati juga pada kucing.22–25

Oksalat adalah komponen pembentuk batu kalsium oksalat di urin. Menariknya, konsumsi oksalat atau kalsium dalam makanan justru tidak terlalu berpengaruh pada pembentukan batu kalsium oksalat.23 Yang berpengaruh justru hidroksiprolin ini. Makanya, saya tidak sarankan hewan yang sudah kena urolithiasis mengonsumsi banyak kolagen.

Penutup
Sebenarnya, saya tadinya mau bahas dosis, tapi setelah saya pikir, untuk apa juga bahas dosis kalau efektivitasnya belum meyakinkan. Kolagen adalah suplemen kesekian yang menurut saya mungkin bermanfaat, mungkin tidak, tetapi aman (kecuali kucingmu rawan urolithiasis), tapi kali ini saya condong ke tidak, apalagi untuk klaim-klaimnya yang offside. Mungkin kolagen UC-II ada manfaatnya, tapi masih perlu data yang tidak bias (dan manfaatnya hanya untuk osteoarthritis).

Trakhea sapi, salah satu sumber kolagen yang sering dijual sebagai camilan dan sumber kolagen (Shutterstock/natali.lymarenko)

Kalau kamu tetap ingin kasih kolagen ke kucing atau anjingmu, silakan saja. Daripada beli kolagen overpriced, cara yang lebih murah adalah kasih saja kikil, trakhea, kulit, atau tulang rawan (bukan tulang beneran!) ayam atau sapi. Semua itu kolagen, kok.

Referensi

1.        Gelse, K., Pöschl, E. & Aigner, T. Collagens – Structure, function, and biosynthesis. Adv. Drug Deliv. Rev. 55, 1531–1546 (2003).

2.        Patel, G. & Misra, A. Oral Delivery of Proteins and Peptides: Concepts and Applications. Challenges in Delivery of Therapeutic Genomics and Proteomics (Elsevier Inc., 2011). doi:10.1016/B978-0-12-384964-9.00010-4

3.        Miner-Williams, W. M., Stevens, B. R. & Moughan, P. J. Are intact peptides absorbed from the healthy gut in the adult human? Nutr. Res. Rev. 27, 308–329 (2014).

4.        Wang, L. et al. Bioavailability and Bioavailable Forms of Collagen after Oral Administration to Rats. J. Agric. Food Chem. 63, 3752–3756 (2015).

5.        Wang, L. et al. Determination of bioavailability and identification of collagen peptide in blood after oral ingestion of gelatin. J. Sci. Food Agric. 95, 2712–2717 (2015).

6.        Cunningham, R., Gruen, M. E., Thomson, A. & Lascelles, B. D. X. Evaluation of a nutritional supplement for the alleviation of pain associated with feline degenerative joint disease: a prospective, randomized, stratified, double-blind, placebo-controlled clinical trial. J. Feline Med. Surg. 1098612X211053484 (2021). doi:10.1177/1098612X211053484

7.        EFSA Panel on Dietetic Products, N. and A. (NDA). Scientific Opinion on the substantiation of a health claim related to collagen hydrolysate and maintenance of joints pursuant to Article 13(5) of Regulation (EC) No 1924/2006. EFSA J. 9, 1–11 (2011).

8.        Vandeweerd, J. M. et al. Systematic Review of Efficacy of Nutraceuticals to Alleviate Clinical Signs of Osteoarthritis. J. Vet. Intern. Med. 26, 448–456 (2012).

9.        Comblain, F., Serisier, S., Barthelemy, N., Balligand, M. & Henrotin, Y. Review of dietary supplements for the management of osteoarthritis in dogs in studies from 2004 to 2014. J. Vet. Pharmacol. Ther. 39, 1–15 (2016).

10.      Eckert, T. et al. Efficacy of chondroprotective food supplements based on collagen hydrolysate and compounds isolated from marine organisms. Mar. Drugs 19, (2021).

11.      Liu, X., Machado, G. C., Eyles, J. P., Ravi, V. & Hunter, D. J. Dietary supplements for treating osteoarthritis: A systematic review and meta-Analysis. Br. J. Sports Med. 52, 167–175 (2018).

12.      Lau, F. C. & Moshrefi, M. Collagen dispersion and method of producing same. (2014).

13.      Hasan, G., Cemal, O., Emre, S. & Kazim, S. Undenatured Type II Collagen ( UC-II ) in Joint Health. Animals 10, 1–24 (2020).

14.      Stabile, M. et al. Evaluation of the effects of undenatured type II collagen (UC-II) as compared to robenacoxib on the mobility impairment induced by osteoarthritis in dogs. Vet. Sci. 6, 1–11 (2019).

15.      Gupta, R. C. et al. Comparative therapeutic efficacy and safety of type-II collagen (uc-II), glucosamine and chondroitin in arthritic dogs: Pain evaluation by ground force plate. J. Anim. Physiol. Anim. Nutr. (Berl). 96, 770–777 (2012).

16.      Spiro, A. & Lockyer, S. Nutraceuticals and skin appearance: Is there any evidence to support this growing trend? Nutr. Bull. 43, 10–45 (2018).

17.      Leitinger, B. & Hohenester, E. Mammalian collagen receptors. Matrix Biol. 26, 146–155 (2007).

18.      Panel, E. & Nda, A. Scientific Opinion on the substantiation of a health claim related to VeriSol®P and a change in skin elasticity leading to an improvement in skin function pursuant to Article 13(5) of Regulation (EC) No 1924/2006. EFSA J. 11, 1–10 (2013).

19.      de Miranda, R. B., Weimer, P. & Rossi, R. C. Effects of hydrolyzed collagen supplementation on skin aging: a systematic review and meta-analysis. Int. J. Dermatol. 60, 1449–1461 (2021).

20.      Meléndez-Hevia, E., De Paz-Lugo, P., Cornish-Bowden, A. & Cárdenas, M. L. A weak link in metabolism: the metabolic capacity for glycine biosynthesis does not satisfy the need for collagen synthesis. J. Biosci. 34, 853–872 (2009).

21.      Chen, S. J. et al. Animal models for studying stone disease. Diagnostics 10, 1–12 (2020).

22.      Dijcker, J. C. et al. The effect of dietary hydroxyproline and dietary oxalate on urinary oxalate excretion in cats. J. Anim. Sci. 92, 577–584 (2014).

23.      Dijcker, J. C., Plantinga, E. A., Van Baal, J. & Hendriks, W. H. Influence of nutrition on feline calcium oxalate urolithiasis with emphasis on endogenous oxalate synthesis. Nutr. Res. Rev. 24, 96–110 (2011).

24.      Zentek, J. & Schulz, A. Urinary Composition of Cats Is Affected by the Source of Dietary Protein. J Nutr 2162-2165S (2004).

25.      Paßlack, N., Kohn, B., Doherr, M. G. & Zentek, J. Influence of protein concentration and quality in a canned diet on urine composition, apparent nutrient digestibility and energy supply in adult cats. BMC Vet. Res. 14, 1–12 (2018).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s