Dalam satu survey tahun 2011 di Amerika Serikat, 42,8% pemilik anjing senior mengaku memberi makan anjing mereka makanan senior. Sejauh ini, tidak ada aturan baku tentang standar nutrisi hewan senior tua atau senior, berbeda dengan hewan dewasa atau masa pertumbuhan (kitten dan puppy). Lantas, standar nutrisi yang digunakan dalam makanan senior sebenarnya tidak terstandar, tetapi mengacu pada resep masing-masing perusahaan. Jadi, kalau ditanya apakah anjing dan kucing tua harus banget makan diet khusus, jawabannya tidak. Namun, ini bukan berarti diet khusus hewan senior tidak berguna.

Kapan hewan disebut tua?
Tidak ada angka pasti, tetapi menurut konsensus American Animal Hospital Association, hewan bisa dianggap tua jika memasuki seperempat terakhir perkiraan jangka hidupnya. Karena jangka hidup tiap individu berbeda, kapan tuanya juga berbeda. Anjing dan kucing bisa dianggap mulai menua di usia 7 sampai 11 tahun. Makanan hewan senior juga dipasarkan untuk hewan di usia sekitar itu. Sebenarnya, ada variasi yang lebih besar untuk anjing, karena anjing besar menua lebih cepat dari anjing kecil. Kalau anjing kecil dianggap tua ketika berusia 10 tahun, anjing besar mungkin sudah bisa dianggap tua di usia 6 tahun.

“old cat” by cactusbeetroot is licensed under CC BY-NC 2.0

Proses penuaan membawa berbagai perubahan pada berbagai sistem di tubuh hewan. Ini yang akan saya bahas bersama dengan kaitannya dengan nutrisi. Saya sebenarnya fokus membahas hewan tua yang relatif sehat, dalam arti memang menua, tetapi penuaan tersebut adalah normal, tanpa penyakit berat tertentu.

Perubahan sistem pencernaan dan penyerapan nutrisi
Ketika menilai sistem pencernaan seokar hewan senior, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah: apakah hewan ini bisa makan dengan nyaman? Beberapa hewan senior mungkin mengalami masalah gigi dan gusi, seperti timbunan plak, karang, gigi patah, dan peradangan gusi, yang menimbulkan rasa sakit dan kesulitan makan, apa lagi kalau hewan tersebut tidak pernah dirawat giginya sejak muda. Ketika tua, masalahnya menumpuk dan bertambah parah. Hewan ras kecil umumnya lebih rentan terhadap masalah gigi karena susunan gigi yang lebih rapat. Jika hewan mengalami masalah gigi dan mulut yang membuat mereka susah makan, mereka bisa diberi makanan yang lebih lunak (wet food) agar lebih mudah makan, tetapi masalah utama pada gigi dan mulutnya juga harus diawasi.

Kemudian, tidak kalah penting juga: apakah mereka bisa menelan dengan baik? Hewan yang kesulitan menelan bisa jadi mengalami gangguan otot dan saraf, sehingga otot menelannya tidak berfungsi dengan baik, atau bahkan ada massa, seperti tumor dan benda asing, yang membuat makanan tidak bisa masuk. Hewan tua lebih rentan terhadap kemunculan tumor dibanding hewan muda. Gangguan menelan yang berkepanjangan harus diperiksa lebih lanjut ke dokter hewan. Jika tidak ada masalah serius, dan kesulitan menelan semata karena penuaan yang menyebabkan otot makin lemah, penggunaan penyangga mangkuk makan bisa membuat kucing atau anjing tersebut tidak perlu menunduk dan lebih mudah makan.

Usus anjing dan kucing juga mengalami perubahan morfologis. Vili usus bertambah pendek dan luas permukaannya bertambah kecil. Karena vili berperan dalam penyerapan nutrisi yang dimakan hewan, luas permukaan yang bertambah kecil bisa menurunkan kemampuan hewan menyerap nutrisi. Namun, beberapa penelitian membuktikan ini tidak terjadi. Proses penuaan tidak mengurangi kemampuan usus anjing dalam menyerap makronutrien (protein, karbohidrat, lemak) dan mineral. Berbagai perubahan yang diamati karena efek penuaan juga tidak signifikan. Di kucing, hasilnya lebih tidak konsisten, karena ada beberapa penelitian yang melaporkan penurunan kecernaan protein, lemak, dan karbohidrat. Karena hewan senior tetap bisa mencerna makanan dengan baik, kita tidak perlu menambah jumlah makanan atau kalori pada hewan senior. Malah, sebaiknya porsi makan mereka dikurangi karena hewan senior lebih mudah mengalami kelebihan berat badan dan obesitas.

