Kesehatan gigi anjing dan kucing erat kaitannya dengan nutrisi. Iyalah, soalnya apa yang dimakan mereka, itulah yang ketemu sama gigi dan mulut. Sayangnya, masih banyak hal yang simpang siur kebenarannya ketika ngomongin ini. Kadang, pemilik hewan jadi bingung mana yang boleh, mana yang tidak boleh; apa yang harus dilakukan, apa yang tidak perlu; mana yang berguna, mana yang tidak. Di sini, saya coba ringkas beberapa pertanyaan atau pernyataan yang sering muncul soal kesehatan gigi dan mulut hewan. Sumber yang saya pakai sih kredibel, tapi perlu diingat kalau knowledge gap kita masih banyak. Jadi, apa yang kita ketahui hari ini mungkin berubah atau berkembang besok-besok.

Benarkah wet food bisa bikin merusak gigi?
Ada beberapa bukti bahwa anjing dan kucing yang makan makanan basah atau makanan rumahan kesehatan giginya lebih buruk dibanding yang makan makanan kering, ditandai dengan banyaknya plak dan radang gusi. Makanan basah lebih mudah menempel dan menjadi plak dibanding makanan kering. Ini bukan berarti wet food jelek. Ini adalah hal yang wajar dan bisa diatasi dengan perawatan gigi yang baik, terutama dengan menyikat gigi. Makan wet food tiap hari pun tidak apa-apa, asal giginya dirawat. Malah, kemungkinan besar menambah porsi wet food akan lebih bermanfaat (untuk aspek selain gigi) untuk kucing. Lagipula, makan dry food tidak bikin gigi sehat.

Three kittens and mother cat eating from front
https://search.openverse.engineering/image/b9cb7cd0-f3d3-462d-988c-847694610e5a

Benarkah makan dry food saja bisa menjaga kesehatan gigi?
Tidak selalu. Asumsinya, tekstur dry food yang keras dan kasar bisa jadi semacam sikat untuk permukaan gigi. Kenyataannya, biasa dry food akan langsung pecah ketika baru digigit di ujung gigi. Jadi, tidak ada efek membersihkan gigi. Banyak hewan yang makan dry food tetapi giginya tetap bermasalah. Jadi, hubungan dry food dengan kesehatan gigi tidak bisa dipukul rata, tetapi juga tergantung pada bentuk, ukuran, dan kandungan nutrisi dry food. Dry food tidak bisa menggantikan sikat gigi.

Bagaimana dengan makanan dental?
Beberapa makanan yang diklaim bisa membantu menjaga kesehatan gigi hewan sudah mendapat seal VOHC (lihat di bawah). Umumnya, kibble makanan dental berukuran lebih besar dan teksturnya lebih kasar (diberi tambahan serat) agar tercipta efek abrasif pada permukaan gigi. Kekerasannya juga diatur supaya tidak langsung pecah saat kontak dengan gigi, tetapi bisa ditembus oleh permukaan gigi sebelum pecah. Beberapa makanan diberi tambahan garam polifosfat agar berikatan dengan kalsium, sehingga mencegah pembentukan karang yang memerlukan kalsium. Makanan dental bisa mengurangi plak dan karang gigi, tetapi harus digunakan sebagai makanan utama, buka treats. Namun, tetap saja, makanan dental tidak begitu efektif mencapai gigi di bawah gusi, jadi tidak bisa menggantikan sikat gigi.

Apa itu seal VOHC?
VOHC (Veterinary Oral Health Council) adalah organisasi dokter gigi hewan (mereka dokter hewan yang belajar gigi, bukan dokter gigi yang belajar gigi hewan) yang bertujuan menentukan produk yang memenuhi standar klaim dapat mengurangi atau mencegah pembentukan plak dan kalkulus gigi anjing dan kucing. Produk bisa berupa makanan, treats, pasta gigi, water additive, dan lainnya. VOHC memberikan VOHC Seal of Acceptance kepada produk setelah mengkaji data dari penelitian yang dilakukan dengan produk tersebut berdasarkan protokol VOHC. Produk yang sudah punya seal VOHC bisa dilihat di sini. VOHC sendiri tidak melakukan pengujian pada produk.

Swedencare's flagship product, ProDen PlaqueOff® Powder, has been awarded  the VOHC® Seal of Acceptance - Swedencare AB (publ)

Perlu diketahui bahwa ada dua jenis seal VOHC, yaitu membantu mengontrol plak dan membantu mengontrol tartar/kalkulus/karang gigi. Plak dan karang gigi adalah hal yang berbeda (lihat di bawah).

