Apa itu vaksinasi?
Secara tradisional, vaksin berisi virus yang dimatikan atau dilemahkan sehingga tidak bisa menyebabkan sakit. Beberapa vaksin yang lebih modern menggunakan partikel virus (bukan virus utuh), teknologi rekombinan, vektor viral (menggunakan virus lain sebagai pembawa), mRNA, tetapi vaksin anjing dan kucing di Indonesia umumnya berupa virus yang dimatikan dan dilemahkan saja. Pemberian vaksin umumnya melalui injeksi di bawah kulit, tetapi ada vaksin yang bisa diberikan melalui rute lain, seperti vaksin Bordetella melalui hidung (intranasal). Vaksin merangsang sistem imun hewan agar mengenali virus dan bakteri, sehingga bisa terlindungi jika bertemu virus atau bakteri tersebut di lingkungan kelak.

sumber: https://www.genscript.com/recombinant-vaccine.html

Apa beda vaksin mati (inactivated) dan vaksin hidup dilemahkan (modified live vaccine)?
Vaksin hidup mampu menghasilkan respon imun yang lebih kuat karena virus yang diberikan masih hidup dan bisa memperbanyak diri dalam tubuh inang. Karena masih hidup, vaksin ini juga bisa masuk ke sel, sehingga bisa menghasilkan kekebalan berperantara sel (cell-mediated immunity, membunuh sel yang terinfeksi virus agar virusnya juga mati) dan kekebalan humoral (antibodi). Vaksin mati tidak bisa masuk ke sel, sehingga kekebalan yang muncul tidak sekuat vaksin hidup. Kekebalan yang muncul hanya kekebalan humoral (antibodi), yang kerjanya hanya sebelum virus masuk ke sel. Vaksin mati juga membutuhkan vaksin ulangan. Vaksin pertama dianggap priming atau mempersiapkan sistem imun, sementara vaksin kedua dianggap booster. Kalau vaksin hidup, kadang sekali suntik sudah cukup.

Namun, vaksin hidup lebih berisiko menghasilkan efek samping (KIPI), dan secara teoretis, bisa kembali menjadi ganas, tetapi ini belum pernah dilaporkan pada anjing dan kucing.

Beberapa vaksin mati memerlukan tambahan adjuvan. Adjuvan merupakan zat yang berfungsi merangsang peradangan, agar sel-sel imun datang ke lokasi suntikan dan respon imun yang dihasilkan lebih kuat. Namun, pemberian adjuvan membuat vaksinasi lebih sakit dan kemungkinan terjadinya reaksi di lokasi suntikan lebih besar (bengkak hingga tumor).

Vaksin apa saja yang dibutuhkan anjing dan kucing?
Ada yang namanya vaksin inti (core vaccine). Vaksin ini mengandung virus yang paling penting dan ditemukan di seluruh dunia, sehingga wajib diberikan pada semua anjing dan kucing. Untuk anjing, vaksin inti meliputi canine parvovirus type-2 (CPV-2), canine distemper virus (CDV), dan canine adenovirus type-1 & 2 (CAV-1&2). Canine parainfluenza (CPiV) kadang dimasukkan sebagai vaksin inti. Untuk kucing, vaksin inti meliputi feline panleukopenia virus (FPV), feline calicivirus (FCV), dan feline herpesvirus-1 (FHV-1). Vaksin rabies juga wajib diberikan kepada anjing dan kucing.

Selain itu, ada juga vaksin non-core. Vaksin ini tidak wajib diberikan, tetapi menyesuaikan lingkungan masing-masing. Di daerah di mana penyakit dari virus/bakteri non-core jarang ditemukan, vaksin ini tidak perlu diberikan. Di anjing, vaksin ini meliputi Leptospira, influenza, Bordetella bronchiseptica, dan canine coronavirus (CCV). Yang sering diberikan di Indonesia dalah Leptospira dan CCV. Di kucing, vaksin non-core meliputi feline leukemia virus (FeLV), feline immunodeficiency virus (FIV), Chlamydia felis, dan feline infectious peritonitis (FIP). Hanya vaksin Chlamydia yang umum digunakan di Indonesia. Vaksin canine coronavirus (CCV) dan feline infectious peritonitis (FIP) tidak direkomendasikan untuk digunakan karena efektivitasnya diragukan.

