Saya sudah bahas keilmiahan animal communicator melalui beberapa aspek fundamental sains. Kali ini, anggaplah ancom betul-betul ilmiah, maka tidak mungkin ancom bertentangan dengan pengetahuan kita soal perilaku dan kognisi hewan yang sudah kita ketahui (terima kasih, peneliti!). Seandainya pun hewan dapat berkomunikasi dengan manusia dua arah, sebagaimana dipahami oleh ancom, hewan tetaplah hewan. Perilaku dan kemampuan berpikir mereka sangat berbeda dari manusia. Demikian pula, satu hewan tentu berbeda dengan hewan lain. Saya curiga ada banyak ancom yang jatuh ke dalam perangkap antropomorfisme dan melupakan fakta ini.

Seperti sebelumnya, saya tidak mungkin bicara untuk semua aliran ancom, Namun, jika ada ancom yang hasil komunikasinya tidak sesuai pengetahuan ini, kita patut curiga pada keabsahan hasil komunikasi individu tersebut, atau bahkan ilmu ancomnya.

1) Hewan tidak bisa bicara dalam bahasa manusia. Hewan apapun tidak bisa mempelajari bahasa. Jadi, ancom yang mengaku bisa ngobrol dengan hewan dalam bahasa manusia adalah palsu.

Saya pernah belajar linguistik saat saya SMA. Pas itu, memang saya ingin melanjutkan pendidikan di bidang tersebut, tapi akhirnya saya nyasar ke kedokteran hewan. Saya ingat salah satu hal pertama yang saya pelajari. Apa saja syarat suatu bahasa dikatakan bahasa? Displacement, discrete infinity, joint attention.

Displacement artinya bisa menjelaskan benda atau konsep yang tidak ada di tempat dan tidak bisa dirasakan indra pada saat itu. Kalau saya menunjuk laptop yang saya gunakan untuk mengetik saat ini, itu bukan displacement. Kalau saya bercerita tentang toko buku di Singapura yang pernah saya kunjungi, barulah kriteria displacement terpenuhi, karena toko buku tersebut tidak ada di sini, bersama saya dan kamu. Saya sedang menceritakan sesuatu yang hanya bisa dibayangkan dalam pikiran. Discrete infinity artinya bisa mengekspresikan ide yang tidak terbatas dari suatu set yang terbatas. Bahasa Indonesia dan Inggris hanya punya 26 huruf dalam alfabet, tetapi dari 26 huruf yang discrete tersebut, ada banyak sekali kata yang bisa tersusun. Dari kata yang sedemikian banyak itu, entah berapa banyak kalimat, paragraf, atau tulisan yang sudah pernah dan masih bisa diciptakan. Jumlahnya infinite. Joint attention artinya dua individu bisa memusatkan fokus pada hal yang sama. Misalnya, saya ketemu anak kucing, lalu memanggil kamu dan bilang “Sini, lihat.” Kamu akan datang dan melihat anak kucing tersebut dengan saya. Mungkin, setelah itu kita akan membicarakan ke mana induknya, dan apakah dia sakit. Intinya, pembicaraan saya dan kamu akan terfokus pada si anak kucing.

Ketiga syarat ini membedakan bahasa dengan komunikasi semata. Jika mengacu pada ketiga syarat, hanya manusialah satu-satunya makhluk hidup yang bisa berbahasa. Hewan, bahkan tumbuhan, tentu bisa berkomunikasi. Bahkan, cara komunikasi mereka bisa saja memenuhi syarat tersebut, tetapi tidak semuanya. Kalau saya meninggalkan sesendok gula di meja, kemungkinan besar salah satu semut yang numpang di rumah saya akan menemukannya. Kemudian, dia akan kembali ke sarangnya dan memberitahu sanak semutnya untuk datang dan mengangkut gula tersebut ke sarang mereka. Bagaimana si semut pertama bisa memberitahu ada gula di suatu meja di luar sana? Saya tidak tahu, tapi ini adalah contoh displacement. Banyak hewan juga punya kemampuan joint attention, khususnya hewan yang sudah terdomestikasi. Kalau saya menunjuk ke suatu tempat dengan jari, pandangan anjing saya akan mengikuti jari saya, walau sebenarnya tidak ada apa-apa di sana.

