Seorang pemilik kucing hampir dipastikan pernah harus memberi obat ke kucingnya, bukan hanya obat untuk menyembuhkan kucing sakit, tetapi juga obat-obatan untuk pencegahan penyakit maupun suplemen. Beda dengan manusia yang bisa diajarkan untuk makan obat sendiri, kucing tidak bisa disuruh memasukkan pil ke mulut, lalu menelannya dengan bantuan seteguk air. Kucing tidak bisa diajak bekerjasama agar mau makan obat atas kesadaran sendiri. Karena itu, memberi obat ke kucing adalah sebuah tantangan. Untuk mengatasi sebuah tantangan, tantangan tersebut harus dikenali dahulu. Sebuah penelitian berbentuk survei daring dilakukan untuk mengenal lebih dalam pengalaman pemilik kucing dalam memberi obat ke kucing mereka. Hasil survei diterbitkan di Journal of Feline Medicine and Surgery di tahun 2022 ini.

Survei yang disebarkan ke berbagai media sosial dan komunitas tersebut berhasil menjaring jawaban dari 2507 pemilik kucing, dan 783 di antaranya adalah profesional hewan (dokter hewan, teknisi/paramedis hewan, breeder kucing, dan lainnya). Hampir 70% di antaranya berasal dari Inggris, sementara sejumlah cukup banyak juga berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Contoh obat spot-on hewan, Revolution
Contoh obat tablet hewan, Apoquel

Bentuk sediaan obat yang paling sering digunakan oleh pemilik kucing adalah tablet (95,5%), disusul spot-on (tetes kulit) (78,3%), dan obat cair (77,5%). Bentuk-bentuk sediaan lain: kapsul, tetes mata, serbuk, pasta, tetes telinga, krim, injeksi, dan lainnya digunakan lebih jarang. Fenomena bahwa kapsul tidak begitu sering digunakan (45%) dibanding tablet dan obat cair ini menarik jika kita bandingkan dengan keadaan di Indonesia. Di kebanyakan klinik, kapsul sangat umum digunakan, bahkan hampir dalam semua resep. Tebakan saya, perbedaan bentuk sediaan obat ini didasari perbedaan ketersediaan produk obat hewan di Indonesia dan di negara lain. Di negara asal responden survei tersebut, banyak obat tablet khusus hewan yang dosisnya sudah disesuaikan, tergantung ukuran dan berat badan hewan, sehingga tidak perlu diracik kembali. Di Indonesia, obat oral khusus hewan belum terlalu banyak dan kalaupun ada, harganya seringkali cukup tinggi. Karena itu, penggunaan obat manusia off-label (di luar ketentuan label) yang diracik kembali masih mendominasi. Obat manusia tablet maupun kapsul tersebut digerus dan dibagi sesuai dosis hewan, kemudian dikemas kembali sesuai dosis hewan dalam kapsul. Karena itu, sediaan kapsul jauh lebih sering diberikan dibandingkan tablet di Indonesia.

Memberi obat cair ke kucing. Shutterstock/Iryna Imago

Ketika ditanya apakah klinik mengajarkan cara memberi obat pada pemilik kucing, 47,5% menjawab “selalu”, sementara 40% menjawab “kadang”, dan 10% menjawab “tidak pernah”. Tentu cukup mengkhawatirkan bahwa ada 10% pemilik hewan yang merasa tidak pernah diajarkan cara memberi obat, walaupun mungkin saja sebagian pemilik tersebut memang belum pernah diresepkan obat atau diberi obat yang mudah diberikan dan ada panduan pemberian di kemasannya (terutama spot-on). Sebagian besar pemilik mengaku diajarkan cara memberi obat melalui penjelasan verbal oleh dokter hewan atau teknisinya, dengan atau tanpa diikuti demonstrasi oleh teknisi. Metode lain yang lebih jarang adalah dengan pamflet cetak atau video YouTube. Temuan ini menunjukkan ruang untuk perbaikan: masih banyak klinik yang belum menerapkan demonstrasi cara pemberian obat pada pemilik kucing. Padahal, memberi obat pada kucing, apalagi tablet dan kapsul, seringkali bukan skill yang bisa langsung dilakukan tanpa diajarkan secara langsung. Di Indonesia, beberapa klinik bukan hanya mendemokan, tetapi juga mempersilakan pemilik untuk praktik langsung memberikan kapsul kosong ke kucingnya di ruang periksa sampai bisa. Ini dilakukan untuk memastikan pemilik betul-betul bisa mengobati kucingnya di rumah.