Vaksin yang diberikan ke anjing dan kucing saya mati atau hidup?
Hampir semua vaksin inti anjing maupun kucing yang rutin diberikan di Indonesia adalah vaksin hidup yang dilemahkan (modified live vaccine), kecuali virus feline calicirus (FCV) dalam vaksin Purevax RCP. Namun, FPV dan FHV-1 dalam Purevax RCP adalah virus hidup. Vaksin ini tidak menggunakan adjuvan.

Sediaan vaksin mati untuk virus lain juga ada, tetapi jarang ditemui.

Vaksin rabies adalah vaksin mati. Vaksin non-inti bisa berupa vaksin mati (misalnya Leptospira dan canine coronavirus) atau vaksin hidup (Chlamydia pada Fellocell 4). Jika vaksin diberikan melalui rute intranasal atau melalui hidung, vaksin tersebut pasti merupakan vaksin hidup (tidak ada di Indonesia).

Vaksin Nobivac Tricat Trio, vaksin inti kucing yang berisi vaksin hidup (sumber: https://www.aplusm.se/project/nobivac-packaging/)
Vaksin Zoetis Vanguard Plus 5, vaksin inti anjing (sumber: https://www.zoetis.co.za/products/dogs/vanguard-plus-5.aspx)

Kenapa vaksin rabies berupa vaksin mati, tapi hanya perlu diberikan sekali?
Vaksin rabies yang diberikan sekali tersebut sebenarnya adalah vaksin priming. Bagaimana dengan boosternya? Jika suatu saat anjing tersebut bertemu virus rabies, virus tersebutlah yang berfungsi sebagai booster. Kemunculan gejala rabies terjadinya lama, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah terinfeksi pertama kali. Jadi, ada cukup waktu bagi sistem imun anjing membangun kekebalan protektif (antibodi) terhadap virus rabies.

Kenapa saya perhatikan dokter hewan bawa dua vial vaksin, padahal saat itu hewan saya cuma vaksin satu jenis?
Satu vial adalah vaksin kering beku, sementara satu vial lagi adalah pelarut (sterile diluent). Pelarut digunakan untuk melarutkan vaksin kering beku agar bisa disuntikkan. Kalau tempelan di buku vaksin hewanmu tulisannya sterile diluent, silakan protes ke breeder/yang ngevaksin dan vaksin kembali. Serius, saya pernah ketemu yang begini.

Mulai usia berapa anjing dan kucing boleh divaksinasi dan bagaimana jadwalnya?
Untuk vaksin inti, anjing dan kucing bisa divaksin mulai usia 6-8 minggu. Usia 6 minggu lebih disarankan untuk hewan yang risiko tinggi (misal, tinggal di shelter). Vaksinasi kemudian diulang 2 sampai 4 minggu sekali, hingga dosis terakhir di usia lebih dari 16 minggu. Pengulangan vaksin dilakukan karena bayi kucing masih punya antibodi maternal yang diturunkan dari kolostrum induknya. Keberadaan antibodi maternal akan mengganggu kemampuan imun anak kucing merespon virus dalam vaksin. Pada usia 16 minggu ke atas, diharapkan antibodi maternal sudah rendah sehingga tidak mengganggu vaksinasi.

Untuk vaksin rabies, vaksin boleh diberikan setelah usia 12 minggu dan cukup sekali saja.

Jika anjing dan kucing tidak mendapat kolostrum (antibodi maternal), bolehkan divaksin lebih awal?
Vaksinasi tetap tidak boleh diberikan sebelum usia 4-6 minggu karena kemampuan anak kucing mengatur suhu tubuh belum berfungsi dengan baik. Menaikkan suhu tubuh adalah bagian dari strategi tubuh melawan virus. Ditakutkan, vaksin yang diberikan terlalu dini malah menyerang hewan tersebut. Tidak ada data keamanan untuk ini.

