Pada beberapa spesies hewan, induk secara alami “menggendong” dan memindahkan anaknya dengan menggigit kulit bagian tengkuk, atau sering disebut scruffing. Kucing termasuk spesies yang berperilaku demikian. Ternyata, bukan cuma bayi kucing yang sering dipindahkan dengan scruffing. Kucing dewasa cuma demikian, tetapi bedanya, bukan induk kucing yang melakukannya, melainkan manusia, baik itu pemilik kucing, groomer, mas-mas pet shop, atau dokter hewan.

Berada di klinik hewan adalah situasi yang membuat stres bagi banyak hewan.1,2 Hewan yang stres tentu lebih susah diperiksa dan diobati, tetapi juga berpotensi melukai diri sendiri maupun manusia (dokter hewan, paramedis, atau pemiliknya).3 Untuk menghindari masalah ini, perlu cara untuk menghandle atau merestrain kucing.

Scruffing adalah cara handling yang kontroversial. Biarpun banyak yang mempraktikkannya, banyak juga yang tidak setuju dan menganggap scruffing menyakiti si kucing karena berbagai alasan. Selain scruffing manual dengan tangan, ada juga metode menggunakan jepitan atau clip (clipnosis, clipthesia) untuk menjepit tengkuk kucing.4,5 Namun, kita tidak bisa berpatokan seribu alasan fafifuwasweswos. Kita butuh bukti ilmiah. Nah, apa kata sains dan penelitian soal scruffing di kucing? Disclaimer dulu, bahwa hasil penelitian dan pendapat ahli pun tidak satu suara. Ada yang menentang sama sekali, ada yang memperbolehkan hanya dalam situasi mendesak, ada yang menganggap tidak apa-apa menggunakan scruffing secara rutin.6,7

Ketika saya membahas scruffing, saya juga membicarakan penggunaan clip untuk menjepit tengkuk kucing. Penggunaan scruffing manual maupun clip bukan semata untuk memindahkan kucing, tetapi untuk “menjinakkan” atau menenangkan kucing selama berada di meja dokter hewan. Tujuan utamanya memang menahan tubuh kucing agar kucing tidak bisa bergerak selama diobati, apalagi sampai melukai orang, tetapi selain menahan fisik, scruffing juga dilakukan untuk menghipnotis hewan.

Argumen untuk scruffing memang mengacu pada perilaku alami induk kucing membawa bayinya. Bayi hewan yang dibawa induknya dengan scruffing akan diam dan lumpuh sesaat. Tubuh dan ekor si bayi akan berposisi meringkuk. Bayi hewan juga tampaknya terbius sementara, tidak bisa merasa sakit.8 Tampaknya, ini juga terjadi pada kucing dewasa. Fenomena ini disebut dorsal immobility atau pinch-induced behavioral inhibition (PIBI).5 Memang, beberapa penelitian pada kucing yang dibuat mengalami PIBI menunjukkan respon yang cukup bagus4,5,8 dalam artian lebih mudah dihandle, tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pemasangan clip pada tengkuk kucing dalam clipnosis (sumber: Pozza et al.,2008 (5))
Posisi kucing dalam clipnosis: diam, meringkuk dengan ekor membengkok ke dalam (sumber: Pozza et al.,2008 (5))

Pertama, penelitian soal PIBI ini kebanyakan menggunakan clip, bahkan menunjukkan kalau scruffing dengan clip lebih baik daripada scruffing dengan tangan.4,5,8,9 Lebih baik di sini maksudnya lebih sering berhasil menghipnotis kucing (kucingnya jadi diam) dan tidak membuat stres (ditandai dengan denyut jantung dan ukuran pupil). Dalam penelitian Nuti et al. (2016), hanya 40 persen kucing yang terhipnotis jika discruffing manual. Sementara, penggunaan clip dapat menghipnotis lebih dari 80 persen kucing.4 Jadi, penelitian di atas sebenarnya bukan dukungan terhadap scruffing manual.

