Saya sebetulnya bingung kalau mau bahas animal communication (ancom). Sebelumnya, ancom yang saya maksud adalah fenomena manusia berkomunikasi dengan hewan melalui alam bawah sadar, nonverbal, intuisi, dan semacamnya — intinya suatu jalur yang tidak bisa diamati dengan kelima indra, bukan ilmu perilaku hewan, komunikasi antarhewan, atau sains human-animal bond atau antrozoologi. Saya bingung karena begitu banyaknya metode dan aliran yang berbeda. Ada yang menggunakan intuisi; ada yang menggunakan gelombang otak. Ada yang bilang ancom bisa dipelajari semua orang; ada yang bilang ancom adalah gift untuk orang tertentu. Ada yang bilang ancom bisa dilakukan ke hewan yang sudah meninggal; ada yang bilang tidak bisa. Ada yang bilang ancom bisa membantu pengobatan; ada yang menegaskan ancom tidak bisa untuk diagnosis. Dan, saya tidak tahu apakah berbagai aliran ini saling mendukung, atau satu menganggap yang lain palsu.

Untuk itu, saya tidak mungkin membahas klaim dan praktik satu aliran secara spesifik. Saya juga tidak akan membahas apakah ancom aliran A sungguhan, atau apakah aliran B adalah ancom palsu. Saya cuma akan menyampaikan tinjauan filsafat sains dan apa yang kita ketahui mengenai sains kognitif hewan hingga saat ini (artinya, masih banyak ketidakpastian). Dari apa yang saya bahas, Andalah yang perlu membuat kesimpulan Anda sendiri.

Apakah animal communication saintifik?
Semua mahasiswa yang pernah mendapat pelajaran metode ilmiah pasti tahu konsep falsifiability (kalau tidak, saya agak bertanya-tanya). Prinsip ilmiah yang dicetuskan Karl Popper ini cukup menggetarkan paradigma sains pada masanya. Daripada membuktikan semua angsa di dunia ini berwarna putih dengan mengamati semua angsa, cukuplah kita mengamati satu angsa hitam (tidak putih) untuk membuktikan bahwa semua angsa berwarna putih itu salah. Semua angsa di dunia berwarna putih bisa dipatahkan (falsified) hanya dengan mengamati satu ekor angsa hitam. Falsifiability pun menjadi salah satu garis pemisah sains dan bukan sains (pseudosains). Pseudosains adalah teori atau kepercayaan yang diakui dan dikemas sedemikian rupa seperti “sains” padahal bertentangan dengan metode saintifik dan pengetahuan dasar. Contohnya, banyak teori awal psikoanalisis, terutama gagasan Sigmund Freud, tidak lagi dianggap karena tidak falsifiable.

Suatu teori atau konsep disebut falsifiable jika bisa dibantah dengan suatu pernyataan dari pengamatan yang bisa dilakukan dengan teknologi saat ini. “Bumi itu bulat” bisa dibantah jika satelit luar angkasa memfoto bumi, dan ternyata bentuknya kotak atau lempeng datar.

Ada kalanya suatu teori sebenarnya bisa dibantah (atau diuji), tetapi teknologi saat ini belum memungkinkan. Misalnya, anggaplah ini tahun 1850, dan saya bilang “Kita mempunyai materi genetik yang berbentuk double helix (DNA).” Teknologi tahun 1850 belum memungkinkan pengamatan bentuk DNA, tetapi sebenarnya teori tersebut bisa dibuktikan (dan memang terbukti satu abad kemudian). Teori seperti ini bukan sains karena tidak falsifiable saat itu, tetapi bukan juga pseudosains, karena tidak bertentangan dengan pengetahuan dasar yang sudah ada (masuk akal). Teori yang belum bisa dibuktikan ini disebut protosains.

Apakah animal communication sains, pseudosains, protosains, atau bukan sains?
Selain bisa difalsifikasi, suatu teori saintifik harus bisa diamati dan diuji, serta konsisten dengan sains yang ada hingga saat ini (misalnya, sekarang kita tahu bumi itu bulat dengan berbagai bukti kuat dari Magellan, Galileo, hingga NASA. Kalau ada yang bilang bumi ini datar, ya ngaco juga walaupun falsifiable). Bagaimana persisnya animal communication dilaksanakan? Kebanyakan yang saya lihat sih, dengan meditasi dan telepati. Telepati yang ribuan kilometer bermodal foto dan nama saja pun bisa. Ini memunculkan pertanyaan, apakah telepati saintifik? Apakah telepati bisa difalsifikasi, bisa diamati, bisa diuji, serta konsisten dengan sains? Saya tidak akan menjawab. Extrasensory perception dan fisika bukan keahlian saya, tapi saya kasih beberapa clue (1,2,3) untuk mencari jawaban.