Berapa lama jarak antara satu vaksinasi dengan vaksin berikutnya?
Dua sampai empat minggu, tetapi sebaiknya jarak antarvaksin tidak kurang dari tiga minggu agar respon imun yang dihasilkan maksimal. Jarak dua minggu hanya dilakukan pada hewan risiko tinggi. Ini berlaku baik untuk vaksin yang sama (RCP kemudian ulangan RCP) maupun vaksin yang berbeda (RCP kemudian Rabies).

Berapa kali anjing dan kucing harus divaksin?
Jika hewan mulai vaksin sejak usia 8-20 minggu, lihat jawaban Mulai usia berapa anjing dan kucing boleh divaksinasi dan bagaimana jadwalnya? di atas.

Jika hewan mulai vaksin di atas 20 minggu,
Anjing: Vaksin inti hidup cukup dilakukan sekali, lalu diulang tahun-tahun berikutnya. Vaksin rabies dilakukan sekali. Vaksin non-inti dilakukan tergantung kondisi masing-masing.
Kucing: Vaksin inti hidup dilakukan dua kali dengan jarak 3-4 minggu, lalu diulang tahun-tahun berikutnya. Vaksin rabies dilakukan sekali. Vaksin non-inti dilakukan tergantung kondisi masing-masing.

Bolehkah satu kucing atau anjing mendapat vaksin berbeda merk?
Jika ini seri vaksinasi pertama, sebaiknya vaksin dilakukan dengan merk yang sama, apalagi untuk kucing. Produsen vaksin menggunakan strain yang berbeda untuk virus tertentu (FHV-1 dan FCV), sehingga ditakutkan jika strainnya berbeda, respon imun tidak maksimal. Pada keadaan terpaksa (stok vaksin habis), lebih baik vaksin beda merk daripada tidak vaksin.
Jika ini adalah vaksin ulangan tahunan, vaksin beda merk tidak apa-apa.

Di mana suntikan vaksin sebaiknya diberikan?
Di anjing tidak ada aturan khusus. Di kucing, vaksin diberikan di bawah kulit di keempat kakinya. Tidak ada keharusan vaksin apa harus diberikan di kaki mana, tetapi setiap dokter mungkin punya SOP masing-masing. Alternatifnya, vaksin bisa diberikan di ujung ekor. Penelitian menunjukkan pemberian vaksin di ekor tidak mengurangi efektivitas respon vaksin, tetapi banyak laporan kalau pemberian vaksin di ekor tidak ditoleransi oleh beberapa kucing, sehingga tidak praktis untuk dilakukan. Vaksinasi tidak disarankan diberikan di kulit di antara pundak.

Lokasi penyuntikan vaksinasi kucing diatur begini karena adanya laporan injection site sarcoma (ISS) atau tumor ganas yang terjadi sebagai reaksi penyuntikan. Kejadiannya langka, hanya sekitar 1 dari 10 ribu, tetapi bahaya sekali kalau terjadi. Vaksinasi dilakukan di kaki atau ekor agar sekiranya ISS terjadi, kaki dan ekor bisa diamputasi dengan relatif mudah dan tidak meninggalkan sisa sel tumor (jika pengangkatan sel tumor ISS dilakukan, 5 cm jaringan di sekitarnya juga harus diangkat). Kalau di pundak kan, tidak mungkin diamputasi. Beberapa praktisi menyuntikkan vaksin ke dinding thorax atau bawah perut dengan anggapan sel tumor akan lebih mudah diangkat dari sana, tetapi ini belum diketahui pasti, terutama soal apakah margin 5 cm tersebut bisa terangkat juga.