Secara alami, tidak ada hewan yang berhasil mengembangkan bahasa. Beberapa peneliti pernah mencoba mengajari hewan seperti simpanse, burung, dan lumba-lumba, tetapi tidak pernah ada yang berhasil membuat hewan berbahasa secara fungsional. Bahasa di sini mencakup bahasa isyarat, jadi ketidakmampuan hewan untuk berbicara seperti manusia bukanlah suatu kendala untuk primata. Jadi, masalahnya bukan di kemampuan bicara, tetapi kemampuan berpikir. Saya tahu kebanyakan ancom bilang mereka bukan ngobrol secara verbal, tapi menafsirkan getaran atau sensasi yang diberikan si hewan, tetapi hasil interpretasi yang saya lihat sepertinya sangat verbal. Bagaimana mengartikan ini, terserah pada pengguna jasa, tapi saya akan sangat curiga jika “interpretasi” si ancom menggambarkan hewan yang bisa berkomunikasi dengan displacement, discrete infinity, joint attention sekaligus.

2) Kemampuan self-awareness (persepsi diri) sangat beragam dalam kingdom Animalia. Jika hewan yang diketahui tidak punya self-awareness digambarkan demikian oleh ancom, maka ancom tersebut patut dicurigai (atau melaporkan hasil temuannya).

Mungkin, sebagai manusia, kita menganggap kemampuan mengenali diri adalah hal yang sangat wajar. Jika saya melihat diri di cermin, saya akan langsung mengenali bahwa sosok tersebut adalah saya sendiri. Manusia tidak selalu punya kemampuan ini. Bayi tidak punya self-awareness hingga usia kurang lebih 18 bulan. Sebelum itu, palingan mereka menganggap sosok di cermin adalah orang lain. Bahkan, kalau kita mundur lagi, ketika baru lahir, manusia tidak sadar akan anggota tubuh miliknya sendiri. Saya rasa teman-teman yang belajar psikologi lebih paham soal ini.

Mengetahui ini, rasanya kita tidak bisa berasumsi bahwa hewan punya self-awareness. Kita harus menguji satu per satu: hewan mana yang punya dan mana yang tidak. Cara yang paling umum digunakan adalah tes cermin. Ada hewan yang sadar kalau yang ada di cermin adalah dirinya. Spesies hewan ini dikatakan lolos tes cermin dan bisa dianggap punya self-awareness. Ada hewan yang tidak lolos. Mereka tidak peduli atau menganggap yang di cermin itu hewan lain. Kucing dan anjing, hewan yang paling sering diancom, termasuk hewan yang tidak lolos.

Image by Aafke from Pixabay

Temuan ini tidak cukup untuk menyatakan kucing dan anjing tidak punya self-awareness. Anjing dan kucing lebih banyak mengandalkan penciuman dan pendengaran daripada penglihatan. Kalau mereka buta, mereka tidak akan semerana kita kalau buta. Karena itu, muncul kritik bahwa tes cermin tidak bisa digunakan untuk menilai self-awareness spesies-spesies ini. Ketika diujikan dengan metode berbeda, anjing bisa mengenali diri sendiri — bukan bayangannya di cermin, tetapi baunya sendiri jika dibandingkan bau anjing lain. Sebenarnya, ini belum bisa jadi bukti definitif akan self-awareness, tetapi kita jadi tahu bahwa kalaupun anjing dan kucing mampu mengenali diri sendiri, mereka tidak mengenali diri sendiri secara visual — mungkin melalui bau, tetapi bukan visual.