Di manusia, penuaan membawa perubahan pada komposisi mikrobiota di usus. Sayangnya, belum banyak yang kita ketahui soal perubahan ini di anjing dan kucing. Berdasarkan data saat ini, kemungkinan tidak ada perbedaan berarti pada mikrobiota lambung dan usus halus, tetapi dalam satu penelitian, penelitian usus besar anjing tua memiliki populasi beberapa bakteri (Bacteroides, Eubacteria, Peptostreptococci, Bifidobacterium, Lactobacillus, Staphylococcus, dan Clostridium) yang lebih rendah. Anjing tua juga memiliki konsentrasi produk metabolisme bakteri yang lebih rendah dan pH feses yang lebih basa. Pada kucing senior, ada penelitian yang bilang terjadi penurunan populasi bifidobacteria dan kenaikan Clostridium perfringens. Konsekuensi nyata dari perubahan mikrobiota ini belum diketahui.

Ginjal dan perkemihan
Gagal ginjal kronis adalah penyakit yang sangat umum terjadi di anjing dan kucing senior. Bahkan, penyakit ini adalah penyebab utama kematian kucing di atas 5 tahun. Ginjal adalah organ yang luar biasa. Kebanyakan kerusakan ginjal yang masih kecil tidak bisa dideteksi karena kemampuan ginjal mengkompensasi kerusakan tersebut. Ginjal yang rusak akan kehilangan kemampuan menyaring darah. Artinya, air terus keluar melalui urin, tetapi racun seperti urea, dan beberapa elektrolit seperti fosfor tidak dikeluarkan. Urin yang dikeluarkan jadi lebih encer dari seharusnya. Kondisi ini membuat hewan mudah dehidrasi. Perubahan kimia darah baru bisa terdeteksi ketika kerusakan ginjal sudah menyerang lebih dari setengahnya. Artinya, kebanyakan hewan (senior) yang mengalami kerusakan ginjal ringan akan tampak sehat-sehat saja.

Sebenarnya, ada makanan terapetik khusus untuk kucing dan anjing yang terdiagnosis gagal ginjal, tetapi bagaimana dengan hewan senior yang tampak sehat, tanpa kita ketahui keadaan fungsi ginjal sesungguhnya? Nutrisi bisa membantu mencegah kerusakan ginjal. Terkait ginjal, nutrien yang menjadi fokus utama adalah fosfor dan protein. Hewan dengan gagal ginjal sering mengalami hiperfosfatemia atau kelebihan ion fosfat (fosfor) dalam darah. Sudah bermunculan bukti bahwa fosfor berlebih merupakan faktor risiko terjadinya kegagalan ginjal pada anjing dan kucing. Rasio kalsium dan fosfor yang tidak seimbang, serta sumber fosfor inorganik juga merupakan faktor risiko. Hewan yang sudah didiagnosis gagal ginjal kronis biasanya diberi makanan dengan fosfor dibatasi, bahkan sampai di bawah batas minimum AAFCO/FEDIAF. Kucing atau anjing sehat tidak perlu pembatasan fosfor sampai demikian. Justru, pemberian makanan terapetik ginjal untuk hewan sehat malah berisiko menimbulkan kekurangan fosfor. Namun, memang baiknya makanan untuk hewan tua dikontrol agar fosfornya tidak berlebih atau kurang dari fosfor dalam makanan hewan muda.

Kucing tua dengan gagal ginjal sering diberi cairan infus di bawah kulit di rumah untuk mencegah dehidrasi. “Extra IV Fluids” by Feral Indeed! is licensed under CC BY-NC-ND 2.0