Haruskah saya takut karena injection site sarcoma (ISS)?
ISS adalah masalah yang nyata, tetapi untungnya sangat jarang terjadi. Saya pribadi belum pernah menemukan kasus ISS secara langsung. Ada anggapan ISS lebih sering terjadi pada vaksin beradjuvan (umumnya vaksin mati, tetapi tidak semua vaksin mati beradjuvan), yang jarang digunakan di kucing di Indonesia. Namun, sejatinya, masih sedikit sekali yang kita ketahui tentang ISS, dan tidak ada vaksin yang 0 risiko.

Biar begitu, kejadian ISS sangat langka jika dibandingkan dengan serangan virus panleukopenia, calicivirus, dan herpesvirus yang bisa dicegah dengan vaksin. Karena itu, ketakutan akan ISS tidak perlu menjadi halangan untuk memvaksin kucing. Yang penting, vaksin dilakukan sesuai petunjuk, di lokasi yang sesuai, dan tidak lebih sering dari seharusnya.

ISS pada paha seekor kucing (sumber: Bing, Y., Wund, Z., Abratte, T. et al. (2018))

Setelah vaksinasi, dokter hewan dan pemilik kucing sebaiknya memantau tempat suntikan vaksin dengan aturan 3-2-1. Jika ada massa yang tetap ada setelah 3 bulan, berdiameter lebih dari 2 cm, atau bertambah besar 1 bulan setelah vaksinasi, massa tersebut sebaiknya dibiopsi atau diperiksa lebih lanjut.

Apakah dua vaksin, misalnya RCP dan rabies, boleh diberikan secara bersamaan?
Boleh, dengan syarat vaksin diberikan di dua lokasi anatomis yang berbeda (dialiri limfonodus yang berbeda), misal kaki kanan dan kaki kiri. Limfonodus bisa dibilang adalah markas imun yang tersebar di seluruh tubuh. Namun, jika hari ini hanya diberi satu vaksin (misal RCP) tetapi tidak divaksin rabies, vaksin rabies boleh diberikan setelah 3 minggu. Tidak boleh kurang dari itu karena ditakutkan komponen sistem imun bawaan (sitokin dan sel-sel seperti makrofag) yang sudah mulai bereaksi pada RCP akan menghalau respon imun terhadap rabies. Prinsip ini juga berlaku pada manusia. Namun, pemberian vaksinasi bersamaan akan meningkatkan risiko efek samping vaksin.

Jika jadwal vaksin anjing/kucing saya terlambat, kemudian bagaimana?
Jika anjing/kucing berusia kurang dari 16-20 minggu, lanjutkan vaksin setiap 2-4 minggu sampai usia 20 minggu.

Jika anjing berusia di atas 20 minggu, berikan 1-2 dosis vaksin inti hidup. Jika kucing berusia di atas 16 minggu, berikan 2 dosis vaksin inti hidup dengan jarak 3-4 minggu.

Jika vaksin non-inti mati (contohnya Leptospira) terlambat lebih dari 6 minggu setelah dosis pertama, vaksin harus diulang dari awal(2 dosis lagi).

Apakah vaksinasi menjamin hewan tidak akan sakit?
Dengan asumsi kualitas vaksin yang digunakan baik, vaksinasi dilakukan dengan benar, hewan dalam kondisi sehat, serta mampu merespon vaksin, seharusnya anjing yang divaksin dengan vaksin inti (CPV, CDV, dan CAV-2), serta kucing yang divaksin FPV 98% terlindungi dari infeksi dan gejala sakit yang ditimbulkan virus-virus tersebut. Sementara, vaksinasi terhadap FCV dan FHV-1 pada kucing tidak melindungi infeksi (jadi virus masih bisa masuk ke tubuh), tetapi melindungi 60-70% kucing yang divaksin dari gejala sakit. Angka ini lebih tinggi jika kucing berada di lingkungan yang tidak padat dan tidak stress.

Kenyataannya, angka keberhasilan vaksinasi seringkali tidak setinggi itu. Vaksinasi bisa gagal karena berbagai penyebab.

