Kebenaran dalam sains kesehatan jarang sekali hitam putih, tetapi sering abu-abu — bisa abu-abu terang ataupun abu-abu gelap. Termasuk kalau ngomongin cara memberi makan, tidak ada cara yang paling benar antara makanan komersil atau buatan sendiri, mentah atau dimasak, kering, atau basah. Ini normal saja. Bentuk sediaan makanan tidak terlalu penting. Yang penting, makanan tersebut nutrisinya lengkap dan seimbang, aman dari bahaya kimia, fisik, dan biologis, sesuai kebutuhan individu, dan enak (palatable) untuk individu hewan tersebut. Sayangnya, kadang orang menempatkan fanatisme makanan hewan terhadap hal yang tidak terlalu penting tersebut (bentuk sediaan), sampai mengesampingkan hal-hal yang lebih penting. Ini yang saya sesalkan kalau ngomongin raw food.

Saya sebenarnya sudah pernah bahas masalah klasik raw food: ketidakseimbangan nutrisi dan bahaya mikrobiologis di twitter. Masalah ini masih ada dan nyata sekali, dan karena itu, saya akan tetap bahas sedikit. Tapi, saya akan fokus ke informasi yang lebih baru raw food.

Sekilas tentang risiko dan keamanan raw food
Review mengenai raw food dapat dibaca di http://doi.org//10.2460/javma.243.11.1549 dan http://doi.org/10.1111/jsap.13000.

Banyak penelitian sudah menemukan kontaminasi berbagai bakteri dan parasit dari raw food komersil.1,2 Beberapa bakteri yang jadi perhatian khusus meliputi bakteri Salmonella enterica, Eschiricia coli, Clostridium spp., Campylobacterium jejuni, Listeria monocytogenes, Mycobacterium bovis, dan Yersinia enterocolitica; parasit Toxoplasma gondii, Echinococcus multilocularis, Taenia solium, Taenia saginata, dan Trichinella spiralis.3,4 Cemaran mikroorganisme dan ini bukan cuma berbahaya bagi hewan. Malahan, bahaya sesungguhnya bukan pada hewannya, tetapi manusia yang tinggal bersama hewan. Kebanyakan mikroorganisme patogen dalam raw food adalah patogen zoonosis, yang berarti bisa menular ke manusia.3 Karena itu, raw food sangat tidak disarankan jika di rumah ada orang dengan kondisi young, old, pregnant, immunocompromised (anak kecil, lansia, ibu hamil, dan orang dengan gangguan sistem imun).

Tetapi, selain bakteri, ketidakamanan raw food juga bisa datang dari organ hewan itu sendiri. Ada beberapa kasus hipertiroidisme yang terjadi karena anjing memakan organ tiroid dari raw food sapi.5,6 Ini adalah gangguan hormonal yang membuat metabolisme terlalu cepat. Secara alami, sebenarnya hipertiroidisme jarang terjadi pada anjing, seringnya hipotiroidisme. Kasus hipertiroidisme alami seringnya terjadi di kucing.

Trakhea, organ yang sering dijadikan snack anjing, tetapi berdekatan dengan kelenjar tiroid (sumber: Shutterstock/natali.lymarenko)

Masalah keamanan lainnya bukan berasal dari zat atau organisme berbahaya, melainkan nutrisi raw food itu sendiri. Beberapa penelitian sudah membuktikan bahwa hampir semua resep makanan hewan homemade tidak lengkap dan seimbang nutrisinya.7–9 Kebanyakan resep mengalami defisiensi mikronutrien, tetapi mikronutrien yang paling sering terdampak adalah vitamin D dan E, kalsium, zink, tembaga, kalium, zat besi, dan kolin. Kekurangan mikronutrien ini mungkin efeknya tidak akan terlihat dalam satu atau dua bulan, tetapi bisa bertahun-tahun. Karena kebanyakan raw food adalah makanan homemade atau dibuat secara komersil, tetapi bukan oleh ahli nutrisi, risiko ini juga menimpa raw food. Pemberian raw food tanpa pengetahuan yang cukup bisa menyebabkan defisiensi biotin karena avidin dari telur mentah, defisiensi vitamin B1 karena thiaminase dari ikan mentah, dan hipervitaminosis A dari organ hati.4