Lucunya, ada ancom yang bilang seekor kucing berterima kasih pada pemiliknya karena sudah diadopt biarpun wajah si kucing jelek. Aneh rasanya, hewan yang tidak peduli, bahkan tidak bisa mengenali dirinya sendiri di cermin, bisa merasa dirinya jelek. Dan, konon kan, cantik atau jelek itu relatif. Apa mungkin persepsi cantik-jelek kucing sama dengan manusia?

Pentingnya self-awareness tidak berhenti di sini. Memiliki self-awareness adalah syarat makhluk hidup dapat:

  1. memiliki emosi dengan membayangkan kejadian yang melibatkan dirinya;
  2. bereaksi terhadap gambaran diri sendiri dalam pikirannya;
  3. memikirkan sebab munculnya emosi secara sadar;
  4. merasakan emosi dengan memikirkan bagaimana individu lain melihat dirinya; dan
  5. mengontrol emosi dengan sadar dan sengaja.

Ini akan menjadi relevan pada poin berikutnya, yaitu

3) Kebanyakan hewan sentient memiliki emosi primer, tetapi tidak memiliki emosi sekunder. Tentu ada pengecualian untuk ini karena tidak semua hewan punya kapasitas emosional yang sama, tetapi sampai saat ini, belum ada bukti definitif akan adanya emosi sekunder pada hewan. Jadi, ancom yang sering menggambarkan hewan dengan emosi sekunder patut dicurigai.

(Lebih bagusnya, ancom tersebut melaporkan temuannya ke peneliti perilaku dan kognisi hewan yang susah payah menjawab pertanyaan ini.)

Menurut APA Dictionary of Psychology, emosi sekunder adalah emosi yang tidak dianggap atau diwujudkan secara universal dalam semua budaya atau membutuhkan pengalaman sosial untuk mewujudkannya. Bisa dikatakan juga, emosi sekunder adalah reaksi terhadap emosi primer. Yang termasuk emosi sekunder antara lain rasa iri, bangga, frustrasi, cemburu, bersalah, empati, malu, dan duka. Sebaliknya, emosi primer adalah emosi yang universal. Emosi primer mencakup rasa takut, marah, senang, sedih, jijik, terkejut, penasaran, cemas, dan tertarik. Tampaknya, universalitas emosi primer juga mencakup banyak spesies hewan, tetapi bagaimana dengan emosi sekunder?

Memiliki sense of self adalah syarat merasakan emosi sekunder, sesuatu yang juga masih diperdebatkan keberadaannya pada hewan. Kebanyakan pemilik hewan (anjing dan kuda mengklaim hewan peliharaan mereka bisa merasakan emosi sekunder. Namun, keberadaan emosi sekunder pada hewan masih diragukan, dan kalaupun ada,

  1. Tidak semua spesies hewan dapat merasakan emosi sekunder. Kalau satu spesies hewan bisa, belum tentu yang lain bisa. Contohnya, anjing menghindari orang yang bersikap negatif pada pemiliknya, tetapi kucing tidak, dan
  2. Jika satu spesies bisa merasakan satu emosi sekunder, belum tentu dia dapat merasakan emosi sekunder lainnya.

Poin kedua ini menuntut bahasan yang lebih panjang. Anjing diketahui bisa menunjukkan perilaku cemburu jika pemiliknya memberi perhatian lebih pada “anjing” lain (walaupun ada kontroversi juga soal ini). Kalau Anda bertanya, belum ada penelitian serupa di kucing, jadi kita tidak tahu. Anjing juga bisa merasakan inequity aversion (rasa tidak suka jika diberi perlakuan yang tidak setara), yang mungkin bisa ditarik hubungannya dengan rasa iri (walau agak maksa), tetapi diduga perasaan inequity aversion manusia dan anjing berbeda, jadi tetap tidak bisa ditilik dengan perspektif manusia. Lagi-lagi, belum ada penelitian di kucing.