Selain telepati, ada juga teknik ancom yang mengklaim menggunakan gelombang otak. Dengan teknologi neurosains saat ini, mungkinkan hal tersebut bisa dibuktikan dengan mudah? Jika terbukti, saya rasa temuan telepati ini bisa diterbitkan di jurnal sekelas Nature.

Hal lain yang cukup “mengganggu” saya adalah beberapa ancom yang sangat berpegang pada kepercayaan pemilik hewan. “Kalau tidak percaya, mending tidak usah pakai jasa ancom.” Kalau pemiliknya skeptis, ancom tidak bisa dilakukan. Saya tidak tahu ini karena takut disalahkan atau karena memang teknik ancom bergantung pada kepercayaan. Sepertinya keduanya sih, tergantung ancom yang mana. Sains tidak bergantung kepada kepercayaan siapa-siapa. Antibiotik akan membunuh bakteri biarpun pasien yang minum tidak percaya obat-obatan modern (selama hasil culture and sensitivitynya mendukung). Bola kalau dilepas akan jatuh ke bawah, biarpun yang menjatuhkan kaum bumi datar.

Nah, tentu saya paham kalau ancom tidak mengklaim 100% akurat, sama seperti ilmu kedokteran pun, tidak bisa 100% menyembuhkan. Namun, kedokteran punya metodenya sendiri (kalau tertarik baca lebih lanjut, klik) untuk memastikan terapi yang dikasih ini beneran ada manfaatnya atau tidak, yang tergantung prognosis yang dihasilkan dari riwayat dan kondisi pasien juga. Ada angka, gitu loh, kira-kira si Ucok ini berapa persen kemungkinan sembuh kalo dikasih terapi A, berapa persen kalo dikasih obat B.

Kalo ancom ini kan tujuannya bukan intervensi, walau ada juga yang sifatnya interventif, kayak nyuruh hewan hilang pulang. Kalau yang sekedar nanya atau nyari hewan, mungkin lebih cocok disejajarkan dengan alat diagnostik. Alat diagnostik kedokteran pun ada kemungkinan meleset: positif palsu, negatif palsu. Tapi, alat diagnostik kedokteran pasti ada nilai spesifisitas, sensitivitas, positive predictive value (PPV), negative predictive value (NPV). Jadi, kita bisa ancang-ancang mau seberapa percaya dan seberapa ragu sama hasilnya. Kalau nilainya di bawah 50%, sama saja alat tersebut cuma lempar koin, atau dengan kata lain, ga guna. Nah, kalau ancom, saya belum pernah ketemu yang pasang Se, Sp, PPV, NPV di rate cardnya. Jadi bingung juga kalau mau percaya. Logikanya, semakin mahal dan berpengalaman seorang ancom, Se dan Spnya makin tinggi sih, ya. Sekalian, kita bisa membandingkan berbagai aliran ancom, nih, kira-kira mana yang lebih tokcer.

Saya tidak dalam posisi untuk bilang ancom itu saintifik atau tidak. Tulisan ini hanya bertujuan memberi satu perspektif tambahan tentang ancom. Seperti saya bilang, kesimpulannya ada di Anda, selaku pemilik hewan, pengguna jasa ancom, atau orang iseng saja yang penasaran sama ancom.

Tulisan ini belum selesai. Berikutnya, saya akan membahas beberapa teori dalam perilaku dan kognisi hewan, serta kaitannya dengan ancom (dan beberapa hasil ancom yang sudah saya kumpulkan).

2 thoughts on “Animal Communication: Saintifik atau Tidak?

  1. Nyuyu, artikelnya bagus banget! Semoga sehat selalu ya dan terus bisa nulis tulisan-tulisan lain yang “rich” (hehe bingung ngegambarinnya pakai kata apa, tapi tulisan ini isinya banyak banget dan sangat bermanfaat, bahkan ngebenerin jalan pikir orang hehe), tapi tetep fun buat dibaca!

    Like

Leave a Reply to Rini Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s