Masalah yang timbul dari risiko-risiko tersebut bisa kecil, seperti mikrositosis (sel darah merah jadi kecil) dan penemuan bakteri Salmonella dan toksin Clostridium difficile tanpa gejala klinis,10 hingga yang berat seperti gangguan tulang pada anak anjing dan kucing yang sampai menyebabkan kematian.11,12 Dalam skala yang lebih besar, bisa terjadi wabah karena raw food komersil yang terkontaminasi, misalnya kasus tuberculosis dari Mycobacterium bovis dalam raw food yang menyebabkan kematian beberapa kucing di Inggris.13

Mitigasi risiko raw food
Kabar baiknya, kedua risiko ini bisa dimitigasi sampai ke tingkat yang dapat diterima, walau tidak mungkin sampai nol risiko. Makanan komersial pun tidak mungkin nol risiko. Manajemen risiko nutrisi lebih sederhana untuk dikatakan (tapi mungkin tidak mudah untuk dilakukan), yaitu dengan mendapatkan resep raw food personal yang lengkap dan seimbang dari ahli nutrisi hewan kesayangan sungguhan (sungguhan, karena banyak nutritionist abal-abal). Ahli nutrisi sungguhan adalah dokter hewan bergelar spesialis nutrisi (DACVIM (Nutrition) atau DECVCN) atau seseorang dengan gelar PhD dalam bidang nutrisi hewan kesayangan (bukan kuda atau hewan ternak) dari universitas terakreditasi. Setelah mendapat resep, tentu resep tersebut harus diikuti, baik jenis, jumlah, dan saran penyajiannya, tanpa mengubah resep tanpa konsultasi dengan ahli nutrisi yang meresepkan. Alternatif lain adalah membeli raw food komersil, tetapi sama seperti standar makanan komersil lainnya, perusahaan raw food komersil yang baik harus mempunyai ahli nutrisi sendiri, dengan kriteria yang sudah saya jelaskan, dan seluruh produk yang mereka keluarkan harus ada di bawah pengawasan ahli nutrisi. Satu-satunya produk raw food yang beredar di Indonesia yang memenuhi syarat ini cuma Instinct. Saya tidak tahu perusahaan raw food lain di Indonesia yang memenuhinya, karena kebanyakan yang saya tahu tidak punya ahli nutrisi sungguhan.

Risiko mikrobiologis mungkin terdengar lebih ribet, tapi lebih mudah diterapkan. Seandainya memasak adalah sebuah opsi, misal karena Anda sekadar ingin menghindari makanan komersil, lebih baik menggunakan homemade food yang dimasak daripada raw food. Proses pemanasan paling efektif dalam membunuh bakteri patogen. Mungkin tidak semua pengguna raw food mau, karena memasak menghilangkan esensi raw food, tetapi sebenarnya tidak ada perbedaan berarti dari segi nutrisi. Resep homemade food ini juga harus lengkap dan seimbang dan diapat dari nutritionist.

“‘Rrrrr'” by Hotash is licensed under CC BY 2.0

Jika Anda tetap ingin menggunakan raw food, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan higiene pangan yang baik, diterjemahkan dari AVMA:14

  • Jika membeli produk raw food komersil, pilih produk yang punya protokol keamanan pangan untuk membasmi patogen dari produknya. Misalnya, Instinct yang saya sebutkan di atas menerapkan high pressure pasteurization dan audit dari pihak ketiga untuk menjamin keamanan produknya.
  • Jangan beli produk jika kemasannya rusak.
  • Produk harus selalu disimpan di freezer sampai akan digunakan. Produk yang tidak digunakan harus langsung dimasukkan ke kulkas atau dibuang.
  • Pisahkan raw food hewan peliharaan dari makanan manusia untuk mencegah kontaminasi silang. Jangan gunakan tempat dan peralatan yang sama dalam menyiapkan makanan hewan dan manusia.
  • Jangan biarkan makanan yang sudah dimasak untuk manusia berkontak dengan makanan mentah.
  • Cuci buah dan sayur sebelum diberikan.
  • Cuci tangan dengan sabun setelah memegang atau menyiapkan raw food.
  • Bersihkan mangkuk hewan, peralatan, dan permukaan yang digunakan untuk menyiapkan raw food secara teratur.
  • Jauhkan serangga dan hama lainnya dari raw food.

