Meskipun sebagian besar manusia adalah omnivora, tidak sedikit yang mengadopsi pola konsumsi makanan plant-based. Ada yang sekadar mengurangi konsumsi produk hewan; ada yang tidak mengonsumsi daging, tetapi masih mengonsumsi telur dan/atau susu (vegetarian); ada yang tidak mengonsumsi produk asal hewan sama sekali (vegan). Di Amerika Serikat, satu survei memperkirakan bahwa 5% penduduk adalah vegetarian dan 2% adalah vegan.1 Saya tidak menemukan data vegetarianisme di Indonesia, tetapi saya rasa cukup banyak masyarakat, terutama di daerah pedesaan, yang menerapkan gaya hidup (hampir) vegetarian dan vegan tanpa melabeli diri demikian. Motivasi untuk beralih ke vegetarianisme atau veganisme tentu beragam bagi tiap individu. Sebagian orang menolak konsumsi daging karena alasan etikal atau agama. Ada juga yang menjadi vegetarian atau vegan untuk kesehatan, atau bahkan tanpa alasan khusus.2 Menariknya, fenomena ini ternyata ikut terjadi di anjing dan kucing peliharaan, terutama yang pemiliknya adalah vegetarian/vegan. Anjing dan kucing merupakan spesies dengan kebutuhan nutrisi berbeda dengan pemiliknya, sehingga fenomena ini perlu mendapat perhatian khusus.

Memangnya ada anjing dan kucing veg(etari)an?
Tren anjing, apa lagi kucing, veg(etari)an di Indonesia masih sangat jarang, tetapi sangat mungkin terjadi, mengingat makin banyaknya orang yang beralih ke vegetarianisme dan memelihara hewan, khususnya di kota besar. Sebelum tren ini tiba, kita bisa berkaca dari data dari negara lain.

Peneliti dari Guelph, Kanada mengadakan sebuah survei mengenai diet vegan (berbasis tumbuhan) bagi hewan peliharaan.3 Survei yang diterbitkan tahun 2019 tersebut diikuti oleh lebih dari 3700 pemilik anjing (56%), kucing (16%), atau keduanya (33%) yang sebagian besar tinggal di Australia, Kanada, Finlandia, Selandia Baru, Inggris, dan Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, 5,8% pemilik mengaku sebagai vegan, 6,2% sebagai vegetarian, dan 4% sebagai pescetarian (masih makan ikan). Meski begitu, hanya 1,6% (48/2940) pemilik anjing dan 0,7% (11/1545) pemilik kucing yang diberi makanan vegan secara eksklusif. Semuanya adalah vegan, kecuali satu orang vegetarian.

Shutterstock/Pixel-Shot

Secara umum, ide menjadikan anjing dan kucing sebagai vegan belum begitu diterima oleh pemilik hewan. Sebanyak 75% pemilik hewan yang omnivora, 51% vegetarian, dan 58% pescetarian merasa enggan memberi hewan peliharaan mereka makanan berbasis tumbuhan. Menurut mereka, makanan vegan cenderung dianggap tidak alami, tidak sehat, tidak lengkap nutrisinya, mahal, dan tidak etis. Sebaliknya, sebagian besar vegan (78%) lebih terbuka terhadap ide ini, meskipun saat survei tersebut, hanya 27% yang sudah memberi peliharaan mereka makanan berbasis tumbuhan. Alasan utama menghindari makanan hewan dari daging adalah keresahan terhadap kesejahteraan dan hak hewan ternak yang dikonsumsi. Namun, makanan vegan masih harus dibuktikan kecukupan nutrisinya, mendapat kepercayaan dokter hewan, dan tersedia secara luas agar bisa diterima lebih luas.