Apakah vaksinasi bisa gagal? Kenapa?
Bisa, penyebabnya bisa macam-macam:

  • Ada interferensi dari antibodi maternal. Solusinya vaksin terakhir harus diberikan setelah usia 16-20 minggu.
  • Penyimpanan dan transpor vaksin yang salah, sehingga vaksin jadi tidak aktif. Solusinya adalah menjamin rantai dingin selama penyimpanan dan transpor.
  • Vaksin terlalu lama berada di suhu ruang (lebih dari 2 jam). Solusinya hanya mengeluarkan dan melarutkan vaksin ketika akan dipakai.
  • Anjing atau kucing tersebut memang non-responder (konon ras anjing Rottweiler sering mengalami ini). Cara untuk mengetahuinya hanya dengan pengecekan titer setelah vaksin. Tidak ada solusi untuk anjing atau kucing tersebut secara spesifik selain menghindari kemungkinan terekspos virus (dari anjing/kucing lain). Jika hidup berdekatan dengan anjing/kucing lain, pastikan anjing/kucing lain divaksin agar terbentuk herd immunity.
  • Anjing/kucing sedang dalam kondisi sakit/imunosupresif saat divaksin.

Adakah efek samping pascavaksin atau kejadian ikutan pascavaksinasi (KIPI)?
Efek samping atau KIPI jarang terjadi, tetapi beberapa gejala bisa muncul. Sebagian besar gejala ini sifatnya ringan.

  • Reaksi sesaat pada lokasi vaksinasi berupa benjolan, rasa sakit, atau gatal. Tidak perlu pengobatan jika kurang dari 3 hari. Jika lebih dari 3 hari, pengobatan yang diberikan cuma untuk mengurangi rasa sakit.
  • Reaksi permanen pada lokasi vaksinasi (pada anjing) berupa kebotakan permanen, perubahan warna kulit, dan kematian jaringan. Pengobatan yang diberikan berupa pelancar aliran darah, antibiotik, dan analgesik. Jika memungkinkan, jangan vaksinasi kembali.
  • Gejala sistemik sesaat berupa lesu, tidak mau makan, demam, kebengkakan kelenjar getah bening, diare, muntah, radang sendi, dan perubahan perilaku. Tidak perlu pengobatan jika kurang dari 3 hari. Jika lebih dari 3 hari, pengobatan yang diberikan hanya untuk mengurangi gejala.
  • Reaksi alergi berupa kebengkakan daerah kepala, kaligata, hingga kematian (sangat jarang di hewan). Pengobatan harus dilakukan segera dengan dibawa ke dokter hewan. Hewan yang pernah mengalami reaksi alergi pascavaksinasi harus diberi antihistamin sebagai pencegahan sebelum vaksin berikutnya.
  • Tumor pada kucing, baca Haruskah saya takut karena injection site sarcoma (ISS)?

Perlukah mengecek titer antibodi setelah vaksin?
Boleh, tapi tidak perlu. Saya juga tidak tahu di mana ngeceknya di Indonesia selain dalam konteks penelitian. Jika mau mengecek, biasa pengecekan dilakukan minimal 4 minggu setelah vaksin terakhir atau sebelum vaksin tahunan (untuk memastikan titer masih protektif atau tidak). Tapi, pengecekan titer hanya berguna untuk vaksin inti anjing (CPV, CAD-2, dan CDV), serta feline panleukopenia virus (FPV). Sekalipun antibodi berada di bawah level protektif, ini tidak berarti hewan tidak terlindungi karena masih ada memori kekebalan. Penentuan “Level protektif” menggunakan bayi hewan yang tidak punya memori kekebalan sebagai standar, jadi hanya bergantung pada antibodi maternal. Jika hewan dewasa yang sudah divaksin terekspos dengan virus, mereka bisa membentuk antibodi dengan cepat, beda dengan bayi hewan.

Pengecekan titer untuk feline herpesvirus-1 (FHV-1) dan feline calicivirus (FCV) tidak perlu karena tidak berguna. Level titer antibodi tidak merefleksikan kekebalan terhadap kedua virus tersebut, karena kekebalan berperantara sel (itu, yang bunuh-bunuhin sel terinfeksi) dan kekebalan di mukosa (hidung, mulut, dan mata, pintu masuknya virus) lebih berperan penting daripada antibodi. Pengecekan titer untuk vaksin non-inti juga tidak disarankan.