Saya tetap tidak menyarankan raw food untuk rumah yang ditinggali manusia dengan kondisi young, old, pregnant, immunocompromised (anak kecil, lansia, ibu hamil, dan orang dengan gangguan sistem imun).

Saat ini, terdapat beberapa metode baru yang dikembangkan untuk mitigasi risiko raw food. Misalnya, ada penelitian15 yang menggunakan 2-hydroxy-4-(methylthio)-butanoic acid (HMTBa) untuk mengurangi risiko bakteri Salmonella dan Listeria monocytogenes dalam raw food. HMTBa berhasil menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi tidak bisa membasmi bakteri. Meski menjanjikan, metode ini masih perlu pengembangan dan penelitian lebih lanjut. Ketika diujikan ke kucing, kucing cenderung lebih suka makanan yang tidak diberi HMTBa, meskipun mereka tetap mau makanan yang diberi HMTBa.

Pengaruh raw food terhadap komposisi mikrobiota usus
Usus mengandung lebih banyak sel bakteri dibandingkan jumlah sel yang menyusun tubuh hewan dan manusia. Peran mikrobiota usus terhadap kesehatan berbagai sistem organ sedang marak-maraknya diteliti, baik di hewan maupun manusia. Komposisi mikrobiota usus tentu dipengaruhi kuat oleh makanan. Bagaimana raw food dapat memengaruhi komposisi mikrobiota pada usus anjing dan kucing?

Sudah lumayan banyak penelitian yang berusaha menjawa pertanyaan ini. Hasilnya pun beragam, mengingat komposisi nutrisi dalam tiap sediaan raw food juga berbeda. Namun, sekadar mengetahui bakteri apa belum cukup, karena belum menjawab pertanyaan yang lebih penting: apa pengaruhnya terhadap kesehatan hewan tersebut?

Fortiflora, salah satu produk probiotik yang sering digunakan dalam manajemen gangguan pencernaan anjing.“FortiFlora Dog Probiotics” by Tony Webster is licensed under CC BY-SA 2.0

Misalnya, dalam satu penelitian,16 anjing yang makan daging iris mengalami penurunan jumlah bakteri Faecalibacterium prausnitzii dan kenaikan Clostridium hiranonis jika dibandingkan anjing yang makan makanan kering. Pada manusia, ketiadaan F. prausnitzii seringkali berhubungan dengan radang usus (inflammatory bowel disease), sehingga F. prausnitzii dianggap bakteri baik. C. hiranonis berperan dalam metabolisme asam empedu, dan didapati bertambah jika anjing atau kucing makan makanan tinggi protein. Populasi C. hiranonis yang rendah sering didapati pada anjing dengan gangguan pencernaan, sehingga C. hiranonis dianggap bakteri yang baik. Nah, apakah kenaikan populasi satu bakteri baik dan penurunan populasi bakteri baik lainnya ini punya arti khusus untuk kesehatan si anjing? Ini yang belum kita ketahui pasti

Dalam penelitian lain, anjing yang mengonsumsi raw food memiliki populasi E. coli dan Clostridium perfringens yang lebih tinggi dibanding anjing yang makan makanan kering komersil. Kedua bakteri tersebut sering dianggap bakteri jahat, dan dalam penelitian tersebut pun, anjing yang makan raw food mengalami kenaikan dysbiosis index. Dysbiosis index menandakan adanya perubahan komposisi mikrobiota usus yang terkait masalah pencernaan pada anjing.17

Namun, apakah perubahan dalam kasus ini memang sesuatu yang jelek? Atau sekadar perubahan komposisi bakteri, dari yang dominan sakarolitik (pemecah karbohidrat, yang cukup banyak di makanan kering komersil) menjadi dominan proteolitik (pemecah protein, yang merupakan komponen dominan raw food?18 Perlu diketahui juga kalau spesies bakteri yang sama bisa berbeda efeknya pada hewan jika strainnya berbeda. Contohnya, dalam spesies Lactobacillus plantarum ada strain yang bersifat antiradang maupun memicu peradangan.19 Jadi, tidak bisa disimpulkan apakah perubahan komposisi bakteri ini memang terkait dysbiosis, atau sekadar perubahan ketersediaan makanan bakterinya saja.