Merekonsiliasi kebutuhan nutrisi anjing dan kucing dengan gaya hidup veg(etari)an
Menurut American Dietetic Association, diet vegetarian punya kelebihan karena rendah lemak jenuh dan kolesterol, serta tinggi serat, magnesium, kalium, vitamin E, vitamin C, folat, dan antioksidan. Namun, diet ini juga berisiko karena rendah vitamin B12, vitamin D, kalsium, zink, dan omega-3. Orang yang memutuskan untuk menjadi vegetarian harus memberi perhatian khusus pada kebutuhan protein, omega-3, zat besi, zink, iodin, kalsium, vitamin D, dan vitamin B-12nya.4

Anjing sebenarnya adalah omnivora. Secara teoretis, seharusnya anjing bisa saja hidup sebagai vegetarian, tetapi tetap jauh lebih sulit dibandingkan manusia (yang sendirinya sudah sulit). Walaupun semua kebutuhan nutrisi anjing bisa saja dipenuhi dari tumbuhan, beberapa nutrien sulit dipenuhi dari tumbuhan saja dan lebih banyak dari bahan asal hewan. Ini berbeda dengan kucing yang merupakan karnivora sejati. Maksudnya, bukan kucing butuh daging, tetapi kucing butuh beberapa nutrien yang mutlak hanya ada pada hewan, yaitu asam amino taurin dan asam lemak asam arakhidonat, sehingga membuat diet vegan untuk kucing jauh lebih sulit.

Nutrien apa saja? Beberapa di antaranya adalah5

Protein
Secara umum, kita menganggap protein hewani lebih baik untuk anjing dan kucing dibandingkan protein nabati. Pertama, kuantitas protein dalam daging lebih tinggi dibandingkan protein dari sayuran. Kebutuhan protein anjing, dan apalagi kucing, jauh lebih tinggi dibandingkan manusia, jadi tentu kebutuhan ini akan lebih mudah dipenuhi menggunakan protein daging. Kedua, memang beberapa bahan nabati, khususnya kacang-kacangan, cukup tingi protein dan bisa saja memenuhi angka kebutuhan protein anjing dan kucing, tetapi kualitasnya tidak sebaik protein hewani. Profil asam amino dalam bahan nabati biasanya tidak lengkap. Pada kacang-kacangan, ada asam amino pembatas metionin, dan pada biji-bijian (grain) ada asam pembatas lisin. Khususnya untuk kucing, kebutuhan taurin tidak bisa dipenuhi dari bahan nabati. Profil asam amino yang tidak lengkap membuat protein tidak bisa digunakan dengan optimal oleh tubuh. Untuk menambah kekurangan ini, diperlukan tambahan asam amino dari suplemen atau bahan lain. Ketiga, ada antinutrien seperti fitat dan tanin yang cenderung menghambat kebutuhan nutrien, termasuk protein (dan mineral). Antinutrien ini harus dihilangkan dengan pemrosesan.

Asam lemak
Kucing dan anjing dewasa membutuhkan asam lemak omega-3 asam alfa-linolenat dan omega-6 asam linoleat. Asam-asam lemak ini berperan dalam kesehatan kulit dan rambut, sistem reproduksi, sistem saraf persendian, dan lainnya. Kedua asam lemak tersebut bisa didapatkan dari minyak nabati, seperti minyak rami (flax seed) dan minyak jagung, tetapi kucing dewasa juga membutuhkan asam lemak lain, yaitu omega-3 asam arakhidonat. Anjing bisa membuat asam arakhidonat dari asam linoleat, tetapi kucing tidak bisa. Asam arakhidonat hanya bisa didapatkan dari jaringan hewan. Selain itu, induk dan anak anjing dan kucing membutuhkan asam lemak omega-3 EPA dan DHA untuk perkembangan saraf. Kucing dan anjing hanya bisa membuat sedikit sekali EPA dan DHA dari omega-3 nabati, asam alfa-linolenat. Keduanya hanya bisa didapatkan dari minyak ikan dan krill, dan mungkin alga, tetapi ini masih jarang.

Vitamin A
Bukannya vitamin A bisa ditemukan di banyak buah dan sayur? Bukannya wortel kaya vitamin A? Sebenarnya, yang banyak di wortel itu bukan vitamin A tapi provitamin A, beta karoten. Beta karoten bisa diubah menjadi vitamin A oleh anjing dan manusia, tetapi kucing tidak bisa. Karena itu, kucing harus mendapatkan vitamin A yang sudah jadi (retinol) dari jaringan hewan, biasanya dari organ hati.

Vitamin B12 (kobalamin)
Dari semua vitamin B, hanya vitamin B12 yang tidak bisa didapatkan dari tumbuhan. Vitamin ini disintesis oleh bakteri, termasuk bakteri di usus anjing dan kucing. Sayangnya, sintesis ini terjadi di usus belakang, sehingga penyerapannya tidak bisa terjadi dengan optimal. Anjing dan kucing membutuhkan tambahan vitamin B12 dalam makanannya, entah dari daging atau dari suplemen sintetik.