Bisakah tulang dan raw food untuk menjaga kesehatan gigi?
Saya copy dari tulisan saya yang lain
“Memberi tulang untuk dikunyah anjing memang bisa mengurangi karang gigi, tetapi ini juga tergantung tulangnya. Di sisi lain, penelitian pada tengkorak anjing liar (yang makan makanan “natural”) juga mengalami berbagai masalah gigi seperti gigi patah, copot, serta periodontitis. Dan lagi, pemberian tulang bisa berisiko melukai gusi, tersangkut di gigi, dan tersangkut di kerongkongan hingga mengancam nyawa. Tulang adalah benda asing yang paling sering ditemukan tersangkut. Oleh karena itu, FDA tidak merekomendasikan pemberian tulang. Masih banyak alternatif yang lebih aman untuk menjaga kesehatan gigi.”

Bagaimana dengan treats atau chew toy?
Beberapa efektif, tetapi banyak yang tidak. Mekanisme kerja treats sama seperti makanan dental, yaitu mengandalkan efek abrasif dari tekstur kasar treats. Namun, treats kurang bisa membersihkan gigi seri dan taring, karena yang dipakai mengunyah adalah gigi geraham. Cari produk yang memiliki seal VOHC agar lebih yakin akan manfaatnya. Sayangnya, sampai saat ini belum ada produk treats yang bisa mengurangi plak pada kucing.

Bisakah pemberian dental treats berlabel VOHC menggantikan sikat gigi?
Beberapa dental treats memang bisa mengurangi plak atau karang gigi, tetapi kebanyakan hanya mengurangi plak di permukaan gigi yang tampak. Dental treats tidak bisa menjangkau plak di bawah gusi. Yang bisa menjangkau plak di bawah gusi hanya sikat gigi.

Aspek keamanan dari dental treats juga perlu jadi perhatian. Pernah ada laporan treats yang tertelan, lidah terjebak di treats berbentuk silinder, dan gigi patah karena treats terlalu keras. Agar tahu apakah treats terlalu keras, coba tancapkan kuku di treats tersebut. Jika tidak ada bekas kuku, treats tersebut terlalu keras.

Jual Purina DentaLife Chicken Cat Dental Treats 51gr Indonesia|Shopee  Indonesia
Jual Greenies Teenie Dog Dental Treats - 65 pcs (2-7 kg) - Pembersih Gigi  Indonesia|Shopee Indonesia

Apa bedanya plak dengan karang/tartar/kalkulus gigi?
Plak adalah biofilm atau suatu lapisan bakteri yang melekat pada gigi. Isinya bukan cuma bakteri, tetapi juga protein dan karbohidrat dari air liur. Bisa dibilang, biofilm ini adalah kota untuk bakteri. Sementara itu, karang atau tartar atau kalkulus (sama saja) gigi adalah plak yang termineralisasi karena interaksi dengan air liur. Bedanya, plak masih lunak dan mudah dibersihkan. Karang gigi lebih keras dan sulit dibersihkan sendiri.

Plak yang diseka menggunakan probe (gumpalan putih). Terlihat gigi yang berwarna kekuningan karena karang (sumber: Perry & Tutt, 2015)

Apa plak berbahaya?
Setiap gram plak bisa mengandung 1.000.000.000.000 bakteri. Lebih parahnya lagi, bakteri dalam biofilm plak ini ribuan kali lebih resisten terhadap antiseptik dibandingkan bakteri yang berdiri sendiri. Jika tidak diganggu atau dibersihkan, plak akan menempel di gigi dalam 24 jam. Namun, sebenarnya, yang membuat sakit bukan jumlah bakteri, tetapi jenisnya. Bakteri di mulut yang sehat cenderung kebanyakan bakteri aerob (yang memerlukan oksigen), sementara bakteri di mulut yang sakit cenderung anaerob (tidak membutuhkan oksigen).

Plak bisa ada di permukaan gigi yang kelihatan, ataupun di gigi di bawah gusi yang tidak kelihatan. Keduanya bisa mengganggu kesehatan gusi, tetapi plak yang di bawah gusi lebih berbahaya. Plak di permukaan gigi masih bisa dibersihkan dengan mudah, tetapi plak di bawah gigi sulit dibersihkan kalau tidak dengan sikat gigi. Bakteri di plak ini akan mengeluarkan racun yang menyebabkan peradangan gusi (gingivitis). Jika dibiarkan, peradangan gusi akan meluas ke jaringan sekitarnya menjadi periodontitis, yang menyebabkan rasa sakit berakhir dengan copotnya gigi.

Apakah karang gigi berbahaya?
Meskipun kelihatan seram, karang gigi tidak terlalu berbahaya. Karang gigi tetap punya efek buruh mengiritasi dan bisa jadi tempat menempelnya plak karena permukaannya yang tidak rata. Gigi juga jadi kelihatan jelek karena banyak karangnya. Namun, yang sebenarnya berbahaya adalah plak.