Untuk saat ini, sepertinya terlalu dini untuk menyimpulkan apakah raw food mengubah komposisi mikrobiota usus menjadi lebih bagus atau jelek. Yang kita tahu, raw food yang notabene tinggi protein dan lemak, serta rendah karbohidrat, cenderung mengubah komposisi mikrobiota yang cenderung pengguna karbohidrat menjadi pengguna lemak dan protein. Di manusia, bakteri-bakteri ini (Fusobacterium, Clostridium) memang punya reputasi jelek, tetapi di hewan anjing dan kucing, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka adalah bakteri normal di saluran cerna.20,21

Meninjau kembali klaim manfaat raw food
Walaupun pendukung raw food sering mengklaim bahwa raw food meningkatkan kesehatan kulit, rambut, gigi, pencernaan, dan lainnya, saya cuma berhasil menemukan dua penelitian yang membahas pengaruh raw food terhadap kesehatan klinis anjing, dan tidak ada di kucing. Penelitian pertama dipresentasikan dalam Kongres ESVCN (European Society of Veterinary Comparative Nutrition) 2016.22 Full text penelitian tersebut tidak tersedia, tetapi menurut kutipan artikel lain,23 Bieri dan Liesegang menemukan peningkatan kesehatan gigi pada anjing yang diberi raw food, tetapi tidak ada perbedaan kesehatan rambut dan feses. Manfaat raw food untuk kesehatan gigi mungkin karena pemberian tulang (tetapi saya tidak punya akses full text, jadi saya tidak tahu apakah anjing-anjing diberi tulang utuh). Memberi tulang untuk dikunyah anjing memang bisa mengurangi karang gigi24, tetapi ini juga tergantung tulangnya. Di sisi lain, penelitian pada tengkorak anjing liar (yang makan makanan “natural”) juga mengalami berbagai masalah gigi seperti gigi patah, copot, serta periodontitis.25 Dan lagi, pemberian tulang bisa berisiko melukai gusi, tersangkut di gigi,26 dan tersangkut di kerongkongan hingga mengancam nyawa. Tulang adalah benda asing yang paling sering ditemukan tersangkut.27 Oleh karena itu, FDA tidak merekomendasikan pemberian tulang.28 Masih banyak alternatif yang lebih aman untuk menjaga kesehatan gigi.

“Smiling Dog” by Rennett Stowe is licensed under CC BY 2.0

Penelitian kedua lebih baru dan bisa diakses full textnya.29 Dalam penelitian cross-sectional ini, anjing yang diberi raw food memiliki skor kesehatan klinis dan rambut yang lebih baik, serta feses yang lebih padat daripada anjing yang makan kibble. Namun, tidak ada perbedaan kesehatan gigi dan telinga, serta tidak ada perbedaan prevalensi penyakit kulit. Penelitian ini disponsori oleh American Holistic Veterinary Medical Association (AHVMA), yang banyak anggotanya adalah pendukung raw food. Salah satunya adalah Dr Susan Wynn, ahli pengobatan herbal dan spesialis nutrisi hewan kecil. Sayangnya, banyak juga dokter hewan AHVMA yang mendukung raw food tanpa memikirkan aspek kelengkapan dan seimbangan nutrisi, serta keamanan mikrobiologisnya. Saya tidak tahu apakah ini bisa jadi sumber bias. Dari segi metode, sisi positifnya adalah penilaian skor klinis oleh dokter hewan dilakukan dengan blinding (dokter hewan yang memeriksa tidak tahu anjingnya makan apa), tetapi perekrutan anjing dilakukan secara sukarela, jadi ada kemungkinan sampling bias.