Ketika di rumah, seringkali pemilik tetap merasa kesulitan memberi obat. Namun, hanya 42% dari pemilik kucing yang kesulitan memberi obat kembali menghubungi klinik untuk minta bantuan. Bisa lebih banyak lagi pemilik yang minta bantuan klinik agar rencana terapi untuk kucing dapat berjalan dengan lancar. Dokter atau petugas di klinik pun bisa menawarkan agar pemilik tidak sungkan menghubungi jika kesulitan memberi obat di rumah. Pihak klinik bisa memberikan bantuan seperti memberikan obat langsung ke kucing (walau berarti pemilik harus sering bolak-balik) atau sediaan obat diganti dengan sediaan yang lebih mudah dibrikan. Tentu, solusi tersebut juga ada plus dan minus masing-masing yang perlu didiskusikan antara dokter hewan dan pemilik kucing. Ini menunjukkan perlunya hubungan dan komunikasi yang baik antara klinik dan pemilik sebagai mitra dalam merawat kucing. Mungkin, klinik bukan satu-satunya tempat mencari bantuan, karena 53,6% pemilik kucing mengaku pernah mencari informasi tentang memberi obat ke kucing melalui internet. Salah satu situs yang saya rekomendasikan adalah fearfreehappyhomes.org.

Bagaimana pemilik kucing memberikan obat ke kucingnya? Ternyata metode yang digunakan cukup beragam. Obat cair (61,3%) dan pasta (45,3%) paling sering diberikan langsung ke mulut menggunakan spuit, tetapi hampir 25% pemilik juga menyembunyikannya di dalam makanan. Obat tablet seringkali diberikan langsung dengan membuka mulut kucing dan memasukkannya dengan jari (39,5%), tetapi tidak sedikit yang menyembunyikan tablet utuh dalam makanan (23,4%) atau menggerusnya dulu sebelum dicampur makanan (16,8%). Kapsul agak berbeda, karena pemilik kucing paling sering membuka dan mencampurkan isinya dalam makanan (37,3%). Mencampurkan obat dengan makanan adalah salah satu trik mudah dalam memberikan obat. Memang, tidak semua obat boleh diberikan bersama makanan, sehingga hal ini perlu ditanyakan dulu ke dokter hewan yag meresepkan, tetapi baru 67% pemilik yang mengaku diberi tahu apakah obat kucingnya dapat diberikan dengan makanan. Menariknya, kurang dari 10% pemilik yang memberi obat kapsul atau tablet dengan pelontar (pill shooter), meskipun alat ini cukup sering ditemui di Indonesia, baik sebagai pelontar sungguhan atau hasil modifikasi spuit.

Tiap bentuk sediaan obat memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dalam pemberiannya. Lebih banyak pemilik kucing yang merasa memberi tablet lebih susah daripada obat cair. Obat spot-on dan injeksi insulin relatif dianggap paling mudah diberikan dibandingkan sediaan obat lainnya. Kesulitan dalam memberi obat ini juga terkait dengan respon negatif kucing. Hampir 80% pemilik kucing melaporkan kucing mereka memuntahkan obat kembali. Meskipun sebagian pemilik mengakali pemberian obat dengan menyembunyikannya dalam makanan, sekitar 70% merasa kucing mereka cukup pintar untuk menolak makanan yang ada obatnya. Masalah lain yang dihadapi adalah kucingnya kabur, bahkan memberontak sampai mencakar dan menggigit. Tentu, ini adalah masalah. Sekitar 33% pemilik kucing nonprofesional mengaku khawatir akan digigit dan dicakar kucing. Cakaran dan gigitan kucing bukan hanya membuat luka, tetapi juga bisa jadi jalur penularan berbagai penyakit zoonotik, seperti bakteri Bartonella yang menyebabkan cat scratch disease, bakteri Capnocytophaga canimorsus (terutama bagi individu yang limpanya diangkat), jamur-jamur dermatofita penyebab ringworm, bahkan virus rabies yang sangat fatal jika tidak segera ditangani. Selain itu, pengalaman memberi obat juga membuat stres, bahkan bisa melukai kucing. Lebih dari setengah pemilik kucing mengaku pengalaman ini mengubah hubungan mereka dengan kucingnya.

