Beberapa waktu lalu, timeline Twitter saya cukup ramai karena polemik obat pet shop. Ceritanya, akun @drhngepodcast ngetwit list obat-obatan yang ga direkomendasikan untuk dipakai karena ga jelas. Ternyata, twit tersebut ramai, nyampe ke mana-mana, termasuk ke orang-orang yang ga follow @drhngepodcast dan beberapa dokter hewan yang sering ngomongin obat-obatan ini di Twitter. Beberapa ada yang protes juga, kok larang-larang doang tapi ga bilang kenapa (padahal sebelumnya sudah sering banget), tapi akhirnya admin @drhngepodcast tetap ngejelasin lagi dengan lebih lengkap. Sampai sekarang, pas saya nulis ini pun, adminnya masih rajin nanggepin pertanyaan pet owner yang penasaran obat ini, obat itu aman ga. Nah, saya coba juga bahas isi obat-obatan tersebut, tapi mohon maklum kalau agak susah. Pas kuliah dan baru dapet mata kuliah Farmakologi pun, saya juga berasa bodoh banget. Untung, sekarang sih udah ngerti.

Oh iya, sebelumnya ada beberapa precaution:

  1. Dalam tulisan ini, saya berasumsi kalau memang yang obat dalam botol tersebut sesuai yang ditulis. Aslinya, kita tidak tahu sebenarnya apa yang ada di dalamnya.
  2. Secara umum, dosis obat-obatan ini ga jelas. Instruksi pemberiannya berdasarkan kucing besar, kecil, sedang, dan dosis pemberiannya pakai tetes-tetes. Entahlah yang dimaksud kucing besar itu sebesar harimau atau Maine Coon.
  3. Nomor registrasinya palsu, jadi mau apa pun isinya, ga usah diharapkan.

Obat #1
Mulai dari obat paling terkenal dulu ya. Kalau tik “obat kucing” atau “obat pet shop”, obat ini pasti paling banyak muncul. Klaimnya bisa untuk nyembuhin flu dan pilek. Kalau menurut label, isinya cephradoxyl anhydrate, betamethasone, phenylpropanolamine, chlorpheniramine maleate, dan vitamin C. Cephradoxyl itu, uhm, saya tidak tahu apa. Saya tahunya cefadroxil, antibiotik golongan sefalosporin generasi pertama. Anggap saja isinya cefadroxil dan itu cuma typo (tapi, ya masa obat typo?), apa lantas obat ini tepat?

Sebagian besar flu di kucing disebabkan feline-herpesvirus 1 (FHV-1), yang seminggu-dua minggu akan sembuh sendiri. Flu bisa juga disebabkan virus lain, feline calicivirus (FCV). FCV ini ada strain yang jinak, ada yang ganas. Virus kayak FHV-1 dan FCV ini ga bisa diobatin dengan antibiotik. Ada sih, antivirus yang bisa ngobatin FHV-1, tapi harganya mahal dan nyarinya susah, jadi kalau flunya ringan, biasa ga disaranin karena bakal sembuh sendiri. Kalau dalam 10 hari kucingnya masih flu, atau selama 10 hari ingusnya ijo, kucingnya demam, atau ada gejala lain, baru kita pertimbangin untuk pake antibiotik.

Jadi boleh pake obat Fafifu ini? Oh, tunggu dulu. Pertama, antibiotik adalah obat keras, yang seharusnya tidak boleh dijualbelikan tanpa resep dokter. Prinsip penggunaan antibiotik itu sebanyak yang dibutuhkan, sesedikit mungkin. Penggunaan antibiotik yang asal-asalan bisa mempercepat tercapainya resistensi dan kepunahan umat manusia. Antibiotik cefadroxil ternyata bukan pilihan utama dalam ngobatin flu, soalnya ga mempan buat beberapa bakteri penyebab utama flu: Chlamydia felis, Mycoplasma, dan Bordetella bronchiseptica. Mungkin yang paling sering kedengeran di Indonesia itu Chlamydia. Beberapa bakteri lain memang bisa diobatin pake cefadroxil, tapi kan kita ga tahu bakterinya apa. Kalau mau tahu, harus dikultur, tapi lama dan mahal. Daripada gambling, biasanya kucing akan tetap diresepin antibiotik lain, yang cara kerjanya berbeda dan bisa ngelibas Chlamydia felis, Mycoplasma, dan Bordetella bronchiseptica. Biar ga salah, mending periksakan ke dokter hewan.