Apakah gigi anjing dan kucing bisa bolong (karies) seperti manusia?
Tidak ada yang tidak mungkin, tetapi karies pada anjing dan kucing sangaaaaat jarang dibandingkan manusia. Ada dua alasan untuk ini. Pertama, bakteri yang tinggal di mulut manusia dan anjing/kucing berbeda. Di mulut manusia, ada bakteri Streptococcus mutans yang jadi penyebab utama karies. Bakteri ini jarang ada di mulut anjing dan kucing. Kedua, makanan anjing dan kucing berbeda dari manusia. Manusia cenderung suka makanan manis, yang kalau tertinggal di gigi dan dimetabolisme oleh bakteri, akan jadi asam yang merusak gigi. Anjing dan kucing lebih banyak mengonsumsi protein dibandingkan manusia. Mereka juga makan karbohidrat, tetapi kebanyakan karbohidrat kompleks, bukan gula seperti manusia.
Biar begitu, ternyata anjing dan kucing lebih berisiko terkena penyakit periodontal.

Apakah gigi anjing dan kucing bisa dicabut?
Bisa. Pada beberapa kondisi, cabut gigi adalah solusi yang paling tepat. Kondisi ini misalnya gangguan periodontal yang sudah parah, fistula oronasal (terbentuk lubang antara rongga mulut dan hidung), patah gigi yang membuat pulpa terekspos, gigi mati dan infeksi, resorpsi gigi (gigi kehilangan jaringan keras). Yang mencabut tentu dokter hewan, tetapi mungkin tidak semua dokter hewan punya kapasitas untuk melakukannya.

Apakah scaling bisa dilakukan tanpa pembiusan?
Ini tidak disarankan. Meskipun semua pembiusan pasti berisiko, proses pembiusan akan aman kalau dilakukan dan dimonitor oleh ahlinya. Scaling tanpa pembiusan justru lebih buruh untuk welfare hewannya. Selama scaling, pasti ada rasa dan suara yang tidak nyaman, bahkan menakutkan bagi mereka. Mau tidak mau, anjing dan kucing pasti direstrain dengan pemaksaan dalam waktu lama. Selain itu, scaling yang benar harusnya bukan cuma membersihkan karang dan plak yang terlihat, tetapi juga harus dilakukan pembersihan dan probing pada gigi yang berada di bawah gusi untuk mengecek kesehatan gigi secara menyeluruh. Bagian ini justru lebih penting dari karang gigi yang terlihat mata. Ini tidak mungkin dilakukan tanpa pembiusan.

Sikat gigi yang baik seperti apa?
Yang sesuai dengan ukuran hewannya. Boleh menggunakan sikat gigi manusia/anak-anak jika ukurannya pas. Jangan gunakan kain atau kassa karena tidak bisa menjangkau gigi di bawah gusi. Jika mau lebih bagus, sikat gigi mekanik yang bisa menyikat sendiri lebih baik dalam membersihkan gigi, tetapi banyak hewan yang tidak mau karena takut dengan suara dan sensasi getaran sikatnya. Selalu utamakan kenyamanan hewan, karena kalau mereka tidak nyaman, ke depannya akan susah untuk menyikat gigi mereka.

Brush your teeth.
“Brush your teeth.” by Andrew_Nielsen is licensed under CC PDM 1.0

Apakah sikat gigi hewan harus selalu pakai pasta gigi?
Tidak. Sebenarnya, yang penting itu efek membersihkan dari sikat gigi sendiri. Namun, banyak pasta gigi yang mengandung rasa yang disukai hewan. Penggunaan pasta gigi bisa memudahkan proses menyikat gigi karena mereka lebih mau menerima sikat gigi yang ada pastanya. Jangan gunakan pasta gigi manusia karena bisa jadi racun jika tertelan.

Seberapa sering anjing dan kucing harus sikat gigi?
Idealnya setiap hari, tetapi seringnya susah untuk mencapai frekuensi ideal ini. Tidak ideal juga tidak apa-apa, tapi kalau terlalu jarang, sampai sebulan sekali, jadi tidak ada gunanya sikat gigi. Kalau sudah ada masalah gigi, sikat gigi setiap hari bukan lagi ideal, tetapi harus. Idealnya adalah dua kali sehari.

Bagaimana cara menyikat gigi yang benar?
Bisa baca di panduan ini untuk anjing dan kucing.

Apakah bagian dalam gigi harus disikat juga?
Tidak perlu, soalnya susah dan hewan bisa membersihkan sendiri dengan lidahnya.