Vitamin D
Vitamin D berperan penting dalam absorpsi kalsium dan fosfor, metabolisme tulang, dan pengaturan sistem imun. Manusia dan banyak hewan tidak betul-betul membutuhkan vitamin D dalam makanan karena vitamin D bisa disintesis di kulit dengan bantuan cahaya matahari. Namun, anjing dan kucing tidak begitu. Diet alami mereka yang kaya akan daging (dan vitamin D) membuat mereka tidak membutuhkan kemampuan sintesis vitamin D pada kulit. Oleh karena itu, mereka butuh vitamin D dari makanan. Vitamin D bisa didapatkan dari tumbuhan maupun hewan, tetapi vitamin D2 yang biasa didapat dari tumbuhan biasanya tidak digunakan sebaik vitamin D3 dari hewan.

Sederhananya, membuat makanan veg(etari)an yang memenuhi kebutuhan nutrisi anjing dan kucing memang sulit, tetapi secara teoretis bukan tidak mungkin. Namun, makanan tersebut mau tidak mau membutuhkan banyak suplemen sintetik, dan mungkin beberapa di antaranya tetap harus diolah sedikit banyak dari bahan hewani.

Bagaimana dengan makanan veg(etari)an di pasar?
Meski makanan veg(etari)an untuk anjing dan kucing secara teoretis bisa dibuat lengkap dan seimbang, kenyataannya hal ini tidak mudah. Buktinya, sebagian besar makanan vegan yang beredar belum memenuhi standar nutrisi yang ditetapkan AAFCO di Amerika dan FEDIAF di Eropa.

Suatu survei terhadap produsen makanan vegan dan mengandung daging menunjukkan bahwa secara umum, prosedur penjaminan kualitas makanan vegan lebih baik dibandingkan makanan mengandung daging.6 Lebih banyak produsen makanan vegan yang betul-betul punya ahli nutrisi, sebagaimana harusnya. Namun, aspek suplementasi nutrisi mereka masih kalah dibandingkan makanan mengandung daging. Padahal, makanan vegan lebih butuh suplemen tambahan, khususnya vitamin dan mineral.

66 lb of Vegan Dog Food” by moria is marked with CC BY 2.0.

Biarpun produsen makanan vegan mengaku sudah menerapkan standar kualitas yang tinggi, berbagai penelitian tentang kecukupan nutrisi makanan vegetarian menunjukkan sebaliknya.7–10 Kebanyakan makanan vegan memang memenuhi kebutuhan protein dan lemak, tetapi ketika dilihat lebih dalam, banyak yang tidak memenuhi semua kebutuhan asam amino kucing dan anjing. Asam amino yang paling sering kekurangan adalah metionin dan sistein. Keduanya adalah asam amino sulfur, yang banyak ditemukan di daging, tetapi sedikit pada bahan nabati, terutama kacang-kacangan yang kaya protein. Kekurangan taurin, triptofan, dan lisin juga sudah dilaporkan.

Kucing membutuhkan asam arakhidonat, suatu asam lemak yang hanya ditemukan pada jaringan hewan. Kebanyakan makanan kucing vegan tidak berhasil memenuhi kebutuhan asam arakhidonat kucing.7 Selain itu, baik anak kucing maupun anjing membutuhkan asam lemak omega-3, EPA dan DHA, yang umumnya didapat dari ikan laut. Kebutuhan ini juga sering tidak terpenuhi oleh makanan vegan.

Vitamin dan mineral juga membutuhkan perhatian khusus. Vitamin yang paling sering tidak terpenuhi dalam makanan vegan adalah vitamin B12, A, dan D. Khusus untuk vitamin D, beberapa produk menggunakan vitamin D2, padahal vitamin D3 lebih dapat digunakan anjing dan kucing, sesuai rekomendasi FEDIAF.11 Sementara itu, mineral kalsium, fosfor, zink, dan zat besi sering tidak seimbang jumlahnya, baik kekurangan maupun kelebihan. Ketidak seimbangan kalsium dan fosfor seringkali menjadi masalah, apalagi untuk anjing dan kucing dalam masa pertumbuhan, di mana masih terjadi pembentukan tulang.