Kedua, tidak semua kucing mempan dihipnotis dengan clip, apalagi dengan scruffing manual. Misalnya, dalam satu penelitian, clip dapat memengaruhi 92 persen kucing,5 sementara dalam penelitian lain, hanya 67 persen kucing yang terhipnotis.9 Kenapa ada kucing yang mempan diclip dan ada yang tidak? Belum ada yang tahu jawabannya. Usia bisa jadi salah satu, tetapi bukan satu-satunya faktor. Ada penelitian yang menemukan bahwa semua kucing di bawah 6 bulan berhasil dihipnotis dengan clip, tetapi clip hanya mempan pada 53 persen kucing di atas 6 tahun.8 Mengingat dorsal immobility adalah sifat bawaan bayi, masuk akal kalau sifat ini akan berkurang seiring bertambahnya usia kucing.

Ketiga, apakah kita bisa berasumsi bahwa kucing yang diam karena discruffing atau diclip betul-betul diam karena tenang? Kita mengenal reaksi flee or flight, kabur atau baku hantam, saat seekor hewan (atau manusia) dalam kondisi terancam, tetapi sebenarnya ada juga reaksi freeze – membeku, diam, tidak ngapa-ngapain, tapi masih bereaksi pada lingkungan sekitar. Kalau naik level lagi, hewan atau manusia bisa mengalami tonic immobility atau haduh diem pura-pura mati aja, deh. Rusa yang sedang diterkam singa atau manusia yang sedang mengalami kekerasan seksual hingga ketakutan setengah mati bisa mengalami ini. Beberapa hewan kecil, seperti kelinci dan tikus, akan mengalami tonic immobility kalau dibaringkan di punggung. Cara ini dulu sering dipakai untuk menenangkan hewan-hewan tersebut, tetapi sejak banyak yang sadar kalau sebenarnya itu respon tonic immobility, cara ini sudah dianggap haram.10 Diam saat mengalami kekerasan bukan karena senang, tetapi memang itu reaksi ketakutan luar biasa sambil berharap si predator tidak tertarik kalau calon korbannya (pura-pura) mati. Tubuh yang mengalami tonic immobility dapat mengalami penurunan suhu, denyut jantung, pernapasan, dan kelemahan otot, agak berbeda dengan respon stres biasa, bahkan lebih bahaya karena bisa menyebabkan kematian.11 Jadi, ketakutan setengah mati itu beneran bisa terjadi. Kalau stres biasa, malahan jantung berbebar-debar dan ingin kabur. Pada manusia, mengalami tonic immobility bisa mempersulit proses pemulihan dari pengalaman traumatis.12

Mencit yang discruffing dan mengalami tonic immobility (sumber: “Scruffed” by Snake3yes, CC BY 2.0)

Pertanyaannya, bagaimana dengan kucing yang discruffing atau diclipnosis? Apakah dorsal immobility bisa disamakan dengan tonic immobility?

Jika induk kucing secara alami membawa bayi kucing dengan scruffing, bukankah seharusnya dorsal immobility yang timbul saat scruffing aman dan tidak membuat stres? Toh, bayi kucing atau kucing dewasa menghasilkan reaksi terhipnotis yang sama. Kita harus terlebih dahulu menentukan apakah scruffing kucing bayi maupun dewasa adalah hal yang sama. Di satu sisi, bukti bahwa kucing kecil (kitten) lebih mudah dihipnotis dengan clip dibandingkan kucing dewasa8 menunjukkan adanya hubungan atau kelanjutan dari dorsal immobility kucing bayi dan dewasa.

“I Said Playtime Is Over !!” by Sensual Shadows Photography, CC BY-NC 2.0

Di sisi lain, ada peneliti yang tidak setuju jika dorsal immobility hewan dewasa disamakan dengan respon scruffing bayi hewan.13 Menurut mereka, walaupun posturnya mirip, respon scruffing bayi hewan yang dibawa induknya (maternal transport response) sebenarnya berbeda dengan dorsal immobility hewan dewasa. Pertama, saat mengangkat bayi, induk hewan menggunakan tenaga secukupnya, yang penting bayinya terangkat, sementara scruffing hewan dewasa dengan tenaga yang cukup kuat, mengingat perbedaan bobot hewan dewasa dan bayi hewan. Kedua, daerah kaki belakang bayi hewan yang diangkat ibunya fleksibel dan mudah digerakkan, berbeda dengan kaki hewan dalam dorsal immobility yang cenderung kaku. Ketiga, mata bayi hewan tertutup, sementara mata hewan dewasa dalam dorsal immobility terbuka. Ketika mata bayi hewan mulai membuka, respon transpor mereka juga mulai hilang. Tentu, penelitian yang dilakukan di mencit ini belum tentu bisa dianggap akan sama dengan yang terjadi di kucing.