Sebaliknya, bukti ilmiah saat ini tidak mendukung adanya rasa bersalah pada anjing. Tampang bersalah yang sering diamati pemilik sebenarnya adalah tampang habis dimarahi. Selain itu, publik beranggapan anjing dapat mengalami duka jika ditinggal mati manusia atau teman sespesiesnya. Belum ada bukti ilmiah mengenai ini (tapi kalau anekdotal banyak). Sebelum bicara duka, kita perlu tahu apakah 1) hewan dapat memahami konsep kematian yang permanen, dan 2) kematian memunculkan emosi duka.

Walaupun beberapa hewan mungkin dapat memahami kematian (berhentinya fungsi kehidupan yang tidak dapat dikembalikan), pemahaman ini hanya dapat timbul melalui pengalaman menyaksikan kematian berkali-kali. Pada manusia pun, kesadaran ini baru muncul di usia 4 sampai 5 tahun. Keberadaan emosi duka pada hewan masih diperdebatkan, tetapi beberapa ahli antrozoologi dan perilaku hewan tampaknya kurang setuju bahwa hewan (khususnya anjing) dapat merasakan duka setelah ditinggal mati. Perilaku mencari pemilik yang sudah tiada mungkin disebabkan baunya yang masih ada di rumah.

Di atas, saya bicara soal anjing, hewan yang sudah sangat lama terdomestikasi dan hidup bersama manusia. Jika keberadaan emosi sekunder pada anjing saja masih sangat ambigu, kita tidak bisa berharap banyak pada spesies “di bawah” anjing. Jika spesies-spesies tersebut digambarkan suka cemburu, malu, bangga, merasa bersalah, keabsahan hasil komunikasi ancom patut dipertanyakan. Bahkan,

4) Hewan memiliki persepsi indra yang berbeda dengan manusia. Jika ancom menggambarkan persepsi hewan sebagaimana manusia (dan bertentangan dengan persepsi hewan tersebut), maka ancom tersebut patut dicurigai.

Masih berhubungan dengan bahasan self-awareness tadi. Kucing dan anjing adalah makhluk “pembau”, bukan “pelihat”. Jika mereka menceritakan sesuatu pada manusia, harusnya cerita dari sudut pandang mereka lebih mengandalkan indra penciuman dan pendengaran daripada penglihatan, tapi seringkali yang terjadi sebaliknya. Kalau manusia malah menafsirkan perspektif bau-sentris tersebut menjadi lihat-sentris, timbul pertanyaan: apakah hasil ancom tersebut murni dari hewan tersebut atau tercampur pikiran manusia ancom?

Spektrum warna manusia
Spektrum warna anjing (https://dog-vision.andraspeter.com/#Neitz)

Bukan itu saja. Anjing dan kucing memang bisa melihat warna, tetapi penglihatan normal mereka mirip orang dengan buta warna parsial. Mereka tidak bisa melihat warna merah dan hijau. Dengan begitu, ancom yang bilang hewannya mendeskripsikan warna hijau atau merah (misal perabotan atau baju di rumah) patut dicurigai. Tentu, hewan lain punya spektrum warna berbeda, tetapi saya cuma bahas anjing dan kucing saat ini.

5) Pelukan adalah perilaku alami primata, termasuk manusia, dalam menunjukkan rasa sayang, tetapi bukan perilaku alami hewan lain. Karena itu, wajar jika hewan lain tidak suka dipeluk. Ancom yang memberi penjelasan lain, apalagi yang sering bilang hewannya minta dipeluk, patut dicurigai.

Sejujurnya, saya belum menemukan penelitian sungguhan soal kucing atau anjing yang tidak suka dipeluk. Hanya ada data pada anjing, tetapi data tersebut bukan penelitian sungguhan. Namun, saya tidak heran kalau data tersebut benar karena pelukan memang bukan perilaku alami anjing dan kucing dalam menunjukkan afeksi. Kalau hewan sedang stres, pelukan malah bisa bikin tambah stres karena hewan kehilangan kendali atas dirinya sendiri (untuk kabur).