Selain itu, dosis pemberian cefadroxilnya juga ga jelas, bahkan cenderung sedikit banget buat berefek apa-apa. Padahal haram banget penggunaan antibiotik yang ngasih segan, ga ngasih ga mau ini. Jadinya, antibiotik bukan membunuh bakteri tapi menggembleng bakteri biar tahan sama antibiotik.

Betamethasone adalah obat golongan kortikosteroid. Fungsinya bisa jadi antiradang atau imunosupresan, tapi saya agak bingung juga, karena betamethasone ini biasa sediaannya topikal (salep). Di antara semua obat kortikosteroid, kok bisa yang buat obat ini kepikiran pake betamethasone, ya? Kortikosteroid memang obat dewa, soalnya kebanyakan penyakit bikin radang, dan kortikosteroid bisa meredakan peradangan. Biar begitu, buat manusia saja, kortikosteroid ini tergolong obat keras karena banyak efek samping kalau tidak hati-hati makenya. Kalau di kucing, pemakaian kortikosteroid sembarangan bisa bikin gangguan pankreas dan hormon kelenjar adrenal, soalnya kortikosteroid alaminya tubuh diproduksi sama kelenjar adrenal. Berhenti konsumsi steroid ga boleh tiba-tiba, tapi harus pelan-pelan dikurangi dosisnya, biar si adrenal ga kaget dan malah produksi hormon dengan ga jelas. Hal kayak gini ga ada di botol obat-obatan tetes kan?

Phenylpropanolamine ini kalau di anjing sering dipake untuk ngobatin inkontinensia urin (urin netes terus ga bisa dikontrol), soalnya dia bisa nguatin otot di uretra biar nutup saluran pipis. Ternyata, kalau di manusia, obat ini sering dipake untuk hidung tersumbat, tapi saya sama sekali ga nemu data penggunaanya untuk hidung tersumbat di kucing atau anjing. Saya jadi bingung, yang buat obat ini pake data dari mana, ya?

Obat #2
Obat Dodol ini ceritanya buat penurun demam kucing. Ada dua versi komposisi obat Dodol yang saya temui. Yang pertama isinya chlorpheniramine maleate, paracetamol, vitamin C, dan vitamin B. Kalau memang benar isinya paracetamol, jelas bahaya banget karena kucing ga bisa memetabolisme paracetamol kayak manusia. Organ kucing kewalahan, dan akhirnya paracetamol ini malah jadi racun yang menyerang sel darah dan hati kucing. Sebenernya, kalau saya hitung, dosis pemberian paracetamol Dodol ini belum bikin keracunan (tapi lain cerita kalau ada yang ngasih ga sesuai labelnya), tapi ya saking sedikitnya ga ngaruh apa-apa untuk demamnya juga.

Mungkin karena yang buat obat sadar betapa ngaconya paracetamol dalam obat buat kucing, muncullah Dodol versi 2. Isinya sama, selain dari paracetamol yang diganti doxycycline. Saya ga ngerti kenapa paracetamol, obat antiinflamasi non steroid (NSAID) digantikan sama doxycycline, sebuat antibiotik golongan tetrasiklin. Fungsinya jelas berbeda jauh, dan sekarang obat Dodol ini jadi gaada antidemamnya sama sekali. Sama kayak cefadroxil di atas, dosis doxycycline di sini juga ada dan tiada. Selain itu, setahu saya doxycycline di Indonesia ga ada yang bentuk sediaannya cair. Di luar negeri ada sirup sih, tapi kalau ternyata itu doxycycline kapsul dicampur, entah deh jadi apa obat itu.