Saya berhenti dulu, deh, ngomongin tonic immobility dan dorsal immobility di bayi mencit. Kita balik lagi ke scruffing kucing. Tadi, kan, saya sudah cerita soal penelitian yang mendukung scruffing dengan clip (clipnosis).4,5,8,9 Sekarang, gantian saya bahas argumen dan penelitian di kucing yang tidak mendukung scruffing.

Ada banyak alasan untuk menolak scruffing.14 Secara alami, kucing digigit tengkuknya bukan cuma ketika dibawa induknya saat masih bayi, tetapi juga ketika dikawini (kalau betina), bertengkar, atau dimangsa predator lain, seperti anjing. Kondisi-kondisi terkait scruffing alami ini membuat stres bagi kucing, sehingga tidak menutup kemungkinan scruffing itu sendiri memicu respon stres kucing. Selain itu, struktur dan bobot tubuh kucing bayi dan dewasa tentu berbeda. Kita tidak bisa menyimpulkan cara membawa bayi yang masih ringan dan anatominya lebih lentur tersebut bisa digunakan dengan aman pada kucing dewasa. Banyak juga kucing yang tidak terhipnotis oleh scruffing, bahkan ada yang panik dan memberontak karena dikekang. Ini bisa membuat kucing tersebut trauma pada klinik, dokter hewan, dan orang yang memegangnya.

Kucing yang sedang kawin juga menggigit tengkuk (sumber: “File:Cats having sex in Israel.jpg” by David Shankbone, CC BY-SA 3.0)

Ada penelitian di tahun 2019 yang membandingkan respon kucing terhadap berbagai cara handling.15 Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang cuma membandingkan scruffing manual atau clip (yang intinya sama-sama discruffing, cuma beda alatnya), penelitian ini membandingkan scruffing manual, clip, handling pasif, dan handling seluruh tubuh. Handling pasif maksudnya kucing hanya dipegang seadanya. Malah, kucingnya lebih cocok disebut disentuh daripada dipegang. Posisi tubuh mau duduk, berdiri, atau goleran, terserah kucingnya. Handling seluruh tubuh maksudnya kucing dibaringkan di samping, sementara si handler memegang kaki depan dan belakangnya agar tidak bisa bergerak. Penelitian ini membandingkan perbedaan respon negatif (stres) kucing dengan berbagai metode handling tersebut dengan cara mengukur posisi telinga, perbesaran pupil mata, perilaku menjilat bibir, pernapasan, dan vokalisasi.

Hasilnya, handling pasif paling tidak bikin stres, sementara handling seluruh tubuh paling bikin stres. Di tengah-tengahnya ada scruffing manual dan clip, tetapi clip lebih bikin stres – bahkan hampir sama dengan handling seluruh tubuh – dibanding scruffing manual. Ini cukup mengejutkan karena penelitian-penelitian sebelumnya justru mendukung penggunaan clip dibanding scruffing manual.4,5,8,9 Kok bisa beda? Saya (dan para penelitinya) juga tidak tahu pasti, tapi memang ada beberapa perbedaan dalam prosedur penelitian. Misalnya, clip yang digunakan berbeda. Mungkin clip yang dipakai di penelitian 2019 ini lebih tidak nyaman dibanding penelitian sebelumnya. Kemudian, parameter yang diukur untuk menentukan keberhasilan handling juga berbeda. Penelitian sebelumnya lebih fokus mengukur kucingnya diam (terhipnotis) atau tidak, sementara penelitian 2019 ini fokus ke respon fisiologis yang menunjukkan kucingnya stres atau tidak. Yang mengukur stres pun menggunakan parameter denyut jantung tambah cepat atau tidak, yang sebenarnya kurang akurat untuk mengukur stres di kucing yang dihandling.16 Dan sebenarnya, stres yang menyebabkan tonic immobility cenderung membuat otot melemah dan denyut jantung melambat. Jadi, denyut jantung yang tidak cepat tidak bisa diartikan sebagai tidak stres.11