Bagaimana dengan protein? Kualitas protein lebih berperan penting daripada kuantitasnya. Hewan senior, dengan atau tanpa kerusakan ginjal yang kentara, perlu makanan dengan kualitas protein lebih tinggi. Protein kualitas tinggi maksudnya sebagian besar protein tersebut bisa dan mudah digunakan oleh tubuh hewan, dan sedikit yang dibuang lewat feses atau ginjal. Protein yang tidak digunakan (misal karena komposisi asam amino tersebut tidak seimbang, atau protein tersebut adalah hasil reaksi Maillard) akan diubah menjadi urea dan dibuang melalui ginjal, sehingga memperberat kerja ginjal lagi. Selain itu, protein kualitas rendah yang berasal dari hewan, seperti kepala dan leher ayam, mengandung fosfor yang tinggi dan berisiko memperparah keadaan hewan. Pada anjing, ada laporan bahwa protein berlebih (55% berat kering) meningkatkan kadar metabolit indol sulfat dan urea yang terkait dengan peradangan dan disfungsi ginjal, tetapi belum diketahui apakah peningkatan ini berarti secara klinis.

Sebenarnya, pembatasan protein ini kontroversial. Di satu sisi, sisa metabolisme protein, urea, adalah racun yang memperparah keadaan dan memperberat kerja ginjal. Di sisi lain, hewan senior, apa lagi dengan gagal ginjal kronis, umumnya sudah mengalami penurunan massa otot (sarkopenia). Protein dibutuhkan untuk mempertahankan massa otot. Oleh karena itu, pembatasan jumlah protein dalam makanan sebaiknya hanya dilakukan ketika hewan mengalami gagal ginjal tingkat lanjut, ditandai dengan uremia (keracunan urea). Hewan senior yang masih sehat, atau bahkan hewan dengan gagal ginjal yang masih di IRIS stage 1, sebaiknya tidak makan makanan terapi Renal.

Dehidrasi sering terjadi pada hewan senior karena menurunnya rasa haus dan kemampuan memekatkan urin (agar air yang keluar lebih sedikit). Dehidrasi bisa memperparah kerusakan ginjal. Memperbanyak asupan makanan basah pada hewan tua bisa jadi salah satu strategi menghindari dehidrasi. Selain makanan basah, berbagai tips meningkatkan asupan air bisa dibaca di sini.

Perubahan perilaku dan sistem saraf
Mirip dengan manusia, penuaan juga memengaruhi perilaku hewan di masa tua. Hewan mengalami penurunan fungsi kognitif, memori, kemampuan belajar, gangguan pola tidur, aktivitas, dan kemampuan motorik. Otak hewan mengalami atrofi (penyusutan jaringan), penurunan jumlah dan pembentukan sel saraf, peradangan, stres oksidatif (terkait radikal bebas), perubahan aliran darah, dan penumpukan protein abnormal amiloid. Perubahan-perubahan ini membuat otak kesulitan berfungsi dengan baik, padahal otak adalah organ yang sangat aktif.

“Let Sleeping Dog Lie – E X P L O R E D” by Clint__Budd is licensed under CC BY 2.0

Sebanyak 20 sampai 25 persen total energi tubuh digunakan oleh otak. Energi ini hanya bisa didapatkan dari glukosa dan keton, tetapi lebih banyak dari glukosa karena jumlahnya lebih banyak. Sayangnya, disfungsi mitokondria pada otak hewan tua membuat proses perubahan glukosa menjadi energi untuk otak tidak bisa berlangsung optimal. Gangguan metabolisme otak ini makin memperparah kerusakan pada otak. Dari situ, muncul ide untuk menggunakan sumber energi alternatif otak, yaitu keton.

Tidak seperti glukosa, metabolisme keton tidak terpengaruh oleh penuaan. Diet ketogenik (tinggi lemak, rendah karbohidrat) sudah digunakan dalam manajemen epilepsi pada manusia, tetapi diet ketogenik tradisional ternyata tidak bermanfaat dalam mengurangi gejala kejang anjing. Diet ketogenik yang saat ini digunakan dalam manajemen kesehatan otak dan fungsi kognitif hewan, terutama anjing, adalah diet ketogenik berbasis trigliserida rantai medium (medium-chain triglyceride, MCT). MCT adalah asam lemak yang bisa dicerna dengan cepat dan diubah menjadi keton secara efisien oleh tubuh hewan. Asam lemak ini bisa ditemukan pada minyak kelapa, tetapi pemberian minyak kelapa sebagai suplemen tidak akan efektif dalam meningkatkan fungsi kognitif hewan. Terdapat asam lemak lain dalam minyak kelapa dalam jumlah yang lebih besar dari MCT. Akan sangat sulit untuk memberikan dosis MCT efektif pada hewan tanpa kelebihan memberikan lemak lainnya. Pemberian lemak berlebih akan membuat nutrisi yang diterima hewan tidak seimbang, dan karena kalorinya yang tinggi, hewan akan sangat mudah obesitas. Beberapa makanan sudah diproduksi untuk kesehatan otak hewan, dengan kandungan MCT dan lemak yang sudah disesuaikan. Saya sudah pernah bahas di sini.