Chlorpheniramine maleate (CTM) adalah obat antihistamin, biasa dipake buat gatal (tapi sebenernya ga terlalu manjur juga untuk kasus parah). Saya ga tahu kenapa CTM dimasukin ke obat demam. Kalau dipakai untuk batuk pun, CTM biasa dicampur dengan obat-obat lainnya.

Vitamin C dan B di sini mungkin hiasan doang ya, tapi saya bingung juga vitamin B yang dimaksud ini apa. Ada vitamin B1 , B2, B3, B5, B6, B7, B9, dan B12, yang masing-masing fungsinya berbeda.

Oh iya, suhu tubuh kucing lebih tinggi dari manusia. Itu wajar. Jadi, jangan langsung panik dan beli obat demam kalau kucing berasa panas. Satu-satunya cara yang pasti untuk tahu demam atau ngga, ya diukur pake termometer. Kalau merasa kucingmu sakit atau demam, lebih baik bawa ke dokter hewan karena demam cuma gejala. Penyebab demamnya harus diidentifikasi dan diatasi.

Obat #3
Ini tetes mata yang terkenal banget, soalnya sudah berkali-kali makan korban yang berujung enukleasi (matanya diangkat). Isinya gentamicyn sulfate dan dexamethasone. Gentamicin adalah antibiotik yang sebenernya bisa dipake untuk berbagai kondisi mata, tapi tulisan di botolnya “gentamicyn”. Saya ga tahu itu obat yang sama atau bukan, dan apakah isinya sesuai yang diklaim.

Masalahnya, obat Tralala ini juga mengandung dexamethasone, lagi-lagi kortikosteroid. Penggunaan kortikosteroid empirik (maksudnya coba-coba dulu, siapa tahu sembuh) sangat diharamkan karena kebanyakan masalah mata di kucing justru akan makin parah kalau dihantam steroid (FHV-1 dan Chlamydia). Kortikosteroid sifatnya menekan sistem imun, sementara ngelawan FHV-1 dan Chlamydia butuh sistem imun yang kuat. Belum lagi, kalau ada luka di kornea mata, penggunaan steroid malah memperlama persembuhan dan bikin makin parah. Kalau ada glaukoma, steroid ini juga bahaya karena bisa meningkatkan tekanan di mata dan bikin mata tambah rusak. Karena seribet ini, steroid untuk obat mata kucing hanya diberikan kalau dokternya sudah hakulyakin apa penyebab sakit matanya, dan hakulyakin boleh make steroid dalam kasus tersebut.

Obat #4
Klaim obat Rambutan ini bisa untuk hairball dan konstipasi. Kalau dibanding obat lain, sebenernya obat ini cenderung harmless (kalau memang isinya sesuai klaim, ga kecampur obat lain misalnya). Menurut label, isinya extra virgin olive oil dan evening primrose oil — minyak doang, bukan obat. Sayangnya, minyak-minyak ini ga terlalu efektif untuk hairball dan konstipasi karena cepat diserap oleh usus, jadi gimana mau jadi pelumas? Ada minyak lain yang ga diserap, jadi memang dulu sering dipake buat pelumas. Sekarang sih sudah jarang karena risiko malah masuk ke paru-paru.

Obat #5
Obat ini lagi-lagi mengandung antibiotik (trimethoprim-sulfa, TMS), tapi bolehlah saya agak puji obat ini dibanding yang lain, karena dosisnya ga pake tetes-tetes lagi. Obat ini dosisnya sudah pake mililiter (bener atau ngga dosisnya urusan lain), tapi tetep membingungkan karena ga ada frekuensi pemberiannya.

Ada dua masalah sampai sini. Pertama, penggunaan antibiotik buat diare akut tidak disarankan, bahkan kalau diarenya berdarah sekalipun. Antibiotik baru dipakai kalau diarenya ga sembuh-sembuh dan ada tanda infeksi, atau kalau kucingnya mengalami penyakit yang mengganggu sistem imun, kayak panleukopenia. Soalnya, penggunaan antibiotik juga sedikit banyak mengganggu bakteri baik, penghuni tetap usus. Kedua, kalaupun dibutuhkan, pemilihan antibiotik juga harus didasarkan hasil pemeriksaan. Biasanya sih, antibiotik TMS bukan pilihan pertama untuk diare, tapi memang ada beberapa protozoa penyebab diare yang mempan dikasih TMS. Tahu yang nyebabin diarenya gimana? Suruh aja dokter hewannya meriksa hehehe.