Sebenarnya, ada makanan anjing vegetarian yang diproduksi perusahaan Royal Canin dan Purina. Makanan yang mereka produksi adalah vet diet, dan biasa hanya diindikasikan untuk anjing dengan kebutuhan khusus, terutama apabila alergi makanan asal hewan. Vet diet umumnya punya standar lebih tinggi dan lebih bisa dipercaya dibanding makanan komersil baisa. Namun, keduanya belum tersedia di Indonesia.

Kesehatan hewan veg(etari)an
Informasi yang kita punya mengenai implikasi makanan vegan bagi kesehatan hewan yang mengonsumsinya masih sangat terbatas. Ada beberapa laporan kasus, tetapi tentu ini tidak bisa digeneralisasi terhadap semua hewan yang makan makanan vegan. Ada penelitian berbasis survei internet, yang kita ketahui sangat rawan bias. Ada juga yang melakukan pemeriksaan fisik dan darah, tetapi hanya satu kali.

Shutterstock/Marina Demeshko

Dua ekor kucing di Prancis pernah dilaporkan mengalami kelesuan, gangguan nafsu makan, penurunan massa otot dan anemia setelah mengonsumsi makanan kucing vegan komersil. Makanan tersebut mengalami kekurangan beberapa nutrien, tetapi yang paling mencolok dalam kasus ini adalah kekurangan vitamin B9 (asam folat). Kedua kucing membaik setelah diberi suplemen vitamin B9 dan diganti makanannya menjadi makanan mengandung daging.12 Dalam penelitian lain, 20 anjing dan 15 kucing diperiksa darahnya dan ditemukan bahwa sebagian mengalami kekurangan vitamin B9 dan B12.13 Meski begitu, semua anjing dan kucing tampak sehat ketika diperiksa fisiknya.

Dalam sebuah survei yang melibatkan 1325 pemilik hewan di Amerika dan Kanada,14 tidak ada perbedaan kesehatan kucing yang diberi makan vegan maupun mengandung daging. Bahkan, masalah pencernaan dan hati lebih sedikit ditemukan pada pemilik kucing vegan dan kondisi tubuh (BCS) kucing vegan cenderung lebih ideal. Meski begitu, survei ini masih perlu dikonfirmasi hasilnya dengan penelitian longitudinal sungguhan.

Vegetarian cat food” by Rain Rabbit is marked with CC BY-NC 2.0.

Selain ketidakcukupan nutrisi secara umum, pada kucing, ada masalah lain yang patut diperhatikan. Makanan yang kaya tumbuhan dan minim bahan hewani cenderung membuat urin basa. Urin yang basa akan memicu pembentukan kristal struvite, yang jika dibarengi urin yang pekat, lama kelamaan bisa menjadi batu yang menyumbat saluran kemih kucing. Artinya, urin kucing harus diasamkan dengan cara lain, misalnya suplemen pengasam urin.15 Sudah pernah ada laporan kasus kucing yang diberi makanan vegan homemade yang mengalami FLUTD berulang karena kristal struvite.16 Pemiliknya menolak memberi makanan khusus FLUTD yang disarankan dokter hewannya karena makanan tersebut tidak vegan. Kucing tersebut juga tidak mau makan makanan vegan komersil. Akhirnya, kucing tersebut dirujuk ke dokter hewan spesialis nutrisi di Universitas Guelph, Kanada. Setelah berbagai percobaan, mereka berhasil membuat resep makanan vegan yang tidak membuat kucing tersebut kambuh lagi, setidaknya sampai laporan kasus tersebut dituliskan.

Anjing kucing vegan dan implikasi etiknya
Dalam hidup ini, tidak ada solusi mutlak; hanya ada kompromi. Demikian pula kalau kita membicarakan kaitan veganisme anjing kucing dan etik hewan. Alasan utama pemilik memvegankan anjing dan kucingnya adalah keprihatinan terhadap kesejahteraan dan hak hewan ternak yang dibunuh untuk membuat makanan anjing dan kucing.3 Ini adalah alasan yang valid. Saya rasa kita tidak bisa menyangkal bahwa masih banyak yang harus dibenahi soal kesejahteraan hewan ternak.17 Khususnya ketika bicara tentang manusia, kita wajar saja bertanya: apakah harga kesejahteraan hewan ini pantas ditukar dengan kenikmatan daging yang dirasakan manusia (yang sangat bisa hidup sebagai veg(etari)an, selama berkonsultasi dengan ahli gizi profesional)? Tetapi, tentu saya tidak akan membahas manusia lebih lanjut di sini. Ketika bicara soal anjing dan kucing, tentu kita butuh melihat dari sudut pandang yang berbeda.