Selain MCT, beberapa nutrisi lain juga digunakan dalam menjaga kesehatan otak hewan senior, di antaranya vitamin B1, 6, 9, dan 12, asam lemak omega-3 (EPA dan DHA), asam amino arginin, dan L-karnitin.

Perubahan sistem kardiovaskuler
Penuaan dapat disertai bertambahnya penebalan dan deposisi kalsium pada pembuluh darah. Ditambah lagi, melemahnya fungsi jantung bisa menurunkan volume darah yang keluar dari jantung saat kontraksi hingga 30%. Beberapa ras kucing dan anjing, seperti Maine Coon dan Dobermann Pinscher, lebih berisiko terkena penyakit jantung. Penyakit jantung bisa menyebabkan hipertensi sebagai mekanisme kompensasi, tetapi hipertensi bukan cuma terjadi karena masalah jantung, tetapi juga kegagalan ginjal.

Dalam manajemen hipertensi, sodium (natrium) adalah nutrien yang jadi perhatian utama. Kucing dan anjing yang mengalami hipertensi, baik karena jantung maupun ginjal, disarankan membatasi asupan natriumnya. “Asupan natrium” ini bukan cuma natrium dalam makanan utama (makanan kering, basah, atau homemade), tetapi juga treats. Makanya, hewan dengan penyakit jantung dan ginjal tidak bisa sembarang dikasih treats. Meski begitu, tidak disarankan juga membatasi natrium secara berlebihan sampai di bawah kebutuhan normal. Bagaimanapun, tubuh butuh natrium untuk menjalankan fungsi normalnya. Kekurangan natrium malah akan mengaktivasi jalur untuk menghemat natrium, yang justru memperparah hipertensi. Pembatasan natrium juga tidak disarankan untuk hewan sehat sebagai pencegahan hipertensi, karena asupan natrium terbukti tidak berpengaruh pada tekanan darah.

Perubahan kulit dan rambut
Pada hewan tua, sel kulit umumnya mengalami atrofi dan penurunan elastisitas. Penurunan kerja enzim tirosinase membuat turunnya produksi melanin, sehingga hewan tua juga mengalami rambut putih atau ubanan, seperti manusia. Rambut putih ini lebih sering terlihat pada bagian moncong anjing. Hewan senior, khususnya kucing, juga lebih rentan terhadap kerusakan yang disebabkan sinar ultraviolet matahari. Dalam kasus yang lebih serius, kondisi ini dapat memicu terjadinya kanker kulit (squamous cell carcinoma), sehingga hewan tua disarankan tidak terlalu banyak terkena sinar matahari.

Sebenarnya, perubahan ini tidak perlu nutrisi khusus. Namun, beberapa anjing atau kucing juga mengalami penurunan produksi minyak, sehingga kulit tampak kering dan bersisik. Pemberian asam lemak tak jenuh majemuk omega-6 dan omega-3 bisa membantu meningkatkan kondisi kulit.

“My Old Dog Boo” by RS2Photography is licensed under CC BY-NC-ND 2.0

Perubahan sistem kekebalan dan kemampuan melawan infeksi
Manusia tua (di atas 65 tahun) termasuk populasi rentan penyakit infeksius karena perubahan kerja sistem kekebalan. Anjing dan kucing pun mengalami hal serupa. Populasi sel limfosit naif (yang masih polos, belum terprogram untuk menghadapi antigen manapun. Kalau ketemu antigen, baru berdiferensiasi) jumlahnya sedikit. Kebanyakan sel T yang mereka miliki adalah sel memori. Jadi, sederhananya, hewan senior mungkin bisa menghadapi antigen lama, yang sudah pernah dihadapi dan diingat, dengan baik. Namun, mereka kurang sanggup menghadapi serangan antigen baru, yang belum pernah ditemui sebelumnya, karena kurang pasukan. Untuk itu, hewan senior yang divaksin sejak muda biasanya masih punya kekebalan terhadap penyakit yang divaksin, tetapi jika baru divaksin saat tua, kekebalan yang muncul tidak seberapa.