Kedua penelitian di atas saja hasilnya bertentangan. Jadi, saya rasa terlalu dini untuk mengklaim raw food punya manfaat tertentu secara klinis. Sebenarnya, sulit sekali untuk melakukan penelitian mengenai efek raw food terhadap kesehatan. Ketika kita bicara manfaat raw food, kementahan makanan tersebutlah yang jadi aspek utama dan terpenting, karena menurut sebagian besar pemilik yang memberi raw food, makanan anjing yang homemade sekalipun tidak sehat kalau dimasak.30 Karena itu, ketika meneliti manfaat raw food, idealnya semua makanan yang diujikan dikontrol agar sama dari segi nutrisi (makro dan mikronutriennya), tetapi hanya berbeda dari proses pengolahannya. Sayangnya, ini belum pernah (dan sulit) dilakukan.

Sebenarnya, klaim bahwa nutrien dalam raw food, khususnya protein, lebih mudah dicerna cukup didukung oleh beberapa penelitian.31,32 Penelitian yang saya sebutkan membandingkan raw food hanya dengan kibble, sementara kecernaan yang lebih tinggi ini juga bisa ditemukan pada makanan basah komersil dan makanan segar yang dimasak,33–35 sehingga tidak bisa diklaim secara spesifik sebagai manfaat raw food. Secara fisiologis, ini dapat dijelaskan oleh hampir tidak adanya serat dalam raw food, sementara serat seringkali ada dalam jumlah yang lumayan dalam dry food. Penambahan serat memang berpotensi menurunkan kecernaan nutrien,36 tetapi serat justru sering dimanfaatkan dalam manajemen gangguan pencernaan dan obesitas. Serat juga menambah volume feses karena memang tidak bisa dicerna (sehingga dibuang sebagai feses). Perlu diperhatikan juga bahwa beberapa hewan, khususnya anjing ras besar, tidak cocok dengan makanan rendah serat karena mudah terkena peradangan usus besar.37,38 Manfaat ini bisa dijadikan pertimbangan untuk menggunakan atau tidak menggunakan raw food, tetap perlu dipertimbangkan bersama risikonya.

Risiko infeksi bakteri dari raw food ke manusia itu kecil!
Saya pribadi merasa ini lucu, karena teringat argumen antivaksin SARS-CoV-2 (Covid-19) bahwa mortalitas Covid-19 sangat kecil: di bawah 2%. Ya, memang tidak bisa disamakan sih, walaupun pemilik hewan dan dokter hewan yang pro raw food kebetulan seringkali juga pengguna pengobatan alternatif, baik di hewan maupun manusia. Dari yang saya amati di laman website Raw Feeding Veterinary Society (RVFS), dokter hewan anggotanya rata-rata juga mempraktikkan salah satu pengobatan alternatif tersebut. Tidak aneh, karena raw food itu sendiri termasuk dalam praktik alternatif. Untungnya, beberapa raw feeder yang pernah berinteraksi dengan saya masih percaya pengobatan konvensional.

Klaim bahwa risiko infeksi bakteri dari raw food itu kecil ini ternyata juga ada bukti pendukung (ie. data)nya. Setidaknya dua penelitian39,40 melaporkan bahwa angka transmisi patogen dari raw food ke manusia (keluarga yang memberi makan raw food) sangat rendah, di bawah 0,5%. Namun, ada kelemahan penting dalam kedua penelitian ini: metode yang digunakan adalah survei internet yang diisi sukarela oleh pemilik hewan. Data yang didapat dari survei internet yang diisi sukarela seperti ini sangat rawan bias. Ketika tidak ada paksaan maupun insentif untuk mengisi survei, orang (termasuk saya) umumnya, sih, malas mengisi survei internet. Orang yang mau sukarela mengisi survei umumnya orang-orang yang punya opini yang kuat terhadap topik survei tersebut. Akhirnya, hanya merekalah yang terwakilkan dalam survei, dan terjadilah self-selection bias atau non-response bias.41,42 Orang-orang yang tidak mengisi survei tidak direpresentasikan dalam survei tersebut, padahal data dari mereka sangat berpotensi mengubah hasil survei. Masalahnya, hal ini pun berlaku untuk fenomena raw feeding. Orang-orang yang memberi makan raw food cenderung punya opini sangat kuat terhadap raw food, sampai menganggap makanan yang dimasak (homemade food, bukan makanan komersil) tidak sehat dan dokter hewan mereka tidak paham nutrisi hewan.30