Poster scruff-free clinic dari ISFM (sumber: Facebook/ISFM)

Jadi, kesimpulannya, bolehkah scruffing atau jangan sama sekali? Jujur, saya juga tidak bisa jawab dengan pasti. Data penelitian yang ada masih sedikit sekali, bisa dihitung dengan satu tangan. Namun, rata-rata organisasi dan ahli sudah tidak menyarankan scruffing, dan kalaupun memperbolehkan, hanya dalam keadaan terpaksa.17,18 International Society of Feline Medicine (ISFM) sampai membuat kampanye untuk klinik hewan agar berhenti scruffing. Kalau pendapat saya pribadi, ya, lebih baik cari aman dengan tidak scruffing.

Handling Kucing yang Baik

Kalau tidak scruffing, bagaimana cara menghandle kucing agar tidak pecicilan dan marah-marah di klinik hewan (atau di tempat lain, ketika berinteraksi dengan kucing)? Ada beberapa prinsip yang bisa digunakan. Penggunaan prinsip ini dapat mengurangi perilaku agresif dan konflik oleh kucing.19

Pertama, biarkan kucing yang memegang kendali atas interaksi manusia dengan kucing. Jangan menyentuh atau membuat kontak mata dengan kucing. Jika kucing mau mendekat manusia, barulah manusia berespon. Jika tidak, jangan memaksa mendekati atau menyentuh kucing tersebut. Banyak kucing yang tidak suka disentuh atau dielus. Mau dielus pun, belum tentu kucing tersebut senang dan tidak terpaksa.20 Jika kucing mau dielus, selalu beri jeda setiap 3 sampai 5 detik. Kalau kucing tidak minta dielus lagi, berhenti mengelus (sebelum kena cakar!). Ketika di meja periksa pun, sebaiknya handling dilakukan seminimal mungkin. Kucing yang dihandle dengan kencang (seluruh tubuh) 8 kali lebih sering memberontak, dan setelah dilepas, 6 kali lebih mungkin melompat dari meja periksa, dibandingkan kucing yang dihandling secara pasif.16

Kedua, selalu perhatikan bahasa tubuh kucing agar tahu apa dia masih mau berinteraksi dengan manusia. Kalau ekor kucing mulai berayun, atau telinganya mulai memutar keluar, atau kucing terlihat tidak terarik, mungkin sudah saatnya berhenti berinteraksi dengan kucing.

Ketiga, jangan sembarangan menyentuh tubuh kucing. Kebanyakan kucing bisa menoleransi kalau dipegang bagian wajah, pipi, atau dagunya, tetapi akan kesal kalau disentuh bagian belakang atau perutnya.21,22 Aturan ini tentu tidak berlaku untuk semua kucing, tetapi umumnya begitu.

Pada dasarnya, tiap individu kucing itu unik, dan tentu ada saja kucing yang tetap tidak bisa dihandle walau sudah memperhatikan prinsip di atas. Untuk kasus-kasus seperti ini, masih ada berbagai trik lain, seperti counterconditioning dan desensitization, penggunaan musik, training, aromaterapi, suplemen, dan obat-obatan untuk menenangkan si kucing. Namun, cara-cara ini umumnya memerlukan bantuan tenaga profesional hewan, seperti ahli perilaku dan dokter hewan (apalagi kalau menyangkut obat-obatan).

Referensi
1.        Nibblett, B. M., Ketzis, J. K. & Grigg, E. K. Comparison of stress exhibited by cats examined in a clinic versus a home setting. Appl. Anim. Behav. Sci. 173, 68–75 (2015).

2.        Mariti, C. et al. Guardians’ Perceptions of Cats’ Welfare and Behavior Regarding Visiting Veterinary Clinics. J. Appl. Anim. Welf. Sci. 19, 375–384 (2016).