Apakah water additive bisa menjaga kesehatan gigi?
Ada beberapa bukti bahwa penambahan xylitol dalam air minum bisa mengurangi akumulasi plak. Kalau water additive yang pakai bahan lain sih, ga tau ya.Sejauh ini, baru water additive dari HealthyMouth yang mendapat seal VOHC. Klaimnya, produk tersebut mengandung papain untuk mengurangi akumulasi protein di mulut dan zinc gluconate sebagai antibakteri. Ada juga beberapa bahan alami lain yang berfungsi sebagai antioksidan, dan penyegar nafas. Produk tersebut pernah diulas di sini oleh Skeptvet.

gigo the sick cat
“gigo the sick cat” by teipsum is licensed under CC0 1.0

Apa tanda kucing atau anjing sakit gigi?
Amati apabila ada tanda berikut

  • perubahan pola hubungan hewan dengan pemilik
  • keluar air liur berlebih
  • hewan jadi agresif
  • hewan jadi menghindar dan tidak aktif
  • perubahan jadwal tidur
  • grooming berkurang
  • perubahan perilaku makan
  • perubahan preferensi makanan dari keras ke lembut
  • makan tanpa mengunyah
  • mengunyah hanya di satu sisi mulut
  • menjilat bibir
  • gemelatuk gigi
  • lidah keluar dari mulut
  • perubahan perilaku main
  • darah di makanan atau minuman
  • darah dari hidung
  • mengusap wajah
  • rambut rontok di sekitar mulut dan hidung
  • perilaku mengusap pipi berkurang (kucing)
  • menjatuhkan makanan keluar dari mangkuk

Referensi
Buckley, C., Colyer, A., Skrzywanek, M., Jodkowska, K., Kurski, G., Gawor, J., & Ceregrzyn, M. (2011). The impact of home-prepared diets and home oral hygiene on oral health in cats and dogs. The British Journal of Nutrition, 106 Suppl, 124–127. https://doi.org/10.1017/s0007114511000821

Clarke, D. E. (2006). Drinking water additive decreases plaque and calculus accumulation in cats. Journal of Veterinary Dentistry, 23(2), 79–82. https://doi.org/10.1177/089875640602300203

Clarke, D., Servet, E., Hendriks, W., & Al., E. (2010). Kibble characteristics and plaque in cats. J Vet Dent, 27, 84–89. https://doi.org/10.1016/j.asams.2011.06.003

FDA. (2017). No Bones (or Bone Treats) About It: Reasons Not to Give Your Dog Bones. Retrieved from https://www.fda.gov/consumers/consumer-updates/no-bones-or-bone-treats-about-it-reasons-not-give-your-dog-bones

Gawor, J. P., Reiter, A. M., Jodkowska, K., Kurski, G., Wojtacki, M. P., & Kurek, A. (2006). Influence of diet on oral health in cats and dogs. Journal of Nutrition, 136(7), 2021–2023. https://doi.org/10.1093/jn/136.7.2021s

Logan, E. I. (2006). Dietary Influences on Periodontal Health in Dogs and Cats. Veterinary Clinics of North America – Small Animal Practice, 36(6), 1385–1401. https://doi.org/10.1016/j.cvsm.2006.09.002

Lowe, C., & Anthony, J. (2020). Pilot study of the effectiveness of a xylitol-based drinking water additive to reduce plaque and calculus accumulation in dogs. Canadian Veterinary Journal, 61, 63–68.

Marx, F. R., Machado, G. S., Pezzali, J. G., Marcolla, C. S., Kessler, A. M., Ahlstrøm, & Trevizan, L. (2016). Raw beef bones as chewing items to reduce dental calculus in Beagle dogs. Australian Veterinary Journal, 94(1–2), 18–23. https://doi.org/10.1111/avj.12394

McDonald, J. E., Larsen, N., Pennington, A., Connolly, J., Wallis, C., Rooks, D. J., … Allison, H. E. (2016). Characterising the canine oral microbiome by direct sequencing of reverse-transcribed rRNA molecules. PLoS ONE, 11(6), 1–17. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0157046

Perry, R., & Tutt, C. (2015). Periodontal disease in cats: Back to basics – with an eye on the future. Journal of Feline Medicine and Surgery, 17(1), 45–65. https://doi.org/10.1177/1098612X14560099

Rousseau, A., Prittie, J., Broussard, J. D., Fox, P. R., & Hoskinson, J. (2007). Incidence and characterization of esophagitis following esophageal foreign body removal in dogs: 60 cases (1999-2003). Journal of Veterinary Emergency and Critical Care, 17(2), 159–163. https://doi.org/10.1111/j.1476-4431.2007.00227.x

Van Veggel, N., & Oxley, J. (2018). In Dogs Does Feeding Raw Dietary Treats Reduce or Prevent Periodontal Disease? Veterinary Evidence, 3(3), 1–8. https://doi.org/10.18849/ve.v3i3.153

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s