Kelemahan kedua saya sadur dari blog Dr J Scott Weese. Perlu diketahui kalau rata-rata masalah pencernaan yang disebabkan makanan itu ringan. Saya tidak ingat kapan saja saya mengalami diare ringan dalam setahun terakhir, dan lebih lagi, saya tidak akan kepikiran untuk menghubungkan diare dengan patogen dalam makanan. Ini beda ya, dengan salah makan. Padahal, CDC memperkirakan 48 juta (dari 330 juta) penduduk Amerika mengalami foodborne illness per tahunnya. Mungkin kalau di Indonesia, angkanya lebih besar karena higiene pangannya tidak sebaik di sana. Dari angka tersebut, hanya 128 ribu (0,002%) yang sampai harus dirawat di rumah sakit.43 Sementara, survei di atas menanyakan “Apakah orang di rumah Anda ada yang pernah sakit karena memegang atau menyiapkan raw food untuk hewan, atau berkontak dengan hewan yang makan raw food?“ (terjemahan saya). Sangat wajar jika banyak orang tidak sadar mereka pernah sakit pencernaan ringan karena raw food. Tentu, sebenarnya bagus kalau risiko penyakit dari raw food kecil dan hanyalah penyakit ringan, tetapi lebih bagus lagi kalau risiko tersebut bisa diperkecil. Apakah raw food pernah menyebabkan penyakit yang lebih parah pada manusia? Pernah, misalnya dalam keempat kasus yang pernah ditemui dan ditulis Dr Lisa Weeth dalam blognya.

Sebenarnya, kedua penelitian39,40 tersebut tidak salah. Metode penelitian memiliki kelemahan adalah hal yang wajar, dan ini tidak berarti penelitian tersebut tidak berguna. Hanya saja, interpretasinya harus dilakukan dengan hati-hati. Sayangnya, data tersebut rawan disalahartikan oleh masyarakat, misalnya menjadi “risiko penularan patogen dari raw food hanya 0,2%,” atau “pemberian raw food untuk hewan peliharaan aman menurut penelitian,” padahal penelitian sendiri tidak bilang begitu.

Masih ada beberapa topik yang ingin saya bahas: alergi, resistansi antimikrobial, demografi pemberian raw food, dan lainnya. Namun, ternyata tulisan ini sudah terlalu panjang. Saya akan sambung di bagian 2 nanti kalau sempat.

Referensi
1.        Schlesinger, D. P. & Joffe, D. J. Raw food diets in companion animals: A critical review. Can. Vet. J. 52, 50–54 (2011).

2.        Davies, R. H., Lawes, J. R. & Wales, A. D. Raw diets for dogs and cats: a review, with particular reference to microbiological hazards. J. Small Anim. Pract. 60, 329–339 (2019).

3.        Ahmed, F. et al. Raw meat based diet (RMBD) for household pets as potential door opener to parasitic load of domestic and urban environment. Revival of understated zoonotic hazards? A review. One Heal. 13, 100327 (2021).

4.        Chandler, M., German, A. J. & Woods, G. Raw diets. in BSAVA Guide to Nutrition (British Small Animal Veterinary Asociation, 2020).

5.        Köhler, B., Stengel, C. & Neiger-Casas, R. Dietary hyperthyroidism in dogs. J. Small Anim. Pract. 53, 182–184 (2012).

6.        Zeugswetter, K. F., Vogelsinger, K. & Handl, S. Hyperthyroidism in dogs caused by consumption of thyroid-containing head meat. Schweiz. Arch. Tierheilkd. 155, 149–152 (2013).

7.        Wilson, S. A., Villaverde, C., Fascetti, A. J. & Larsen, J. A. Evaluation of the nutritional adequacy of recipes for home-prepared maintenance diets for cats. J. Am. Vet. Med. Assoc. 254, 1172–1179 (2019).