Lucunya, saya pernah ketemu ancom yang bilang kucing kliennya suka dipeluk. Antara ancom tersebut ngaco atau memang kucing tersebut unik. Dalam kasus ini, mungkin kucingnya memang unik, tapi kalau ancomnya sering bilang kucing minta dipeluk, ya agak aneh juga. Terus, ada ancom lain yang dititipi pertanyaan kenapa kucing kliennya tidak suka dipeluk dan dielus. Jawabannya cukup aneh buat saya: karena kayak anak kecil. Ibu kucing juga tidak memanjakan anaknya dengan pelukan. Apa kucing tersebut sudah sangat terbiasa dengan manusia ya, sampai ikut-ikutan cara berbagi afeksi manusia? Kucing dan anjing tidak suka dipeluk karena mereka anjing dan kucing. Sederhana sekali, padahal.

6) Kebanyakan hewan tidak punya kemampuan relational thinking, termasuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat. Ancom yang membuat pernyataan sebab-akibat kompleks patut dicurigai.

Sejauh ini, hanya beberapa hewan yang diketahui mampu berpikir relasional: kakaktua, lumba-lumba, dan primata — itupun tidak semua. Berpikir relasional di sini maksudnya menyimpulkan apakah benda sama atau berbeda, serta berpikir analogis dan menyimpulkan hubungan antarbenda. Kalau bingung, kira-kira kayak TPA atau tes IQ verbal.

Menyimpulkan hubungan sebab-akibat juga termasuk relational-thinking. Kebanyakan hewan, termasuk kucing, tampaknya tidak punya kemampuan ini. Karena itu, aneh kalau ada hewan yang bisa menyimpulkan hubungan sebab-akibat kompleks, misalnya “Sakit sih dikasih obat, tapi gapapa demi kesembuhan aku.” Hebat dan aneh sekali kalau kucing, yang bahkan tidak bisa menyimpulkan hubungan sebab-akibat fisik (klik tulisan termasuk kucing), bisa menyimpulkan hubungan makan obat dan kesembuhan.

Perkara sebab-akibat ini juga alasan tidak disarankannya penggunaan hukuman dalam melatih hewan. Kalau jarak perilaku si hewan dan hukuman (atau reward) sangat dekat (kurang dari 2 detik), hewan bisa terlatih melalui mekanisme operant conditioning. Namun, kalau jarak perilaku si hewan dan hukuman lebih dari itu, mereka akan bingung kenapa “dihukum” oleh pemiliknya. Ya, karena mereka tidak bisa menghubungkan perilaku “salah” mereka dengan “hukuman”. Hukuman malah bisa merusak hubungan hewan dengan pemiliknya. Karena itu,

7) Ancom yang bilang hewannya merasa dihukum, atau malah minta dihukum, patut dicurigai.

Serius, saya pernah ketemu ancom yang bilang kucing kliennya bilang “Sekali-kali (aku) dimarahin gapapa”.

8) Setiap spesies punya ukuran otak dan encephalization quotient yang berbeda. Karena itu, kapasitas berpikir tiap spesies juga berbeda, bahkan sangat drastis. Ancom yang menyamakan kapasitas berpikir tiap spesies hewan patut dicurigai.

Karena saya sudah capek bikin daftar premis, setelah ini saya mau bahas beberapa pernyataan nyeleneh yang saya dapat dari beberapa ancom saja.

“(Aku makan) makanan saudaraku karena mubazir dibiarin, nanti basi, buang-buang duit.”
Saya sampai bingung mau ngomong apa. Apa iya kucing bisa paham bahwa makanan bisa mubazir, makanan bisa basi jika dibiarkan, dan paling aneh, konsep duit? Manusia zaman dulu saja tahunya cuma barter barang.