3.        Jeyaretnam, J., Jones, H. & Phillips, M. Disease and injury among veterinarians. Aust. Vet. J. 78, 625–629 (2000).

4.        Nuti, V., Cantile, C., Gazzano, A., Sighieri, C. & Mariti, C. Pinch-induced behavioural inhibition (clipthesia) as a restraint method for cats during veterinary examinations: Preliminary results on cat susceptibility and welfare. Anim. Welf. 25, 115–123 (2016).

5.        Pozza, M. E., Stella, J. L., Chappuis-Gagnon, A. C., Wagner, S. O. & Tony Buffington, C. A. Pinch-induced behavioral inhibition (‘clipnosis’) in domestic cats. J. Feline Med. Surg. 10, 82–87 (2008).

6.        Moody, C. M. Improving the Welfare of Cats During Handling and Restraint. (University of Guelph, 2018).

7.        Riemer, S. et al. A review on mitigating fear and aggression in dogs and cats in a veterinary setting. Animals 11, 1–27 (2021).

8.        Andrews, C. J., Cosner, Z. & Thomas, D. G. The efficacy of pinch-induced behavioural inhibition (clip restraint) in domestic cats (Felis catus) declines with age. J. Vet. Behav. (2021). doi:10.1016/j.jveb.2021.11.003

9.        Tarttelin, M. Restraint in the Cat Induced by Skin Clips. Int. J. Neurosci. 57, 288 (1991).

10.      Bradbury, A. G. & Dickens, G. J. E. Appropriate handling of pet rabbits: a literature review. J. Small Anim. Pract. 57, 503–509 (2016).

11.      Kozlowska, K., Walker, P., McLean, L. & Carrive, P. Fear and the Defense Cascade: Clinical Implications and Management. Harv. Rev. Psychiatry 23, 263–287 (2015).

12.      Hagenaars, M. A. & Hagenaars, J. A. P. Tonic immobility predicts poorer recovery from posttraumatic stress disorder. J. Affect. Disord. 264, 365–369 (2020).

13.      Yoshida, S. et al. Transport Response is a filial-specific behavioral response to maternal carrying in C57BL/6 mice. Front. Zool. 10, 1–11 (2013).

14.      Taylor, A. F. Literature review on the handling and restraint of cats in practice and its effect on patient welfare. Vet. Nurs. J. 35, 162–166 (2020).

15.      Moody, C. M., Mason, G. J., Dewey, C. E. & Niel, L. Getting a grip: Cats respond negatively to scruffing and clips. Vet. Rec. 186, 385 (2020).

16.      Moody, C. M., Picketts, V. A., Mason, G. J., Dewey, C. E. & Niel, L. Can you handle it? Validating negative responses to restraint in cats. Appl. Anim. Behav. Sci. 204, 94–100 (2018).

17.      Hammerle, M. et al. 2015 AAHA Canine and Feline Behavior Management Guidelines. J. Am. Anim. Hosp. Assoc. 51, 205–221 (2015).

18.      Rodan, I. et al. AAFP and ISFM Feline-Friendly Handling Guidelines. J. Feline Med. Surg. 13, 364–375 (2011).

19.      Haywood, C., Ripari, L., Puzzo, J., Foreman-Worsley, R. & Finka, L. R. Providing Humans With Practical, Best Practice Handling Guidelines During Human-Cat Interactions Increases Cats’ Affiliative Behaviour and Reduces Aggression and Signs of Conflict. Front. Vet. Sci. 8, (2021).

20.      Ramos, D. et al. Are cats (Felis catus) from multi-cat households more stressed? Evidence from assessment of fecal glucocorticoid metabolite analysis. Physiol. Behav. 122, 72–75 (2013).

21.      Ellis, S. L. H., Thompson, H., Guijarro, C. & Zulch, H. E. The influence of body region, handler familiarity and order of region handled on the domestic cat’s response to being stroked. Appl. Anim. Behav. Sci. 173, 60–67 (2015).

22.      Soennichsen, S. & Chamove, A. S. Responses of cats to petting by humans. Anthrozoos 15, 258–265 (2002).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s