We’re Having a Heat Wave” by geraldbrazell is marked with CC BY-ND 2.0.

Sebelum memberi makanan vegetarian pada anjing dan kucing karena alasan etikal bagi hewan ternak, kita perlu bertanya: apakah tindakan ini etis bagi anjing dan kucing, khususnya pada domain nutrisi, kesehatan, dan kondisi mental?18

Ada beberapa pertanyaan yang selalu penting ditanyakan sebelum memberi makan hewan. Apakah makanan ini aman? Apakah makanan ini bernutrisi? Apakah makanan ini enak dan bisa diterima oleh hewan? Saat ini, makanan vegan masih punya PR besar dalam memastikan kecukupan nutrisi anjing dan kucing. Kebanyakan makanan masih punya kekurangan nutrien tertentu yang bisa berimbas buruk pada kesehatan hewan. Untuk masalah ini, pilihan yang paling terjamin adalah berkonsultasi dengan dokter hewan spesialis nutrisidan/atau menggunakan makanan vegetarian terapetik (vet diet). Sayangnya, keduanya bukan opsi yang praktis di Indonesia.

Bagaimana dengan enak tidaknya makanan vegan, tentunya dari sudut pandang anjing dan kucing? Ada penelitian berdasarkan survei yang menemukan tidak ada perbedaan palatabilitas (kesukaan) makanan vegan maupun makanan yang mengandung daging berdasarkan perilaku anjing dan kucing.19 Namun, tentu ini adalah bukti yang terbatas sekali. Misalnya, pemilik anjing kucing yang gagal membuat peliharaan mereka makan makanan vegan kemungkinan besar tidak akan mengisi survei tersebut, karena mereka tidak memberi makanan vegan lagi. Secara umum, anjing dan kucing biasa lebih suka makanan tinggi lemak dan protein serta berbau daging, 20–22 sesuatu yang jarang ditemukan dalam makanan vegan.

Diet vegan sering pula dikatakan tidak natural atau alami karena anjing dan kucing alaminya makan daging. Argumen natural ini sebenarnya cukup lemah dan sudah sering dibantah.15,23 Sederhananya, tidak semua yang tidak alami itu buruk. Kita pun sering memberikan hal-hal tidak alami untuk peliharaan kita, seperti vaksinasi, pengobatan modern, dan pet food. Semua itu bukan hal buruk. Pertanyaan yang lebih pas untuk ditanyakan adalah apakah makanan vegan merampas perilaku alami, sampai menurunkan kesejahteraan mental hewan tersebut? Ini adalah hal yang penting untuk dipertimbangkan, tetapi jujur, saya tidak punya jawabannya.

Adakah jalan tengah?
Di Indonesia, saat ini, hampir mustahil untuk memberikan makanan vegan kepada anjing dan kucing tanpa mempertaruhkan kesehatan mereka. Kita tidak tahu bagaimana dengan masa depan. Beberapa perusahaan, seperti KARMA, mencoba mencari jalan tengah dengan mengeluarkan makanan hewan berbasis tumbuhan, tetapi tetap mengandung daging dalam jumlah sedikit.

Solusi lain yang juga sedang dikembangkan adalah makanan hewan berbasis serangga. Tidak seperti ayam dan sapi, serangga dianggap tidak sentien (tidak bisa merasa sakit dan menderita), sehingga penggunaan serangga tidak perlu jadi dilema etik. Namun, penggunaan serangga juga perlu penelitian yang menyeluruh, khususnya soal nutrisi dan palatabilitas, agar tidak menyebabkan kekacauan seperti makanan grain free dan dilated cardiomyopathy.

Referensi
1.        Le, L. T. & Sabaté, J. Beyond meatless, the health effects of vegan diets: Findings from the Adventist cohorts. Nutrients 6, 2131–2147 (2014).