Kapan vaksinasi perlu diulang?
Setelah seri vaksin pertama, vaksin wajib diulang 1 tahun setelahnya (sekarang sebenarnya rekomendasi sudah berubah jadi 6 bulan) sebagai pencegahan kalau vaksin seri pertama tadi tidak protektif (gagal).

Setelah itu, tergantung panduan produk yang digunakan dan aturan setempat. Sebenarnya, banyak bukti bahwa kekebalan dari vaksin hidup untuk CPV, CAD-2, CDV, FPV bisa bertahan sangat lama, umumnya lebih dari 3 tahun, bahkan seumur hidup. Kekebalan terhadap FHV-1 dan FCV lebih singkat dan sulit diketahui pasti karena tidak bisa ditentukan dari titer. Namun, kebanyakan produk vaksin yang beredar di Indonesia masih berlabel untuk pengulangan setahun sekali.

Vaksin non-inti, jika perlu diulang, harus diulang setahun sekali.

Kucing saya baru divaksin minggu lalu, lalu hari ini terkena panleukopenia. Apa vaksinnya gagal?
Satu minggu adalah waktu yang terlalu singkat untuk membentuk kekebalan protektif, walau vaksin hidup biasanya sudah mulai membentuk kekebalan dalam 3-7 hari. Jika terjadi kasus seperti ini, kemungkinan besar kucing tersebut sudah tertular virus sebelum vaksin, tetapi belum ada gejala

Bolehkah vaksin dilakukan lebih sering agar hewannya lebih terlindungi?
Vaksin lebih sering tidak membuat hewan lebih aman, malah memperbesar risiko KIPI. Hewan nonresponder mau divaksin 100 kali pun tidak akan terlindungi. Lebih baik vaksinasi hewan di sekitar hewan tersebut yang belum divaksin agar terbentuk herd immunity.

Bolehkah kucing atau anjing hamil divaksin?
Vaksin hidup sebaiknya tidak diberikan pada kucing hamil karena ditakutkan malah mengganggu janinnya. Jika terpaksa, sebaiknya berikan vaksin mati (tetapi sayangnya tidak ada di Indonesia).

Bolehkah kucing atau anjing yang sedang atau habis dibius divaksin?
Sebaiknya tidak, karena ditakutkan ada efek samping vaksin yang tidak ketahuan, bahkan membahayakan hewan yang masih dalam pengaruh bius, seperti muntah yang berujung pneumonia aspirasi (karena muntahannya masuk saluran napas). Namun, kalau dalam keadaan mendesak (misalnya TNR sekaligus vaksin), vaksin boleh diberikan sehabis bius. Bius tidak memengaruhi respon imun yang ditimbulkan vaksin.

Jika hewan sedang menjalani pengobatan yang bersifat imunosupresif (kortikosteroid, kemoterapi, obat alergi tertentu, dan sebagainya), apakah boleh divaksin?
Ini tidak disarankan karena respon imun yang dihasilkan tidak maksimal, bahkan bisa jadi malah menyebabkan penyakit pada hewannya. Sebaiknya tunggu 2 minggu setelah pengobatan berhenti.

Pada usia berapa hewan tidak perlu divaksin lagi?
Rekomendasi saat ini adalah jadwal vaksinasi bisa dilakukan sepanjang hidup, tentu dengan syarat hewan tersebut sehat. Maksudnya, tidak mengalami penyakit yang bisa diperparah vaksin atau membuat vaksin tidak berguna.

Apakah saya bisa memesan vaksin online lalu menyuntik sendiri?
Vaksin harus selalu disimpan dalam keadaan dingin agar virusnya tetap aktif. Vaksin yang dikirim tanpa rantai dingin tidak bisa dijamin kualitasnya. Anda cuma buang-buang uang kalau beli vaksin online. Lagian, nyuntik vaksin dengan benar tidak mudah.