Selain itu, kekebalan berperantara sel atau sitotoksik hewan senior cenderung melemah, sementara kekebalan humoral atau antibodi mereka masih bertahan. Ini diduga menyebabkan bertambahnya kejadian kanker pada hewan senior. Kekebalan berperantara sel kerjanya membunuh sel yang memancarkan sinyal musuh, termasuk kanker. Karena kekebalan jenis ini melemah, sel kanker bisa tumbuh dengan lebih leluasa. Kemudian, sel Treg, jenis sel T yang kerjanya mengontrol sistem imun agar kerja secukupnya, tidak berlebihan, diduga juga berkurang pada hewan senior, sehingga hewan senior lebih rentan terkena penyakit autoimun

Tidak ada intervensi nutrisi khusus yang bisa mengubah proses ini. Namun, makanan hewan senior seringkali diberi tambahan antioksidan, seperti vitamin C, vitamin E, L-karnitin, dan glutation. Ketika melawan musuh, reaksi kekebalan biasa memunculkan peradangan dan radikal bebas, yang menyebabkan stres oksidatif. Mau tidak mau, tubuh inang sendiri juga terkena dampak buruk serangan tersebut. Antioksidan diharapkan mampu membendung dampak buruk tersebut. Vitamin C sebenarnya bukan nutrien esensial untuk kucing dan anjing karena bisa mereka produksi sendiri, tetapi kemampuan tersebut diduga menurun pada hewan tua. Karena itu, penambahan vitamin C disarankan dalam makanan hewan senior. Ada penelitian yang menunjukkan vitamin E bisa meningkatkan respon kekebalan berperantara sel, tetapi tidak diketahui apakah ini ada manfaat nyatanya untuk hewan tersebut.

Perubahan otot, kondisi tubuh, tulang, dan sendi
Hewan senior umumnya mengalami kenaikan berat badan, bahkan lebih rentan obesitas daripada hewan muda. Massa otot, tulang, serta kandungan air tubuh mereka cenderung menurun, tetapi komposisi lemak tubuh mereka meningkat. Karena lemak bukan jaringan yang aktif menggunakan energi seperti otot, kebutuhan energi mereka juga menurun 20-40%. Selain penurunan massa otot, berkurangnya kebutuhan energi ini juga disebabkan menurunnya aktivitas fisik mereka yang (setidaknya sebagian) disebabkan peradangan tulang dan sendi atau osteoarthritis.

Osteoarthritis adalah penyakit yang sangat umum pada hewan senior, tetapi tidak selalu didiagnosis dengan tepat. Hewan yang terkena osteoarthritis akan jadi malas bergerak karena kesakitan. Misalnya, pada kucing, ini bisa ditunjukkan dengan perilaku buang air di luar litter box karena litter boxnya tinggi dan dia tidak sanggup melangkah masuk, atau kucing yang tadinya suka melompat-lompat di perabotan rumah jadi tidak pernah melompat lagi. Karena itu, sumber daya (litter box, makanan, dan minuman) hewan osteoarthritis harus mudah dijangkau. Jika sudah parah, osteoarthritis juga bisa berujung kelumpuhan.

Karena osteoarthritis ini adalah gangguan peradangan dan autoimun, solusi utamanya adalah menggunakan obat-obatan antiradang dan penekan sistem kekebalan. Namun, nutrisi juga sering jadi sorotan. Beberapa bahan, seperti omega-3 EPA dan DHA, green-lipped mussel, ekstrak kunyit, ekstrak teh hijau, glukosamin-kondroitin, dan kolagen, seringkali diteliti dan sudah banyak dijual sebagai “obat” osteoarthritis, baik dalam bentuk makanan terapi maupun suplemen terpisah. Namun, rata-rata bukti efektivitas mereka lemah, dan penggunaan bahan-bahan ini tidak bisa menggantikan peran obat. Jika ingin menggunakan suplemen, omega-3 dan undenatured type-II collagen (berbeda dengan kolagen biasa) lebih menjanjikan dibanding yang lain.