Ilustrasi cat scratch disease: pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak dan bekas gigitan kucing di tangan. CDC, Public domain, via Wikimedia Commons

Dampak buruk dari sulitnya memberi obat ke kucing tidak berhenti di sana. Ketika ditanya apakah mereka selalu menghabiskan obat yang diresepkan klinik, 62,5% pemilik bilang selalu; 24,2% bilang hampir selalu, tetapi, ada 11,2% pemilik yang tidak selalu menghabiskan obat. Hampir 25% pemilik yang tidak menghabiskan obat mengaku tidak menghabiskan obat karena memang diperbolehkan berhenti oleh klinik. Ini tidak masalah, karena beberapa obat merupakan terapi simptomatis, yang bisa dihentikan ketika gejala sakit sudah tidak ada. Namun, hampir 50% pemilik menghentikan pemberian obat karena merasa obatnya terlalu sulit untuk diberikan. Hanya di bawah 10% pemilik yang berhenti memberi obat karena merasa kucingnya sudah sembuh. Apa dampak jika obat tidak diberikan? Dalam beberapa kasus, memang hewannya bisa sembuh sendiri, tetapi bisa juga tidak sembuh-sembuh. Selain itu, dalam kasus tertentu, antibiotik harus diberikan selama beberapa waktu ke depan meskipun hewan sudah tampak sembuh. Kalau tidak, penyakit yang diderita bisa kambuh kembali dengan berkembangnya bakteri yang lebih kuat, karena bakteri yang lemah sudah terbunuh oleh antibiotik yang tidak selesai itu. Ini akan menyulitkan pengobatan ke depannya. Sulitnya memberi obat juga membuat pemilik meminta sediaan obat yang lebih praktis, misalnya kucingnya disuntik saja daripada dikasih obat makan. Ini pun bisa jadi masalah. Ada antibiotik suntik bernama cefovecin yang sekali suntik bisa tahan berminggu-minggu tanpa perlu diberi obat makan. Namun, cefovecin adalah antibiotik yang tingkatannya cukup tinggi. Artinya, antibiotik ini sebaiknya tidak sembarang diberikan kecuali pada kasus tertentu, di mana antibiotik tingkat di bawahnya sudah tidak mempan. Penggunaan cefovecin yang luas padahal tidak perlu akan memicu munculnya resistensi bakteri terhadap obat ini. Jika bakteri pada tubuh kucing sudah resisten, ke depannya pemilihan terapi akan lebih menantang.

Tidak ada solusi mudah dan tanpa risiko dalam memberi obat ke kucing. Namun, ada beberapa hal yang bisa saya sarankan.

  1. Selalu berkomunikasi dengan dokter hewan yang menangani dan menyusun rencana terapi untuk kucingmu. Rencana terapi akan berjalan dengan baik jika ada hubungan kemitraan yang saling percaya antara pemilik dan dokter hewan. Jika pemilik merasa susah memberi obat dalam bentuk tertentu, komunikasikan dengan dokter hewan agar dapat dicari solusi terbaiknya.
  2. Jika kesulitan memberi obat dalam bentuk tertentu, tanyakan apakah bisa diganti sediaan obat lain. Misalnya, jika kucing sulit diberi obat tablet, coba tanyakan apakah bisa diganti sediaan cair (sirup). Mungkin ini agak sulit karena kebanyakan obat tidak tersedia bentuk sediaan alternatifnya di klinik tersebut, tetapi bisa dicoba.
  3. Tanyakan apakah klinik bersedia membantu memberi obat kalau pemilik kesulitan di rumah. Ini mungkin akan agak merepotkan pemilik karena harus bolak-balik klinik, tetapi lebih baik daripada kucingnya tidak dikasih obat.
  4. Jika diberi obat kapsul atau tablet, tanyakan apabila obatnya boleh dibuka, dihancurkan, kemudian dicampur atau disembunyikan dalam makanan. Cara ini seringkali efektif dan sama sekali tidak membuat stres kucing maupun ownernya. Tidak semua obat boleh diberikan bersama makanan, tetapi banyak obat yang sebenarnya bisa dicampur makanan. Tanyakan dulu ke dokter hewan apakah obat yang diberikan boleh dicampur makanan.
  5. Jika terpaksa memberi obat dengan cara biasa, coba training kucing perlahan-lahan agar mau menoleransi obat. Cara ini memang lama, sulit, dan tidak ada jaminan berhasil, tetapi layak dicoba. Kunjungi fearfreehappyhomes.org untuk informasi lebih lanjut.

Referensi
Lappin, M. R., Elston, T., Evans, L., Glaser, C., Jarboe, L., Karczmar, P., … Ray, M. (2019). 2019 AAFP Feline Zoonoses Guidelines. Journal of Feline Medicine and Surgery, 21(11), 1008–1021. https://doi.org/10.1177/1098612X19880436

Taylor, S., Caney, S., Bessant, C., & Gunn-Moore, D. (2022). Online survey of owners’ experiences of medicating their cats at home. Journal of Feline Medicine and Surgery, 1098612X2210837. https://doi.org/10.1177/1098612×221083752

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s