Selain TMS, ada vitamin A dan K3 juga di sini. Saya ga tahu kenapa dimasukkin. Kalau vitamin K, masih masuk akal, karena sintesis bakteri K biasa dilakuin bakteri usus. Kalau diare, sintesis ini mungkin terganggu. Saya bingung kenapa malah masukin vitamin A dan ga masukin vitamin B12, padahal kekurangan vitamin B12 dan diare udah kayak suami istri.

Obat #6
Sama kayak obat #4, komposisi obat ini cenderung harmless daripada yang lain. Ga ada antibiotik, cuma ada suplemen dan bahan herbal: glukosamin, marshmallow root, astragalus root, pumpkin seed, cranberry, dandelion leaf. Tapi, ya ga ada manfaatnya juga. Glukosamin ini ada di salah satu suplemen urinary terkenal, tapi di suplemen itu glukosaminnya 125 mg per kapsul, sedangkan di Stop Pipis 45 mg per botol. Sekali ngasih paling 1-2 mg. Jauh, kan?

Sisanya, herbal yang entah apa fungsinya. Cranberry sih lumayan terkenal buat infeksi saluran kemih, tapi penelitian bilang ga ngefek buat infeksi saluran kemih anjing. Apalagi kucing, soalnya kucing susah pipis itu jarang karena infeksi.

Walaupun komposisinya ga terlalu bahaya, obat ini tetap bahaya karena ngasih rasa aman yang palsu. Kasus ga bisa pipis yang sampai obstruksi itu hitungannya emergensi. Kalau kucingnya tidak langsung dibawa ke klinik, tapi malah diikhtiarkan pake obat ini, bisa-bisa keburu mati.

Obat #7
Sadis ini konon obat segala penyakit kulit: scabies, demodex, eksim, kudis, koreng, gatal-gatal. Eh, entah dari mana seller obatnya juga suka nambahin jamur. Isi obatnya ampicillin, neomycin, sama trichlorfon. Ampicillin sama neomycin itu antibiotik dan sama kayak yang sudah-sudah, seharusnya obat keras, walaupun antibiotik buat pemakaian luar biasa ga “sekeras” obar dalam.

Trichlorfon ini salah satu golongan insektisida organofosfat. Selain buat semprot semprot rumah, trichlorfon memang bisa digunakan di hewan, tapi izinnya cuma untuk kuda, ikan, dan mencit. Apa bisa juga buat kucing? Ya, mungkin bisa juga bunuh ektoparasit kucing, kayak scabies, demodex, kutu, tapi kucing lebih sensitif sama organofosfat. Kemungkinan keracunannya lebih tinggi, apalagi kalau sampai terjilat. Efeknya, ya kurang lebih mirip sama keracunan racun serangga rumah. Terus, obat Sadis ini belum pernah diuji keamanan dan efektivitasnya, padahal data kayak gini wajib ada sebelum ngeluarin obat di pasaran. Misalnya, kalo beli obat kayak Revolution atau Advocate, pasti ada sheet berisi data begituan.

Untuk klaim jamurnya, gimana? Karena dalem obatnya gaada obat jamur sama sekali, ya ga akan mempan dong. Bahkan, sebenernya di label botol aslinya ga ada klaim jamur. Itu cuma klaim resellernya. Masalahnya, seringkali orang ga bisa bedain scabies sama jamur, jadi dipikir manjur-manjur aja.

Segitu dulu deh. Nanti diupdate kalo ada obat ajaib lagi, tapi ya mendingan jangan coba-coba deh. Selalu tanya dokter hewan langgananmu dulu sebelum beli obat atau suplemen sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s