Kucing terharu berkaca-kaca.
Saya rasa kucing tidak bisa terharu ya, tapi yang lebih aneh berkaca-kacanya itu, loh. Kayaknya, kalaupun kucing bisa terharu, tidak akan diwujudkan dengan mata berkaca-kaca. Ekspresi manusia dan hewan jelas beda. Kecuali, mungkin ancomnya komunikasi sama kucing sambil bayangin muka manusia. Aneh.

Kucing mendeskripsikan rumah lama atau masa lalunya sebelum diadopsi.
Apakah hewan punya memori episodik dan bisa membayangkan masa lalu dan masa depan? Ini masih diperdebatkan dan diteliti pada beberapa spesies, tetapi kucing dan anjing belum kebagian. Kalau ancom membuktikan kucing bisa mengingat masa lalunya dengan sedemikian jelas, ini breakthough saintifik yang luar biasa sekali.

“Aku dulu pernah sakit virus clamhydia (sic.)”
Pernyataan ini punya masalah yang sama dengan pernyataan di atas, tapi yang lebih aneh, si kucing bisa tahu kena penyakit apa. Saya saja, kalau sakit, tidak tahu sakit apa kalau tidak diperiksa dengan alat diagnostik penunjang, padahal saya manusia yang punya pendidikan kedokteran. Kalau hewan kena penyakit infeksius, saya bisa menebak berdasarkan gejalanya, tapi tetap perlu kultur dan/atau pemeriksaan molekuler untuk memastikan.

“Ga mau disteril, tapi gapapa deh demi kebaikan.”
Kucing ini bukan cuma bisa berpikir kausal (sebab-akibat) dan episodik (membayangkan masa depan), tetapi juga punya pengendalian diri yang luar biasa. Dia bisa menunda gratifikasi untuk reward di masa depan. Kalau berdasarkan penelitian psikologi, kucing ini kemungkinan akan sukses di masa depan ☺️.

“Aku masih flu, kayaknya faktor cuaca”
Kucing ini mungkin pernah mengambil kelas epidemiologi, sehingga ia dapat menyimpulkan faktor risiko flu yang dideritanya. Oh iya, FYI untuk kucing, cuaca dingin tidak menyebabkan flu, tetapi bisa memperbesar risiko flu karena 1) perilaku manusia yang lebih suka berdekat-dekatan dalam ruangan saat cuaca dingin, dan 2) virus lebih tahan di cuaca dingin daripada cuaca panas.

Kucing marah karena disteril merebut haknya.
Saya saja baru belajar konsep hak dan kewajiban saat kelas 2 SD. Hebat juga kucing ini tidak sekolah, tapi bisa paham konsep hak. Saya juga punya pesan untuk kucing: Kamu bicara hak, tetapi memangnya kewajibanmu apa? Hakmu akan terpenuhi kalau kamu memenuhi kewajibanmu.

Akhirul kalam, memang banyak ketidakpastian dalam daftar ini. Sayangnya, kita hidup di awal abad 21. Ilmu soal kognisi hewan dan komunikasi manusia-hewan belum semaju abad 30. Namun, semoga saja ilmu terbatas abad 21 ini bisa menghindarkan kita semua dari ancom yang fishy. Maksud saya, ancom yang mencurigakan. Bukan ancom yang bisa ngomong dengan ikan.

Ketahui juga bahwa hewan bukan manusia. Jangan sampai kehendak kita memahami hewan malah menjerumuskan kita ke dalam antropomorfisme. Antropomorfisme tidak selalu buruk, tetapi bisa jadi buruk ketika kita mengaplikasikan standar manusia pada hewan dan mulai menaruh ekspektasi manusiawi pada hewan.

Referensi

Arahori, Minori, Hika Kuroshima, Yusuke Hori, Saho Takagi, Hitomi Chijiiwa, and Kazuo Fujita. 2017. “Owners’ View of Their Pets’ Emotions, Intellect, and Mutual Relationship: Cats and Dogs Compared.” Behavioural Processes 141:316–21.