“Chauncey – Prima ballerina” by Kerri Lee Smith is licensed under CC BY-NC-SA 2.0

Di usia di atas 12 tahun, hewan senior ini justru kebanyakan menjadi kurus. Ini bukan karena tubuh mereka kembali ideal, tetapi massa dan kekuatan otot mereka menurun drastis hingga sarkopenia, dan mungkin juga karena nafsu makan yang kian menurun. Penurunan otot yang drastis ini menimbulkan pertanyaan mengenai kebutuhan protein hewan senior. Hewan senior mungkin membutuhkan protein yang lebih tinggi, bahkan 50 persen lebih tinggi dibanding hewan dewasa. Kalau hewan seniormu punya masalah ginjal, rekomendasi ini tentu harus dipertimbangkan kembali sesuai kondisi hewannya secara menyeluruh.

Perubahan indra
Secara umum, hewan senior mengalami penurunan kemampuan indra penglihatan, pendengaran, dan penciuman. Kalau bicara nutrisi, indra penciuman ini sangat berpengaruh dalam mau atau tidaknya hewan makan. Penurunan penciuman bisa menjelaskan kenapa hewan tua lebih sering tidak nafsu makan. Jika ini terjadi, makanan basah bisa dicoba karena aromanya lebih kuat dibandingkan makanan kering. Makanan basah yang dipanaskan ke suhu tubuh cenderung lebih disukai dibandingkan makanan bersuhu kulkas atau suhu ruang.

“Hank The Cat Eating Tuna Fish” by Robert W. Howington is licensed under CC BY-SA 2.0

Bagaimana kandungan nutrisi makanan senior di pasaran?
Saya sudah ngomong panjang lebar tentang perubahan hewan senior dan bagaimana perubahan tersebut memengaruhi kebutuhan nutrisi. Namun, bagaimana dengan makanan-makanan yang diberi label untuk hewan senior dan dijual di pet shop?

Sebuah penelitian tahun 2020 mencoba membandingkan kandungan nutrisi 31 makanan kucing (19 makanan kering dan 12 makanan basah) yang diberi label senior dengan makanan kucing untuk dewasa biasa. Mereka menemukan bahwa makanan senior memiliki rata-rata kandungan serat kasar yang lebih tinggi dibandingkan makanan dewasa (7,0 vs 1,2 gram/1000 kcal). Formulasi tinggi serat mungkin dimaksudkan untuk mencegah kenaikan berat badan berlebih pada kucing senior, yang memang rentan obesitas. Namun, justru tidak ada perbedaan kepadatan kalori antara makanan senior dengan dewasa, padahal kalorilah yang berperan dalam manajemen berat badan. Ada rentang yang cukup luas dalam sampel produk makanan senior, dari 337 sampai 505 kcal/100 gram berat kering. Kalau dibandingkan berat keringnya (tanpa kandungan air), makanan basah cenderung lebih padat kalori dibanding makanan kering, tetapi kalau diperhitungkan dengan kandungan air, makanan basah kaya akan kandungan air yang tidak mengandung kalori. Jadi, makanan basah sekilas nampak banyak, tapi sebenarnya banyak air saja. Kalori makanan yang diberi label untuk kucing 11 tahun ke atas lebih tinggi dibandingkan yang untuk 7 tahun ke atas.

Tidak ada perbedaan kandungan protein, lemak, fosfor, kalsium, rasio kalsium dan fosfor, magnesium, kalium, dan natrium antara makanan senior dan dewasa. Bahkan, 32 persen makanan memiliki fosfor lebih dari 3,6 gram/1000 kcal, dan 6% memiliki rasio kalsium dan fosfor kurang dari 1. Kedua karakteristik ini ditakutkan dapat menjadi faktor risiko munculnya kerusakan ginjal, sehingga rasanya aneh kalau ditemukan di makanan senior.

Intinya, makanan yang diberi label untuk hewan senior sesungguhnya sangat bervariasi kandungan nutrisinya, karena memang tidak ada standar baku. Sulit untuk mengetahui apakah makanan tersebut memang diformulasikan dengan penuh perhitungan dan pertimbangan akan kebutuhan hewan senior, atau sebagai label marketing semata. Kembali lagi, itu tergantung kredibilitas perusahaannya. Perlu diingat juga, kalau yang saya tulis di atas adalah panduan umum untuk hewan sehat. Kalau hewannya sudah didiagnosis sakit tertentu, misalnya gagal ginjal, gagal jantung, atau diabetes mellitus, ada makanan terapetik yang lebih tepat untuk kondisi tersebut.