Tetangga saya atau orang di grup media sosial buka jasa nyuntik vaksin kucing. Apakah saya bisa memvaksin kucing saya ke sana?
Yang boleh melakukan pelayanan medik veteriner hanya dokter hewan. Paramedik veteriner yang benar-benar kuliah paramedik sekalipun hanya boleh nyuntik di bawah pengawasan dokter hewan. Vaksinasi hewan yang dilakukan selain oleh dokter hewan atau di bawah pengawasan dokter hewan adalah ilegal. Kualitasnya juga tidak terjamin.

Puskeswan/klinik hewan kemarin mengadakan vaksin kucing/anjing gratis dan saya ikutan. Artinya hewan peliharaan saya sudah divaksin, kan?
Vaksin gratis tersebut biasanya hanya vaksin rabies. Hal tersebut bagus, tapi alangkah baiknya jika hewan divaksin inti juga agar terlindungi dari penyakit. Vaksin inti jarang ada yang subsidi atau gratis.

Referensi
1.        Stone AES, Brummet GO, Carozza EM, Kass PH, Petersen EP, Sykes J, et al. 2020 AAHA/AAFP Feline Vaccination Guidelines*. J Am Anim Hosp Assoc. 2020;56(5):249–65.

2.        Day MJ, Horzinek MC, Schultz RD, Squires RA. WSAVA Guidelines for the vaccination of dogs and cats. J Small Anim Pract. 2016;57(1):E1–45.

3.        Hendricks CG, Levy JK, Tucker SJ, Olmstead SM, Crawford PC, Dubovi EJ, et al. Tail vaccination in cats: A pilot study. J Feline Med Surg. 2014;16(4):275–80.

4.        American Animal Hospital Association. 2017 AAHA Canine Vaccination Guidelines [Internet]. 2017. Available from: https://www.aaha.org/aaha-guidelines/vaccination-canine-configuration/

5.        American Animal Hospital Association. 2020 AAHA/AAFP Feline Vaccination Guidelines: Frequently Asked Questions [Internet]. 2020. Available from: https://www.aaha.org/aaha-guidelines/2020-aahaaafp-feline-vaccination-guidelines/faqs/

6.        Srivastav A, Kass PH, Mcgill LD, Farver TB, Kent MS. Comparative vaccine-specific and other injectable-specific risks of injection-site sarcomas in cats. J Am Vet Med Assoc. 2012;241(5):595–602.

7.        Kass PH. Prevention of Feline Injection-Site Sarcomas: Is There a Scientific Foundation for Vaccine Recommendations at This Time? Vet Clin North Am – Small Anim Pract [Internet]. 2018;48(2):301–6. Available from: https://doi.org/10.1016/j.cvsm.2017.10.007

8.        Ford RB. When Vaccination Goes Wrong : Vaccine Adverse Reactions. In: Ontario Veterinary Medical Association 2016. Toronto, ON: OVMA; 2016.

9.        Reese MJ, Patterson E V, Tucker SJ, Dubovi EJ, Davis RD, Crawford PC, et al. Effects of anesthesia and surgery on serologic responses to vaccination in kittens. J Am Vet Med Assoc [Internet]. 2008;233(1):116–121. Available from: http://avmajournals.avma.org/doi/abs/10.2460/javma.233.1.116

10.      Schultz RD, Thiel B, Mukhtar E, Sharp P, Larson LJ. Age and Long-term Protective Immunity in Dogs and Cats. J Comp Pathol [Internet]. 2010;142(SUPPL. 1):S102–8. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.jcpa.2009.10.009

11.      Fischer SM, Quest CM, Dubovi EJ, Davis RD, Tucker SJ, Friary JA, et al. Response of feral cats to vaccination at the time of neutering. J Am Vet Med Assoc. 2007;230(1):52–8.

One thought on “Pertanyaan dan Jawaban seputar Vaksinasi Kucing dan Anjing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s