Bastos, Amalia P. M., Patrick D. Neilands, Rebecca S. Hassall, Byung C. Lim, and Alex H. Taylor. 2021. “Dogs Mentally Represent Jealousy-Inducing Social Interactions.” Psychological Science 32(5):646–54.

Bradshaw, John. 2018. “Normal Feline Behaviour: … and Why Problem Behaviours Develop.” Journal of Feline Medicine and Surgery 20(5):411–21.

Chijiiwa, Hitomi, Hika Kuroshima, Yusuke Hori, James R. Anderson, and Kazuo Fujita. 2015. “Dogs Avoid People Who Behave Negatively to Their Owner: Third-Party Affective Evaluation.” Animal Behaviour 106:123–27.

Chijiiwa, Hitomi, Saho Takagi, Minori Arahori, James R. Anderson, Kazuo Fujita, and Hika Kuroshima. 2021. “Cats (Felis Catus) Show No Avoidance of People Who Behave Negatively to Their Owner.” Animal Behavior and Cognition 8(1):23–35.

Cook, Peter, Ashley Prichard, Mark Spivak, and Gregory S. Berns. 2018. “Jealousy in Dogs? Evidence from Brain Imaging.” Animal Sentience 3(22).

Hopkin, Michael. 2007. “Monkeys Hug It out to Avoid Fights.” Nature 0041(February):70219.

Horowitz, Alexandra. 2009. “Disambiguating the ‘Guilty Look’: Salient Prompts to a Familiar Dog Behaviour.” Behavioural Processes 81(3):447–52.

Horowitz, Alexandra. 2017. “Smelling Themselves: Dogs Investigate Their Own Odours Longer When Modified in an ‘Olfactory Mirror’ Test.” Behavioural Processes 143(July):17–24.

Leary, Mark R. 2003. “The Self and Emotion: The Role of Self-Reflection in the Generation and Regulation of Affective Experience.” Pp. 773–86 in Handbook of affective sciences., Series in affective science. New York,  NY,  US: Oxford University Press.

McGetrick, Jim and Friederike Range. 2018. “Inequity Aversion in Dogs: A Review.” Learning and Behavior 46(4):479–500.

McGrath, N., J. Walker, D. Nilsson, and C. Phillips. 2013. “Public Attitudes towards Grief in Animals.” Animal Welfare 22(1):33–47.

Morris, Paul, Christine Doe, and Emma Godsell. 2008. “Secondary Emotions in Non-Primate Species? Behavioural Reports and Subjective Claims by Animal Owners.” Cognition and Emotion 22(1):3–20.

Paul, Elizabeth S., Anna Moore, Pippa McAinsh, Emma Symonds, Sandra McCune, and John W. S. Bradshaw. 2014. “Sociality Motivation and Anthropomorphic Thinking about Pets.” Anthrozoos 27(4):499–512.

Range, Friederike, Lisa Horn, Zsófia Viranyi, and Ludwig Huber. 2009. “The Absence of Reward Induces Inequity Aversion in Dogs.” Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 106(1):340–45.

Roberts, William A. and Miranda C. Feeney. 2009. “The Comparative Study of Mental Time Travel.” Trends in Cognitive Sciences 13(6):271–77.

Suddendorf, Thomas and Michael C. Corballis. 2007. “The Evolution of Foresight: What Is Mental Time Travel, and Is It Unique to Humans?” Behavioral and Brain Sciences 30(3):299–351.

Vitale Shreve, Kristyn R. and Monique A. R. Udell. 2015. “What’s inside Your Cat’s Head? A Review of Cat (Felis Silvestris Catus) Cognition Research Past, Present and Future.” Animal Cognition 18(6):1195–1206.

Walker, J. K., N. McGrath, I. G. Handel, N. K. Waran, and C. J. C. Phillips. 2014. “Does Owning a Companion Animal Influence the Belief That Animals Experience Emotions Such as Grief?” Animal Welfare 23(1):71–79.

One thought on “Animal Communicator dan Ilmu Kognisi Hewan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s