2.        Hoffman, S. R., Stallings, S. F., Bessinger, R. C. & Brooks, G. T. Differences between health and ethical vegetarians. Strength of conviction, nutrition knowledge, dietary restriction, and duration of adherence. Appetite 65, 139–144 (2013).

3.        Dodd, S. A. S., Cave, N. J., Adolphe, J. L., Shoveller, A. K. & Verbrugghe, A. Plant-based (vegan) diets for pets: A survey of pet owner attitudes and feeding practices. PLoS One 14, 1–19 (2019).

4.        Mendoza, Y. P. The position of the american dietetic association (ADA): Vegetarian diets. Med. Natur. 2000, 28–35 (2000).

5.        Dodd, S. A. S., Adolphe, J. L. & Verbrugghe, A. Plant-based diets for dogs. JAVMA 253, (2018).

6.        Knight, A. & Light, N. The nutritional soundness of meat-based and plant-based pet foods. Rev. Electron. Vet. 22, 1–21 (2021).

7.        Dodd, S. A. S. et al. A comparison of key essential nutrients in commercial plant-based pet foods sold in canada to american and european canine and feline dietary recommendations. Animals 11, (2021).

8.        Zafalon, R. V. A. et al. Nutritional inadequacies in commercial vegan foods for dogs and cats. PLoS One 15, 1–17 (2020).

9.        Kanakubo, K., Fascetti, A. J. & Larsen, J. A. Assessment of protein and amino acid concentrations and labeling adequacy of commercial vegetarian diets formulated for dogs and cats. J. Am. Vet. Med. Assoc. 247, 385–392 (2015).

10.      Gray, C. M., Sellon, R. K. & Freeman, L. M. Nutritional adequacy of two vegan diets for cats. J. Am. Vet. Med. Assoc. 225, 1670–1675 (2004).

11.      FEDIAF. Nutritional Guidelines for Complete and ComplementaryPet Foods for Cats and Dogs. (2021).

12.      Fantinati, M., Dufayet, R., Rouch-Buck, P. & Priymenko, N. Relationship between a plant-based ‘vegan’ pet food and clinical manifestation of multiple nutrient deficiencies in two cats. J. Anim. Physiol. Anim. Nutr. (Berl). 105, 1179–1191 (2021).

13.      Semp, P.-G. Vegan nutrition of dogs and cats. (Universität Wien, 2014).

14.      Dodd, S. A. S., Dewey, C., Khosa, D. & Verbrugghe, A. A cross-sectional study of owner-reported health in Canadian and American cats fed meat- and plant-based diets. BMC Vet. Res. 17, 1–17 (2021).

15.      Knight, A. & Leitsberger, M. Vegetarian versus meat-based diets for companion animals. Animals 6, (2016).

16.      Dodd, S. A. S., Grant, C., Abood, S. K. & Verbrugghe, A. Case Report: Application and Limitations of a Plant-Based Diet Formulated for a Cat With Feline Lower Urinary Tract Disease. Front. Vet. Sci. 8, (2021).

17.      Fischer, B. Animal ethics: A contemporary introduction. Animal Ethics: A Contemporary Introduction (Routledge, 2021). doi:10.4324/9781351052023

18.      Mellor, D. J. et al. The 2020 five domains model: Including human–animal interactions in assessments of animal welfare. Animals 10, 1–24 (2020).

19.      Knight, A. & Satchell, L. Vegan versus meat-based pet foods: Owner-reported palatability behaviours and implications for canine and feline welfare. PLoS One 16, e0253292 (2021).

20.      Hall, J. A., Vondran, J. C., Vanchina, M. A. & Jewell, D. E. When fed foods with similar palatability, healthy adult dogs and cats choose different macronutrient compositions. J. Exp. Biol. 221, (2018).

21.      Pekel, A. Y., Mülazımoğlu, S. B. & Acar, N. Taste preferences and diet palatability in cats. J. Appl. Anim. Res. 48, 281–292 (2020).

22.      Hall, N. J., Péron, F., Cambou, S., Callejon, L. & Wynne, C. D. L. Food and food-odor preferences in dogs: A pilot study. Chem. Senses 42, 361–370 (2017).

23.      Milburn, J. The animal lovers ’ paradox ? On the ethics of ‘ pet food ’. in Pets and People: The Ethics of Companion Animals (ox, 2017).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s