8.        Stockman, J., Fascetti, A. J., Kass, P. H. & Larsen, J. A. Evaluation of recipes of home-prepared maintenance diets for dogs. JAVMA 242, (2013).

9.        Pedrinelli, V. et al. Concentrations of macronutrients, minerals and heavy metals in home-prepared diets for adult dogs and cats. Sci. Rep. 9, 1–12 (2019).

10.      Hamper, B. A., Bartges, J. W. & Kirk, C. A. Evaluation of two raw diets vs a commercial cooked diet on feline growth. J. Feline Med. Surg. 19, 424–434 (2017).

11.      Dodd, S., Barry, M., Grant, C. & Verbrugghe, A. Abnormal bone mineralization in a puppy fed an imbalanced raw meat homemade diet diagnosed and monitored using dual-energy X-ray absorptiometry. J. Anim. Physiol. Anim. Nutr. (Berl). 105, 29–36 (2019).

12.      Taylor-Brown, F., Beltran, E. & Chan, D. L. Secondary nutritional hyperparathyroidism in Bengal cats. Vet. Rec. 179, 287–288 (2016).

13.      O’Halloran, C. et al. Tuberculosis due to Mycobacterium bovis in pet cats associated with feeding a commercial raw food diet. J. Feline Med. Surg. 21, 667–681 (2019).

14.      American Veterinary Medical Association. Raw Pet Foods and the AVMA’s Policy: FAQ. Available at: https://www.avma.org/raw-pet-foods-and-avmas-policy-faq.

15.      Owens, T. G. et al. Use of 2-hydroxy-4-(methylthio)-butanoic acid to inhibit Salmonella and Listeria in raw meat for feline diets and palatability in domestic cats. J. Anim. Sci. 99, skab253 (2021).

16.      Schmidt, M. et al. The fecal microbiome and metabolome differs between dogs fed Bones and Raw Food (BARF) diets and dogs fed commercial diets. PLoS One 13, 1–20 (2018).

17.      AlShawaqfeh, M. K. et al. A dysbiosis index to assess microbial changes in fecal samples of dogs with chronic inflammatory enteropathy. FEMS Microbiol. Ecol. 93, 1–8 (2017).

18.      Pilla, R. & Suchodolski, J. S. The Gut Microbiome of Dogs and Cats, and the Influence of Diet. Vet. Clin. North Am. – Small Anim. Pract. 51, 605–621 (2021).

19.      Klaenhammer, T. R., Kleerebezem, M., Kopp, M. V. & Rescigno, M. The impact of probiotics and prebiotics on the immune system. Nat. Rev. Immunol. 12, 728–734 (2012).

20.      Butowski, C. F., Moon, C. D., Thomas, D. G., Young, W. & Bermingham, E. N. The effects of raw-meat diets on the gastrointestinal microbiota of the cat and dog: a review. N. Z. Vet. J. 70, 1–9 (2022).

21.      Pilla, R. & Suchodolski, J. S. The Gut Microbiome of Dogs and Cats, and the Influence of Diet. Vet. Clin. North Am. – Small Anim. Pract. 51, 605–621 (2021).

22.      Bieri, M. & Liesegang, A. Effect of BARF-feeding on faecal consistency, coat quality, dental health and blood values of dogs. in Proceedings ESVCN-Kongres 2016 48 (2016).

23.      Vervuert, I. & Rückert, C. Der BARF-Trend in der Hundeernährung – Eine Herausforderung für den Tierarzt? Kleintier Konkret 20, 12–15 (2017).

24.      Marx, F. R. et al. Raw beef bones as chewing items to reduce dental calculus in Beagle dogs. Aust. Vet. J. 94, 18–23 (2016).

25.      Steenkamp, G. & Gorrel, C. Oral and dental conditions in adult African wild dog skulls: A preliminary report. J. Vet. Dent. 16, 65–68 (1999).

26.      Pinto, C. F. D., Lehr, W., Pignone, V. N., Chain, C. P. & Trevizan, L. Evaluation of teeth injuries in Beagle dogs caused by autoclaved beef bones used as a chewing item to remove dental calculus. PLoS One 15, 1–15 (2020).