Referensi
Bellows, J., Center, S., Daristotle, L., Estrada, A. H., Flickinger, E. A., Horwitz, D. F., … Shoveller, A. K. (2016). Aging in cats: Common physical and functional changes. Journal of Feline Medicine and Surgery, 18(7), 533–550. https://doi.org/10.1177/1098612X16649523

Bellows, J., Colitz, C. M. H., Daristotle, L., Ingram, D. K., Lepine, A., Marks, S. L., … Zhang, J. (2015). Common physical and functional changes associated with aging in dogs. Journal of the American Veterinary Medical Association, 246(1), 67–75. https://doi.org/10.2460/javma.246.1.67

Churchill, J. A., & Eirmann, L. (2021). Senior Pet Nutrition and Management. Veterinary Clinics of North America – Small Animal Practice, 51(3), 635–651. https://doi.org/10.1016/j.cvsm.2021.01.004

Day, M. J. (2010). Ageing, Immunosenescence and Inflammageing in the Dog and Cat. Journal of Comparative Pathology, 142(SUPPL. 1), S60–S69. https://doi.org/10.1016/j.jcpa.2009.10.011

Day, Michael J, & Schultz, R. D. (2014). Veterinary Immunology – Principles and Practice. https://doi.org/10.7589/10.7589/0090-3558-55.1.002

Ephraim, E., Cochrane, C. Y., & Jewell, D. E. (2020). Varying protein levels influence metabolomics and the gut microbiome in healthy adult dogs. Toxins, 12(8), 1–16. https://doi.org/10.3390/toxins12080517

Epstein, M., Landsberg, G., Duncan, A. B., Lascelles, X., Marks, S. L., Acvim, D., … Tuzio, H. (2005). Senior Care Guidelines Task Force: Diplomate ABVP (Canine/Feline). Journal of the American Animal Hospitali Association, 41, 81–91. Retrieved from http://www.jaaha.org/doi/pdf/10.5326/0410081

Hutchinson, D., Freeman, L. M., Schreiner, K. E., & Terkla, D. G. (2009). Survey of opinions about nutritional requirements of senior dogs and analysis of nutrient profiles of commercially available diets for senior dogs. International Journal of Applied Research in Veterinary Medicine, 9(1–2), 68–79.

Kittleson, M. D., & Côté, E. (2021). The Feline Cardiomyopathies: 1. General concepts. Journal of Feline Medicine and Surgery, 23(11), 1009–1027. https://doi.org/10.1177/1098612X211021819

Laflamme, D., & Gunn-Moore, D. (2014). Nutrition of Aging Cats. Veterinary Clinics of North America – Small Animal Practice, 44(4), 761–774. https://doi.org/10.1016/j.cvsm.2014.03.001

Larsen, J. A., & Farcas, A. (2014). Nutrition of aging dogs. Veterinary Clinics of North America – Small Animal Practice, 44(4), 741–759. https://doi.org/10.1016/j.cvsm.2014.03.003

Masuoka, H., Shimada, K., Kiyosue-Yasuda, T., Kiyosue, M., Oishi, Y., Kimura, S., … Hirayama, K. (2017). Transition of the intestinal microbiota of cats with age. PLoS ONE, 12(8), 1–9. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0181739

May, K. A., & Laflamme, D. P. (2019). Nutrition and the aging brain of dogs and cats. Journal of the American Veterinary Medical Association, 255(11), 1245–1254. https://doi.org/10.2460/javma.255.11.1245

Ray, M., Carney, H. C., Boynton, B., Quimby, J., Robertson, S., St Denis, K., … Wright, B. (2021). 2021 AAFP Feline Senior Care Guidelines. Journal of Feline Medicine and Surgery, 23(7), 613–638. https://doi.org/10.1177/1098612X211021538

Saker, K. E. (2021). Nutritional Concerns for Cancer, Cachexia, Frailty, and Sarcopenia in Canine and Feline Pets. Veterinary Clinics of North America – Small Animal Practice, 51(3), 729–744. https://doi.org/10.1016/j.cvsm.2021.01.012

Summers, S. C., Stockman, J., Larsen, J. A., Sanchez Rodriguez, A., & Zhang, L. (2020). Evaluation of nutrient content and caloric density in commercially available foods formulated for senior cats. Journal of Veterinary Internal Medicine, 34(5), 2029–2035. https://doi.org/10.1111/jvim.15858

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s