27.      Rousseau, A., Prittie, J., Broussard, J. D., Fox, P. R. & Hoskinson, J. Incidence and characterization of esophagitis following esophageal foreign body removal in dogs: 60 cases (1999-2003). J. Vet. Emerg. Crit. Care 17, 159–163 (2007).

28.      US Food and Drugs Administration. No Bones (or Bone Treats) About It: Reasons Not to Give Your Dog Bones. (2017). Available at: https://www.fda.gov/consumers/consumer-updates/no-bones-or-bone-treats-about-it-reasons-not-give-your-dog-bones.

29.      Hiney, K., Sypniewsk, L., Rudra, P., Pezeshki, A. & McFarlane, D. Clinical health markers in dogs fed raw meat based or commercial extruded kibble diets. J. Anim. Sci. 99, skab133 (2020).

30.      Empert-Gallegos, A., Hill, S. & Yam, P. S. Insights into dog owner perspectives on risks, benefits, and nutritional value of raw diets compared to commercial cooked diets. PeerJ 8, (2020).

31.      Kerr, K. R., Vester Boler, B. M., Morris, C. L., Liu, K. J. & Swanson, K. S. Apparent total tract energy and macronutrient digestibility and fecal fermentative end-product concentrations of domestic cats fed extruded, raw beef-based, and cooked beef-based diets. J. Anim. Sci. 90, 515–522 (2012).

32.      Vester, B. M. et al. Influence of feeding raw or extruded feline diets on nutrient digestibility and nitrogen metabolism of African wildcats (Felis lybica). Zoo Biol. 29, 676–686 (2010).

33.      Do, S., Phungviwatnikul, T., de Godoy, M. R. C. & Swanson, K. S. Nutrient digestibility and fecal characteristics, microbiota, and metabolites in dogs fed human-grade foods. J. Anim. Sci. 99, 1–13 (2021).

34.      Tanprasertsuk, J., Perry, L. A. M., Tate, D. E., Honaker, R. W. & Shmalberg, J. Apparent total tract nutrient digestibility and metabolizable energy estimation in commercial fresh and extruded dry kibble dog foods. Transl. Anim. Sci. 5, 1–9 (2021).

35.      Algya, K. M. et al. Apparent total-tract macronutrient digestibility, serum chemistry, urinalysis, and fecal characteristics, metabolites and microbiota of adult dogs fed extruded, mildly cooked, and raw diets. J. Anim. Sci. 96, 3670–3683 (2018).

36.      Burrows, C., Kronfeld, D., Banta, C. & Merritt, A. Effects od Fiber on Digestibility and Transit Time in Dogs. Lab. Anim. 1112, 1726–32 (1982).

37.      Leib, M. S. Treatment of chronic idiopathic large-bowel diarrhea in dogs with a highly digestible diet and soluble fiber: a retrospective review of 37 cases. J. Vet. Intern. Med. 14, 27–32 (2000).

38.      Rossi, G. et al. Rapid resolution of large bowel diarrhea after the administration of a combination of a high-fiber diet and a probiotic mixture in 30 dogs. Vet. Sci. 7, (2020).

39.      Anturaniemi, J., Barrouin-Melo, S. M., Zaldivar-López, S., Sinkko, H. & Hielm-Björkman, A. Owners’ perception of acquiring infections through raw pet food: A comprehensive internet-based survey. Vet. Rec. 185, 658 (2019).

40.      Cammack, N. R., Yamka, R. M. & Adams, V. J. Low Number of Owner-Reported Suspected Transmission of Foodborne Pathogens From Raw Meat-Based Diets Fed to Dogs and / or Cats. Front. Vet. Sci. 8, 1–16 (2021).

41.      Zhang, Y. Using the internet for survey research. J. Am. Soc. Inf. Sci. 51, 57–68 (1999).

42.      Hibberts, M., Johnson, R. B. & Hudson, K. Common Survey Sampling Techniques. in Handbook of Survey Methodology for the Social Sciences (2012). doi:10.1007/978-1-4614-3876-2

43.      Center for Disease Control and Prevention. Foodborne Germs and Illnesses. (2020). Available at: https://www.cdc.gov/foodsafety/foodborne-germs.html.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s